Membantah Argumentasi Wahabi Tentang Putusnya Amal Untuk Orang Yang Sudah Meninggal

Membantah Argumentasi Wahabi Tentang Putusnya Amal Untuk Orang Yang Sudah Meninggal

PeciHitam.orgHakikat kehidupan manusia yang baik adalah memberi manfaat kepada orang lain, tidak memandang mereka segolongan, sesuku, seagama atau seras dengannya.

Maka konsep nilai yang diajarkan oleh Nabi SAW adalah ‘sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat kepada orang lain’.

Pun KH Abdurrahman Wahid, Gus Dur mengatakan, yang kurang lebih sama semangatnya dengan hadits Nabi SAW. Yakni ‘Kalau kamu bisa berbuat baik untuk semua orang, maka orang tidak akan pernah tanya apa agamamu’.

Dalam konteks ini orang shaleh atau orang baik melakukan peran nyata dalam berjuang (baik agama maupun masyarakat) maka namanya akan selalu abadi, tidak meninggal.

Maka Hakikat orang shaleh bukan hanya dilihat dari perspektif agama namun bisa dilihat dari perspektif sosial. Namun salafi wahabi selalu mengedepankan pendekatan tekstual dan menjadikan kematian dalam melihat realitas.

Salah Paham Dalil Orang Shaleh Mati

Pemahaman orang salafi wahabi dalam melarang dan menyesatkan amaliah Ziarah kepada orang Shaleh adalah anggapan bahwa mereka sudah selesai dengan segala urusan di Dunia. Dengan menyitir ayat al-Qur’an sebagai berikut;

وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى

Artinya; “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (Qs. An-Najm: 39)

Pemahaman orang salafi wahabi terkait ayat tersebut adalah bukti bahwa manusia tidak akan memperoleh apapun selain apa yang sudah diusakannya.

Dikuatkan dengan hadits bahwa semua amalan manusia semuanya terhenti kecuali 3, yakni shadaqah Jariyah, Ilmu bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakan orang tua.

Umumnya mereka memahami secara tekstual tidak akan bermanfaat semua amaliah atas nama orang meninggal. Lucunya mereka masih meyakini bahwa doa ketika shalat jenazah atau shalat ghaib bahwa pahala shalatnya sampai kepada orang yang meninggal.

Kontradiksi nalar salafi wahabi ini tetap dipertahankan selayaknya orang keras kepala dalam menolak argumentasi orang ahlussunnah wal jamaah. Makna yang tepat dari surah An-Najm ayat 39 adalah bahwa orang yang meninggal sudah pasti tidak dapat beramal sebagaimana orang meninggal.

Namun selama ia hidup memiliki peran jasa yang bisa menjadi sambungan amaliah tidak langsung ketika sudah meninggal. Segala lantunan doa dan bacaan al-Qur’an adalah bentuk penghormatan atas jasa peran oran shaleh ketika ia hidup.

Pun secara hakikat orang shaleh akan selalu hidup baik dari jasa, pemikiran dan peninggalannya yang masih bermanfaat walaupun empunya sudah tidak ada.

Dalil Orang Shaleh Masih Hidup

Dalil tidak mesti harus berasal dari teks, namun bisa diperluas menjadi dalil realitas dalam kehidupan sehari-hari. Manusia hidup di dunia memang terbatas, oleh karenanya seyogyanya manusia memberikan peran yang dapat menjadikan ia terus hidup setelah kematiannya.

Terutama orang shaleh yang mana ia akan selalu menjadi panutan dan rujukan dalam berbagai sendi kehidupan. Dalam Tafsir Al-Qur’an al-‘Adzim dituliskan oleh Imam Ibnu Katsir bahwa;

وقد ذكر الحافظ ابن عساكر في ترجمة عمرو بن جامع من تاريخه “ان شابا كان يتعبد في المسجد فهويته امرأة فدعته الى نفسها، فما زالت به حتى كاد يدخل معها المنزل فذكر هذه الآية “الاعراف: 201 فمات. فجائ عمرو فغزي فيه اياه، وقد دفن ليلا، فذهب تصلي على قبره بمن معه، ثم ناده عمرو فقال: يا فتي “وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ” فاجابه الفتي من داخل القبر، يا عمرو قد اعطائيهما ربي عز وجل فى الجنة

Dalam kitab Ibnnu Katsir disebutkan dalam Biografi Amr bin Jami’ bahwa ada seorang muda yang biasa datang ke Masjid untuk beribadah.  Suatu hari seorang wanita dengan niat buruk mengundangnya ke rumahnya. Dan pemuda tersebut lantas meninggal dengan mendadak karena ketakutan kepada Allah SWT.

Kemudian orang-orang Islam menguburkan ia pada waktu malam harinya. Umar kemudian bertanya kepada kaum Muslimin tentang keberadaan pemuda yang biasa shalat di masjid. Dan kaum Muslim mengatakan bahwa ia telah meninggal dan telah dimakamkan.

Maka Umar bergegar ke Makamnya dan berdoa untuknya. Lalu Umar membacakan surat ar-Rahman ayat 46, ‘Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga’.

Tanpa disangka, sang pemuda tersebut menyahut ayat yang dibacakan Umar dengan Jawaban ‘Sesungguhnya Allah telah memberi saya dua surga’.

Kisah ini menjadi sebab keyakinan orang ahlussunnah wal jamaah bahwa orang shaleh masih hidup dan mendapat nikmat setelah kematiannya. Mereka masih bisa menjadi sumber pelajaran untuk mengambil I’tibar atas peran jasa yang besar kepada Islam atau masyarakat.

Anggapan salafi wahabi sebenarnya bentuk ketidak-pahaman terhadap literasi sumber Islam yang lebih luas. Ash-Shawabu Minallah

Mohammad Mufid Muwaffaq
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG