Mengenal Said Al Musayyib, Sang Pembesar Tabi’in dan Menantu Abu Hurairah

Mengenal Said al Musayyib, Sang Pembesar Tabi’in dan Menantu Abu Hurairah

Pecihitam.org– Dialah Said bin al Musayyib bin Hazn bin Abi Wahb Ibnu Amr bin A’id bin Imran bin Makhzum al-Qurasy Al-Makhzumi Al-Madani. Adapun panggilannya yakni Abu Muhammad.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Adapun kapan beliau lahir, maka beberapa ulama mengatakan bahwasanya beliau lahir pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin al Khattab, sebagaimana yang diriwayatkan oleh  imam Adz-Dzahabi bahwasanya beliau lahir pada saat pemerintahan Khalifah umar bin Al-Khathab berjalan dua atau empat tahun.”

Sedangkan Ibnu Sa’ad berkata, “Muhammad bin Umar mengatakan bahwa Muhammad bin Umar pernah berkata, “Demi Allah, apa yang aku tahu dan disaksikan juga oleh banyak orang adalah dia Said bin al Musayyib dilahirkan setelah pemerintahan Umar bin Al-Khathab berialan selama dua tahun.”

Sedangkan jika berbicara tentang kapan beliau menutup usia, maka Dari Abdul Hakim bin Abdullah bin Abi Farwah berkata, “Said bin al Musayyib meninggal dunia di Madinah pada tahun 94 Hijriyah pada masa pemerintahan Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik’ Pada saat meninggal dunia, dia berumur 75 tahun. Tahun dimana Said meninggal dunia disebut sebagai sanah Al-Fuqaha’ (tahun bagi para ulama fikih) karena pada saat itu banyak ahli fikih yang meninggal dunia.”

Ciri Ciri Said al Musayyib

Seperti yang dikatakan oleh Dari Abu Al-Ghushn, beliau berkata bahwa “Dia melihat said bin al Musayyib dengan rambut beruban dan jenggot yang  memutih”

 Dari Muhammad bin Hilal, dia berkata bahwa “Dia pernah melihat said bin al-Musayyib dengan penglihatannya yang rabun, dia memakai kopiah halus dan surban berwama putih, dan terdapat pula bendera warna merah yang membentang sejengkal di belakangnya.”

Intelektual seorang Said bin Al-Musayyib

Sebagai tokoh pembesar tabi’in, tentu sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Said bin al Musayyib bukankah tokoh biasa, melainkan pengetahuannya tentang agama sangatlah luas dan diakui oleh berbagai kalangan, diantaranya:

  1. Dari Yahya bin Hibban, beliau berkata, “Tokoh terkemuka di Madinah pada masanya dan yang sangat dihormati dalam bidang fatwa adalah Said bin al Musayyib. Ada yang menyebutkan bahwa dia adalah imam para ulama fikih'”
  2. Qatadah berkata, “Aku belum pemah melihat seseorang yang lebih tahu tentang hukum halal dan haram dari Said bin al-Musayyib.”
  3.  Dari Malik beliau berkata, “Sesungguhnya Al-Qasim bin Muhammad pernah ditanya seseorang tentang suatu permasalahan, Ialu dia berkata, “Apakah Anda telah bertanya kepada seseorang selain aku?” Orang itu menjawab, “Ya, sudah, aku bertanya kepada Urwah dan Said bin Al Musayyib.” Lalu dia berkata, “Ikutilah pendapat Said bin al-Musayyib karena dialah guru dan pembesar kami.” Malik berkata, “Said bin Al-Musayyib pernah ditanya tentang riwayat Umar bin Al-Khathab, karena dia adalah orang yang sering menyimak keputusan-kepuhrsan umar bin Al-Khathab mempelajarinya. Jika Ibnu Umar datang kepadanya tentu akan bertanya tentang keputusan-keputusan bapaknya Umar bin Al-Khathab.”
  4. Dari Abu Ali bin Husain, dia berkata, “Said bin al Musayyib adalah orang yang paling luas wawasan kelimuannya tentang hadits-hadits dan perkataan para sahabat disamping dia juga orang yang paling mumpuni pendapatnya.”

Keahliannya dalam menafsirkan Mimpi

Baca Juga:  Biografi Imam Abu Dawud, Pengarang Kitab Sunan Abu Dawud

Tidak hanya sebagai ulama terkemuka dan pembesar tabi’in, melainkan beliau pun termasuk tokoh yang pandai dalam menafsirkan sebuah mimpi, maka tak heran ketika para sahabatnya sedang mengalami mimpi yang menurutnya agak mengganjal, maka tak segan beliau menjelaskan terkait makna yang tersirat dari mimpi tersebut.

Dan hal ini sesuai dengan apa yang diceritakan oleh para ulama bahkan diabadikan beberapa kitab:

  1.  Sebagaimana Dalam kitab Ath-Thabaqat, Ibnu Sa’ad meriwayatkan beberapa mimpi dan penafsiran Said bin al-Musayyib terhadap mimpi-mimpi tersebut, yang kemudian dikutip oleh Adz-Dzahabi dalam kitab Sair-nya, yang di antaranya adalah sebuah hadits yang diriwayatkan Amr bin Hubaib bin Qulai’, dia berkata, “Pada suatu saat aku berbincang-bincang dengan Said bin al Musayyib, kemudian aku merasa ada sesuatu yang membebani pikiran dan menggoyahkan agamaku, kemudian seorang lelaki datang kepadaku dan berkata, “Aku pernah bermimpi bertemu dengan Khalifah Abdul Malik bin Marwan,lalu aku mendorongnya hingga jatuh ke tanah dan melukainya, lalu aku mengikat punggungnya dengan empat tali.”

Said bin al-Musayyib bertanya, “Apakah mimpi kamu memang benar begitu?” dia menjawab, “Ya, benar!” Said berkata, “Aku tidak akan memberitahukan kepadamu walaupun kamu telah memberitahukan kepadaku.” Amr selanjutnya berkata, “Ibnu Zubair juga bermimpi serupa, sehingga dia pun menyuruhku untuk datang kepadamu.”

Said bin al-Musayyib berkata, “]ika memang mimpinya benar seperti apa yang kamu utarakan, maka Ibnu Zubair akan dibunuh oleh Abdul Malik bin Marwam. Sedangkan, Abdul Malik sendiri akan melahirkan empat putera yang kesemuanya akan menjadi khalifah.”

Baca Juga:  Kisah Kewalian Gus Miek (KH. Hamim Jazuli)

Amr selanjutnya berkata, “Kemudian aku bergegas menemui Khalifah Abdul Malik bin Marwan di Syam dan menceritakan mimpi dan penafsiran (Said bin Al-Musayyib) itu dan dia pun sangat senang.

Kemudian, sang khalifah bertanya kepadaku tentang Said dan keadaannya. Lalu aku beritahukan tentangnya, kemudian dia memerintahkan kepada pengawalnya untuk membayar hutang-hutangku dan aku pun mendapat banyak keberuntungan darinya.”

2. Adapun sumber lain mengatakan bahwa Ada juga yang bertanya, “Wahai Abu Muhammad, aku bermimpi seola holah aku berada di balik bayangan matahari, kemudian aku berdiri menatap matahari.” Said menjawab,”Jika mimpimu benar seperti itu, maka kamu akan keluar dari Islam.” Laki-laki itu bertanya lagi, “Wahai Abu Muhammad, sesungguhnya aku melihat diriku dikeluarkan dengan paksa, sehingga aku berada di bawah terik matahari lalu aku duduk.” Dia berkata, “Kamu akan dipaksa untuk kufur (keluar dari Islam).” Perawi selanjutnya mengatakan, “Kemudian laki-laki itu benar ditawan dan dipaksa untuk keluar dari Islam, lalu dia dilepaskan. Dan, di Madinah dia menceritakan kejadian yang menimpanya itu.”

Guru dan muridnya

Guru: Berdasarkan salah satu riwayat dikatakan bahwa Dari Hisyam bin Sa’ad, dia berkata “Aku pernah mendengar Az-Zuhri berkata ketika ada seseorang bertanya kepadanya, “Dari mana Said bin Al Musayyib menimba ilmu?” Az-Zuhri menjawab, “Dari Zaid bin Tsabit, dia juga pernah berguru pada Sa’ad bin Abi Waqqash, Ibnu Abbas dan Ibnu Umar.

Beliau juga berguru kepada isteri-isteri Rasulullah, seperti Sayyidah Aisyah dan Ummu Salamah ra.,  Selain itu, dia juga pernah berguru pada Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Shuhaib, Muhammad bin Maslamah ra., serta banyak meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah yang merupakan mertuanya sendiri.

Baca Juga:  Sayyidah Nafisah binti Hasan, Cicit Rasulullah Guru Imam Syafii

Selain itu, beliau juga mendengar hadits dari para sahabat Umar bin Al-Khathab dan juga para sahabat Utsman bin Affan Dia pernah disebut sebagai orang yang paling tahu tentang apa yang pernah diputuskan Umar bin Al-Khathab dan Utsman bin Affan ra., dalam pengadilan.

Adapun murid muridnya

  1. Muhammad (Puteranya sendiri),
  2. Salim bin Abdulah bin Umar,
  3. Az-Zuhri,
  4. Qatadah,
  5. syarik bin Abi Tamar,
  6. Abu Az-Zinad, sulami,
  7. Sa’ad bin Ibrahim,
  8. Amr bin Murrah,
  9. Yahya bin said Al-Anshari,
  10. Dawud bin Abi Hind,
  11. Thariq bin Abdirrahman,
  12. Abdul Hamid bin jubair bin syu’bah,
  13. Abdul Khaliq bin salamah,
  14. Abdul Maiid bin sahl,
  15. Amr bin Muslim bin lmarah bin Ukaimah,
  16. Abu Ja’far AI-Baqir,
  17. Ibnu Al-Munkadir.

Nasehat Said al Musayyib

  1. Dari Ali bin zaid, dari said bin al-Musayyib, dia berkata, “Tidak ada yang lebih mudah bagi setan untuk menggoda kecuali melalui perempuan.” Kemudian, said berkata kepada kami dimana saat itu umurnya sudah lanjut dan salah satu penglihatannya telah buta, sedang yang tersisa pun sudah kabur penglihatarurya karena rabun, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih aku takutkan daripada perempuan”
  2. Dari Abdurrahman bin Harmalah, dia berkata bahwa dia pernah bertanya kepada said bin al-Musayyib, “Aku menjumpai seorang lelaki yang mabuk karena perbuatannya sendiri, apakah aku boleh untuk tidak melaporkannya kepada penguasa?” Dia menjawab, “Jika kamu bisa menutupinya dengan pakaianmu, maka tutupilah”

Sekiranya itulah perjalanan singkat tentang seorang Said al Musayyib, semoga bermanfaat!

Sumber: 60 Biografi Ulama Salaf oleh Syaikh Ahmad Farid

Rosmawati