Rahasia Huruf Wawu dalam Tasawuf (Tenggelam dalam Kekhusyukan)

rahasia huruf wawu

Pecihitam.org – Dalam khazanah Tasawuf ada satu huruf yang cukup unik dan jarang dibahas yaitu huruf Wawu ( و ). Huruf wawu ini ternyata punya rahasia yang cukup Sakral nan Agung bagi para salik penganut Tasawuf.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Huruf arab berupa wawu ini sering disingkat Hu atau Huwa, itu merupakan sebutan untuk Allah dalam tasawuf. Secara harfiah Hu atau Huwa artinya adalah “Dia”.

Dalam tasawuh Hu atau Huwa adalah kata ganti untuk Allah atau Tuhan, dan digunakan sebagai nama Allah. Allah Hu, berarti “Allah, hanya Dia” dalam bahasa Arab Allah berarti Tuhan dan dengan Hu, sebagai intensif ditambahkan ke Allah.

Hu juga ditemukan dalam kredo Islam yaitu “La ilaha ila Allah Hu” yang artinya Tiada Tuhan kecuali Allah atau dalam bahasa sufi “Tidak ada yang Maujud kecuali Allah”. Atau La ilaha ila Huwa yang berarti Tidak ada Tuhan selain Dia.

Dalam bahasa Arab, huruf “Wawu” artinya adalah “dan”. Para kaum sufi menyebutnya surat Cinta karena tanpa itu tidak ada yang bisa datang bersama-sama. Misal kita katakan langit dan bumi, pria dan wanita. Jadi huruf Wawu adalah tempat pertemuan dan itu berarti tempat cinta.

Baca Juga:  12 Prinsip Hidup Islami Nasehat Kiai Semar Badranaya

Simbol huruf Wawu ( و ) juga menagcu pada al Waduud (mencintai). Simbol ini menunjukkan pejalan sufi itu tentang keseimbangan dan harmonni.

Syekh Ibnu Arabi mengatakan bahwa, “Orang yang memperoleh pengetahuan tentang rahasia huruf Wawu akan memperoleh wahyu dari ilmu-ilmu tertinggi sesuai dengan modalitas yang paling murni.”

Dzkikir “Hu”

Dalam Tarekat Syattariyah, ada Dzikir Sang Huwa yang dibaca Hu. Hu ini diucapkan dengan sirri, yakni dengan mulut dikatupkan dan mata dipejamkan. Hu ini adalah isim ghaib yaitu wujudnya Tuhan.

Ini didasarkan dari Surat Al-Ikhlas yang menyebut Allah dengan dhamir sya’n atau isim ghaib, yaitu Huwa.

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ

Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.

Dalam pandangan Tarekat Syattariyah, Allah tidak mempunyai sifat, tetapi mempunyai Asma. Asma Allah berjumlah 99 seperti yang tertera dalam al-Qur’an. Selain itu ada lagi asma Allah yang ghaib (isim ghaib) yaitu Huwa.

Hal ini sebagaimana bisa dipahami dari doa Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad berikut

Baca Juga:  Mengapa Harus Bertarekat, Bukankah Syariat Islam Sudah Cukup?

اللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ

Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, putra hamba laki-laki-Mu, putra hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di Tangan-Mu, telah berlalu padaku hukum-Mu, adil ketentuan-Mu untukku. Saya meminta kepada-Mu dengan seluruh Nama yang Engkau miliki, yang Engkau menamakannya untuk Diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu. Jadikanlah Al-Qur`an sebagai musim semi (penyejuk) hatiku dan cahaya dadaku, pengusir kesedihanku serta penghilang kegundahanku.

Pada suatu kesempatan hal ini pernah dijelaskan Gus Baha’. Bahwa dzikir “Hu” diambil dari “Hu”-nya kalimat annahu أنه, seperti yang dicontohkan oleh beliau dengan menyitir ayat فاعلم أنه لا إله إلا الله

Menurut Gus Baha, “Hu” itu adalah isim dhamir yang hakekatnya kembali pada Allah.

Baca Juga:  Sejarah dan Perkembangan Tasawuf Sunni dari Masa ke Masa

Kemudain Menurut KH. Anwar Zahid, dalam dzikir La ilaha illalah, lafadz la ilaha adalah negatif (nafi) sedangkan illallah adalah positif (tsabit). Semakin khusyuk orang yang berdzikir, maka yang terdengar hanya kalimat positifnya saja, yakni illallah.

Semakin khusyuk lagi, maka yang terdengar hanya lafadz Allah. Dan semakin khusyuk lagi, maka yang terdengar dari mulut orang yang sedang asyik tenggelam dalam kekhusyuk-an, hanya “Hu”.

فَاُشْرِبَتْ مَعْنَى ضَمِيْرِ الشَّانِ || فَأُعْرِبَتْ فِى اْلحَانِ بِاْلاَلْحَانِ

Makna dlamir sya’n (Hu) dimasukkan ke dalam hatinya
Lalu hati khusyuk laksana mendengar musik dibuatnya
( Nadzam Imrithi )

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik