Biografi Lengkap Sunan Ampel; Bapaknya Para Wali di Nusantara

Biografi Lengkap Sunan Ampel; Bapaknya Para Wali di Nusantara

PeciHitam.org – Dakwah kepada manusia seharusnya dengan mengajak baik-baik, bukan dengan memaksa. Mendekatkan diri bukan membuat dinding penghalang pendosa-penghuni surga. Tidak pula dengan cara kekerasan untuk mengikuti jalan yang benar, salah maka sikat. Jangan seperti itu. Pahami ayat;

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Artinya; Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmh dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (Qs. An-Nahl: 125)

Dakwah tersebut yang mengilhami pemikiran Sunan Ampel Denta, seorang pesohor penyebaran Islan di Nusantara, Jawa pada khususnya. Tidak langsung muluk-muluk mana dalilnya, cukup MOH LIMO.

Makam beliau selalu penuh sesak para peziarah yang merasa berterima kasih kepada beliau karena peran dalam penyebaran Islam di lingkungan mereka. Baik secara langsung maupun tidak, Islam tersebar di Jawa berat tangan dingin, barokah, tirakat seorang Sunan Ampel. Berikut sepak terjang dakwah beliau.

Biografi Sunan Ampel

Sunan Ampel bernama Asli Raden Rahmat putra Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim. Beliau berdarah biru keturunan Raja Champa (ada yang mengtakan daerah Vietnam selatan ada pendapat yang mengatakan daerah Jeumpa di Aceh). Beliau lahir pada tahu 1401 Masehi dan kemudian beralih ke Jawa untuk berdakwah Islam.

Raden Rahmat kemudian menempati daerah perdikan di Ampel Denta untuk didirikan sebuah pesantren dengan tujuan menggembleng akhlak para pelajar Islam.

Beliau banyak mendidik santri-santri baik dari golongan bangsawan maupun dari kalangan rakyat biasa. Salah satu santri beliau adalah Raden Patah, kelak menjadi Sultan Pertama Kerajaan Demak.

Darah biru beliau tidak menghalangi untuk tekun di dunia spiritual. Beliau juga dikenal sebagai salah seorang wali yang keturunan darah Cina. Raden Rahmat juga memiliki gelar Bapak para Wali karena beberapa anak dan murid beliau terkenal sebagai waliyullah.

Baca Juga:  AGH Abduh Pabbaja, Sosok Ulama, Aktivis dan Pendidik yang Disegani di Sulsel

Sunan Ampel dan Tembung Moh Limo

Ajaran utama Sunan Ampel adalah mengajak orang-orang pribumi untuk masuk agama Islam dengan penuh kasih sayang. Beliau membuat tagline dakwah dengan arif dan tidak terlepas dari akar budaya obyek dakwahnya.

Tidak muluk-muluk dengan dasar ayat Normatif. Alih-alih menggunakan ayat Quran, beliau menggunakan tembung jawa yaitu MOH LIMO (menghindari 5 perkara). Falsafah sederhana dan mudah diingat untuk diamalkan oleh para santri Sunan Ampel.

Moh bermakna “Tidak Mau”, Limo artinya “Lima Perkara”. Sebuah kesederhanaan dalam penyampaian dan dakwa Sunan Ampel. Beliau menekankan MOH LIMO yaitu;

Moh Mabok: Tidak Mau minum minuman keras, khamr dan sejenisnya.

Moh Main: Tidak Mau main judi, togel, taruhan dan sejenisnya.

Moh Madon: Tidak Mau berbuat zina, homoseks, lesbian dan sejenisnya.

Moh Madat: Tidak Mau memakai narkoba dan sejenisnya.

Moh Maling: Tidak Mau mencuri, korupsi, merampok dan sejenisnya.

Falsafah sederhana dengan banyak makna dan nilai moralitas tinggi. Sunan Ampel memahami bahwa penyakit masyarakat yang beliau dakwahi masih sangat mara 5 dosa tersebut.

Masyarakkat belum bisa lepas dari mabuk arak, selalu berjudi ditempat umum, senang bermain dengan perempuan lain, banyak mabuk dengan narkoba serta pencurian merajalela.

Dakwah santun dengan situasi Surabaya yang bertopografi kota Pelabuhan terbukti memenuhi ekspetasi dakwah sukses. Riyadah, tirakat sunan Ampel tidak sia-sia dengan banyaknya murid dan putra beliau mengikuti jalan dakwah ayahnya

Pendekatan budaya yang dilakukan oleh Sunan Ampel terbukti bisa menjaring simpati. Sebagaimana dalam Al-Quran disebutkan;

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Artinya Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. dan Dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana (Qs. Ibrahim: 4)

Obyek dakwah Sunan Ampel adalah Jawa, maka Falsafah yang diusung harus menggunakan bahasa Jawa pula. Sebagaimana Al-Quran diturunkan dalam konteks orang Arab. Penggunaan bahasa jawa akan sangat membantu dalam penyampaian dakwah yang tuntas dan mudah dipahami.

