Sifat Para Rasul, I’tiqad Ahlussunnah wal-Jama’ah

Sifat Para Rasul, I'tiqad Ahlussunnah wal-Jama'ah

Pecihitam.org – Wajib bagi kita mengenal sifat Para Rasul, baik yang wajib, mustahil dan jaiz bagi mereka. Adapun Sifat yang Wajib bagi Para Rasul ‘alaihimusshalatu wassalam tersebut adalah:

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

1. SHIDDIQ (صدّيق) ARTINYA: BENAR, LAWANNYA KIDZIB (كذب) ARTINYA: DUSTA

Penjelesan tentang sifat yang pertama ini telah saya uraikan pada artikel sebelumnya lengkap beserta dalil, baik dalil secara akal maupun dalil naqal, silahkan lihat kembali artikel sebelumnya yang bertajuk “Kenabian, I’tiqad Ahlussunnah wal-Jama’ah”.

2. AMANAH (أمانة) ARTINYA: KEPERCAYAAN/TERPERCAYA, LAWANNYA KHIYANAH (خيانة) ARTINYA: BERKHIANAT

Wajib bagi para Rasul bersifat dengan sifat amanah, mustahil mereka bersifat dengan khiyanah, dalam artian, akal tidak dapat menerima adanya sifat khiyanah pada mereka.

Dalil ‘aqli

Sebagaimana yang telah kita maklumi bersama yang bahwa para Rasul adalah hamba-hamba yang suci pilihan Allah. Yang diutus kepada sekalian makhluk untuk menyampaikan hukum-hukum Allah.

Dengan demikian, para Rasul pastilah menjadi panutan bagi sekalian ummat mereka. Dan pun Allah Ta’ala telah memerintahkan ummat untuk mengikuti mereka dalam bertingkah laku, bertutur kata dan dalam beramal.

Nah, Jika para Rasul berkhianat dengan cara melakukan perbuatan-perbuatan yang haram atau makruh, maka sungguh hal tersebut seolah-olah merupakan perintah bagi ummat untuk mengikuti mereka, dan ini adalah bathil, karena bertentangan dengan kebenaran.

Nyatanya Allah Ta’ala tidak pernah memerintahkan makhluknya dengan yang keji. Dengan demikian Wajiblah para Rasul bersifat denan amanah.

Dalil naqli

  • Surat Asy Syu’araa ayat 26 :

إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ

“Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu”

  • Surat Al-Anfal ayat 58 :

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْخَائِنِينَ

Baca Juga:  Qiyamuhu Binafsih, Sifat Wajib Ke-Lima Bagi Allah SWT

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat”

3. TABLIGH (تبليغ) YANG BERARTI: MENYAMPAIKAN, LAWANNYA KITMAN (كتمان) ARTINYA: MENYEMBUNYIKAN

Wajib bagi para Rasul memiliki sifat tabligh, maksudnya wajib bagi mereka bersifat dengan menyampaikan segala sesuatu yang diperintahkan untuk menyampaikannya kepada sekalian makhluk. Mustahil mereka menyembunyikannya.

Dalil ‘aqli

Mustahil mereka menyembunyikan apa yang diperintahkan untuk menyampaikannya. Karena jikalau mereka berbuat demikian maka sungguh kita sebagai ummat juga terkena perintah untuk menyembunyikan ilmu, dalam artian tidak mengajarinya kepada orang lain, dan ini bathil, karena orang yang menyembunyikan ilmu itu adalah orang yang terlaknat, tidak patut dijadikan panutan. Maka oleh karena ini, tetaplah sifat tabligh bagi para Rasul .

Dalil naqli

  • Surat Al-Ahzab ayat 39 :

الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا

“(yaitu orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat perhitungan”

4. FATHANAH (فطانة) ARTINYA: CERDIK, LAWANNYA BILADAH (بلادة) ARTINYA: DUNGU

Sifat fathanah ini wajib ada pada diri para Rasul. Dengan maksud, akal tidak dapat mencerna bila sifat fathanah tidak ada pada mereka. Lawannya adalah sifat biladah/bodoh,  mustahil ada sifat biladah dalam diri mereka ‘alaihimusshalatu wassalam.

Dalil ‘aqli

Para Rasul ‘alaihimusshalatu wassalam diutus tak lain melainkan demi menegakkan hujjah (alasan/bantahan) terhadap orang-orang  yang ingkar lagi membangkang kepada ketetapan Allah Ta’ala.

Orang yang dapat menegakkan hujjah pastilah memiliki kecerdikan/kepandaian dalam berhujjah, karena jika tidak maka sungguh ia tidak dapat memunculkun bantahan-bantahan terhadap persoalan-persoalan yang dilontarkan keatasnya.

Maka dengan demikian akal yang sehat pasti akan menolak dengan sendirinya bila ada sifat bodoh/dungu pada diri para Rasul, lalu kemudian menetapkan adanya sifat fathanah tersebut.

Baca Juga:  Khalid Basalamah Salah Memahami Tabarruk, Ini Kritik dari Santri

Dalil naqli

  • Surat Al-An’am ayat 83 :

وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَىٰ قَوْمِهِ

“Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya”

  • Surat An-Nahl ayat 125 :

وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“…dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”

Demikian 4 sifat yang wajib beserta dengan lawannya yakni 4 sifat yang mustahil pula. Bila kita jumlahkan pelajaran I’tiqad 50 Ahlussunnah wal-jama’ah  yang telah kita pelajari dalam beberapa artikel saya, maka kita sudah sampai pada pelajaran I’tiqad yang ke-49.

Rinciannya sebagai berikut:  20 sifat wajib bagi Allah, 20 sifat mustahil, 1 sifat jaiz bagi-Nya, 4 sifat wajib bagi Rasul dan 4 sifat mustahil bagi mereka. Jumlah keseluruhannya adalah 49, hanya tinngal 1 I’tiqad yakni satu sifat Jaiz bagi para Rasul.

SIFAT JAIZ BAGI PARA RASUL ‘ALAIHIMUSSHALATU WASSALAM

Sifat jaiz bagi para Rasul hanya satu yakni sebagaimana yang di ungkapkan didalam kitab kifayatul ‘awam yang dikarang oleh Syeikh Muhammad Al-Fudholi :

جَوَازُ وُقُوْعِ الْاَعْرَاضِ الْبَشَرِيَّةِ بِهِمُ الَّتِى لاَ تُؤدِّى إِلَى نَقْصٍ فِى مَرَاتِبِهِمُ الْعَلِيَّةِ

“Jaiz (boleh-boleh saja) terjadi sifat-sifat kemanusiaan biasa pada diri mereka yang tidak menghantarkan kekurangan pada martabat/pangkat mereka yang tinggi/mulia”

Dalil ‘aqli

Dalil secara akal dalam masalah ini adalah persaksian kaum terdahulu yang melihat langsung keadaan mereka yang mulia.

Dan juga karena para Rasul senantiasa terus naik dan meningkat tingkatan mereka pada derajat yang tinggi. Seperti halnya ketika terjadi sakit tertentu terhadap mereka, itu adalah saat peningkatan derajat atau martabat mereka disisi Allah Ta’ala.

Baca Juga:  Beginilah Kontribusi Besar Madzhab Al-Asy'ari Dalam Ilmu Hadits

Dan juga supaya orang-orang yang berakal dapat mengambil pelajaran yang bahwa dunia ini bukanlah tempat pembalasan, masih ada alam akhirat setelah alam dunia ini.

Karena jikalau alam dunia ini adalah negeri pembalasan terhadap para kekasih Allah, maka sungguh tidaklah mereka itu tertimpa sesuatu daripada kepahitan duniawi.

Dalil naqli

  • Surat Al-Furqaan ayat 20 :

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ

“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar”

Para pembaca yang budiman!, dengan berakhirnya pembahasan mengenai sifat jaiz ini maka sempurnalah pelajaran kita mengenai I’tiqad 50 Ahlussunnah wal-Jama’ah. Semoga kiranya dapat bermanfaat dunia dan akhirat. Amiin!

Penulis tekankan sekali lagi yang bahwa artikel ini hanya sebagai bahan tambahan untuk dijadikan sebagai bahan pengkajian lebih lanjut. Yang saya tulis seringkas-ringkasnya dengan tanpa membubuhi perbedaan-perbedaan pendapat beberapa Ulama Tauhid mengenai 50 sifat ini.

Jika ingin mendalami I’tiqad 50 ini, sepatutnya bagi kita untuk mencari guru yang ahli lagi terpercaya sanad keilmuannya dan belajar langsung darinya, dan saya bukanlah termasuk salah satu dari mereka itu.

Saya hanya mencoba tuk berbagi secuil wawasan yang telah saya pelajari dari guru dan saya baca dari berbagai sumber kitab seperti kitab Matan Sanusi, Tuhfatul murid, kifayatul ‘awam, Ad-Dusuqi, Tijan Darari dan kitab lainnya yang berkaitan dengan 50 sifat tersebut. Wallahua’lambisshawab!

Muhammad Haekal

Leave a Reply

Your email address will not be published.