Sunan Muria, Wali yang Rela Naik Turun Gunung Demi Berdakwah pada Rakyat Jelata

Sunan Muria, Wali yang Rela Naik Turun Gunung Demi Berdakwah pada Rakyat Jelata

PeciHitam.org – Sunan Muria, penyebar Agama Islam di pesisir Jawa bagian Utara yang terkenal sebagai wali Allah SWT. Makam beliau selalu ramai dikunjungi oleh peziarah walaupun berada di puncak salah satu bukit Gunung Muria Kabupaten Kudus.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Penghormatan Umat Islam kepada Sunan Muria bahkan setelah beliau meninggal dunia menandakan dia sangat berjasa dalam penyebaran Islam di Jawa dan Nusantara pada Umumnya. Situs pesanggrahan makam beliau yang ramai menjadikan pedagang menggantungkan pendapatan di Makam beliau.

Diakui atau tidak, beliau yang sudah berabad-abad lamanya meninggal dunia secara tidak langsung memberi penghidupan bagi warga masyarakat sekitar Gunung Muria dan Kabupaten Kudus

Silsilah Keturunan Sunan Muria

Sunan Muria adalah nama sebutan bagi Putra Sunan Kalijaga berama Raden Umar Said. Nama lahir Raden Umar Said adalah Raden Prawoto. Dan gelar Bangsawan Raden beliau peroleh dari ayah beliau yang merupakan putra Bupati Tuban. Raden Umar Said dilahirkan dari Ibu bernama Dewi Saroh putra dari Sunan Ngudung.

Kakek dari pihak ibu pernah menjadi Imam Besar Masjid Agung Demak pada masa pemerintahan Sultan Trenggana.

Lahir dan besar dari kalangan Ulama besar bergelar Sunan dan Wali Allah menjadikan konsentrasi beliau tercurah untuk dakwah Islam. Tidak mengherankan keturunan beliau juga menjadi penerus dakwah Islam di Tanah Jawa.

Sunan Muria beristri Dewi Sujinah dan menurunkan beberapa keturunan antara lain Pangeran Santri yang dimakamkan di Barat Masjid Muria, Panembahan Pengulu Patih, Raden Ayu Nasiki, Dewi Roroyono, Raden Ayu Nawangsih.

Keuturunan beliau menjadi tokoh pada masanya dan penyebar Islam di wilayah sekitar gunung Muria walaupun tidak seterkenal ayahhandanya.

Dakwah Sunan Muria

Pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, sangat sesuai dengan cara dakwah Sunan Muria. beliau mengikuti jejak dakwah sang Ayah, Sunan Kalijaga. Metode khas Sunan Kalijaga adalah mengakomodir budaya lokal dalam penyebaran agama Islam.

Baca Juga:  Mengenal Sejarah Penulisan Kitab Ushul Fiqh dari Imam Syafi'i Hingga Abad Modern Ini

Menyebarkan islam dengan cara lemah lembut kepada rakyat jelata menjadikan beliau sangat dihormati oleh banyak orang. Jalan sepi dakwah kepada orang-orang kecil di pesisir dan pegunungan Muria menjadikan beliau sangat tidak terkenal dalam kisah-kisah heroik perpolitikan.

Fokus dakwah arus bawah beliau menjadikannya sangat berkesan bagi orang-orang di sekitaran tempat dakwah beliau.

Beliau bertempat tinggal di salah satu Puncak Bukit Gunung Muria yang bernama Colo. Sedangkan untuk mencapai tempat dakwah para santri dan jamaahnya berada jauh di pesisir utara Jawa.

Beliau harus naik turun gunung untuk mencapai tempat dakwah menyampaikan ajaran Islam. Kesabaran dan kekuatan fisik beliau harus benar-benar prima karena harus naik-turun ke Puncak Colo sangat tidak mudah.

Metode dakwah islam beliau sampaikan dengan cara tetap mempertahankan seni dan budaya masyarakat sekitar. Topo Ngeli adalah sebutan dakwah oleh Sunan Muria yang sangat pandai bergaul dengan orang dari berbagai kalangan latar belakang. Baik atau buruk perangai orang beliau tetap mampu berbaur agar memecah jarak antara pendakwah dan obyeknya.

Kepandaian beliau dalam bergaul berdampak pada penerimaan orang-orang pada dakwahnya. Apalagi beliau menggunakan media kesenian dan kebudayaan untuk mendekatkan diri dengan masyarakat yang didakwahi. Kedekatan dengan masyarakat akan membawa kemudahan untuk menyampaikan risalah kebenaran Agama Islam.

Bukti beliau sebagai seorang wali yang mengakomodir kesenian dan kebudayaan untuk dakwah Islam adalah penciptaan tembang atau lagu jawa. Sinom-Kinanti adalah tembang yang diciptakan untuk mengjarakan moralitas kepada masyarakat.

Sinom

Nulodho laku utomo

tumrape wong tanah Jawi

wong agung ing ngeksi ganda

Panembahan Senopati kapati amarsudi

sudaning hawa lan nepsu

pinepsu ing tapa bronto

tanapi ing siyang ratri

amemangun karya nak tyas ing sesama

Lagu atau Tembang Sinom adalah bentuk puisi tradisional jawa yang menjadi perlambang perjalanan hidup manusia. Sinom sendiri berkarakter Muda-Menggelora sebagaimana sifat dasar seorang pemuda yang penuh ambisi, nafsu dan semangat.

Baca Juga:  Asal-Usul dan Nasab Sunan Giri; Cucu Raja Blambangan dan Anak dari Maulana Ishak

Sunan Muria melalui tembang Sinom mengajarkan Moralitas kepada sosok Danang Sutawijaya, pendiri Kerajaan Mataram Islam di Kota Gede Yogyakarta. Ajakan Sunan Muria kepada pengikutnya untuk meneladani perilaku baik Panembahan Senopati yakni berbakti kepada masyarakat dan negara.

Sutawijaya digambarkan sebagai pemuda yang mau bersusah payah bertapa untuk mendirikan kerajaan Mataram Islam. Dengan jalan bertapa, menyendiri dan bertafakur untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT patut menjadi acuan jiwa seorang sinom atau pemuda.

Kinanti

Podho gulangen ing kalbu

ing sasmito amrih lantip

aja pijer mangan nendra

kaprawiran den kaesti

pasunen sarironiro

sudanen dhahar lan guling

Karakter lagu Kinanti Sunan Muria adalah ajakan untuk melatih diri dan hati yang harus dibimbing. Karakter lagu Kinanti sesuai dengan kaidah puisi jawa yakni pemuda pada masa remaja perlu arahan dan bimbingan dari orang baik.

Makna kandungan tembang Kinanti Sunan Muria kurang lebih,

“Maka Latihlah diri dan hati kalian,

untuk meraih wahyu atau ilham supaya cerdas terbimbing

jangan sampai hanya bermalas-malasan

kecakapan harus dimiliki dan diasah

siapkan jiwa dan raga

kurangilah makan dan tidur (dengan banyak latihan batin)

Lagu Kinanti dan Sinom di atas diciptakan Sunan Muria dalam bentuk penghormatan kepada kesenian orang-orang jawa yang menyukai nyanyian macapat (puisi jawa).

Belakangan sejak tahun 2006, sinom-kinanti sunan Muria kembali disenandungkan dalam acara ngupat dikomplek makam Sunan Muria. Acara ini adalah penyambutan kepada bulan Syawwal dengan tujuan saling bersalaman memaafkan dengan simbol kupat atau nyuwun ngapura saking lepat (meminta maaf atas segala salah).

Acara budaya ini sejak lama vakum dan dihidupkan lagi untuk nguri-nguri kebudayaan dan dakwah Islam berasas kesenian dan kebudayaan.

Makam di Puncak Bukit

Makam Sunan Muria berada di Puncak Bukit Colo pada lereng Gunung Muria Kabupaten Kudus. Sunan Muria yang telah terbaring sejak hampir 500 tahun lalu masih bisa menyedot banyak peziarah untuk sekedar berdoa dan memanjatkan doa maghfirah bagi Sunan Muria.

Baca Juga:  Runutan Sanad Keilmuan Imam Al-Ghazali dan Kisah Perjuangannya dalam Menuntut Ilmu

Apalagi Makam Sunan Muria berada di Gunung yang lumayan tinggi dengan kontur terjal. Hal tersebut tidak menyurutkan langkah untuk mendaki anak tangga yang sangat banya. Sebuah fenomena langka.

Banyaknya peziarah secara tidak langsung memberikan kesejahteraan bagi banyak orang yang berdagang dan menggantungkan hidup mengais rejeki di Colo Muria ini.

Tidak lain ini semua berkat karomah Raden Umar Said atau Sunan Muria. Belum tentu orang yang hidup seperti kita akan bisa seperti Sunan Muria, memberi manfaat kesejahteraan bagi manusia lainnya.

Manusia yang berbondong-bondong menuju Colo, tempat Sunan Muria dimakamkan, tidak henti bahkan tengah malam dan dinihari selalu menghadirkan rejeki bagi para pedagang.

Mereka yang sering berkoar bahwa Gunung Muria pusat Syirik, Bid’ah, Khurafat mungkin didorong oleh rasa dengki yang menutup kenyataan tentang karomah beliau.

Para pedagang bejajar disepanjang tangga naik menuju puncak Colo untuk sowan berziarah di pusara beliau. Ribuan pedagang hidup dari berdagang berbagai makanan seperti ganyong, Pari Joto, dan lain khas Gunung Muria. Ekonomi berputas dengan wasilah beliau yang sudah wafat beratus tahun lamanya.

Dari hal di atas bisa diambil hikmah bahwa seorang pendakwah di jalan Allah akan selalu mendapatkan kemuliaan. Bukan hanya di dunia namun juga di akhirat, bahkan ketika sudah meninggal bisa memberikan sumber penghidupan bagi orang di sekitarnya. Inilah yang kirnya bisa kita contoh dan buat sebagai pelajaran hidup.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan