Sampaikah Pahala Bacaan Alquran dan “Berkat” Tahlil bagi Orang yang Meninggal?

pahala bacaan alquran

Pecihitam.org – Kematian adalah keniscayaan bagi setiap makhluk yang bernyawa di alam jagat raya ini. Bagi manusia, kematian adalah kiamat kecil yang merupakan gerbang awal untuk memasuki “kehidupan” berikutnya. Jika, sang mayit mendapatkan nikmat dan terhindar dari siksa kubur, maka di antara mereka saling berkenalan dan mengunjungi antar satu dengan lainnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Oleh karenanya, Allah swt menghidupkan kembali mereka bak di dunia. Tanah kubur dan tapal batas bukan halangan bagi mereka untuk saling bercengkrama dan bersilaturahim. Ini adalah perkara ghaib yang wajib diimani oleh umat muslim seluruhnya. Sebagaimana termaktub dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin halaman 221.

أن الأموات يتعارفون و يتزاورون في قبورهم… ولا تكون الأرض حائلة إذ ذاك من أمور الغيب الواجب الإيمان بها و ليست جارية على العادة وهذا في حق المؤمن الناجي من العذاب بل من توجه إليه النعيم جسما و روحا

Artinya: “Sungguh para mayit di dalam kubur saling berkenalan dan mengunjungi antar satu dengan lainnya… Tanah tidaklah menjadi faktor penghalang karena yang demikian merupakan perkara ghaib yang wajib diimani. Namun perlu dicatat bahwa yang demikian bukan sesuatu yang dirasakan oleh seluruh mayit, melainkan hanya oleb mayit yang mendapat nikmat dan terbebas dari siksa kubur, baik jasadnya maupun ruhnya”.

Baca Juga:  Adab Orang Tua kepada Anak, Keluarga Milenial Wajib Baca

Barangkali karena hal ini, Imam Ramli dalam kitab Nihayatul Muhtaj juz 6 halaman 92 mengungkapkan bahwa pahala bacaan Alquran yang ditujukan kepada mayit/orang telah meninggal mutlak sampai tanpa terhalang sesuatu apapun.

اﻟﺤﺎﺻﻞ ﺃﻧﻪ ﺇﺫا ﻧﻮﻯ ﺛﻮاﺏ ﻗﺮاءﺓ ﻟﻪ ﺃﻭ ﺩﻋﺎء ﻋﻘﺒﻬﺎ ﺑﺤﺼﻮﻝ ﺛﻮاﺑﻬﺎ ﻟﻪ ﺃﻭ ﻗﺮﺃ ﻋﻨﺪ ﻗﺒﺮﻩ ﺣﺼﻞ ﻟﻪ ﻣﺜﻞ ﺛﻮاﺏ ﻗﺮاءﺗﻪ ﻭﺣﺼﻞ ﻟﻠﻘﺎﺭﺉ ﺃﻳﻀﺎ الثواﺏ، ﻓﻠﻮ ﺳﻘﻂ ﺛﻮاﺏ اﻟﻘﺎﺭﺉ ﻟﻤﺴﻘﻂ ﻛﺄﻥ ﻏﻠﺐ اﻟﺒﺎﻋﺚ اﻟﺪﻧﻴﻮﻱ ﻛﻘﺮاءﺗﻪ ﺑﺄﺟﺮﺓ ﻓﻴﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻻ ﻳﺴﻘﻂ ﻣﺜﻠﻪ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﻟﻠﻤﻴﺖ…

Artinya: “Apabila seorang yang hidup berniat mengirimkan pahala bacaan Alquran (dimanapun tempatnya, baik di rumah atau di atas kubur) atau mendoakan terhadap orang yang telah meninggal maka hasil/sampailah pahala bacaan tersebut seperti bacaan halnya pahala bacaan si pembaca. Bahkan seumpama pahala si pembaca gugur, misal karena mengharap upah, maka pahala bacaan bagi sang mayit tetap sampai dan tidak kurang sedikitpun…”

Dalam bahasa lainnya, hal ini berkesesuaian dengan tradisi yang menjamur di Indonesia. Tradisi baik ini hampir dijalankan di setiap daerah, baik desa maupun kota. Yang mana, istilah akrabnya kita kenal dengan tahlilan.

Baca Juga:  Benarkah Muktamar NU Menghukumi Makruh Tahlilan, Seperti Tuduhan Wahabi?

Tradisi tahlil warisan ulama Indonesia ini telah dilegitimasi dalam banyak karya para ulama saleh terdahulu, di antaranya kitab Rasail Assalafiyah halaman 46 yang mengungkapkan bahwa tradisi tahlil telah berjalan di berbagai negara di dunia.

Lantas, mana yang lebih utama bagi sang mayit antara sedekah dan bacaan Alquran?

Imam Ibnu Hajar al Haitami dalam kitab al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra juz 2 halaman 9 mengungkapkan sedekah yang paling utama.

ﻭﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ اﻟﺼﺪﻗﺔ ﺃﻓﻀﻞ ﺇﺫ ﻻ ﺧﻼﻑ ﻓﻲ ﻭﺻﻮﻟﻬﺎ ﺑﺧﻼﻑ اﻟﻘﺮاءﺓ ﻭاﻷﻓﻀﻞ ﻣﻨﻬﺎ ﻣﺎ ﺩﻋﺖ اﻟﺤﺎﺟﺔ ﺇﻟﻴﻪ

Artinya: “Tentunya sedekahlah yang paling utama sebab tidak adanya perbedaan pendapat dalam sampainya pahala sedekah, berbeda halnya dengan bacaan Alquran. Sedang sedekah yang paling utama adalah terhadap mereka yang membutuhkan”.

Bagaimana dengan Indonesia? Penulis sampaikan, kiranya kebanyakan mayit yang “ditahlili” di Indonesia mendapat pahala “nomplok”. Di samping pahala bacaan Alquran, juga pahala sedekah. Karena budaya tahlil di Indonesia selalu diiringi dengan “berkat”.

Baca Juga:  Hukum Puasa Mutih Menurut Pandangan Islam, Bolehkah?

Ragam pelaksanaannya bervariasi, ada yang di masjid adapula yang di rumah sang mayit. Namun perlu diingatkan bahwa niat yang baik, akan mendapat balasan baik.

Sebaliknya, niat menghadiri tahlil hanya karena ingin mendapat “berkat”, tentu yang didapat hanya berkat dan mayit mendapat banyak limpahan pahala, tidak kurang sama sekali. Demikian, semoga bermanfaat. Wallaahu a’lam bishshawaab.

Azis Arifin

Leave a Reply

Your email address will not be published.