Benarkah Ibadah Puasa Bisa Mengendalikan Amarah? Ini Fakta Ilmiahnya

puasa mengendalikan amarah

Pecihitam.org Pada hakikatnya, ibadah puasa adalah pengendalian diri. Saat seorang muslim bisa mengendalikan diri dan menguasai diri atas dorongan yang datang dari luar maupun dari dalam dirinya, maka orang tersebut bisa dikatakan sebagai orang yang sehat jiwanya. Tapi, benarkah ibadah puasa bisa mengendalikan amarah?

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Puasa berarti menahan diri, tak heran jika ada yang menyimpulkan bahwa ibadah puasa bisa mengendalikan amarah. Dalam ajaran agama Islam, puasa berarti menahan diri untuk tidak makan, minum, dan hubungan seksual sejak waktu subuh hingga magrib. Hal ini disebut dengan puasa lahiriyah.

Puasa lahiriyah mesti diimbangi dengan puasa bathiniyah yakni menahan diri dari segala macam hawa nafsu, pikiran yang negatif, serta perbuatan dan perkataan yang tidak baik, termasuk mengendalikan amarah.

Umat Islam sangat dianjurkan agar mampu mengendalikan amarahnya. Marah adalah suatu reaksi emosional yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Pengendalian amarah berarti sebuah kemampuan untuk mengatur emosi marah.

Ragam emosi kasar tersebut bisa disingkirkan atau sekurang-kurangnya bisa dikendalikan agar tidak menimbulkan berbagai akibat atau bahaya yang fatal, yang kemungkinan besar akan disesali sepanjang hidup.

Kemunculan rasa marah adalah salah satu cerminan kondisi psikologis dan fisiologis internal dalam diri manusia. Jika ada seseorang yang sering marah-marah, maka kemungkinan besar ada sekresi berlebih dari salah satu hormon di dalam tubuhnya. Atau, bisa juga ada salah satu fungsi psikologis yang terganggu.

Baca Juga:  Suami Memperkosa Istri Dalam Pandangan Hukum Islam

Amarah dalam Tubuh Manusia

Marah adalah gambaran perasaan terhadap suatu objek, seperti peristiwa, perilaku orang, hubungan sosial, dan keadaan lingkungan. Hal ini menimbulkan adanya pesan kimiawi dalam tubuh berupa stimulasi yang kuat sehingga tubuh lebih siaga. Kesiagaan ini terlihat pada melebarnya pupil mata, detak jantung bertambah, kecepatan bernafas bertambah, tekanan darah bertambah, serta bertambahnya energi.

Pada saat tubuh siaga, aktivitas pencernaan melambat karena aliran darah dari perut dan usus dialihkan ke otot dan kulit sehingga mengakibatkan wajah seseorang yang tengah marah kelihatan merah. Pada saat yang sama, berbagai makanan yang telah dikonsumsi terutama karbohidrat mengeluarkan energi.

Karbohidrat menyediakan glukosa yang kemudian diubah menjadi energi. Energi ini disalurkan ke otak dan sistem saraf. Glukosa disimpan dalam bentuk glikogen di dalam hati dan baru dikeluarkan jika tubuh membutuhkannya dengan cara mengubah kembali glikogen menjadi glukosa dan menyalurkannya ke anggota tubuh yang membutuhkan.

Tubuh hanya bisa menyimpan glikogen dalam jumlah terbatas, untuk keperluan energi beberapa jam. Tubuh mempertahankan konsentrasi gula darah agar dapat berfungsi optimal.

Pada saat berpuasa, jumlah karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh menjadi terbatas. Asupan karbohidrat yang terbatas membuat tubuh mengeluarkan hormon glukokortikoid atau hormon steroid untuk menghubungkan gula darah (glukosa) dengan merangsang glukoneogenesis.

Baca Juga:  Bantahan untuk Firanda yang Mengatakan Akidah Asyairah Sesat

Hormon inilah yang diproduksi hormon adrenal dan berfungsi untuk menghubungkan penggunaan glukosa dan meningkatkan laju perubahan protein menjadi glukosa.

Bila gula darah turun, maka produksi hormon tiroksin akan meningkat, membuat glikogenosis dan glukoneogenesis dalam hati juga meningkat sehingga menaikan gula darah. Tiroksin juga akan meningkatkan laju absorpsi heksosa dari usus halus.

Kita tidak bisa mengendalikan kondisi emosional yang timbul karena hormon dari dalam tubuh kita. Kita hanya bisa mengendalikan perilaku kita. Hal ini membuat kita harus senantiasa melakukan berbagai latihan agar bisa mengendalikan kemarahan tersebut. Latihan yang dapat kita lakukan salah satunya yaitu dengan melaksanakan ibadah puasa.

Ada tiga faktor yang menunjukkan hubungan antara pengendalian amarah dengan ibadah puasa. Faktor pertama adalah keadaan tubuh seseorang. Seseorang yang kondisi tubuhnya sedang kurang baik maka ia akan memiliki kemungkinan untuk lebih cepat marah dan apabila stimulus untuk marahnya makin besar ia akan menunjukan regulasi tingkat kemarahan yang lebih rendah.

Faktor kedua adalah pikiran. Konsep kognisi terhadap suatu stimulus bisa menentukan respon yang akan kita berikan. Ketika kita menganggap bahwa stimulus eksternal buruk, maka akan membuat kita bisa merasa marah. Anggapan kita terhadap stimulus eksternal akan berhubungan langsung pada tingkat regulasi kemarahan yang diekspresikan.

Baca Juga:  Fiqih Maqashid Ibnu Taimiyah, 4 Pokok Pemikirannya

Faktor ketiga adalah budaya. Lingkungan dan respons terhadap kemarahan kita akan menjadi penghubung bagaimana kita mengekspresikan atau meregulasi kemarahan. Marah yang berlebihan dan intens bisa memberikan pengaruh buruk terhadap kehidupan sosial dan kesehatan seseorang. Melatih regulasi emosi akan berdampak positif terhadap perkembangan sosial anak-anak.

Ibadah puasa bisa mengendalikan amarah. Hubungan tersebut ditunjukkan dengan pembuktian bahwa orang yang semakin sering melakukan puasa maka tingkat pengendalian amarahnya semakin tinggi dan orang yang jarang berpuasa maka tingkat regulasi kemarahannya akan semakin rendah.

Puasa bisa dijadikan sebagai ajang untuk melatih diri dan mengendalikan kemarahan. Melaksanakan ibadah puasa wajib di bulan Ramadhan adalah salah satu momentum terbaik untuk mewujudkannya.

Ayu Alfiah