Mengenal Santri Lebih Jauh Terkait Sejarah, Istilah, Penghargaan dan Islam Moderat

Mengenal Santri Lebih Jauh Terkait Sejarah, Istilah, Penghargaan dan Islam Moderat

PeciHitam.org – Santri diidentikan dengan sarung, peci dan hidup dalam asrama pendidikan Islam atau sering disebut Pondok Pesantren. Kaum ini mengidentikan diri mempelajari keilmuan Agama dengan mendalam, bahkan menganggap mereka merupakan pelajar kasta kedua.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Banyak Pondok Pesantren masih mengadopsi kurikulum tradisional/ salaf dalam pembelajarannya. Hafalan dan tirakat masih menjadi bagian tidak terpisahkan dari Pondok Pesantren.

Akan tetapi era ini, santri dan pesantren banyak melakukan transformasi sosial maupun akademik guna menyejajarkan diri dengan lembaga pendidikan Formal lainnya. Santri saat ini tidak bisa dipandang sebelah mata.

Sebab dalam perjalanan bangsa dan negara Indonesia, mereka mempunyai andil besar dalam perjuangan dan pemikiran Indonesia. Pun demikian, pada zaman perjuangan adalah seorang santri yang berjuang gigih melawan penjajah Belanda, yaitu Pangeran Diponegoro.

Bahkan Presiden Republik Indonesia keempat, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), adalah seorang santri tulen. Beliau terkenal dengan kecerdasan, Bapak Bangsa, Intelektualitas dan perjuangan tanpa pamrih bagi Indonesia.

Berselang 2 dekade, muncul seorang santri lagi yang menjadi pucuk pimpinan Negeri ini, beliau adalah Prof. KH. Maruf Amin, seorang jebolan pesantren Tebu Ireng Jombang.

Sejarah dan Istilah

Kata santri yang sering kita dengar ternyata memiliki sejarah panjang dan filosofis mendalam. Terkait sejarah kata “Santri” KBBI menuliskan bukan berasal dari Bahasa Indo-Melayu, akan tetapi berasal dari bahasa Sanskerta.

KBBI menuliskan juga bahwa arti kata “Santri” memiliki dua arti, pertama: Orang yang mendalami agama Islam, kedua; Orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh atau orang yang saleh.

Jamaknya, orang menyebut santri bagi seseorang yang sedang atau pernah memperdalam ajaran agama Islam di pondok pesantren. Kata “Pesantren” oleh sebagian kalangan diyakini sebagai asal-usul tercetusnya istilah “santri.”

Dari kata Pesantren merupakan bentuk “Tempat” bagi santri. Sebagaimana tempat untuk “Makam” akan disebut “Pemakaman”, tempat untuk “Mandi” akan menjadi “Pemandian” kata tempat untuk “Santri” akan menjadi “Pesantrian” yang berubah menjadi “Pesantren”.

Baca Juga:  Lailatul Ijtima’, Amalan Nahdliyin Dari Dulu Hingga Kini

Kendati demikian, banyak teori yang memaparkan sejarah atau asal usul kata “santri”. Bahkan, tidak sedikit ahli yang meyakini bahwa tradisi nyantri sudah ada sejak sebelum ajaran Islam masuk ke Nusantara, atau dengan kata lain pada masa Hindu dan Buddha.

Dalam buku Unsur Budaya Peralihan oleh Habib Mustopo mengatakan kata “santri” berasal dari bahasa Sanskerta. Istilah “santri”, menurut pendapat itu, diambil dari salah satu kata dalam bahasa Sanskerta, yaitu sastri yang artinya “melek huruf” atau “bisa membaca”.

Pendapat ini senada dengan pendapat Berg bahwa “santri” berasal dari kata shastri yang dalam bahasa India. kata shastri dalam bahasa India berarti “orang yang mempelajari kitab-kitab suci agama Hindu“. Dan kita semua tahu bahwa sebelum Islam datang, Nusantara mayoritas beragama Hindu-Budha.

Dan bahasa Sanskerta merupakan bahasa liturgis/ bahasa Resmi Agama Hindu, Buddha, dan ajaran Jainisme. Sama dengan Bahasa Arab merupakan bahasa Agama Islam dalam doa, shalat dan lainnya.

Sanskerta pernah digunakan di Nusantara pada masa Hindu dan Buddha yang berlangsung sejak abad ke-2 Masehi hingga menjelang abad ke-16 seiring runtuhnya Kerajaan Majapahit.

Zamakhsyari Dhofir berpendapat dalam bukunya Tradisi Pesantren bahwa pendidikan pesantren, yang kemudian lekat dengan tradisi edukasi Islam di Jawa, memang mirip dengan pendidikan ala Hindu di India jika dilihat dari segi bentuk dan sistemnya.

Menambahkan pendapat di atas, Cak Nur (Nurcholis Madjid) menautkan kata “Santri” berasal dari bahasa Jawa, yakni cantrik yang bermakna “Orang atau murid yang selalu mengikuti gurunya”.

Dari keseluruhan pendapat yang sandarkan kepada para Ahli, santri adalah seorang pembelajar Agama suci. Oleh karenaNya, santri akan terus menghidupkan nilai-nilai Agama yang suci dengan pandangan Moderat atau Islam wasatiyah.

Kejelasan sikap ini adalah kepanjangan dari metode dakwah Walisongo yang berdakwah melalui budaya. Tidak terlalu penting debat tentang asal muasal sebuah nama, akan tetapi nilai-nilai yang disandang oleh santri adalah sebuah “Jalan Tengah” (wasatiyah) dalam beragama.

Penghargaan Kepada Santri

Tanpa kaum Santri, niscaya Indonesia tidak merdeka dari penjajahan. Jasa yang tidak terelakan mereka dalam perjalanan dan perjuangan bangsa Indonesia memang tidak bisa dinafikan begitu saja.

Baca Juga:  Sarung dan Santri; Dua Entitas yang Tak Terpisahkan

Sebut saja, Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asyari adalah tonggak pertempuran 10 November 1945. Pengebom mobil yang ditumpangi Jendral Mallaby adalah seorang Santri dari Tebuireng bernama, Kang Harun, demikian pemaparan KH. Said Aqil Siradj.

Peristiwa 10 November lebih kita kenal dengan “Peringatan Hari Pahlawan” untuk mengenang kisah Heroik para pejuang Kemerdekaan. KH. Hasyim Asyari mengeluarkan Resolusi Jihad bertepatan dengan tanggal 22 Oktober 1945.

Oleh karenanya tepat kiranyanya tanggal 22 Oktober dijadikan hari bersejarah dan perlu dikenang bagi bangsa Indonesia. Dan pada saat ini, 22 Oktober sudah ditetapkan oleh Presiden RI menjadi Hari Santri Nasional sesuai yang telah ditetapkan Presiden Joko Widodo atau Jokowi sejak 2015.

Dalam masa perumusan dasar Negara yang beruapa draft “Piagam Jakarta” yang kemudian menghasilkan kesepakatan “Pancasila” ada andil peran santri.

Tokoh tersebut adalah KH. Wahid Hasyim, putra KH. Hasyim Asyari dan ayah dari Gus Dur. Gus Wahid, sebelum menyepakati pencoretan 8 kata (dengan kewajiban mendjalankan sjariat Islam bagi pemeloek-pemeloeknja) beliau sowan kepada Ayahnya di Jombang.

Sebelum berfatwa, KH. Hasyim Asyari shalat Hajat terlebih dahulu untuk meminta petunjuk Allah SWT, supaya negara yang baru lahir memiliki landasan kuat dan barokah.

Akhirnya KH. Hasyim merestui Gus Wahid untuk menyetujui pencoretan 8 kosa kata dalam Piagam Jakarta, sehingga kita sekarang mengenal Teks Pancasila sekarang pada sila pertama dengan Redaksi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Santri dan Islam Moderat (Wasatiyah)

Santri dengan Islam, setali dua uang yang tidak terpisahkan, sama dengan melekatnya dengan pondok Pesantren. Pesantren sebagai kawah candra dimuka dalam menuntut ilmu agama islam secara mendalam, dan kaafah, tidak parsial-temporer.

Pengajaran dan pelajaran di pesantren, yang distigmasi, tradisional-terbelakang ternyata tidak benar adanya. Akan tetapi santri pesantren menjawab tuntas dan fasih dalam persoalan-persoalan modern yang banyak orang gagap membicarakannya.

Baca Juga:  Hubungan Perkembangan Majlis Taklim di Indonesia dengan Metode Pengajaran Islam

Isu moderasi Islam, dalam pesantren adalah sebuah nafas kehidupan, landasan utama dalam pengajaran dan pendidikan. Islam moderat (wasatiyah) mengasumsikan bahwa harus ada penghormatan terhadap sesuatu yang berbeda dari dirinya, penghargaan pada perbedaan multikulturalisme (bermacam-macam latar belakang). Hal ini dijawab tuntas dalam pendidikan di pesantren.

Pesantren tidak harus menampilkan label Pesantren Inklusif untuk para santri yang secara dasar memang berasal berbagai ras dan suku berbeda-beda. Pesantren Lirboyo misalnya, banyak menerima murid dari Papua, Maluku, Nusa Tenggara dan lain sebagainya, bahkan dari Luar Negeri. Secara dasar Pesantren adalah tempat terinklusif dalam lembaga pendidikan di Nusantara.

Pesantren sebagai lembaga yang menghargai perbedaan pendapat dapat kita telisik dari “makanan” santri setiap hari. Pesantren salaf akan sangat mafhum dengan perbedaan pendapat dalam fiqh, tauhid merunut Imam-imam Ulama Fiqh yang mutabar.

Perbedaan yang menjadikan santri tidak gagap dalam berpandangan “Pendapat Saya Paling Sahih”, sebuah jargon pengen menang dewe khas golongan radikalis-fundamentaslis. mereka akan sangat menghargai perbedaan yang ada. Pegangan mereka adalah sebuah terminologi Islam wasatiyah dalam Ayat Al-Quran;

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ (١٤٣

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu, umat Pertengahan (Moderat) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu (Qs. Al-Baqarah: 143)

Mochamad Ari Irawan