Strategi Dakwah Rasulullah SAW Di Kota Madinah

Strategi Dakwah Rasulullah SAW Di Kota Madinah

Pecihitam.org – Nabi mulai berfikir tentang agamanya sebagai sebuah agama yang harus memberikan seperangkat hukum kepada umat Islam yang berbeda dari hukum agama lain. Hal ini juga bisa menerangkan fakta bahwa bagian terbanyak dari hukum-hukum Al-Qur’an terjadi di madinah. Oleh sebab itu muncullah Strategi Dakwah Rasulullah yang akan dilakukan di Madinah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Madinah menjadi sebuah ruang dakwah baru bagi Rasulullah Saw, setelah dakwah di Mekah terasa sempit bagi dakwah Rasulullah Saw dan umat Islam pada waktu itu. Berawal dari respon orang-orang Yatsrib (Madinah) yang datang  ke Mekah pada bulan haji, atau yang kemudian dikenal dengan Perjanjian Aqabah.

Bisa dilihat dari orang-orang Yatsrib baik ketika Perjanjian Aqabah satu maupun dua, itu semua merupakan keberhasilan dakwah Rasulullah SAW pada waktu itu. Di mana mereka mau mengubah sikap dan perilaku mereka, bahkan bersedia menjadi pelindung Rasulullah Saw.  Karena pada hakekatnya, dakwah merupakan suatu media atau sarana seorang dai untuk mengubah masyarakat dari negative menjadi positif atau berakhlak mulia, dari yang tertinggal menjadi maju.

Untuk membentuk dan membangun sebuah masyarakat baru di Yatsrib, dengan ragam suku dan kultur masyarakat yang beragam. Rasulullah Saw mempunyai berbagai macam taktik dan strategi dalam mewujudkan hal tersebut. Diantaranya adalah dengan membangun masjid, menciptaka persaudaraan baru, membangun pranata social dan pemerintahan, mengadakan perjanjian dengan masyarakat Yahudi di Madinah.

Baca Juga:  Mengenal Pemikiran Al Kindi dalam Memadukan Filsafat dan Agama

Ketika Rasulullah Saw hijrah ke kota Madinah, sudah banyak penduduk kota Madinah yang memeluk agama Islam atau yang kemudian dikenal dengan Kaum Anshar. Rasulullah Saw kemudian membangun Masjid Nabawi, Setelah beberapa bulan berada di Madinah. Pembangunan masjid tersebut selain berfungsi sebagai tempat ibadah juga berfungsi sebagai pusat kegiatan dakwah, pemerintahan, bermusyawarah dan lain sebagainya. pembangunan masjid yang saling bahu-membahu tersebut, telah mengajarkan arti sebuah persaudaraan dan semangat persamaan antar umat manusia.

Strategi kedua Rasululllah Saw dalam membangun sebuah peradaban baru adalah dengan menciptakan sebuah persaudaraan. Sebagaimana kita ketahui, ketika Kaum Muhajirin atau pengikut Rasulullah Saw yang hijrah dari Mekah ke Madinah, banyak yang menderita kemiskinan karena harta benda mereka semuanya ditinggal di Mekah.

Pada moment ini lah, Kaum Anshar dan Muhajirin dipersatukan oleh Rasulullah Saw dan menciptakan persaudaraan baru antara keduanya. Kemudian Rasulullah Saw menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai saudara Nabi Saw sendiri, lalu Abu Bakar Rasulullah Saw disaudarakan dengan Kharijah Ibnu Zuhair, Ja’far Ibnu Abi Thalib dengan Mu’adz bin Jabal.

Baca Juga:  Apa Itu Pengajian Majlis Taklim? Berikut Karakteristiknya

Dengan hal tersebut, Rasulullah Saw telah mempertalikan keluarga-keluarga Islam. Di mana masing-masing keluarga mempunyai talian erat dengan keluarga yang lainnya, sehingga persaudaraan tersebut membentuk sebuah kekuatan baru yang kemudian membantu dakwah Rasulullah Saw.

Selanjutnya strategi yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw yakni mengadakan perjanjian dengan orang-orang Yahudi di Madinah dan berbagai elemen penting yang ada di kota Madinah. Yang kemudian perjanjian tersebut dikenal dengan Piagam Madinah, yang ditulis pada tahun 623 M atau tahun ke-2 H.

Di mana dalam Piagam Madinah tersebut terdapat beberapa point penting, diantaranya yaitu;  Kaum Muslimin dan Kaum Yahudi hidup secara damai, bebas memeluk dan menjalankan ajaran agamanya masing-masing. Mereka wajib membantu pihak yang diserang Apabila salah satu pihak diperangi musuh. Di antara mereka saling berbuat kebaikan, dan saling mengingatkan, serta tidak akan saling berbuat kejahatan. Dalam melaksanakan kewajiban untuk kepentingan bersama, Kaum muslimin dan Yahudi wajib saling tolong menolong. Nabi Muhammad Saw adalah pemimpin umum untuk seluruh penduduk Madinah. Bila terjadi perselisihan di antara kaum muslimin dengan kaum Yahudi, maka penyelesaiannya dikembalikan kepada Nabi sebagai pemimpin tertinggi di Madinah.

Baca Juga:  Adakah Hikmah Dibalik Kisah Qabil dan Habil? Ini Penjelasannya

Setelah berhasil mengikat masyarakat Madinah yang beragam tersebut dalam satu ikatan, dengan Piagam Madinah. Kemudian Rasulullah Saw membangun pranata sosial dan pemerintahan. Yang juga tertulis dalam Piagam Madinah, sehingga ketika Nabi Muhammad Saw berdakwah di Madinah beliau bukan hanya sebagai penyampai risalah wahyu dari Allah SWT, tetapi juga sebagai pemimpin negara. Demikianlah Strategi Dakwah Rasulullah yang dilakukan oleh Rasulullah Saw, selain dengan Mauidzah dan Uswah Hasanah, Juga dengan membangun toleransi di tengah keragaman, untuk mencapai sebuah kemaslahatan bersama tanpa ada paksaan.

Mochamad Ari Irawan

Leave a Reply

Your email address will not be published.