Prof Nasaruddin Umar, Santri Bugis yang Menjadi Tokoh Nasional

prof nasaruddin umar

Pecihitam.org – Sebagai Santri Bugis, saya memanggil beliau dengan sebutan Anregurutta Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA. Beliau merupakan sosok intelektual muslim asal Sulawesi Selatan yang berkiprah dalam pentas nasional.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Prof Nasaruddin Umar dilahirkan di sebuah daerah terpencil tanpa akses kendaraan selain berkuda, tepatnya Desa UjungE, Kabupaten Bone, pada tanggal 23 Juni 1959.

Beliau Menempuh pendidikan dasar dan menengahnya di desa tersebut. Kemudian ayahnya mengirim mengaji kitab kuning di Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang, yang kala itu dipimpin oleh AGH. Muh. Yunus Maratan. Selain mengikuti pengajian kitab kuning, juga mengikuti pendidikan formal, yakni tingkat madrasah Tsanawiyah hingga tamat Madrasah Aliyah.

Sejumlah sahabatnya menyebutkan bahwa beliau memiliki karakter berbeda dengan teman-temannya selama ia mondok di Sengkang. Seperti selalu berdiam diri di masjid agung kota Sengkang semata untuk membaca buku. Bahkan disebutkan bahwa beliau hampir tidak pernah lepas buku dalam genggamannya.

Setelah Selesai mondok di Pesantren As’adiyah, Prof Nasaruddin Umar kemudian hijrah ke Makassar untuk melanjutkan kuliah di IAIN Alauddin (sekarang UIN Alauddin).

Baca Juga:  Siapa dan Bagaimana Kesufian Syeikh Yusuf Al Makassari?

Selain kuliah, beliau bersama sahabatnya yang juga merupakan alumni Pesantren As’adiyah, diantaranya seperti AGH. Muh. Harisah AS, juga terus melanjutkan tradisi kesantriannya dengan bersama-sama takhassus mengaji kitab kuning kepada Al-allamah Nashirussunnah AGH. Muhammad Nur dan As-Syekh AGH. Abdul Kadir Khalid, MA.

Pengabdian AGH. Prof Nasaruddin Umar selama di Makassar diantaranya mengajar di Pesantren Pondok Madinah, Pesantren IMMIM, dan menjadi Dosen IAIN Alauddin Makassar. Selain itu, ia juga Aktif sebagai pengurus NU.

Beliau kemudian memutuskan pindah tugas di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta hingga kini. Tercatat pernah menjabat Wakil Rektor di perguruan tinggi tersebut saat Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA menjabat rektor pada periode pertama.

Firdaus Muhammad dalam Bukunya “Anregurutta” menyampaikan kesaksiannya sebagai salah seorang mahasiswa beliau pada Program Doktor Pascasarjana UIN Jakarta tahun 2005, khususnya pada Mata Kuliah Tafsir Maudhu’iy, ia mengatakan bahwa Prof Nasaruddin Umar memiliki kedalaman ilmu dan wawasan dengan kemampuannya dalam memadukan keilmuan Islam klasik dan kontemporer.

Baca Juga:  Mengenal Emha Ainun Nadjib, Sang Kiai Mbeling

Selain itu, metodologi pengajarannya inovatif dilengkapi peralatan teknologi yang cukup canggih. Gaya bicaranya santun, lembut, dan ramah dengan tanpa sungkan menyapa mahasiswanya.

Tidak cuma itu, Keserasian warna dalam berpakaian yang selalu tampak selaras dan rapih, sebuah perilaku yang diwarisi dari AGH. Muh. Yunus Maratan yang selalu tampil rapih.

Pengalaman akademik beliau cukup beragam, diantaranya pernah menjadi dosen tamu sejumlah perguruan tinggi, dalam dan luar negeri, selain beberapa jabatan untuk pengabdian ilmunya.

Karya Tulis

Sejumlah karya Tulis beliau meliputi: Kesetaraan Gender dalam Perspektif Al-Qur’an, Deradikalisasi Islam, Rethingking Pesantren, Antropolgi Jilbab dalam perspektif feminis dan penafsiran Islam, Kodrat Perempuan Dalam Islam, Deradikalisasi pemahaman al-Qur’an & Hadis, hingga Mendekati Tuhan dengan Kualitas Feminin

Terlepas dari kesibukan beliau sebaga akademisi, Prof Nasaruddin Umar juga aktif menjabat sebagai Mustasyar PBNU 2015-2020 dan Wakil Direktur PSQ mendampingi Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA hingga kini.

Baca Juga:  KH. Mutamakkin Kajen, Sang Sufi Legendaris dari Tanah Jawa

Prof Nasaruddin Umar juga Tercatat sebagai Pendiri Pondok Pesantren al-Ikhlas Ujung Bone, Rektor Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an (PTIQ) Jakarta dan Guru Besar bidang Tafsir UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, aktif memberi pengajian di Masjid Agung Sunda Kelapa dan At-Tin.

Sebelumnya beliau juga pernah menjabat sebagai Dirjen Bimas Islam hingga Wakil Menteri Agama di Kementerian Agama RI dari tahun 2011 sampai 2014.

M Resky S

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *