Sekilas Peristiwa Dibalik Doa Nabi Yunus

Sekilas Peristiwa Dibalik Doa Nabi Yunus

Pecihitam.org- Perlu kita contoh doa Nabi Yunus ketika dalam kesusahan, karena doa tersebut berguna untuk menggantikan kesusahannya menjadi kebahagiaan. Lantas doa seperti apa yang digunakan Beliau ketika itu? Lalu bagaimana kisah cerita dibalik doa Nabi Yunus tersebut.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Suatu ketika Nabi Yunus menumpang kapal untuk mengarungi laut. Di tengah perjalanan, datang badai besar menimpa kapal Yunus. Nabi Pemilik kapal mengatakan, ada pelarian bersembunyi di dalam kapalnya dan harus terjun ke laut. Nakhoda kapal lalu membuat undian. Dalam beberapa putaran, nama Nabi Yunus selalu muncul. Yunus terjun ke laut dan menjadi santapan ikan paus. Di dalam perut ikan, Yunus menyesali keputusannya karena meninggalkan kaumnya. Ia pun memohon ampun dan berdoa.

Saat berada dalam perut ikan tersebut, Nabi Yunus tersadar akan kesalahannya yang telah meninggalkan kaumnya. Beliau pun menyesali dan memohon ampun kepada Allah. Nabi Yunus berdoa:

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Ya Allah, Tiada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Tuhan. Sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri dan aku termasuk golongan orang yang dzalim.”

Setelah berada di perut ikan paus, Nabi Yunus merasakan susahnya tinggal dalam kegelapan, yang dalam Tafsîr al-Jalalain diterangkan dalam tiga bentuk, yaitu, “dhulmatul lail wa dhulmatul bahr wa dhulmat bathnil khût” (kegelapan malam, kegelapan lautan, dan kegelapan perut ikan paus). Kemudian ia menyeru (berdoa) kepada Allah, “Bahwa tiada tuhan kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk golongan orang-orang yang zalim.” Kata “al-dhâlimîn” (orang-orang yang zalim) ditafsirkan sebagai, “fî dzahâbî min bain qaumî bilâ idznin” (karena kepergianku dari kaumku tanpa izin). (Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin al-Suyuthi, Tafsîr al-Jalalain al-Muyassar, 2003, h. 329) Dan Allah pun mengabulkan doa Nabi Yunus ‘alaihissalam dengan mengatakan: “maka Kami kabulkan doanya dan Kami selamatkan ia dari kedukaan.”

Baca Juga:  Kezuhudan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib

Nabi Yunus AS melafalkan doa tersebut saat ditelan ikan paus. Awalnya, Sang nabi meninggalkan kaumnya di Kota Ninawa, Mosul, yang membantah ajakan Nabi Yunus untuk menyembah Allah SWT. Yunus pun pergi meninggalkan kaumnya seraya mengingatkan akan turunnya azab pedih dari Allah.

Doa tersebut dikenal dengan doa Dzin Nuun, doa yang selalu dipanjatkan oleh Nabi Yunus selama dalam perut ikan paus hingga ikan tersebut menepi di pinggir dan memuntahkan tubuh Nabi Yunus. Adapaun kita yang sedang tenggelam dalam kesedihan yang mendalam dan tak ada yang mampun melenyapkannya kecuali cahaya tersebut.

Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad memaparkan dalam kitab “Risalah Mua’wanah”, bahwa doa tersebut merupakan nama-nama Allah yang agung (Ismullah a’dzam), yang mana siapa saja yang sering membacanya maka akan menghilangkan kesusahan dan kepedihan, serta menggantikannya dengan kebahagiaan yang ia inginkan. Penjelasan Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad tersebut, senada dengan QS Al ‘Anbiya ayat 88:

Baca Juga:  Gus Baha: Kisah Santri Nakal Naksir Sama Putri Kyai

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ

“Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.”

Doa tersebut cocok untuk setiap orang Islam yang ingin mengganti kesusahan dalam dirinya menjadi sebuah kebahagian, karena dalam doa tersebut terdapat pengakuan diri pada keesaan Allah serta pengakuan dosa yang telah diperbuat. Sehingga setelah semuanya jernih, niscaya Allah akan mengabulkan apa yang diinginkan. Hikmah riwayat di atas adalah, bahwa berdoa bisa dilakukan dalam keadaan apa saja, dan dilakukan oleh siapa saja, meskipun oleh orang yang sering berbuat salah selama doa yang dipanjatkannya hanya kepada Allah. Dan yang tidak kalah penting, doa itu dilakukan berulang-ulang atau terus-menerus. Imam Abu Bakr al-Thurthusyi menyebutnya, “al-ilhâh fîd du’â” (mendesak terus/pantang menyerah dalam doa).

Baca Juga:  Belajar Dari Kisah Nabi Muhammad SAW

Mochamad Ari Irawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *