Kisah Seorang Hamba Salah Doa “Ya Allah, Engkau Hambaku dan Aku Ini Tuhan-Mu”

Pecihitam.org – Kegembiraan yang tidak terkontrol kerap membuat seseorang hilang “keseimbangan” karena mengekspresikan perasaan berlebihan yang terkadang sulit dikendalikan . Hal ini wajar karena gembira merupakan perkara hati yang tidak bisa dibohongi.

Karena terlewat gembira, terkadang seseorang tidak menyadari apa yang diucapkan dan diperbuatnya. Bahkan bisa sampai berkata “Ya Allah, Engkau hambaku dan aku ini Tuhan-Mu”.

Ungkapan ini bukanlah ungkapan yang mustahil diucapkan, karena pernah diceritakan dalam hadits nabi. Anda bisa bayangkan ketika Anda mendapat kebahagiaan yang luar biasa, kebahagiaan yang baru saja Anda rasakan dalam hidup Anda.

Jelas Anda akan kehilangan kendali, semua ekspresi kebahagiaan akan Anda ekspresikan. Ya, dari mulai teriak keras, menangis haru, hingga menjambak atau “memukul” orang yang berada di sekitar Anda. Ini lazim.

Ekspresi kegembiraan di atas tentunya dinisbatkan kepada manusia. Demikian pula dengan Allah, Tuhan semesta alam. Allah sendiri merasa gembira ketika hamba-Nya yang beriman bertobat kepada-Nya.

Jelas kegembiraan Allah tidak dapat disamakan dengan gembiranya makhluk, (karena tiada suatu apa pun yang menyerupai Allah -laisa kamitslihi syaiun-). Sungguh penulis menyerahkan pemaknaan sifat “gembira” yang pantas bagi Allah kepada Allah semata.

Baca Juga:  Kisah Cinta Beda Agama, Zainab Putri Rasulullah dan Abil Ash bin Rabi

Dahsyatnya, kegembiraan Allah saat orang mukmin tobat kepada-Nya ini melebihi gembiranya seseorang yang hewan tunggangannya membawa perbekalan, lepas di padang pasir kemudian kembali ia temukan. Hal ini berdasarkan hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas bin Malik, yaitu sebagai berikut:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ وَهُوَ عَمُّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash Shabbah dan Zuhair bin Harb mereka berdua berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Yunus telah menceritakan kepada kami ‘Ikrimah bin ‘Ammar telah menceritakan kepada kami Ishaq bin ‘Abdullah bin Abu Thalhah telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik -dan dia adalah pamannya- dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Sungguh kegembiraan Allah karena taubatnya hamba-Nya melebihi kegembiraan salah seorang dari kalian terhadap hewan tunggangannya di sebuah padang pasir yang luas, namun tiba-tiba hewan tersebut lepas, padahal di atasnya ada makanan dan minuman hingga akhirnya dia merasa putus asa untuk menemukannya kembali. kemudian ia beristirahat di bawah pohon, namun di saat itu, tiba-tiba dia mendapatkan untanya sudah berdiri di sampingnya. Ia pun segera mengambil tali kekangnya kemudian berkata; ‘Ya Allah Engkau hambaku dan aku ini Tuhan-Mu.’ Dia telah salah berdo’a karena terlalu senang.’ [HR. Muslim].

Berdasarkan hadis ini, dapat kita bayangkan bahwa seseorang yang tengah melakukan perjalanan di padang pasir yang luas disertai hewan tunggangan yang di atas punggungnya disimpan perbekalan.

Baca Juga:  Kisah Doa yang Dikabulkan dan Bukti Kehambaan Manusia

Kemudian hewan yang membawa perbekalannya tersebut lepas saat ia tertidur. Saat terbangun, jelas ia merasa kehilangan dan sedih luar biasa. Kemudian ia mencari kesana kemari namun nihil, hewan tunggangannya pergi entah kemana. Akhirnya ia pun merasa putus asa.

Ia putuskan untuk beristirahat di bawah pohon -dalam redaksi lain: ia putuskan kembali ke tempat tidur sampai ia mati (saking putus asanya)-. Saat ia kembali terbangun, nampaklah hewan tunggangannya telah berada di sampingnya, lengkap dengan perbekalan yang berada di atas punggungnya. Kemudian dia berdoa “Ya Allah, Engkau hambaku dan aku ini Tuhan-Mu”.

Jelas redaksi doa ini salah, demikian menurut Rasul. Harusnya “Ya, Allah, aku ini hamba-Mu dan Engkau ini Tuhanku”. Saking gembira dan terlewat bahagia karena tunggangannya kembali, dia berdoa dengan tidak sadar bahwa redaksinya terbalik.

Baca Juga:  Kisah Khalifah Umar bin Khattab Ketemu Calon Menantu

Ya, ini adalah sesuatu yang tidak mustahil untuk terjadi. Semoga Allah mengampuni segala kekeliruan kita yang disebabkan terlewat bahagia. Amin. Wallaahu a’lam bishsawab.

Azis Arifin
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG