Rumah Ibadah dan Toleransi Antar Umat Beragama

Rumah Ibadah dan Toleransi

Pecihitam.org – Agama tidak mengenal kekerasan yang ada adalah kelembutan, agama tidak mengenal perang yang ada adalah mempertahankan diri dari musuh, agama tidak mengenal paksaan yang ada adalah ketulusan, ada tidak mengenal kebencian yang ada adalah kesih sayang.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ketika umat Hindu menyerang umat Islam di India tentu saja kita marah dan jengkel, sebab hakikat agama tidaklah demikian. Ketika Umat Kristen di Minahasa Utara merusak rumah ibadah umat Islam tentu saja kami marah, sebab ajaran Kristen adalah ajaran kasih pada sesama manusia.

Ketika umat Islam merusak dan melarang rumah ibadah agama lain, tentu saja saya pun jengkel sebab ajaran islam adalah rahmat bagi alam semesta. Agama apapun tidak mengajarkan kekerasan, yang ada adalah kepentingan yang menunggangi agama.

Kelompok mengatasnamakan agama itu nampaknya ada di semua agama. Oleh karena itu, yang perlu dilakukan saat ini dan seterusnya adalah menyebarkan konsep toleransi antar umat beragama dan mazhab. Hal itu penting karena tidak mungkin manusia itu hanya satu agama, mazhab, ras, suku. Memaksakan persamaan adalah bencana, menghargai perbedaan adalah keharusan.

Daftar Pembahasan:

Kenapa harus bertoleransi?

Manusia tercipta dengan begitu mulia, penciptaan manusia tanpa ada yang sama sedikitpun, karena tidak ada yang sama maka semua manusia memiliki hak yang sama untuk merasa sebagai makhluk yang berbeda dari lainnya tanpa harus merendahkan yang lain.

Selain penciptaan yang berbeda-beda, postur tubuh pun berbeda-beda. Ada yang gemuk, kurus, tinggi, pendek tetapi semua itu terbangun atas konsepsi manusia saja yang lahir karena melakukan perbandingan antara satu dengan lainnya.

Sebagian akan berkata, saya tinggi untuk ukuran Indonesia namun akan kelihatan pendek ketika berdiri bersama dengan Bule atau orang-orang timur tengah sana. Warna kulit pun demikian ada yang putih, hitam, saumatang.

Baca Juga:  Belajar Toleransi Beragama dari Sunan Kudus

Namun semua itu lahir dari persepsi kita ketika dilakukan perbandingan antara satu dengan lainnya. Kita tercipta tanpa ada kesamaan, perbedaan postur tubuh, warna kulit yang berbeda, dan suku yang berlainan.

Maka tidaklah bijak bila mengukur mulia dan tidaknya seseorang dengan menjadikan ukuran warna kulit, postur tubuh, suku dan sebagainya sebagai ukuran kemuliaan antara satu dengan lainnya.

Terlebih pada persoalan agama, manusia lahir sebagai agama Yahudi, Nasrani, Kristen, Budha, Hindu, Konghucu serta Islam bukanlah kehendak bebas manusia, ia lahir dari rahim ibunya yang memiliki agama yang berbeda-beda.

Melihat bahwa ternyata persoalan warna kulit, postur tubuh, suku, dan agama adalah pemberian langsung dari Tuhan, maka memaksakan apalagi menghina mereka yang berbeda dengan kita, pada hakikatnya kita menghina pencipta itu sendiri.

Karena ia adalah pemberian langsung dari Tuhan, maka memaksakannya agar sama adalah tindakan yang keliru. Kesadaran akan beragamnya manusia, maka toleransi terhadap keragaman adalah keharusan demi terciptanya hidup yang damai, sejahtera antara bangsa dan negara.

Interaksi sosial antara sesama manusia dalam al-Qur’an dikenal dengan konsep ta’aruf (saling kenal-mengenal) tanpa memperdulikan apapun agama, mazhab, ras, sukunya. Allah swt berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Terjemahnya: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian diciptakan dari laki dan perempuan, menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan berkabilah-kabilah supaya kaliah saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang bertakwa.” (Qs. al-Hujurat/49: 13)

Ayat ini membangun konsep ta’aruf tanpa menyinggung agama, sebab al-Qur’an ingin menegaskan bahwa setiap manusia pada hakikatnya harus saling mengenal tanpa harus memperhatikan agamanya.

Baca Juga:  Kritik Gus Dur untuk Novelis V. S. Naipul tentang Islam yang Marah

Bentuk-Bentuk Toleransi

Kata toleransi berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata tolerate yang memiliki makna sabar, menahan diri. Artinya toleransi hanya bisa terwujud apabila masing-masing manusia memiliki sifat sabar bila melihat ada yang berbeda dengan yang lain. Dari sifat sabar akan membuat manusia untuk menahan diri dari hal-hal negatif.

Toleransi ditandai dengan tidak melakukan diskriminasi terhadap sesama manusia baik karena berbeda ras, postur tubuh, suku ataupun karena agama yang berbeda. Bentuk lain dari toleransi adalah lapang dada untuk menerima kehadiran sesama manusia walaupun berbeda ras, postur tubuh, suku serta agama ataupun mazhab lain.

Manusia terkadang sulit menerima perbedaan pada sesamanya karena ada rasa khawatir akidahnya, imannya rusak padahal ini sebuah tindakan yang keliru. Jika meyakini bahwa agama Islam yang paling benar, maka pada saat yang sama kitapun harus mengakui bahwa Islam mengajarkan manusia untuk menghargai ras, suku, postur tubuh, agama, mazhab yang berbeda.

Sebagian orang takut mengantar orang yang beragama Kristen ke Gereja karena menganggap agama Kristen salah dan Islamlah yang benar, padahal Islam mengajarkan untuk menghormati agama lain, dan salah satu bentuk menghormati agama orang lain bisa dalam bentuk mengantarnya ke Gereja. Apakah ini merusak akidah, iman? Menurut saya tidak separah itu kawan.

Dalil-Dalil Toleransi

Nampaknya agama menempati posisi pertama yang menghalangi manusia dalam berinteraksi dengan manusia yang memiliki agama yang berbeda. Sebab khawatir akidah, iman mereka “rusak.”  Bagaimana al-Qur’an memberikan petunjuk kepada umat Islam dalam berinteraksi dengan agama lain.

Ajaran Islam tidak memaksakan keyakinannya terhadap agama lain, sebab dasar ajaran islam adalah ketulusan. Buat apa memaksakan keyakinan kalau pada akhirnya mereka tidak tulus dalam menjalankannya. Di dalam al-Qur’an Surah al-Baqarah ayat 256 Allah swt berfirman:

Baca Juga:  Trend Hijrah dan Simbolisme Eksklusif dari Pengklaim Kebenaran

لااكراه فى الدين
“Tidak ada paksaan dalam agama.”

Oleh karena itu, tindakan memaksakan agama kepada orang lain bertentangan dengan semangat islam itu sendiri. Di dalam al-Qur’an surah al-Kafirun ayat 6 menegaskan kebebasan dalam memilih agama.

Dalam sejarah Nabi saw dengan agama Yahudi dan Nasrani melakukan sebuah kesepakatan, kesepakatan tersebut dikenal sebagai Piagam Madinah. Ini adalah kontrak pertama dalam sejarah kemanusiaan yang masih terpelihara sampai saat ini.

Piagam Madinah pada hakikatnya adalah kesepakatan antar umat beragama untuk hidup damai tanpa harus saling mengganggu dalam beribadah dan beraktivitas. Dalam hadis Nabi saw bersabda:

“Kasihanilah penduduk yang ada di bumi maka kalian akan dikasihi oleh orang yang ada dilangit.” (HR. Tirmidzi).

Interaksi sosial dilakukan tanpa mengenal ras, suku, agama ataupun mazhab, tetapi dilakukan kepada semua sesama manusia apapun agama, mazhabnya. Terlarang bagi umat Islam untuk menghina agama, keyakinan umat lain. Bahkan dengan tegas melarang menghina sembahan-sembahan agama lain (lihat Qs. Al-An’am ayat 108).

Bayangkan sembahan agama lain dilarang untuk dihina padahal sembahan itu adalah bukan Tuhan. Lalu apakah Tuhan membolehkan ada sembahan selain dirinya? Tentu saja tidak. Tetapi memaksa orang lain untuk memiliki keyakinan sama dengan kita juga terlarang.

Kayakinan harus atas dasar kesadaran dan ketulusan tanpa paksaan sedikitpun. Beginilah yang diinginkan oleh ajaran Islam. Islam adalah agama damai, islam adalah agama kasih sayang bagi seluruh alam.

Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.

Muhammad Tahir A.