Baca Juga:  Sultan Hamid II, Perancang Lambang Negara Indonesia

Bapak Para Wali di Nusantara

Ukuran kesuksesan seseorang salah satunya bisa diukur lewat seberapa banyak orang tersebut memiliki andil karya dalam masyarakat. Bukan sekedar kaya dalam bentuk materi, tapi kaya akan jasa yang bermanfaat. Serta tentu diteruskan bukti nyata karya-karyanya oleh anak dan keturunan. Dalam Syair disebutkan;

وشرّ العالمين ذوو خُمول إذا فاخرتهم ذكروا الجدودا
وخير الناس ذو حسب قديمٍ أقام لنفسه حسباً جديدا
إذا ما الجهل خيّم في بلاد رأيت اسودها مُسِخَت قرودا

Isi pesan Syair tersebut adalah jangan Bangga mempunyai Nasab Agung akan tetapi diri kita tidak bisa meneruskan perjuangan mereka. Kita hanya berbangga dengan menjadi keturunan orang Besar, sedangkan diri kita tidak lebih dari Orang Rendahan. Hal itu seperti Singa beranak Monyet.

Sunan Ampel membuktikan bahwa beliau banyak berjasa mengislamkan Jawa, dan beliau juga mempunyai para putra pejuang di Jalan Allah SWT. Sampai-sampai Sunan Ampel atau Raden Rahmat disebut sebagai Bapak Para Wali.

Anak-anak dan murid-murid beliau sangat banyak. Dan beberapa dari mereka terkenal menjadi Waliyullah. Antara lain anak beliau yang terkenal adalah Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri. Murid beliau antara lain Raden Patah (Raja Demak pertama) yang juga menantu beliau.

Makam Sunan Ampel dan Kesejahteraan Sosial

Sunan Ampel meninggal pada tahun 1481 di Demak, dengan pengaruh dan kharismanya beliau masih bisa memberi makan dan wasilah rejeki seseorang.

Beliau dimakamkan di sebelah Masjid Tertua Ketiga Di Indonesia, yaitu Masjid Ampel. Masjid Ampel merupakan masjid terbesar kedua yang ada di Surabaya sampai pada tahun 1905.

Dalam Literasi Sejarah, masjid Ampel ini merupakan tempat berkumpulnya para ulama dan waliyullah dalam membahas strategi penyebaran Islam di Jawa.

Selain masih aktif sebagai Jamaah sehari-hari Masjid Ampel juga merupakan salah satu tujuan wisata religi dan ziarah. Bahkan bisa dpastikan setiap harinya tidak pernah sepi pengunjung. Berkah Karomah dan keistimewaan sosok Sunan Ampel masjid selalu makmur dari jamaah.

Masjid Ampel sudah tiga kali mengalami perluasan yaitu pada tahun 1926, 1954, dan 1972. Sehingga semakin luas yakni mencapai 1.320 meter persegi dengan panjang 120 meter dan lebar 11 meter. Magnet lain dari daerah Ampel selalu ramai adalah Makam Sunan Ampel.

Baca Juga:  Sunan Ampel, Guru Para Wali Songo dalam Dakwah Islam di Pulau Jawa

Beliau yang telah terbaring sejak hampir 600 tahun lalu masih bisa menyedot banyak peziarah untuk sekedar berdoa dan memanjatkan doa maghfirah bagi Sunan Ampel. Sebuah fenomena langka.

Oleh sebab ini, wilayah Ampel menjadi penuh sesak dengan para pedagang yang menjajakan cinderamata bagi peziarah. Baik makanan, pakaian, wewangian, oleh-oleh khas bahkan hal-hal yang tidak terkait dengan ritual ziarah pun banya ditemukan di Ampel Surabaya.

Banyaknya Ziarah secara tidak langsung memberikan kesejahteraan bagi banyak orang yang berdagang dan menggantungkan hidup mengais rejeki di Ampel.

Tidak lain ini semua berkat karomah Raden Rahmat alias Sunan Ampel. Belum tentu orang yang hidup seperti kita akan bisa seperti Sunan Ampel, memberi manfaat kesejahteraan bagi manusia lainnya.

Manusia yang berbondong-bondong menuju Ampel tidak henti bahkan tengah malam dan dinihari selalu menghadirkan rejeki bagi para pedagang.

Mereka yang sering berkoar bahwa Ampel pusat Syirik, Bidah, Khurafat mungkin didorong oleh rasa dengki yang menutup kenyataan tentang karomah Sunan Ampel.

Keramaian di Ampel akan memuncak pada saat peringatan maleman Lailatul Qodar, bahkan dapat mencapai 20 ribu orang. Dengan demikian sudah pasti membawa dampak positif tersendiri bagi kalangan warga sekitar.

Dari hal di atas bisa diambil hikmah bahwa seorang pendakwah di jalan Allah akan selalu mendapatkan kemuliaan. Bukan hanya di dunia namun juga di akhirat, bahkan ketika sudah meninggal bisa memberikan sumber penghidupan bagi orang di sekitarnya. Inilah yang kirnya bisa kita contoh dan buat sebagai pelajaran hidup. Ash-Shawabu Minallah

Mohammad Mufid Muwaffaq