Siapa yang Dimaksud Ulil Amri (Pemegang Kekuasaan) dalam QS. An-Nisa: 59?

Siapa yang Dimaksud Ulil Amri (Pemegang Kekuasaan) dalam QS An-Nisa 59

Pecihitam.org – Sebagai umat Islam, kita diperintahkan oleh Allah untuk senantiasa mengabdikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah adalah Dzat yang menciptakan dan mengatur alam semesta dan seisinya. Sedang Rasul adalah seorang manusia pilihan yang menjadi teladan bagi penduduk alam semesta ini. Di samping itu, kita juga diperintahkan untuk patuh terhadap ulil amri (pemegang kekuasaan). Namun siapa sebenarnya yang dimaksud ulil amri tersebut?

Patuh dan taat terhadap ulil amri merupakan sebuah keharusan bagi umat Islam dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena dengan mematuhi ulul amri, kemaslahatan akan terwujud. Ini juga merupakan tugas pokok ulul amri. Hal ini sebagaimana termaktub dalam QS. An-Nisa: 59, yaitu sebagai berikut:

أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِى الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. … [QS. An-Nisa: 59].

Baca Juga:  Surah Yusuf Ayat 80-82; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Penggalan ayat ini telah dijelaskan maksudnya oleh mufasir terkemuka, yaitu Syekh Al-Maraghi dalam kitab Tafsir Al-Maraghi juz 5 halaman 72. Berikut ulasannya:

ﺃﻱ ﺃﻃﻴﻌﻮا اﻟﻠﻪ ﻭاﻋﻤﻠﻮا ﺑﻜﺘﺎﺑﻪ، ﻭﺃﻃﻴﻌﻮا اﻟﺮﺳﻮﻝ ﻷﻧﻪ ﻳﺒﻴﻦ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﻣﺎ ﻧﺰﻝ ﺇﻟﻴﻬﻢ، ﻓﻘﺪ ﺟﺮﺕ ﺳﻨﺔ اﻟﻠﻪ ﺑﺄﻥ ﻳﺒﻠﻎ ﻋﻨﻪ ﺷﺮﻋﻪ ﺭﺳﻞ ﻣﻨﻬﻢ ﺗﻜﻔﻞ ﺑﻌﺼﻤﺘﻬﻢ ﻭﺃﻭﺟﺐ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﻃﺎﻋﺘﻬﻢ.

Artinya: Taatilah Allah dan laksanakanlah (segala perintah dan larangan yang terdapat) dalam kitab-Nya (Alquran). Taatilah Rasul (Nabi Muhammad) karena beliaulah yang menjelaskan kepada manusia terhadap apa yang diturunkan kepada mereka. Sungguh Allah telah mengutus para Rasul untuk menyampaikan syariat-Nya dan wajib bagi kita untuk menaatinya (Rasul: Nabi Muhammad).

Di samping perintah untuk menaati Allah dan Rasul-Nya, umat Islam (orang-orang yang beriman) juga diperintahkan untuk menaati ulil amri. Namun siapa sebenarnya yang dimaksud ulil amri (pemegang kekuasaan) dalam QS. An-Nisa: 59 ini?

Berikut penjelasan Syekh Al-Maraghi:

وأطيعوا أولى الأمر، وهم الأمراء والحكام والعلماء ورؤساء الجند وسائر الرؤساء والزعماء الذين يرجع إليهم الناس في الحاجات والمصالح العامة، فهؤلاء إذا اتفقوا على أمر وحكم وجب أن يطاعوا فيه بشرط أن يكونوا أمناء وألا يخالفوا أمر الله ولا سنة رسوله التي عرفت بالتواتر، وأن يكونوا مختارين في بحثهم في الأمر واتفاقهم عليه

Baca Juga:  Pentingnya Mempelajari Asbabun Nuzul Al Qur'an

Artinya: (Wahai orang-orang beriman) taatilah ulil amri, yaitu umara, ahli hikmah, ulama, panglima (TNI/Polri/pasukan keamanan lainnya), pemimpin-pemimpin lainnya termasuk zuama (pemimpin organisasi, instansi pemerintahan) yang mana orang-orang merujuk kepada mereka dalam setiap kebutuhan dan urusan kemaslahatan umum. Apabila pihak-pihak (yang baru disebutkan) tersebut bersepakat terhadap suatu perkara atau suatu hukum, maka orang-orang yang beriman (umat Islam) wajib menaatinya. Hal ini dengan ketentuan mereka adalah orang yang dapat dipercaya dan tidak bertentangan dengan perintah Allah, hadis-hadis mutawatir dan memiliki elektabilitas dalam mengkaji dan meneliti suatu perkara dan bersepakat terhadapnya.

Syekh Al-Maraghi menjelaskan bahwa dengan menaati perintah Allah, Rasulullah dan ulil amri hukumnya wajib. Karena dengan taat terhadap Allah, Rasulullah dan ulil amri, maka kemaslahatan umum niscaya terealisasikan.

Baca Juga:  Surah Hud Ayat 5; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Adapun dalam perkara ibadah dan keyakinan, cukuplah mengambil dua sumber secara mutlak yaitu Allah dan Rasul-Nya. Janganlah seseorang berani berpendapat (dalam urusan ibadah dan keyakinan) kecuali apa yang dipahaminya. Tentu dalam hal ini, ulil amri menjaminnya dengan baik.

Demikian uraian mengenai siapa sebenarnya yang dimaksud ulil amri dalam QS. An-Nisa: 59, semoga bermanfaat. Wallaahu a’lam bishshawaab.

Azis Arifin
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG