Subhanallah! Seorang Yahudi Pun Merasakan Keutamaan Maulid Nabi

Subhanallah! Seorang Yahudi Pun Merasakan Keutamaan Maulid Nabi

Pecihitam.org – Memperingati Maulid Nabi merupakan bagian dari syiar Islam, sekalipun terdapat sebagian golongan yang mengingkari, bahkan menuduh sebagai prilaku bid’ah. Maulid Nabi hakikatnya adalah majlis shalawat dan sedekah yang memiliki banyak keutamaan, bahkan sekali pun orang Yahudi merasakan keutamaan Maulid ini.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sebagaimana dikatakan oleh Sulthanul Arifin, Imam as-Suyuthy dalam Kitab beliau yang berjudul Al-Wasail fi Syarh as-Syamail bahwa rumah, masjid atau tenda yang di dalamnya dibacakan Maulid Nabi, maka tempat itu akan dikelilingi malaikat yang membaca istighfar bagi orang-orang yang ada di tempat tersebut.

Bahkan di dalam Kitab An-Ni’mah al-Kubra ‘ala al-‘Alam fi Maulid Sayyid Walad al-Adam pada halaman 7, terdapat perkataan tentang keutamaan memperingati Maulid Nabi yang dinisbatkan pada Imam as-Suyuthy sebagai berikut

مَا مِنْ مُسِلِمٍ قَرَأَ فِي بَيْتِهِ مَوْلِدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا رَفَعَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْقَحْطَ وَالْوَبَاءَ وَالْحَرْقَ وَالْغَرْقَ وَاْلآفَاتِ وَالْبَلِيَّاتِ وَالْبُغْضَ وَالْحَسَدَ وَعَيْنَ السُّوْءِ وَاللُّصُوْصَ عَنْ أَهْلِ ذَلِكَ الْبَيْتِ، فَإِذَا مَاتَ هَوَّنَ اللهُ عَلَيْهِ جَوَابَ مُنْكَرٍ وَنَكِيْرٍ، وَيَكُوْنُ فَي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيْكٍ مُقْتَدِرٍ

Tiada dari seorang muslim yang membaca Maulid Nabi SAW di rumahnya kecuali Allah SWT mengangkat kemarau, wabah, kebakaran, karam, penyakit, bala, murka, dengki, mata yang jahat dan pencuri dari ahli rumah tersebut.

Jika orang tersebut meninggal dunia niscaya Allah memudahkan baginya menjawab pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir, dan adalah tempat duduknya pada tempat yang benar di sisi Tuhan Yang Maha Memiliki Lagi Kuasa

Kembali ke kisah tentang sepasang suami istri beragama Yahudi yang merasakan keutamaan Maulid Nabi, sebagaimana termuat dalam Maulid Syaraf al-Anam karya Syaikh Ahmad bin Qashim pada halaman 44 – 46.

Kisah lengkapnya sebagai berikut:

قَالَ عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ كَانَ بِمِصْرَ رَجُلٌ يَصْنَعُ مَوْلِدًا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ عَامٍ

Syaikh Abdul Wahid bin Ismail bercerita, bahwa di Mesir dahulu, ada seorang laki-laki yang setiap tahun mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam.

وَكَانَ إِلَى جَانِبِهِ رَجُلٌ يَهُوْدِيٌّ فَقَالَتْ لَهُ زَوْجَةُ الْيَهُوْدِيِّ مَا بَالُ جَارِنَا الْمُسْلِمِ يُنْفِقُ مَالًا جَزِيْلًا فِيْ مِثْلِ هَذَا الشَّهْرِ فَقَالَ لَهَا زَوْجُهَا إِنَّهُ يَزْعُمُ أَنَّ نَبِيَّهُ قَدْ وُلِدَ فِيْهِ وَهُوَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فَرْحَةً بِهِ وَكَرَامَةً لِمَوْلِدهِ

Baca Juga:  Madrasah Ibtidaiyah, Pendidikan Dasar untuk Anak yang Semakin Diminati

Di sebelah laki-laki tadi, ada tetangganya yang beragama Yahudi. Isteri Yahudi ini berkata kepada suaminya: “Mengapa, tetangga kita yang muslim itu, setiap bulan ini (Rabi’ul Awwal) membelanjakan harta yang banyak?” Suami Yahudi itu menjawab: “Itu adalah karena dia beranggapan bahwa dalam bulan inilah nabinya dilahirkan, dia melakukan hal tersebut karena senang dengan nabinya, dan memuliakan hari kelahirannya.”

قَالَ فَسَكَتَا ثُمَّ نَامَا لَيْلَتَهُمَا فَرَأَتْ اِمْرَأَةُ الْيَهُوْدِيِّ فِي الْمَنَامِ رَجُلًا جَمِيْلا جَلِيْلًا عَلَيْهِ مَهَابَةٌ وَتَبْجِيْلٌ وَوَقَارٌ قَدْ دَخَلَ بَيْتَ جَارِهِ الْمُسْلِمِ وَحَوْلَهُ جَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِهِ وَهُمْ يُبَجِّلُوْنَهُ ­ وَيُعَظِّمُوْنَ­هُ

Syaikh Abdul Wahid bin Ismail melanjutkan ceritanya : Kedua suami isteri pun diam, kemudian keduanya tidur. Dalam tidurnya, isteri Yahudi itu bermimpi ia melihat ada seorang laki-laki yang begitu tampan dan agung, berwibawa dan sangat dimuliakan memasuki rumah tetangganya yang Muslim itu. Dan di kanan kiri laki-laki tersebut ada serombongan dari sahabatnya. Mereka mengormati dan mengagungkan laki-laki tersebut

فَقَالَتْ لِرَجُلٍ مِنْهُمْ مَنْ هَذَا الرَّجُلُ الْجَمِيْلُ الْوَجْهِ فَقَالَ لَهَا هَذَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ هَذَا الْمَنْزِلَ لِيُسَّلِمَ عَلَى أَهْلِهِمْ وَيَزُوْرَهُمْ لِفَرْحِهِمْ بِهِ فَقَالَتْ لَهُ هَلْ يُكَلِّمُنِيْ إِذَا كَلَّمْتُهُ فَقَالَ لَهَا نَعَمْ

Wanita itu pun bertanya kepada pada salah seorang diantara anggota rombongan itu: “Siapa laki-laki yang tampan ini ?”

Orang itu menjelaskan bahwa itulah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Beliau masuk kerumah ini untuk mengucapkan salam kepada penghuni rumah ini dan menemui mereka yang telah menunjukkan rasa suka-cita mereka atas kelahiran beliau.

Wanita Yahudi itu pun berkata lagi, “Maukah orang itu berbicara denganku apabila aku mengajaknya bicara ?”, laki-laki tadi menjawab: “Sudah tentu beliau mau”.

فَأَتَتْ إِلَيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ لَهُ يَا مُحَمَّدُ فَقَالَ لَهَا لَبَّيْكِ فَقَالَتْ لَهُ أَتُجِيْبُ لِمِثْلِيْ بِالتَّلْبِيَةِ­ وَأَنَا عَلَى غَيْرِ دِيْنِكَ وَمِنْ أَعْدَائِكَ فَقَالَ لَهَا وَالَّذِيْ بَعَثَنِيْ بِالْحَقِّ نَبِيًّا مَا أَجَبْتُ نِدَائَكِ حَتَّى عَلِمْتُ أَنَّ اللهَ قَدْ هَدَاكِ فَقَالَتْ إِنَّكَ لَنَبِيٌّ كَرِيْمٌ، وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ، تَعِسَ مَنْ خَالَفَ أَمْرَكَ، وَخَابَ مَنْ جَهِلَ قَدْرَكَ، اُمْدُدْ يَدَكَ، فَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّكَ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Baca Juga:  Adakah Penjelasan Gempa Bumi dalam Al Quran? Bagaimana Doanya?

Wanita Yahudi itu pun lantas mendekati Nabi Muhammad dan menyapanya: “Wahai Muhammad !” , lantas Nabi pun menjawab: “Labbaiki (aku sambut panggilanmu) “.

Wanita itu pun berkata: ” Engkau menjawab orang sepertiku dengan talbiyah, sedangkan aku bukan mengikuti agamamu, dan akupun termasuk salah satu musuh-musuhmu.”

Nabi pun bersabda kepadanya: “Demi Dzat Yang telah mengutusku dengan haq menjadi Nabi, aku tidak menjawab panggilanmu sehingga aku mengerti bahwasanya Allah telah memberi hidayah atasmu.”

Wanita itupun berucap: “Sesungguhnya tuan memang benar seorang Nabi yang mulia yang berpribadi agung, celakalah orang yang menselisihi perintahmu, dan merugilah orang yang tidak mengerti pangkatmu. Ulurkanlah tanganmu, aku bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah, dan Engkau adalah Rasulullah, shallallaahu ‘alaihi wasallam.”

ثُمَّ إِنَّهَا عَاهَدَتِ اللهَ فِيْ سِرِّهَا أَنَّهَـا إِذَا أَصْبَحَـتْ تَتَصَدَّقُ بِجَمِيْعِ مَا تَمْلِكُهُ وَتَصْنَعُ مَوْلِدًا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرْحَةً بِإِسْلَامِهَا وَشُكْرًا لِلرُّؤْيَا الَّتِيْ رَأَتْهَا فِيْ مَنَامِهَا

Dalam hatinya, wanita itu berjanji kepada Allah,berniat bahwa nanti besok pagi, ia akan bersedekah dengan seluruh harta yang ia miliki dan melaksanakan jamuan untuk memperingati Maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, sekaligus sebagai perwujudan rasa syukur atas keIslamannya dan mimpinya malam itu.

فَلَمَّا أَصْبَحَتْ رَأَتْ زَوْجَهَا قَدْ هَيَّأَ الْوَلِيْمَةَ وَهُوَ فِيْ هِمَّةٍ عَظِيْمَةٍ فَتَعَجَّبَتْ مِنْ أَمْرِهِ وَقَالَتْ لَهُ: مَالِيْ أَرَاكَ فِيْ هِمَّةٍ صَالِحَةٍ ؟ فَقَالَ لَهَا: مِنْ أَجْلِ الَّذِيْ أَسْلَمْتِ عَلَى يَدَيْهِ اَلْبَارِحَةَ، فَقَالَتْ لَهُ: مَنْ كَشَفَ لَكَ هَذَا السِّرَّ الْمَصُوْنَ وَمَنْ أَطْلَعَكَ عَلَيْهِ ؟ فَقَالَ اَلَّذِيْ أَسْلَمْتُ بَعْدَكِ عَلَى يَدَيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَهُوَ الْمُشَفَّعُ غَدًا فِيْمَنْ يُصَلِّيْ وَيُسَلِّمُ عَلَيْهِ

Baca Juga:  Apa itu Sunnah Rasulullah di Malam Jumat yang Harus Kita Amalkan?

(Akan tetapi, diluar dugaan, begitu bangun pagi) ia melihat suaminya sudah sibuk untuk menyiapkan suatu perjamuan, ia begitu rajin dan serius.

Wanita itupun heran dengan apa yang dilakukan suaminya seraya berkata: “Ada apa gerangan kulihat engkau begitu sibuk dan bersemangat pagi ini ? si suami menjawab, “Karena orang yang kau lihat malam tadi, yang mana engkau masuk islam dihadapan beliau.”

Dia bertanya kepada suaminya: “Siapa gerangan yang telah membukakan engkau rahasia ini (ihwal impiannya) dan memperlihatkann­ya kepada engkau ?”

Si suamipun berkata: “Yaitu Nabi Muhammad, yang mana aku masuk Islam setelah engkau dihadapan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam. Beliaulah Nabi yang ditrerima syafaatnya kelak untuk orang yang bershalawat dan salam atas beliau”.

Demikian kisah panjang tentang sepasang suami istri beragama Yahudi yang merasakan keutamaan Maulid Nabi.

Kisah ini mengandung hikmah, jika orang Yahudi yang notabene benci pada Nabi bisa merasakan keutamaan Maulid Nabi, karena tetangganya mengadakan acara maulid, bagaimana dengan kita? Kita ummatnya mengadakan Maulid Nabi bahkan di dalam rumah kita sendiri.

Maka yakinlah akan keutamaannya, bukan malah menentangnya sebagai amaliah bid’ah. Semoga bermanfaat.

Faisol Abdurrahman

Leave a Reply

Your email address will not be published.