Salah Satu Keutamaan Orang Miskin adalah Didekatkan dengan Nabi

keutamaan orang miskin

Pecihitam.org,– Hidup Miskin atau menjadi orang miskin, kondisi dan situasi inilah yang kadang menjadi duri dimana hampir semua orang tak ingin mendektinya dan menjadi bagian darinya. Karena faktanya hampir semua orang tidak ingin hidupnya berada dalam kemiskinan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Mengapa? Itu tidak lain karena kita hanya memandang keindahan dunia ini yang selalu di identik-kan dengan kekayaan. Bahkan menganggap bahwa kemiskinan adalah kesengsaraan hidup yang tak akan mungkin membuat kita bahagia.

Namun apakah hidup miskin dan fakir itu adalah kondisi yang memang benar benar buruk? Atau bahkan pantas untuk kita jauhi demi mendapatkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup?

Tentu tidak sama sekali, karena seandainya kemiskinan adalah kehidupan yang paling buruk, tentulah Rasulullah Saw., akan meminta hidup yang berada dalam gelimangan harta, namun fakta sejarahnya? Rasulullah Saw.., adalah orang mulia yang memilih untuk hidup miskin.

Sebagaimana dalam riwayat Imam at Tirmidzi: Beliau menuturkan bahwasanya hadis ini adalah hasan gharib, dari Anas bin Malik, Nabi Saw., bersabda

“Ya Allah hidupkanlah aku dengan kadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan giringlah aku pada hari kiamat nanti bersama orang orang miskin”. Lantas Aisyah r.a., bertanya “Mengapa demikian ya Rasulullah?

beliau menjawab “Sesungguhnya mereka memasuki Surga sebelum orang orang kaya dengan selisih jarak perjalanan selama 40 musim gugur, wahai Aisyah janganlah kamu merendahkan orang miskin, walau hanya dengan separuh buah kurma. Wahai Aisyah, cintailah orang orang miskin dan dekatilah mereka, sesungguhnya Allah akan mendekatkanmu kelak di hari kiamat”

Sehingga dari hadis diatas selain menggambarkan diri Rasulullah Saw., yang lebih memilih untuk hidup miskin, rupanya pun menyebutkan terkait keutamaan orang orang miskin yang rupanya jauh lebih dulu masuk surga dibanding mereka yang hidup dalam gelimangan harta.

Baca Juga:  Tawakal Kepada Allah, Bukan Sekedar Pasrah Namun Juga Usaha

Tidak hanya itu, dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah dan menilai hadis ini sebagai hadis sahih, dari Abu Salam al Aswad, ia berkata kepada Umar bin Abdul Aziz, “Aku mendengar Tsauban r.a., berkata Rasulullah Saw., bersabda

Telagaku luasnya antara ‘Adn hingga ‘Amman al Balqa’. Airnya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu. Gayungnya banyak seperti bintang yang bertebaran. Siapa saja yang meminum airnya maka selamanya tidak akan merasa kehausan. Orang yang pertama kali memasukinya adalah kelompok Muhajirin yang fakir, rambutnya acak acakan, bajunya lusuh, tidak menikahi perempuan yang kaya raya, dan tidak dibukakan pintu saat mereka meminta minta”

Berangkat dari dua hadis diataslah seharusnya telah menyadarkan kita, bahwasanya hidup dalam kemiskinan bukanlah suatu perkara yang malah membuat kita harus sedih dan merasa sangat rendah.

Apalagi jika kita sampai berburuk sangka kepada Allah Swt dengan sangkaan yang tidak tidak, seperti mengira bahwasanya Allah tidak adil terhadap kehidupan para hamba hambanya, pilih kasih dan perkiraan buruk lainnya.

Tentulah persangkaan buruk ini harusnya kita benahi, dan menyadari bahwasanya Allah Swt., akan selalu berlaku adil bagi seluruh hamba hambanya. Dan satu hal yang pasti, Allah Swt., akan menggantikan pahala yang melimpah di akhirat kelak bagi mereka yang menerima kemiskinan dengan penuh kesabaran dan kesyukuran.

Baca Juga:  Dituduh Sebagai Kaum Penyembah Kubur? Santai, Tunjukan Saja Hujjah Ini

Sekaligus inilah yang membuat mengapa orang-orang miskin diberi keutamaan dan kemuliaan dalam Islam, bahkan seperti yang disebutkan pada hadis diatas bahwasanya Rasulullah Saw., meminta dirinya digiring pada hari kiamat bersama dengan orang orang miskin.

Mengapa? Karena sudah kita ketahui bahwasanya orang orang miskin bukanlah orang biasa, melainkan orang yang mampu bersabar dalam menghadapi pahitnya kehidupan, bersyukur sekalipun diberi sedikit harta, bahkan bertahan sekalipun dikucilkan dan dihina oleh orang orang kaya.

Sebagaimana dalam hadis riwayat Ath Thabrani dan Ibn Hibban dalam Shahih Hibban, dari Abdullah bin Amru bin ‘Ash r.a., Nabi Saw., bersabda

“Mereka dikumpulkan pada hari kiamat, lalu ditanyakan, ‘dimanakah kaum fakir dari umat ini? Apa yang telah kalian lakukan?’. Mereka menjawab ‘Wahai Tuhan kami, kami di uji, namun kami sabar dalam menghadapi ujian itu, sementara Engkau memberikan harta dan kekuasaan kepada selain kami’. Lalu Allah berfirman, ‘Kalian benar’. Perawi berkata, ‘Lalu mereka memasuki Surga, sebelum golongan lain. Mereka yang dahulu memiliki harta dan kekuasaan tetap mendapat hisap’.

Selain itu, sebagai agama yang penuh cinta dan kasih sayang, Islam tidak hanya menyediakan balasan berupa Surga bagi orang miskin yang bersabar dan bersyukur. Melainkan memerintahkan  kita untuk mencintai orang orang miskin dan fakir.

Baca Juga:  5 Cara Ampuh Mengatasi Stres Menurut Pandangan Islam

Sehingga berangkat dari sini, Islam sangat menganjurkan kita para umatnya untuk saling mencintai sekalipun antara si kaya dan miskin. Dan dengan inipula si miskin tidak akan merasa terkucilkan di tengah tengah orang kaya.

Sebagaimana dalam hadis riwayat Ath-Thabrani dalam al Mu’jam al Awsath dan Ibnu Hibban, dari Abu Dzarr r.a., ia berkata

“Kekasihku Rasulullah Saw., berwasiat kepadaku untuk melaksanakan beberapa kebaikan, yaitu tidak melihat orang yang berada di atasku, hendaknya melihat orang orang yang berada di bawahku, mencintai orang orang miskin dan dekat dengan mereka, serta menyambung tali persaudaraan, meskipun mereka memutusnya”

Itulah sekilas terkait keutamaan orang miskin dan fakir dalam Islam, dan semoga kita termasuk orang orang yang mencintai orang miskin guna menjadi bukti bahwasanya, kita mencintai persaudaraan yang tidak hanya memandang orang lain dari segi materialnya saja. Dan jikalau pun kita termasuk orang orang yang berada dalam kemiskinan, semoga saja kita selalu diberi kesabaran dan kesyukuran, Aamiin.

Rosmawati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *