Inilah 7 Sebab Kemuliaan Manusia Berdasarkan Al-Quran

Inilah 7 Sebab Kemuliaan Manusia Berdasarkan Al-Quran

PeciHitam.orgAlquran menggambarkan manusia sebagai makhluk pilihan Tuhan, sebagai khalifahNya di muka bumi, serta sebagai makhluk yang semi-samawi dan semi duniawi, yang dalam dirinya ditanamkan sifat mengakui Tuhan, bebas, terpercaya, rasa tanggung jawab terhadap dirinya maupun alam semesta, serta karunia keunggul an atas alam semesta, langit dan bumi.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Manusia dipusakai dengan kecenderungan ke arah kebaikan maupun kejahatan. Keberadaan manusia dimulai dari kelemahan dan ketidak mampuan yang kemudian bergerak ke arah kekuatan.

Akan tetapi, hal itu tidak akan menghapuskan kegelisahan, kecuali manusia dekat dengan Tuhan dan mengingatNya.

Sebab Kemuliaan Manusia

Kapasitas manusia tidak terbatas, baik dalam kemampuan belajar maupun dalam penerapan ilmu. Manusia memiliki suatu keluhuran dan martabat naluriah. Motivasi dan pendorong manusia, dalam banyak hal, tidak bersifat ke bendaan.

Manusia dapat leluasa memanfaatkan rahmat dan karunia yang dilim pahkan kepada dirinya, namun pada saat yang sama, manusia harus menunaikan kewajiban kepada Tuhan.

Bilamana manusia menjalankan kewajibannya kepada Allah, ia akan tetap dalam statusnya sebagai makhluk yang mulia, khalifah, dan fithrah.

Sebaliknya, jika manusia mulai meninggalkan tuntunan Allah, seraya berbuat menurut hawa nafsunya sendiri, maka ibarat lalu lintas kendaraan yang bergerak tanpa rambu rambu, traffic lights maupun zebra cross.

Artinya hidup manusia menjadi tak terkendali dan bisa menimbulkan bahaya bagi dirinya sendiri, orang lain, maupun lingkungan di sekitamya. Pada saat itu perilakunya menjadi cemoohan, dan martabat kemanusiannya menjadi turun.

Baca Juga:  Memahami Konsep Islam Moderat Dalam Pandangan Berbagai Tokoh

Secara lebih rinci, sebab-sebab kemuliaan manusia itu adalah:

  • Bahwa manusia tidak berasal dari jenis hewan sebagaimana dikatakan dalam teori evolusi, melainkan berasal dari Adam, dan Adam diciptakan dari tanah
  • Dibandingkan dengan makhluk lain, manusia memiliki bentuk fisik yang lebih baik, sekalipun ini bukan perbedaan yang fundamental, sebagaima firman Allah dalam Q.S. at-Tin:4
  • Manusia mempunyai jiwa atau rohani, yang di dalamnya terdapat rasio, emosi dan konasi

Dengan akal, manusia berpikir dan berilmu, dan dengan ilmu manusia menjadi maju. Bahkan, dengan ilmu manusia menjadi lebih mulia daripada jin dan malaikat, sehingga mereka diminta oleh Allah untuk sujud, menghormat kepada manusia, yakni Adam AS, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. al-Baqarah:31-34

  • Untuk mencapai kemuliaan martabat manusia tersebut, manusia perlu berusaha sepanjang hidupnya melawan hawa nafsunya sendiri yang mendorong pada kejahatan.

Hal ini berbeda dengan binatang yang hidup hanya menuruti insting nafsunya karena tidak punya akal, dan malaikat yang selalu berbuat baik secara otomatis karena tidak memiliki hawa nafsu.

  • Manusia diangkat oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi dengan tugas menjadi penguasa yang mengelola dan memakmurkan bumi beserta isinya dengan sebaik-baiknya, sebagaimana firman Allah dalam QS. al-Baqarah:30 dan Q.S. Huud:61
  • Diciptakannya segala sesuatu di dunia ini oleh Allah adalah untuk kepentingan manusia, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. al-Baqarah:29
  • Manusia diberi beban untuk beragama (Islam) sebagai pedoman dalam melak sanakan tugas kekhalifahannya.
Baca Juga:  Bukan Abal-Abal, Begini Deskripsi Ulama dalam Pandangan NU

Karenanya, manusia akan diminta pertang gung jawaban atas pelaksanaan tugasnya tersebut, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. al-Qiyamah:36

Martabat manusia tidaklah diukur dari seberapa tinggi pangkat dan jabatannya, apakah ia seorang direktur atau karyawan, pengusaha atau buruh, pemimpin atau rakyat, tidak juga dilihat dari kekayannya, ketampanan dan kecantikannya, ataupun keturunannya, apakah dari kalangan ningrat, berdarah biru atau rakyat jelata (wong cilik).

Semua itu bukanlah ukuran kemuliaan manusia. Manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa, Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Q.S. al-Hujurat:13).

Tidak ada kemuliaan manusia karena kelebihan suatu bangsa atas bangsa yang lain, antara orang Arab dengan non-Arab, antara kulit putih dengan kulit hitam, atau antara pria dengan wanita, kecuali karena kelebihan takwanya kepada Allah.

Dalam salah satu sabda Nabi saw. disebutkan bahwa sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk tubuh dan penampilan jasmaniah seseorang, melainkan sesungguhnya Allah melihat pada hati dan perbuatan manusia.

Baca Juga:  Apakah Kepastian Kiamat Terdapat dalam Ajaran Islam? Begini Penjelasannya

Jika perbuatan manusia tersebut baik, maka ia menjadi mulia. Sebaliknya, jika perbuatannya tidak baik, ia pun menjadi tercela.

تَبَٰرَكَ ٱلَّذِى بِيَدِهِ ٱلْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ

 ٱلَّذِى خَلَقَ سَبْعَ سَمَٰوَٰتٍ طِبَاقًا ۖ مَّا تَرَىٰ فِى خَلْقِ ٱلرَّحْمَٰنِ مِن تَفَٰوُتٍ ۖ فَٱرْجِعِ ٱلْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِن فُطُورٍ

Artinya : Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? (Q.S. Al-Mulk:1-3)

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan