Sunan Bayat, Penguasa yang Turun Tahta Setelah Memahami Hakikat Duniawi

Sunan Bayat, Penguasa yang Turun Tahta Setelah Memahami Hakikat Duniawi

PeciHitam.org Hidup berkecukupan dengan memegang kekuasaan dan fasilitas lengkap sebagai bangsawan era feodal menjadikan Pangeran Mangkubumi terlena. Ia banyak melalaikan tugas sebenarnya sebagai khalifah fil ardh untuk menghidupkan agama Allah dengan dakwah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Lalai kepada tugas dan peran dalam bidang dakwah Islam akhirnya memiliki titik temu ketika Pangeran Mangkubumi disadarkan oleh Sunan Kalijaga. Dan ketikan memahami hakikat duniawi, ia tidak lagi berkenan menjadi penguasa karena takut untuk lalai lagi.

Pangeran Mangkubumi atau kita kenal dengan Sunan Bayat, adalah salah seorang Sunan yang Makamnya di Jawa Bagian Selatan. Sunan yang sadar dari keterpurukan silau akan duniawi menjadi penyebar agama Islam di daerah Tembayat.

Keturunan Bangsawan Ulama

Sunan Bayat atau Tembayat banyak memiliki nama sesuai dengan sejarah hidup beliau yang berwarna. Nama asli Sunan Bayat adalah Sayyid Maulana Muhammad Hidayatullah dan memiliki julukan sekurangnya 4 yakni Pangeran Mangkubumi, Susuhunan Tembayat, Wahyu Hidayat, Sunan Pandanarang II.

Ayah beliau Sunan Pandanarang I (Sayyid Abdul Qadir) putra dari Syaikh Maulana Ishak Pasai. Oleh karenya, ayah Sunan Bayat adalah saudara seayah dengan Sunan Giri. Ibunda beliau adalah seorang dari Kerajaan Pasai yaitu Syarifah Pasai Azmatkhan.

Ayah beliau diangkat oleh Kerajaan Demak sebagai Penguasa Kota Semarang yang pertama dan kemudian Pangeran Maulana Hidayatullah menggantikan posisinya sebagai penguasa kota Semarang. Letak pusat pemerintahan Semarang pada masa itu berkedudukan di Pragota (sekarang Bergota, Kec. Randusari Semarang Selatan).

Pangeran Maulana Muhammad Hidayat atau Sunan Bayat menggantikan ayahnya dengan gelar Sunan Pandanaran II. Sunan Bayat Hidup pada masa Kesultanan Demak dan permulaan berdirinya Giri Kedhaton sekitar awal abad ke-16.

Awal naik ke kekuasaan sebagai Bupati Semarang dijalani Sunan Bayat dengan penuh tanggung jawab. Bantuan sosial untuk pesantren dan rumah ibadah disekitar Semarang selalu beliau tunaikan dengan baik. tanggung jawab Sunan Bayat kepada Pesantren dan Rumah Ibadah tidak lain karena tanggung jawab wilayah bawahan Kerajaan Demak sebagai Kerajaan Islam.

Baca Juga:  Amin Abdullah dan Pemikirannya tentang Paradigma Integrasi-Interkoneksi

Selain menjadi penguasa lokal di Semarang, Pangeran Maulana Muhammad Hidayatullah juga cucu seorang Ulama besar, yaitu Syaikh Maulana Ishaq. Tidak heran beliau diserahi memimpin tugas sebagai Penguasa Lokal untuk memuluskan dakwah Islam di Semarang.

Penguasa yang Turun Tahta

Tanggung jawab sebagai Bupati yang amanah lambat laun terlupakan dan mencondongkan hati Pangeran Maulana Hidayatullah kepada dunia. Beliau lebih sering menyibukan diri dengan mengurus harta benda, tumpangan yang bagus, dan menumpuk kekayaan.

Tugas yang terlalaikan oleh Pangeran Mangkubumi menjadikan Kerajaan Demak memandang perlu untuk menyadarkannya. Maka Sunan Kalijaga diutus untuk menyadarkan beliau kembali agar bisa menjalankan roda pemerintahan dengan benar.

Sunan Kalijaga diutus dengan menyamar sebagai buruh pencari rumput bagi kuda-kuda pilihan. Beliau setiap hari membawa sepikul rumput untuk dijual kepada Pangeran Mangkubumi. Keheranan Pangeran Mangkubumi melihat pencari rumput yang selalu membawa rumput segar pagi-pagi sekali.

Selain selalu membawa rumput segar, Sunan Kalijaga juga tidak meminta ongkos bayaran penuh, hanya sebagian saja. Tentunya model pencari rumput seperti ini yang sangat disukai oleh Pangeran Mangkubumi yang sudah dihinggapi sifat bakhil.

Pangeran Mangkubumi tidak bisa menahan keingin-tahuan atas rumput segar dan ongkos tidak penuh yang selalu dibawa oleh Sunan Kalijaga. Kemudian Sunan Kalijaga yang menyamar sebagai pencari rumput menerangkan, ‘Jika hanya ingin emas permata dan harta duniawi ia hanya butuh cangkul untuk mengambilnya di bawah tanah’.

Tidak perlu susah payah karena harta duniawi tidak memiliki arti sama sekali baginya. Setelah menerangkan hal tersebut, pencari rumput bergegas pergi dengan meninggalkan Pangeran Mangkubumi takjub akan emas-permata hasil cangkulan Sunan Kalijaga.

Akhirnya Pangeran Mangkubumi menyadari bahwa harta benda tidak lebih hanya seonggok batu kerikil tidak berharga. Tiada guna menumpuk harta benda yang tidak memiliki manfaat dan kegunaan jangka panjang. Kesadaran Pangeran Mangkubumi membawa beliau untuk berguru kepada Sunan Kalijaga.

Baca Juga:  Refleksi Harlah NU Ke-92: Pesan Kebangsaan KH Hasyim Asy'ari

Syarat untuk berguru kepada Sunan Kalijaga, ia melepaskan diri dari ikatan duniawi dan berkelana tanpa membawa harta sama sekali sebagai bukti keseriusan menempuh jalan pendidikan kepada Sunan Kalijaga. Perintah Sunan Kalijaga kepada Pangeran Mangkubumi untuk menemuinya di Gunung Jabalkat.

Secara literer, Gunung Jabalkat adalah gunung yang jauh letaknya dari Semarang, dibagian selatan Pulau Jawa tepatnya di Klaten. Jalur yang dipilih oleh Sunan Bayat adalah jalur yang sekarang kita kenal dengan jalan Semarang Surakarta melewati lembah-bukit Gunung Ungaran.

Jalan tersebut menuju Kota Salatiga, Boyolali, Mojosongo, wedi dan berakhir di Bayat Kabupaten Klaten. Daerah-daerah 4 pertama menurut riwayat adalah penamaan langsung dari Sunan Bayat ketika melewti daerah tersebut dan mendapat hambatan.

Sesampainya di Gunung Jabalkat beliau bersama Istri dan mantan Penyamun, bernama Ki Domba berguru kepada Sunan Kalijaga. Tingkatan Ilmu yang diberikan sunan Kalijaga kepada Sunan Pandanaran bukan sekedar Ilmu pada umumnya, karena beliau dipersiapkan sebagai kader penyebar Islam.

Dakwah Sunan Bayat

Sosok Sunan Bayat memang tidak bisa dilepaskan dari Sunan Kalijaga karena dari beliaulah, kesadaran untuk mengabdikan diri dalam dakwah Islam muncul. Sunan Pandanaran tidak lagi menjadi hamba harta, akan tetapi naik kelas untuk menjadi hamba pemilik harta, Allah SWT.

Ketika menyelesaikan pendidikan di Gunung Jabalkat, Sunan Bayat memantapkan hati untuk berdakwah di Daerah Tembayat Klaten. Pusat dakwah beliau sekarang ini berada di Bukit Cakrakembang, Desa Paseban Kecamatan Bayat Klaten Jawa Tengah.

Bukit tempat pusat dakwah Sunan Bayat berada di selatan Gunung yang kabarkan oleh Sunan Kalijaga, yakni Gunung Jabalkat. Sunan Bayat berdakwah dengan mendirikan Masjid sebagai sarana beribadah dan berdakwah yakni Masjid Golo, yang berada di puncak Bukit.

Sebagai sarana dakwah dan Ibadah tentunya diperlukan orang untuk mengurus fasilitas bersuci seperti air wudhu. Maka Sunan Bayat memerintahkan muridnya Ki Domba yang kemudian terkenal dengan Syaikh Domba untuk mengisi padasan dengan air dari bawah bukit.

Baca Juga:  KH. Mutamakkin Kajen, Sang Sufi Legendaris dari Tanah Jawa

Pendekatan dakwah yang digunakan oleh Sunan Bayat tidak menghilangkan ciri khas dakwah gurunya, Sunan Kalijaga. Beliau tetap beranggapan bahwa budaya dan tradisi tidak sepenuhnya salah dalam Islam, bahkan bisa digunakan sebagai fasilitas penyampai pesan Islam.

Akan tetapi dakwah yang menonjol dari Sunan Bayat adalah penggunaan dakwah struktural, yang menyasar tokoh, petinggi dan orang yang dituakan didaerah obyek dakwah. Para tokoh, petinggi dan orang senior diajak untuk berdiskusi dan memikirkan tentang Agama Islam.

Model dakwah dengan berdiskusi dan musyawarah disebut dengan Dakwah ‘Patembayatan’ yang memilki arti literer ‘Bermusyawarah’.

Dengan bermusyawarah, tokoh-tokoh dan petinggi jabatan di desa akan terbuka pikiran dan nalar kebenaran Islam. Karena memang Islam agama yang sangat rasional dan bisa dicerna dengan pikiran.

Metode Patembayatan atau bermusyawarah ternyata membawa dampak menggembirakan karena para tokoh dan orang-orang senior di desa tertarik dengan Islam.

Tentunya para tokoh dan orang dituakan memiliki pengikut dan anak buah, dan dapat dipastikan mereka akan mengikuti agama dan kepercayaan tuannya.

Dakwah model Patembayatan berhasil membawa simpati dan diikuti oleh banyak orang di wilayah Bayat, Klaten dan Sekitarnya. Pengembangan dakwah Sunan Bayat tidak hanya terhendi kepada dirinya sendiri. Beliau membawakan semangat dakwah kepada anaknya yang dikenal dengan Ki Ageng Gribig di daerah Jatinom Klaten.

Ki Ageng Gribig, putra Sunan Bayat adalah pencetus tradisi Ya Qowiyu sebagai bentuk tradisi sedekah di Jatinom Klaten.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan