Ramadhan: Definisi, Sejarah Pra Islam, Perintah Puasa dan Serba-Serbinya

ramadhan

Pecihitam.org – Ramadhan bulan suci yang paling ditunggu-tunggu umat Islam di seluruh dunia. Di bulan Ramadhan ini, umat Muslim di diberbagai penjuru akan menunaikan ibadah puasa serta menghindari hal-hal yang bisa membatalkan puasanya seperti makan dan minum dengan sengaja, berhubungan suami istri disiang hari, masuknya benda ke dalam lubang tubuh, dan lain sebagainyanya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Definisi dan Estimologi Ramadhan

Ramadhan adalah bulan kesembilan dalam kalender Islam. Menurut keyakinan umat Muslim, puasa di bulan Ramadhan selain salah satu rukun Islam, juga ditujukan untuk memperingati wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad Saw yang jatuh pada bulan Ramadhan.

Dalam bahasa Arab, Ramadhan berasal dari akar kata ramiḍa atau ar-ramaḍ, artinya panas yang membakar atau kekeringan. Mengapa dinamakan Ramadhan? Beberapa sejarah mengatakan, bangsa Babilonia yang budayanya pernah sangat dominan di utara Jazirah Arab, dahulu menggunakan luni-solar calendar (penghitungan tahun berdasarkan bulan dan matahari sekaligus).

Sehingga, bulan kesembilan selalu jatuh pada musim panas yang sangat menyengat karena waktu siang lebih panjang dari malam harinya. Sejak pagi hingga sore hari bebatuan gunung dan pasir gurun terpanggang oleh sengatan matahari musim panas.

Di malam hari panas di bebatuan dan pasir sedikir reda, namun sebelum dingin sudah berjumpa lagi dengan pagi hari. Demikian terjadi berulang-ulang, sehingga setelah beberapa waktu terjadi akumulasi panas yang menghanguskan. Hari-hari itulah kemudian disebut bulan Ramadan, bulan dengan panas yang menyengat dan menghanguskan.

Setelah umat Islam mengembangkan kalender berbasis peredaran bulan, yang rata-rata 11 hari lebih pendek dari kalender berbasis Matahari, bulan Ramadhan tidak lagi selalu bertepatan dengan musim panas. Kemudian orang-orang lebih memahami ‘panas’nya Ramadan secara metafora (kiasan).

Maknanya adalah, pada hari-hari Ramadhan orang berpuasa, tenggorokan terasa panas karena kehausan. Atau dengan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan maka dosa-dosa terdahulu menjadi hangus terbakar dan seusai Ramadhan orang yang berpuasa kembali bersih dari dosa.

Pendapat lainnya mengatakan bahwa kata Ramadhan digunakan karena pada bulan itu, dosa-dosa dihapuskan oleh perbuatan baik seperti Matahari membakar tanah.

Lebih lanjut lagi Ramadhan dikiaskan dengan dimanfaatkannya momen di bulan ini untuk mencairkan, menata ulang dan memperbaharui kekuatan fisik, spiritual dan tingkah laku umat Islam, sebagaimana panas merepresentasikan sesuatu yang dapat mencairkan materi lainnya.

Sejarah Ramadhan

Al Quran surah al Baqarah, Ayat 185, menyatakan:

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ

Artinya: “Bulan Ramadhan adalah turunnya Al Quran, Petunjuk bagi umat manusia, dan pembuktian adanya Nabi dan Rasul, sebagai tuntunan hidup, dan kriteria (benar dan salah).”

Dipercaya bahwa Al-Quran pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw selama bulan Ramadhan dan telah disebut sebagai “masa terbaik”. Wahyu pertama diturunkan tepat di malam Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Bahkan menurut riwayat, semua kitab suci samawi diturunkan selama bulan Ramadan. Seperti Shuhuf Ibrahim, Taurat, Zabur, Injil dan Al-Quran yang diturunkan masing-masing pada tanggal 1, 6, 12, 13 dan 17 Ramadan.

Baca Juga:  Warga Badui Mualaf Isi Ramadhan dengan Pengajian Rutin dan Tausiah

Selain itu di dalam Al Qur’an dijelaskan, bahwa dahulu puasa juga wajib bagi agama-agama sebelum Islam. Seperti keterangan Qur’an Al-Baqarah:183 berikut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

Hal ini berarti, Allah Swt menyatakan kepada Nabi Muhammad Saw bahwa puasa bukanlah sebuah inovasi baru. Melainkan kewajiban yang dipraktikkan oleh orang-orang yang benar-benar mengabdi pada keesaan Allah sebelum datangnya Islam. Bahkan, orang-orang kafir Mekkah juga berpuasa, meski hanya pada hari kesepuluh Muharram untuk meredakan dosa dan menghindari kekeringan.

Abu Zanad seorang penulis dari Irak yang hidup sekitar tahun 747 M atau setelah berdirinya Islam, ia menulis bahwa setidaknya satu komunitas agama yang berada di al-Jazira (Irak utara modern) mengamati Ramadhan sebelum beralih ke agama Islam.

Adapun dalam Islam sendiri perintah ibadah puasa selama bulan Ramadan diturunkan 18 bulan setelah Hijrah Rasulullah Saw ke Madinah, yaitu pada bulan Sya’ban pada tahun kedua Hijrah atau tahun 624 Masehi.

Momen Penting di Bulan Ramadhan

Puasa Ramadan

Puasa atau Shaum (صوم) artinya adalah menahan diri atau mencegah, baik dari makan dan minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, tujuannya untuk meningkatkan ketakwaan seorang muslim.

Karena merupakan rukun Islam, maka puasa Ramadhan hukumnya fardhu (wajib) untuk orang Muslim yang mukallaf (dewasa dan dikenai kewajiban) Kecuali bagi yang sedang mengalami halangan seperti sakit, dalam perjalanan, atau wanita yang haid dan namun tetap wajib menggantinya di hari yang lain.

Selain menahan sesuatu yang membatalkan puasa, biasanya pendekatan spiritual di bulan Ramadan juga ramai dilakukan, seperti memperbanyak shalat, sedekah dan membaca Al-Quran.

Sahur dan Berbuka

Sahur merupakan sebuah istilah yang merujuk kepada aktivitas makan oleh umat Islam yang dilakukan pada dini hari sebelum adzan subuh bagi yang akan menjalankan ibadah puasa. Adapun berbuka (Iftar) adalah makan malam yang dilakukan setelah seharian berpuasa. Waktu berbuka ini dimulai ketika adzan magrib berkumandang.

Salat Tarawih

Salat Tarawih adalah shalat sunnah khusus yang hanya dilakukan pada momen bulan Ramadan. Salat tarawih dilakukan setelah shalat isya, walaupun dapat dilaksanakan dengan sendiri-sendiri, namun lebih utama jika dilakukan secara berjama’ah di masjid-masjid. Setelah melaksanakan sholat tarawih, biasanya juga langsung di lanjutkan dengan sholat witir sebanyak 3 rakaat.

Turunnya Al-Qur’an

Turunnya al-Quran (Nuzulul Quran) jatuh pada bulan ini tepatnya pada tanggal 17 Ramadan. Surat pertama yang diturunkan pada saat Nabi Muhammad SAW pada peristiwa tersebut adala Al-‘Alaq ayat 1 sampai 5 di Gua Hira.

Baca Juga:  Cegah Corona, Menag: Takbir Keliling Ramadhan Ditiadakan

Di Indonesia sendiri, awal di peringatinya Nuzulul Quran ketika Presiden Soekarno mendapat saran dari Buya Hamka. Hal ini karena bertepatan dengan tanggal Kemerdekaan Indonesia dan sebagai rasa syukur atas kemerdekaan bangsa Indonesia.

Lailatul Qadar

Lailatul Qadar (malam ketetapan/kemuliaan), adalah satu malam yang khusus terjadi hanya di bulan Ramadhan. Sebagaimana yang dikatakan Alquran dalam surah Al-Qadr, pahala ibadah di malam ini lebih baik daripada seribu bulan.

Kapan berlangsungnya malam ini tidak diketahui secara pasti, karena menjadi rahasia Allah Swt. Namun menurut beberapa riwayat, malam ini jatuh pada 10 malam terakhir pada bulan Ramadhan, tepatnya pada salah satu tanggal ganjil yakni malam ke-21, 23, 25, 27 atau ke-29.

Sebagian umat Islam biasanya berusaha tidak melewatkan malam ini dan merayakan malam ini dengan menjaga diri tetap terjaga pada malam-malam terakhir Ramadan sembari beribadah sepanjang malam.

Zakat Fitrah

Zakat fitrah adalah zakat yang dikeluarkan khusus pada bulan Ramadhan. Zakat ini bisa dikeluarkan mulai awal Ramadhan atau paling lambat sebelum khatib shalat Idul Fitri naik ke mimbar. Setiap individu umat muslim wajib membayar zakat jenis ini sebesar satu sha’ makanan pokok sesuai daerahnya masing-masing.

1 sha’ ini jika dikonversikan kira-kira setara dengan 2,5 kilogram atau 3,5 liter beras. Penerima Zakat secara umum ditetapkan dalam 8 golongan (fakir, miskin, amil, muallaf, hamba sahaya, gharimin, fisabilillah dan ibnu sabil). Namun menurut beberapa ulama khusus untuk zakat fitrah yang paling didahulukan adalah kepada dua golongan pertama yakni fakir dan miskin.

Masa Penting

Awal Ramadhan

Penentuan awal dan akhir Ramadhan menggunakan pertitungan kalender Hijriyah. Kalender Hijriyah sendiri didasarkan pada revolusi bulan mengelilingi bumi dan awal setiap bulan ditetapkan saat terjadinya hilal (bulan sabit).

Metode penentuan saat terjadinya hilal yang digunakan saat ini adalah metode penglihatan dengan mata telanjang (dikenal dengan istilah rukyah) serta menggunakan metode perhitungan astronomi (dikenal dengan istilah hisab). Perbedaan metode ini menyebabkan adanya kemungkinan perbedaan hasil penetapan kapan awal dan akhir bulan Ramadhan sebagaimana yang kerap terjadi di Indonesia.

Akhir Ramadhan

Akhir dari bulan Ramadan dirayakan dengan sukacita oleh seluruh muslim di penjuru dunia. Pada malam harinya (malam 1 Syawal), yang biasa disebut malam kemenangan, dan umat Muslim akan mengumandangkan takbir bersama-sama.

Esok harinya tanggal 1 Syawal, yang dirayakan sebagai hari raya Idul Fitri, umat Islam akan berbondong-bondong memadati masjid maupun lapangan guna melakukan Salat Id. Shalat ini dilakukan dua raka’at kemudian akan diakhiri oleh dua khotbah mengenai Idul Fitri. Perayaan hari raya ini kemudian dilanjutkan dengan acara saling bermaaf-maafan antar sesama, dan sekaligus mengakhiri seluruh rangkaian aktivitas keagamaan dari bulan Ramadhan.

Serba-serbi Ramadhan

Praktek Budaya

Di beberapa negara Muslim saat ini, Lentera menjadi hiasan simbolis menyambut bulan Ramadan. Biasanya banyak lampu digantung di lapangan umum, dan di jalan-jalan kota, untuk menambah kemeriahan perayaan bulan ini. .

Baca Juga:  Ahlan Wa Sahlan: Arti, Cara Menjawab, Folosofi dan Perbedaannya

Tradisi lentera sebagai hiasan yang dikaitkan dengan Ramadhan konon berasal dari Khilafah Fatimiyah yang berpusat di Mesir. Di mana orang-orang saat itu memegang lentera untuk merayakan keputusannya Khalifah Al-Mu’izz li-Dinillah dalam menentukan awal Ramadhan.

Sejak saat itulah, lentera dikaitkan dengan bulan Ramadhan dan digunakan untuk menerangi masjid dan rumah di ibu kota Kairo, pusat perbelanjaan, tempat usaha, dan rumah sehingga jika dilihat dari kejauhan akan sangat indah.

Adapun di Indonesia sendiri juga memiliki beragam tradisi Ramadhan. Di pulau Jawa, banyak orang Jawa yang mandi di mata air suci bersiap untuk berpuasa, sebuah ritual yang dikenal dengan Padusa. Kota Semarang menandai dimulainya Ramadan dengan karnaval Dugderan, yang melibatkan pengarakan ngendog Warak, makhluk kuda-naga yang diduga terinspirasi oleh Buraq.

Menjelang akhir Ramadhan, sebagian besar karyawan dan pekerja juga menerima bonus satu bulan yang umumnya dikenal dengan nama Tunjangan Hari Raya.

Selain itu, ada juga beberapa jenis makanan sangat populer selama bulan Ramadhan, seperti daging sapi di Aceh, dan siput di Jawa Tengah, kolak yang identik dengan makanan berbuka, kurma dll.

Aspek Ekonomi

Menariknya, meskipun di bulan Ramadhan orang-orang berpuasa namun terjadi peningkatan daya beli dan perilaku konsumtif masyarakat akan barang dan jasa terutama di negara yang mayoritas Muslim seperti Indonesia.

Peningkatan ini terjadi di hampir semua sektor, baik dari industri makanan dan minuman, pakaian, transportasi, hingga kebutuhan rumah tangga. Sehingga tidak jarang tingkat inflasi pun mencapai titik tertinggi pada periode bulan ini.

Fenomena ini secara kasat mata terlihat dengan menjamurnya para pedagang musiman yang menjajakan berbagai komoditas mulai dari makanan hingga pakaian. Di samping juga maraknya penyelenggaraan bazar baik yang disponsori oleh pemerintah, swasta, organisasi tertentu maupun swadaya masyarakat.

Ramadhan di Daerah Kutub

Lama waktu berpuasa ditentukan oleh masa terbit hingga terbenamnya matahari. Maka posisi matahari terhadap bumi juga berpengaruh pada lama waktu seseorang menjalankan puasa. Umumnya di negara-negara beriklim tropis dan dekat area khatulistiwa siang dan malam memiliki durasi seimbang (sekitar 12 jam), itu sebabnya durasi berpuasa pun cenderung stabil dari tahun ke tahun.

Hal berbeda dialami oleh negara yang berada di belahan bumi utara dan bumi selatan yang mengalami “perubahan ekstrem”, yakni ketika musim dingin lama waktu berpuasa menjadi lebih singkat, sedangkan ketika musim panas akan bertambah lama.

Di negara tropis, umunya umat Muslim berpuasa selama 11-16 jam selama bulan Ramadhan. Namun, di daerah kutub, periode antara fajar dan terbenam bisa melebihi 22 jam di musim panas. Misalnya, pada tahun 2014, umat Islam di Islandia dan Norwegia, berpuasa hampir 22 jam.

Sementara umat Islam di Sydney, Australia, berpuasa hanya sekitar 11 jam. Adapun sebagai alternatif, para ulama biasanya akan menganjurkan umat Muslim di daerah-daerah kutub untuk mengikuti waktu kota terdekat ketika puasa di bulan Ramadhan.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik