Surah Adz-Dzariyat Ayat 15-23; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Adz-Dzariyat Ayat 15-23

Pecihitam.org – Kandungan Surah Adz-Dzariyat Ayat 15-23 ini, menerangkan bahwa Allah bersumpah untuk menetapkan keyakinan pada hati manusia tentang adanya hari kebangkitan. Allah bersumpah demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya hari Kiamat, hari kebangkitan, hari pembalasan dan pembagian rezeki itu yakin benarnya, seperti yakinnya seseorang terhadap perkataan yang diucapkannya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Maka demikian pula, manusia harus yakin akan menjumpai segala yang dijanjikan Allah itu seperti yakinnya dia mendengarkan ucapan-ucapan sendiri, terlebih-lebih jika ucapannya itu dapat direkam dalam sebuah kaset.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Adz-Dzariyat Ayat 15-23

Surah Adz-Dzariyat Ayat 15
إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِى جَنَّٰتٍ وَعُيُونٍ

Terjemahan: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman (surga) dan mata air-mata air,

Tafsir Jalalain: إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِى جَنَّٰتٍ (Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam surga) di taman-taman surga وَعُيُونٍ (dan di mata air-mata air) yang mengalir di dalam surga.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman seraya mengabarkan tentang orang-orang yang bertakwa kepada Allah, bahwa pada hari kiamat kelak mereka berada di surge dan di beberapa mata air. Berbeda dengan orang-orang yang berada dalam kesengsaraan, dimana mereka akan mendapatkan adzab, siksaan, pembakaran dan pembelengguan.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan bahwa sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, yang menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya berada di dalam taman-taman surga yang mengalir di bawahnya air yang jernih dan murni, sangat menyenangkan, sangat nyaman, di luar perkiraan dan bayangan yang tergores dalam hati dan terpandang oleh mata; terlebih-lebih karena mereka tetap abadi di dalamnya, tidak akan keluar lagi, tetap berada dalam keridaan Allah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.

Pahala yang demikian itu ada kaitannya dengan amal perbuatan mereka ketika di dunia yaitu mereka mengambil segala pemberian yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada mereka itu, karena sesungguhnya mereka ketika berada di dunia selalu mengerjakan amal kebajikan, baik terhadap Allah maupun terhadap sesama manusia dengan tujuan semata-mata untuk mencapai keridaan-Nya.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya orang-orang yang taat dan takut kepada Allah akan memperoleh kenikmatan di taman- taman surga dan mata air-mata air yang tak bisa terbayangkan,

Surah Adz-Dzariyat Ayat 16
ءَاخِذِينَ مَآ ءَاتَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَبۡلَ ذَٰلِكَ مُحۡسِنِينَ

Terjemahan: “sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan.

Tafsir Jalalain: ءَاخِذِينَ (Sambil mengambil) menjadi Hal dari Dhamir yang terkandung di dalam Khabarnya Inna مَآ ءَاتَىٰهُمۡ (apa yang didatangkan kepada mereka) apa yang diberikan kepada mereka رَبُّهُمۡ (oleh Rabb mereka) yaitu berupa pahala-pahala. إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَبۡلَ ذَٰلِكَ (Sesungguhnya mereka sebelum itu) sebelum mereka masuk surga مُحۡسِنِينَ (adalah orang-orang yang berbuat baik) di dunia.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah Ta’ala: ءَاخِذِينَ مَآ ءَاتَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ (“Sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka.”) ini merupakan keterangan yang lebih rinci bagi firman-Nya: fii jannaatiw wa’uyuun.

Dengan demikian, orang-orang yang bertakwa berada di dalam surge dan mata air seraya mengambil segala kenikmatan, kebahagiaan, dan ketenteraman yang diberikan Rabb kepada mereka.

Firman Allah Ta’ala lebih lanjut: إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَبۡلَ ذَٰلِكَ (“Sesungguhnya mereka sebelum itu.”) yakni di dunia, مُحۡسِنِينَ (“adalah orang-orang yang berbuat baik.”)

Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan bahwa sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, yang menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya berada di dalam taman-taman surga yang mengalir di bawahnya air yang jernih dan murni, sangat menyenangkan, sangat nyaman, di luar perkiraan dan bayangan yang tergores dalam hati dan terpandang oleh mata; terlebih-lebih karena mereka tetap abadi di dalamnya, tidak akan keluar lagi, tetap berada dalam keridaan Allah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.

Pahala yang demikian itu ada kaitannya dengan amal perbuatan mereka ketika di dunia yaitu mereka mengambil segala pemberian yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada mereka itu, karena sesungguhnya mereka ketika berada di dunia selalu mengerjakan amal kebajikan, baik terhadap Allah maupun terhadap sesama manusia dengan tujuan semata-mata untuk mencapai keridaan-Nya.

Tafsir Quraish Shihab: sambil menerima pahala dan kemuliaan yang diberikan oleh Tuhan kepada mereka. Sebelum itu, ketika di dunia, mereka itu adalah orang-orang yang baik dalam melaksanakan apa yang diminta dari mereka.

Surah Adz-Dzariyat Ayat 17
كَانُواْ قَلِيلًا مِّنَ ٱلَّيۡلِ مَا يَهۡجَعُونَ

Terjemahan: “Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.

Tafsir Jalalain: كَانُواْ قَلِيلًا مِّنَ ٱلَّيۡلِ (Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam) lafal Yahja’uuna artinya mereka tidur, dan lafal Maa adalah Zaidah, sedangkan lafal مَا يَهۡجَعُونَ adalah Khabar dari Kaana, dan lafal Qaliilan adalah Zharaf. Yakni, mereka tidur di malam hari hanya sedikit, karena kebanyakan dipakai untuk salat.

Tafsir Ibnu Katsir: setelah itu Allah Ta’ala menjelaskan bentuk kebaikan dalam amal, dimana Dia berfirman: كَانُواْ قَلِيلًا مِّنَ ٱلَّيۡلِ مَا يَهۡجَعُونَ (“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.”) para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai hal tersebut. Dalam hal ini terdapat dua pendapat:

Baca Juga:  Surah Al-Hujurat Ayat 9-10; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Bahwa “maa” dalam ayat tersebut berfungsi sebagai maa naafiyah. Artinya hanya sedikit sekali mereka tidur pada malam hari. Ibnu ‘Abbas berkata: “Tidak ada malam yang terlewatkan melainkan mereka mengambilnya, meskipun hanya sedikit sekali.”

Qatadah menceritakan dari Mutharrif bin ‘Abdillah: “Tidak ada malam yang dating kepada mereka melainkan mereka mengerjakan shalat kepada Allah, baik pada awal atau pertengahannya.” Anas bin Malik dan Abul ‘Aliyah mengatakan:

“Mereka mengerjakan shalat di antara waktu Maghrib dan ‘Isya’.” Abu Ja’far al-Baqir mengatakan: “Mereka tidak tidur sehingga mereka mengerjakan shalat malam.” Pendapat kedua, “maa” dalam ayat tersebut adalah maa mashdariyyah, yang berarti mereka hanya sedikit sekali tidur pada malam hari. Penafsiran ini pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir. Mengenai firman-Nya:

كَانُواْ قَلِيلًا مِّنَ ٱلَّيۡلِ مَا يَهۡجَعُونَ (“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.”) Qatadah mengatakan bahwa al-Ahnaf bin Qais mengemukakan: “Mereka tidak tidur melainkan hanya sebentar sekali.” Dan kemudian ia mengatakan: “Dan aku tidak termasuk orang yang disebut dalam ayat ini.”

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan tentang sifat-sifat orang yang takwa, yaitu sedikit sekali tidur di waktu malam karena mengisi waktu dengan salat Tahajud. Mereka dalam melakukan ibadah tahajudnya merasa tenang dan penuh dengan kerinduan dan dalam munajatnya kepada Allah sengaja memilih waktu yang sunyi dari gangguan makhluk lain seperti dua orang pengantin baru dalam menumpahkan isi hati kepada kesayangannya, tentu memilih tempat dan waktu yang nyaman dan aman bebas dari gangguan siapa pun.

Mereka ingat bahwa hidup berkumpul dengan keluarga dan yang lainnya tidak dapat berlangsung selama-lamanya. Bila telah tiba ajal, pasti berpisah, masuk ke dalam kubur, masing-masing sendirian saja.

Oleh karena itu, sebelum tiba waktu perpisahan, mereka merasa sangat perlu mengadakan hubungan khidmat dan mahabbah dengan Tuhan Yang Mahakuasa, satu-satunya penguasa yang dapat memenuhi segala harapan.

Di akhir-akhir malam (pada waktu sahur) mereka memohon ampun kepada Allah. Sengaja dipilihnya waktu sahur itu oleh karena kebanyakan orang sedang tidur nyenyak, keadaan sunyi dari segala kesibukan sehingga mudah menjalin hubungan dengan Tuhannya.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka selalu tidur sedikit di waktu malam dan sering bangun malam untuk beribadah. Dan pada akhir malam mereka selalu meminta ampunan Tuhan.

Surah Adz-Dzariyat Ayat 18
وَبِٱلۡأَسۡحَارِ هُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ

Terjemahan: “Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.

Tafsir Jalalain: وَبِٱلۡأَسۡحَارِ هُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ (Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun) mereka berdoa dengan mengucapkan, “Allaahumaghfir Lanaa”, Ya Allah ampunilah kami.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah: وَبِٱلۡأَسۡحَارِ هُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ (“Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun.”) Mujahid dan beberapa ulama lainnya mengatakan: “Yaitu mengerjakan shalat.” Sedangkan ulama lainnya mengatakan: “Yakni bangun malam dan mengakhirkan permohonan ampunan hingga waktu sahur.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan tentang sifat-sifat orang yang takwa, yaitu sedikit sekali tidur di waktu malam karena mengisi waktu dengan salat Tahajud. Mereka dalam melakukan ibadah tahajudnya merasa tenang dan penuh dengan kerinduan dan dalam munajatnya kepada Allah sengaja memilih waktu yang sunyi dari gangguan makhluk lain seperti dua orang pengantin baru dalam menumpahkan isi hati kepada kesayangannya, tentu memilih tempat dan waktu yang nyaman dan aman bebas dari gangguan siapa pun.

Mereka ingat bahwa hidup berkumpul dengan keluarga dan yang lainnya tidak dapat berlangsung selama-lamanya. Bila telah tiba ajal, pasti berpisah, masuk ke dalam kubur, masing-masing sendirian saja.

Oleh karena itu, sebelum tiba waktu perpisahan, mereka merasa sangat perlu mengadakan hubungan khidmat dan mahabbah dengan Tuhan Yang Mahakuasa, satu-satunya penguasa yang dapat memenuhi segala harapan.

Di akhir-akhir malam (pada waktu sahur) mereka memohon ampun kepada Allah. Sengaja dipilihnya waktu sahur itu oleh karena kebanyakan orang sedang tidur nyenyak, keadaan sunyi dari segala kesibukan sehingga mudah menjalin hubungan dengan Tuhannya.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka selalu tidur sedikit di waktu malam dan sering bangun malam untuk beribadah. Dan pada akhir malam mereka selalu meminta ampunan Tuhan.

Surah Adz-Dzariyat Ayat 19
وَفِىٓ أَمۡوَٰلِهِمۡ حَقٌّ لِّلسَّآئِلِ وَٱلۡمَحۡرُومِ

Terjemahan: “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.

Tafsir Jalalain: وَفِىٓ أَمۡوَٰلِهِمۡ حَقٌّ لِّلسَّآئِلِ وَٱلۡمَحۡرُومِ (Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta-minta) karena ia memelihara dirinya dari perbuatan itu.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah Ta’ala: وَفِىٓ أَمۡوَٰلِهِمۡ حَقٌّ لِّلسَّآئِلِ وَٱلۡمَحۡرُومِ (“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang-orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” Ketika Allah mensifati mereka dengan shalat, maka Dia melanjutkan mensifati mereka dengan patuh membayar zakat, berbuat baik, dan menyambung tali silaturahim

Baca Juga:  Surah Adz-Dzariyat Ayat 47-51; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan bahwa di samping mereka melaksanakan salat wajib dan sunah, mereka juga selalu mengeluarkan infaq fi sabilillah dengan mengeluarkan zakat wajib atau sumbangan derma atau sokongan sukarela karena mereka memandang bahwa pada harta-harta mereka itu ada hak fakir miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta bagian karena merasa malu untuk meminta.

