Sikapi Kasus Radikalisme Atas Nama Islam, Ini Kata Ketua PBNU

Pecihitam.org – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Koordinator Wilayah Jawa Tengah, KH Marsudi Syuhud menegaskan bahwa setiap bangsa di dunia ini memiliki budaya. Namun demikian, tidak semua budaya berasalkan dari ajaran agama.

“Bangsa Indonesia beruntung memiliki budaya yang lahir dari kalangan kiai dan santri. Karena itu, kearifan lokal tersebut harus dilestarikan,” kata Kiai Marsudi saat menghadiri Lailatul Ijtima dan Refleksi Hari Santri yang digelar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, dikutip dari situs resmi NU, Selasa, 15 Oktober 2019.

Pada kesempatan itu, Kiai Marsudi menerangkan budaya cadar yang banyak dipropagandakan sebagai syariat Islam.  

“Budaya itu hasil dari pemikiran. Lah kalau budaya itu dilandasi ajaran Islam, maka menjadi budaya yang islami,” ujarnya.

Baca Juga:  Hasil Survei: 23 Persen Mahasiswa di Indonesia Telah Terpapar Radikalisme

“Budaya-budaya yang ada di masyarakat dan itu bertahan lama turun-temurun sampai sekarang sehingga orang meyakini, bahwa kalau ditinggalkan seolah-olah ada sesuatu yang hilang,” sambungnha.  

Budaya yang tidak dimiliki di negara lain dan ihanya ada di nusantara, kata Marsudi yaitu budaya kumpal-kumpul.

“Salah satu budaya kumpul yang melekat pada individu dari lahir ada budaya puputan yang sekarang disebut walimatut tasmiyyah, tedak siten atau turun tanah, supit yakni sunatan, lamaran, mantu atau pernikahan, tak lama berselang kupatan, saat hamil ada budaya mitoni, dan terus berulang,” lanjutnya.

Budaya itu, kata dia, digerakkan oleh kiai dan santri.

“Kiai dan santri mempunyai cara, model atau gaya tersendiri sehingga selalu diikuti, mulai dari kata atau istilah yang keluar dari santri,” jelas Marsudi.

Baca Juga:  Lakukan Gerakan Tanam Pohon, GP Ansor: Itu Ikhtiar Kami Jaga Lingkungan

“Negara kita memiliki majelis permusyawaratan rakyat, dewan perwakilan rakyat, itu bahasa santri,” bebernya.

Marsudi juga menerangkan persoalan kasus radikalisme yang mengatasnamakan Islam.

Berdasar pada pengalamannya di beberapa belahan dunia, pelaku kekerasan dan perusakan yang dilakukan atas nama agama tersebut terus merembet dan direncanakan sampai Indonesia.

“Sudah ada yang memprogramkan membawa perang itu di sini (Indonesia,red),” ungkapnya.  

Pihaknya bersyukur di Indonesia ada budaya kumpul.

“Karena setiap saat, setiap persoalan dapat diselesaikan dalam budaya kumpul,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.