Rebo Wekasan dan Potret Tradisi Islam Nusatara

rebo wekasan

Pecihitam.org – Proses islamisasi di Nusantara selalu menyisakan banyak hal keistimewaan dan nilai tradisi yang lebih. Wali songo yang sebagai puncer atau patokan dari penyebaran islam itu memilikil legitimasi yang kuat di wilayah pesisir jawa.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Banyaknya peninggalan tradisi yang diajarkan melalui akulturasi budaya menjadi sebagian hal yang patut dirawat. Jika kita menilik kebelakang masyarakat nusantara sejak zaman wali, memiliki kerangka berfikir unik dan cukup maju. Pola pikir ini dibuktikan dari kemampuan masyarakat zaman dulu dalam menyerap pemahaman islam yang substantif.

Cara berfikir yang demikian ini tidak mudah terjebak dengan simbol-simbol keagamaan yang sifatnya filosofis. Dengan corak berfikir seperti ini memudahkan ajaran islam yang diakulturasikan dengan budaya lokal menjadi kekuatan dan keunikan tersendiri. Misalnya, tradisi Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan yang selalu dinantikan masyarakat pesisir jawa bagian utara.

Baca Juga:  Kritik Terhadap Khilafah Ala Hizbut Tahrir: Tiga Kerancuan Nalar

Peringatan Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan merupakan tradisi lokal dalam menolak bala. Keyakinan atas tradisi itu muncul dengan berbagai kebiasaan yang sudah dilakukan secara turun-menurun dalam diri masyarakat. Nah, tradisi ini merupakan bentuk dari penerimaan masyarakat dengan pola pikir yang tidak membuat terjebak pada simbolisme dalam agama.

Secara historis, menurut penelitian Nurozi menyatakan bahwa tradisi Rebo Wekasan ini dilatar belakangi pandapat Abdul Hamid Quds dalam kitab Kanzun Najah wa-Surur fi Fadhail al-Azminah wa-Shurur. Dalam kitab tersebut, setiap tahun pada hari rabu terakhir di bulan safar, Allah swt menurunkan 320.000 macam bala’ atau bencana ke bumi.

Saat itu juga, Rebo Wekasan lestari karena ada inti, yaitu bulan safar menjadi bulan bencana sekaligus menjadi bulan penyembuh. Namun, banyak orang juga yang melemahkan adanya tradisi tersebut karena dianggap menyimpang dari ajaran Islam.

Baca Juga:  Studi-Studi Teoritis Tentang Hubungan Islam Dan Negara

Meskipun begitu, bagi yang percaya dan yakin dengan tradisi tersebut karena sudah jelas ada dasar yang memberikan penguatan dan tujuannya tidak menyekutukan Allah swt.

Justru menjadikan Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan ini menjadi washilah (lantaran) untuk mendekatkan diri kepada Allah swt dan menolak bala’ atau musibah.

Tradisi ini sudah turun menurun dan diberbagai daerah banyak yang mengakomodir kebudayaan tersebut dijadikan sebuah pariwisata di daerah.

Tradisi ini memang sangat memiliki keunikan tersendiri, selain masih memiliki pegangan kuat terhadap ajaran islam dan juga menjadi lantaran untuk mendekatkan diri kepada yang maha kuasa.

Tradisi Rebo Wekasan ini banyak dilakukan oleh sebagian masyarakat muslim jawa yang memiliki domisili di kawasan pesisir jawa. Selain menjadi tempat pertama proses penyebaran islam di Jawa juga menjadi basis orang-orang dengan corak beragama yang kosmopolit. Sekaligus memiliki keterbukaan atas tradisi yang berjalan beriringan dengan ajaran islam.

Baca Juga:  Tidak Lama Lagi Idul Fitri, Inilah 7 Tradisi Lebaran yang Ada di Indonesia

Hal ini menunjukkan bahwa keterbukaan dan pola pikir masyarakat nusantara saat itu banyak terbuka dengan hal-hal baru. Justru, corak inilah yang sangat mendukung penyebaran luas islamisasi yang ada di Nusantara.

Dan tradisi ini merupakan bagian dari keunikan yang terus kita lestarikan dengan baik. Nah, maka dari itu potret keislaman yang tercermin dalam  wajah Islam Nusantara merupakan wajah islam yang genuine, dan mampu menghadirkan Islam ramah dan bertradisi. Wallahu’alam bis showaf

Arief Azizy

Leave a Reply

Your email address will not be published.