Sayyidah Nafisah binti Hasan, Cicit Rasulullah Guru Imam Syafii

Sayyidah Nafisah binti Hasan

Pecihitam.org – Selama ini kita hanya mengenal ulama itu mayoritas dari kalangan laki-laki saja, jarang sekali menyorot tentang sejarah dan kehidupan dari ulama perempuan. Sehingga jarang sekali yang mengenal ulama-ulama perempuan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Oleh sebab itu kali ini kita akan membahas tentang salah satu ulama dari kalangan perempuan adalah Sayyidah Nafisah binti Hasan, seorang ulama perempuan yang merupakan cicit dari Rasulullah Saw dan merupakan seorang ilmuwan yang terkenal pada masanya. Bahkan salah satu Imam besar dari empat Madzhab ada yang menjadi murid dari Sayyidah Nafisah, yaitu Imam Syafi’i.

Sayyidah Nafisah binti Hasan seorang ulama perempuan yang suci dan berkaramah, sejak kecil sudah hafal Al-Qur’an 30 Juz, dan beliau selalu berdoa meminta kepada Allah Swt agar di berikan kemudahan untuk dapat berziarah ke makam Nabi Ibrahim setelah membaca hafalan Al-Qur’annya, “ Ya Allah, mudahkanlah akau untuk berziarah ke makam Nabi Ibrahim”. begitulah doa beliau.

Sayyidah Nafisah paham betul bahwa Nabi Ibrahim adalah sosok monotesie sejati dan juga secara silsilah Nabi Ibrahim ialah bapak dari Nabi Ismail kemudian silsilahnya jika di urutkan akan sampai pada Rasulullah Saw, sehingga Sayyidah Nafisah termasuk dalam keturunan dari Nabi Ibrahim As.

Baca Juga:  Mengenal Sosok Muhammad Abduh, Sang Pembaharu Islam dari Mesir

Pada usianya ke 44 tahun, atau bertepatan pada tanggal 26 Ramadhan 193 H, Sayyidah Nafisah sampai di Kairo. Beliau pun di sambut dengan sangat hangat oleh masyarakat yang datang menyambutnya serta meminta do’a dan ilmu dari beliau. Namun seiring berjalannya waktu, Sayyidah Nafisah pun merasa bahwa selama ini ia hanya menghabiskan waktu untuk melayani umat saja, beliaupun merasa bahwa saat itu ia berada jauh dari makam Rasulullah Saw kakeknya.

Sayyidah Nafisah pun memutuskan untuk kembali ke Madinah dan meninggalkan Kairo sehingga ia akan dekat dengan makam Rasulullah Saw. Namun keputusan Sayyidah Nafisah tersebut membuat masyarakat Kairo merasa berat hati jika harus di tinggalkan olehnya.

Bahkan Gubernur Mesir pada saat itu pun meminta kepada Sayyidah Nafisah agar tidak meninggalkan Kairo dan tetap tinggal di sana. Gubernur Mesir pada saat itu pun akhirnya memberikan fasilitas kepada Sayyidah Nafisah yaitu sebuah tempat yang lebih luas sehingga dapat menampung umat lebih banyak dari sebelumnya.

Baca Juga:  Muhammad bin Sirin, Ulama Tabi’in Ahli Fiqih dan Tafsir Mimpi

Gubernur Mesir pun memberikan saran agar Sayyidah Nafisah hanya menerima umat pada hari-hari tertentu saja, yang waktu itu di jadwalkan pada hari, Rabu dan sabtu. Dan di luar waktu tersebut maka Sayyidah Nafisah pun dapat dengan khusyuk dalam berhalwat beribadah menyendiri. Dengan izin Allah Swt, kemudian Sayyidah Nafisah pun menerima saran dari Gubernur Mesir dan beliau akan tetap tinggal di Kairo sampai akhir hidupnya.

Kehadiran sosok ulama perempuan yang sangat terkenal dan banyak sekali di datangi oleh ulama-ulama lainnya ini ternyata sampai pada telinga Imam Syafi’i sehingga lima tahun setelah Sayyidah Nafisah tinggal di Kairo, Imam Syafi’i pun datang ke kota tersebut dan menemui Sayyidah Nafisah di rumahnya.

Imam Syafi’i mendapat sambutan yang hangat oleh Sayyidah Nafisah, bahkan keduanya saling memuji dan mengaggumi satu sama lain dalam hal gelar dan intelektual yang mereka miliki.

Selama menjadi ulama besar ushul fiqh dan fiqh, Imam Syafi’i merupakan ulama yang paling sering bersama dengan Sayyidah Nafisah. Ketika Imam Syafi’i sakit, beliaupun meminta sahabatnyya untuk menemui Sayyidah Nafisah supaya mendo’akan bagi kesembuhan Imam Syafi’i. Sayyidah Nafisah pun hanya berkata “Matta’ahu Allah bi al-Nazhr ila Wajhih al-Karim, (Semoga Allah memberinya kegembiraan ketika berjumpa dengan-Nya)”.

Baca Juga:  Ketika Imam At-Thabari Di Tuduh Syiah dan Atheis Bagian 1

Imam Syafi’I pun memahami maksud dari ucapan Sayyidah Nafisah tersebut yang berarti bahwa usia nya memang sudah tidak lama lagi. Menyadari hal tersebut, Imam Syafi’i pun memberikan wasiat pada Al-Buwaithi yaitu muridnya, untuk meminta kepada Sayyidah Nafisah agar beliau bersedia menshalatkan jenazahnya kelak ketika wafat.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik