Sejarah Perang Antara Sahabat Nabi, Dari Perang Jamal Hingga Pemberontakan al-Hallaj

Sejarah Perang Antara Sahabat Nabi, Dari Perang Jamal Hingga Pemberontakan al-Hallaj

PeciHitam.org – Tragedi berdarah antara sahabat Nabi memiliki daftar yang panjang. Sejarah perang antara sahabat Nabi juga mencatat bahwa korban sama-sama mengucapkan dua kalimat syahadat, artinya bergama Islam.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Beberapa ulama meyakini peperangan ini terjadi bukan karena hubbud dunya (gandrung dunia) dan bukan juga hubbur riyasah (gila jabatan), namun itu karena ijtihad mereka masing-masing. Ada juga yang berpendapat bahwa perang berdarah tersebut terjadi karena perebutan kekuasaan.

Sebagai contoh pertama, perang antara sahabat Nabi yang populer yaitu perang antara Sayyidina Ali dengan Siti Aisyah yang disebut Perang Jamal. Perang ini pecah di Basrah, mengakibatkan 18.000 sahabat gugur.

Perang antara Sayidina Ali karramallahu wajhah merupakan sepupu sekaligus menantu Rasulullah, Sayidatuna ‘Aisyah radliyallahu ‘anha adalah istri Rasulullah ini baru berakhir setelah kaki-kaki unta ditebas dengan pedang kemudian akhirnya Siti Aisyah dipulangkan ke Madinah. Tragedi inilah yang menjadikan perang ini disebut perang Jamal (Unta).

Kemudian yang selanjutnya sejarah perang antara sahabat Nabi mencatat peristiwa pemberontakan yang mengakibatkan terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan. Saat peristiwa ini terjadi, konon Utsman bin Affan sedang membaca Al-Quran di rumahnya.

Ia kemudian dimakamkan berjauhan dari makam Rasulullah, Abu Bakar fan Umar bin Khattab. Hal ini disebabkan karena setelah Utsman terbunuh, Madinah dikuasai pemberontak tersebut.

Baca Juga:  Abu Nawas Mengajar Keledai Mengaji Al-Qur’an

Selanjutnya yaitu peristiwa perang Shiffin, yaitu perang yang melibatkan Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah. Sejarah perang antara sahabat Nabi ini mencatat bahwa peperangan ini terjadi karena adanya perebutan kekuasaan.

Muawiyah seolah tidak terima dengan diangkatnya Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah menggantikan posisi Utsman bin Affan yang terbunuh ketika pemberontakan terjadi.

Dalam kitab Tarikh al-Khulafa, Imam Suyuthi mencatat bahwa pasukan Muawiyah hampir kalah, di posisi tersebut dengan cerdik (atau bisa juga tergolong licik) mengangkat mushaf Al-Quran di atas pedang mereka sebagai tanda menyerah dan meminta jalur perundingan.

Sebenarnya Ali bin Abi Thalib menyadari bahwa hal tersebut merupakan taktik saja, sehingga ia sempat memerintahkan pasukannya untuk terus menekan Muawiyah.

Tak lama berselang ia menjadi ragu melanjutkan perang tersebut. Terjadilah gencatan senjata. Taktik licik Muawiyah membuahkan hasil. Atas keputusan Khalifah Ali bin Abi Thalib tersebut yang menyetujui permintaan gencatan senjata dari Muawiyah justru menjadi bumerang. Perundingan tersebut berakhir tragis untuk pasukan Khalifah Ali yang tadinya sudah unggul. Sayyidina Ali terbunuh.

Ada juga perang antara Sayyidina Hasan dan Muawiyah yang berakhir damai. Kemudian pecah lagi perang antara Sayyidina Husain di Karbala. Dalam kitab tarikh karya Imam at-Thabari menyebutkan secara lengkap peristiwa Karbala tersebut.

Baca Juga:  Gus Dur dan Kisah Kepala Ikan untuk Makan Anjing di Baghdad

Imam at-Thabari juga mencatat secara rinci siapa saja keluarga Sayyidina Husain yang terbunuh sekaligus secara jelas menyebutkan pembunuh masing-masing. Pada tanggal 10 Muharram di Karbala, kepala cucu Nabi tersebut dipenggal.

Berlanjut dengan perlawanan Abdullah bin Zubair, penguasa Makkah pada masa itu dibunuh oleh pasukan al-Hallaj. Ia dibunuh seperti dibunuhnya cucu Nabi yaitu dengan cara dipenggal. Tidak hanya itu, setelah Abdullah bin Zubair dipenggal kepalanya, tubuhnya juga disalib.

Pembunuh Abdullah bin Zubair ini orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat, yang tentu juga beragama Islam. Bahkan saat membunuh Abdullah bin Zubair tersebut, ia berteriak mengumandangkan takbir. Seolah-olah Allah menghendakinya membunuh Abdullah bin Zubair.

Peristiwa-peristiwa mengerikan ini terus berlanjut dari masa ke masa. Sejarah mencatat banyak sekali kepala yang dipenggal atas nama Islam. Kekejian semacam ini tak jarang dipertontonkan.

Bahkan ketika kepala al-Walid II dipenggal oleh pasukan Yazid III, kepala al-Walid II ditusuk diujung tombak dan diedarkan ke jalan raya dan pasar di Damaskus, bahkan sengaja dibawa ke bekas rumah ayahnya. Tindakan ini tentu saja memicu kegeraman keluarga al-Walid II.

Baca Juga:  Karomah KH Bisri Musthofa, Meralat Tafsir al Ibriz Setelah Wafat

Dari beberapa kisah sejarah perang antara sahabat Nabi di atas, sebenarnya masih panjang daftar yang lain. Bagi orang-orang yang berpaham Ahlussunnah, sikap diam atau sukut merupakan hal yang lebih utama.

Hal ini menjaga agar jangan sampai su’ul adab (kurang ajar) terhadap orang-orang terkasih Nabi Muhammad saw. Sehingga tidak heran jika kita agak asing dengan peristiwa sejarah perang antara sahabat Nabi ini.

Sebenarnya, peristiwa seperti ini juga merupakan pembelajaran yang baik bagi generasi selanjutnya. Kita dapat belajar dan mengambil hikmah dari peristiwa tersebut. Agar jangan sampai peristiwa yang sama terjadi di kemudian hari.

Mohammad Mufid Muwaffaq