Ibnu Jarir meriwayatkan sebuah hadis dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad saw pernah menerangkan siapa saja yang tergolong orang miskin, dengan sabdanya: Bukanlah orang miskin itu yang tidak diberi sebiji dan dua biji kurma atau sesuap dan dua suap makanan.

Beliau ditanya, “(Jika demikian) siapakah yang dinamakan miskin itu?” Beliau menjawab, “Orang yang tidak mempunyai apa yang diperlukan dan tidak dikenal tempatnya sehingga tidak diberikan sedekah kepadanya. Itulah orang yang mahrum tidak dapat bagian.” (Riwayat Ibnu Jarir dari Abu Hurairah)

Di dalam Al-Qur’an terdapat tiga kelompok ayat yang selalu ber dampingan, tidak dapat dipisahkan yaitu perintah untuk salat danmengeluarkan zakat, perintah supaya taat kepada Allah dan rasulNya, dan perintah untuk bersyukur kepada Allah dan kedua ibubapak.

Setelah Allah menerangkan sifat-sifat orang yang bertakwa, maka Allah menjelaskan bahwa mereka itu melihat dengan hati nurani tanda-tanda kekuasaan Allah pada alam kosmos, pada alam semesta yang melintang di sekelilingnya, di bumi dan di langit sehingga memiliki ketenangan jiwa, sebagai tanda seorang yang sudah makrifah kepada Allah.

Tafsir Quraish Shihab: Di dalam harta mereka terdapat hak orang-orang yang memerlukan, baik yang meminta maupun yang tidak.

Surah Adz-Dzariyat Ayat 20
وَفِى ٱلۡأَرۡضِ ءَايَٰتٌ لِّلۡمُوقِنِينَ

Terjemhan: “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin.

Tafsir Jalalain: وَفِى ٱلۡأَرۡضِ (Dan di bumi itu) yakni gunung-gunung, tanahnya, lautan, pohon-pohonan, buah-buahan, dan tumbuh-tumbuhannya serta lain-lainnya ءَايَٰتٌ (terdapat tanda-tanda) yang menunjukkan akan kekuasaan Allah swt. dan keesaan-Nya لِّلۡمُوقِنِينَ (bagi orang-orang yang yakin).

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman-Nya: وَفِى ٱلۡأَرۡضِ ءَايَٰتٌ لِّلۡمُوقِنِينَ (“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda [kekuasaan Allah] bagi orang-orang yang yakin”). Maksudnya di dalam bumi itu terdapat berbagai tanda yang menunjukkan keagungan Penciptanya dan kekuasan-Nya yang sangat jelas berupa berbagai macam tumbuhan, binatang, hamparan bumi, gunung, tanah kosong, sungai, lautan dan berbagai macam bahasa dan warna kulit umat manusia.

Serta sesuatu yang telah ditakdirkan untuk mereka berupa keinginan dan kekuatan, dan apa yang terjadi di antara mereka berupa perbedaan tingkat dalam hal pemikiran, pemahaman, dinamika kehidupan, kebahagiaan, kesengsaraan, dan hikmah yang terdapat di dalam anatomi tubuh mereka, yaitu dalam penempatan anggota tubuh dari keseluruhan tubuh mereka pada tempat yang benar-benar mereka perlukan.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa di bumi ini terdapat tandatanda yang menunjukkan kekuasaan Allah bila dilihat dengan mata hati yaitu benda-benda yang besar, cantik dan indah seperti matahari, bulan, gunung-gunung, hutan yang lebat, perkebunan yang subur, samudera yang biru luas sepanjang penglihatan mata yang diisi dengan bermacam-macam ikan seperti yang nampak dalam akuarium, dan lain-lain.

Itu semuanya menunjukkan betapa agung dan sempurna Penciptanya yaitu Allah Rabbul ‘alamin. Tafakur tentang keindahan alam ini benar-benar menambah cinta dan keyakinan orang yang yakin akan kekuasaan Allah.

Tafsir Quraish Shihab: Di bumi ini terdapat banyak bukti jelas yang dapat menghantarkan kepada keyakinan bagi orang yang mau menempuhnya.

Surah Adz-Dzariyat Ayat 21
وَفِىٓ أَنفُسِكُمۡ أَفَلَا تُبۡصِرُونَ

Terjemahan: “dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?

Tafsir Jalalain: وَفِىٓ أَنفُسِكُمۡ (Dan juga pada diri kalian sendiri) terdapat pula tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan dan keesaan-Nya, yaitu mulai dari permulaan penciptaan kalian hingga akhirnya, dan di dalam susunan penciptaan kalian terkandung pula keajaiban-keajaiban.

أَفَلَا تُبۡصِرُونَ (Maka apakah kalian tidak memperhatikan?) akan hal tersebut yang karena itu lalu kalian dapat menyimpulkan akan Penciptanya dan kekuasaan-Nya yang Maha Besar.

Tafsir Ibnu Katsir: Itulah sebabnya Allah Ta’ala berfirman: وَفِىٓ أَنفُسِكُمۡ أَفَلَا تُبۡصِرُونَ (“Dan [juga] pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”) Qatadah mengemukakan:

“Barangsiapa bertafakur (memikirkan) penciptaan dirinya sendiri, maka ia akan mengetahui bahwa dirinya itu hanya diciptakan dan persendiannya dilenturkan semata-mata untuk beribadah.”

Tafsir Kemenag: Ayat ini mengisyaratkan kepada manusia bahwa pada diri manusia terdapat bukti-bukti kekuasaan dan kebesaran Allah seperti perbedaan kemampuan, perbedaan bahasa, kecerdasan dan banyak macamnya anggota tubuh yang masing-masing mempunyai fungsi sendiri-sendiri.

Tafsir Quraish Shihab: Di dalam diri kalian juga terdapat bukti-bukti kekuasaan Allah yang sangat jelas. Apakah kalian melalaikannya sehingga tidak memperhatikan?

Surah Adz-Dzariyat Ayat 22
وَفِى ٱلسَّمَآءِ رِزۡقُكُمۡ وَمَا تُوعَدُونَ

Terjemahan: “Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.

Tafsir Jalalain: وَفِى ٱلسَّمَآءِ رِزۡقُكُمۡ (Dan di langit terdapat rezeki kalian) yaitu hujan yang menyebabkan tumbuhnya tumbuh-tumbuhan sebagai rezeki وَمَا تُوعَدُونَ (dan terdapat pula apa yang dijanjikan kepada kalian) yakni tempat kembali, pahala, dan siksaan. Catatan mengenai hal tersebut terdapat di langit.

Baca Juga:  Surah Adz-Dzariyat Ayat 38-46; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Selanjutnya Allah berfirman: وَفِى ٱلسَّمَآءِ رِزۡقُكُمۡ (“dan di langit terdapat [sebab-sebab] rizkimu”) yaitu hujan. وَمَا تُوعَدُونَ (“dan terdapat pula apa yang dijanjikan kepadamu”) yaitu surga. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu ‘Abbas, Mujahid, dan beberapa ulama lainnya.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan bahwa di langit terdapat sebab-sebab rezeki bagi manusia seperti turunnya hujan yang menyebabkan datangnya kesuburan tanah pertanian dan perkebunan yang menghasilkan berbagai hasil bumi dan buah-buahan sebagai rezeki bagi manusia dan ternak piaraannya, dan terdapat pula apa yang dijanjikan Allah untuk manusia yaitu takdir penetapan Allah terhadap manusia itu masing-masing yang semuanya ditulis di Lauh Mahfudz.

Sebab-sebab rezeki di langit yang berlaku bagi semua makhluk hidup dan telah umum diketahui paling tidak ada tiga yaitu, air dalam bentuk hujan, angin dan cahaya matahari. Air menjadi sebab rezeki. Melalui air hujan yang jatuh ke atas tanah dan memberikan kelembaban tanah sehingga memungkinkan ditumbuhi tanaman yang bermanfaat bagi manusia dalam bentuk bahan pangan, sandang dan perumahan Angin oleh manusia bisa dimanfaatkan energinya bagi pelayaran dan menggerakkan kincir sumber energi, atau karena menyebabkan terjadinya penyerbukan tanaman sehingga hasil pembuahannya bisa dimakan manusia (lihat adh-dzariyat/51 ayat 1s/d 3).

Sedangkan cahaya matahari merupakan sumber utama energi di permukaan bumi yang bisa diperoleh langsung melalui kehangatannya atau secara tidak langsung melalui pertumbuhan tanaman (fotosintesa) pergerakan angin dan siklus hidrologi (lihat: adh-dzariyat/51 ayat 1s/d 3).

Bahkan energi minyak bumi yang saat ini merupakan sumber energi yang paling banyak dipakai, berasal dari energi cahaya matahari yang ditangkap oleh organisma laut (plankton), untuk kemudian terakumulasi sebagai endapan yang kemudian berubah menjadi minyak bumi.

Tafsir Quraish Shihab: Dan di langit terdapat rezeki kalian dan ketentuan yang telah dijanjikan kepada kalian.

Surah Adz-Dzariyat Ayat 23
فَوَرَبِّ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ إِنَّهُۥ لَحَقٌّ مِّثۡلَ مَآ أَنَّكُمۡ تَنطِقُونَ

Terjemahan: “Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.

Tafsir Jalalain: فَوَرَبِّ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ إِنَّهُ (Maka demi Rabb langit dan bumi, sesungguhnya ia) yakni apa yang dijanjikan kepada kalian لَحَقٌّ مِّثۡلَ مَآ أَنَّكُمۡ تَنطِقُونَ (adalah benar seperti perkataan yang kalian ucapkan) di-rafa-kannya lafal Mitslu karena menjadi sifat, sedangkan huruf Maa yang sesudahnya adalah Zaidah. Bila dibaca Mitsla maka tulisannya disatukan dengan Maa. Maknanya, kenyataannya seperti perkataan yang kalian ucapkan, yakni pengetahuan mengenai hal itu sudah dimaklumi oleh kalian, dan hal itu justru timbul dari diri kalian sendiri.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah Ta’ala: فَوَرَبِّ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ إِنَّهُۥ لَحَقٌّ مِّثۡلَ مَآ أَنَّكُمۡ تَنطِقُونَ (“Maka demi Rabb langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan iitu adalah benar-benar [akan terjadi] seperti perkataan yang kamu ucapkan.”) melalui ayat ini, Allah bersumpah dengan Dzat-Nya Yang Mahamulia bahwa apa yang Dia janjikan kepada mereka dalam masalah hari kiamat, kebangkitan, dan pembalasan itu pasti terjadi, tidak mungkin tidak. Dan hal itu merupakan suatu kebenaran yang tidak mengandung keraguan sama sekali.

Maka janganlah kalian meragukannya sebagaimana kalian tidak pernah meragukan ucapan kalian ketika mengucapkannya. Dan Mu’adz jika memberitahukan tentang sesuatu, ia selalu mengatakan kepada lawan bicaranya: “Ini adalah benar, sebagaimana engkau benar ada di sini.”

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa Allah bersumpah untuk menetapkan keyakinan pada hati manusia tentang adanya hari kebangkitan. Allah bersumpah demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya hari Kiamat, hari kebangkitan, hari pembalasan dan pembagian rezeki itu yakin benarnya, seperti yakinnya seseorang terhadap perkataan yang diucapkannya.

Maka demikian pula, manusia harus yakin akan menjumpai segala yang dijanjikan Allah itu seperti yakinnya dia mendengarkan ucapan-ucapan sendiri, terlebih-lebih jika ucapannya itu dapat direkam dalam sebuah kaset.

Tafsir Quraish Shihab: Maka, demi langit dan bumi, aku bersumpah bahwa sesungguhnya semua yang kalian ingkari seperti terjadinya kebangkitan, pembalasan, pemberian siksa kepada orang-orang yang mendustakan dan pahala untuk orang-orang yang bertakwa benar-benar akan terjadi seperti halnya omongan yang tidak diragukan terjadinya dari kalian itu.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Adz-Dzariyat Ayat 15-23 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S