Surah Al-Ahqaf Ayat 33-35; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Ahqaf Ayat 33-35

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Ahqaf Ayat 33-35 ini, Allah memerintahkan kepada Rasulullah saw agar menyampaikan kepada orang-orang musyrik Mekah peristiwa tentang pertemuannya dengan sekelompok jin yang telah datang kepadanya untuk mendengarkan dan memperhatikan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an.

Kemudian Allah menerangkan akibat yang akan diterima oleh orang-orang yang mengingkari adanya hari kebangkitan. Pada hari kebangkitan itu, mereka dan orang-orang yang tidak percaya akan adanya pahala dan siksa Allah, akan dimasukkan ke dalam api neraka yang menyala-nyala.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahqaf Ayat 33-35

Surah Al-Ahqaf Ayat 33
أَوَلَمۡ يَرَوۡاْ أَنَّ ٱللَّهَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَلَمۡ يَعۡىَ بِخَلۡقِهِنَّ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡۦِىَ ٱلۡمَوۡتَىٰ بَلَىٰٓ إِنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيرٌ

Terjemahan: “Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya (bahkan) sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Tafsir Jalalain: أَوَلَمۡ يَرَوۡاْ (Dan apakah mereka tidak memperhatikan) atau apakah orang-orang yang ingkar kepada hari berbangkit itu tidak mengetahui أَنَّ ٱللَّهَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَلَمۡ يَعۡىَ بِخَلۡقِهِنَّ (bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya) artinya, Dia mampu menciptakan kesemuanya dengan mudah بِقَٰدِرٍ (kuasa) lafal Biqaadirin menjadi Khabar dari Anna, kemudian ditambahkan huruf Ba, karena pengertian ayat ini sejajar kekuatannya dengan kalimat Alaisallaahu Biqaadirin, artinya; Bukankah Allah kuasa عَلَىٰٓ أَن يُحۡۦِىَ ٱلۡمَوۡتَىٰ (menghidupkan orang-orang mati? Ya) Dia Maha Kuasa untuk menghidupkan orang-orang mati بَلَىٰٓ إِنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيرٌ (sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.).

Tafsir Ibnu Katsir: Maksudnya Allah berfirman: Tidakkah orang-orang yang mengingkari kebangkitan pada hari kiamat dan menganggap tidak mungkin pembangkitan jasad-jasad makhluk pada hari pembalasan itu tidak memperhatikan:

أَنَّ ٱللَّهَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَلَمۡ يَعۡىَ بِخَلۡقِهِنَّ (“Bahwasannya sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya?”) maksudnya, penciptaan itu sama sekali tidak menjadikan-Nya lelah karena Dia hanya mengatakan:

“Jadilah,” maka jadilah ia, tanpa perlawanan dan penentangan, bahkan ia tunduk patuh dan merasa takut kepada-Nya. Bukankah Rabb yang demikian itu kuasa untuk menghidupkan orang-orang yang sudah mati? Oleh karena itu Allah berfirman: بَلَىٰٓ إِنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيرٌ (“Ya [bahkan] sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”)

Dan orang-orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan dapat melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Amr, bahwa ia pernah mendengar Iknmah menceritakan hadis berikut dari Az-Zubair sehubungan dengan firman Allah Swt :

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Quran. (Al-Ahqaf: 29) Az-Zubair mengatakan bahwa kejadian ini di Nakhlah saat Rasulullah Saw. sedang membaca Al-Qur’an dalam salat Isyanya.

Tafsir Kemenag: Ayat ini merupakan teguran keras kepada orang-orang kafir yang mengingkari hari kebangkitan, dan adanya hidup setelah mati untuk menghisab perbuatan yang telah dilakukan manusia. Allah mencela orang-orang kafir yang lalai dan tidak pernah merenungkan kejadian alam semesta ini sehingga tidak mengetahui bahwa Allah yang telah menciptakan langit dan bumi tidak pernah merasa letih dalam penciptaan itu. Allah juga berkuasa menghidupkan yang telah mati.

Dari ayat ini dipahami bahwa orang kafir tidak pernah menggunakan pikirannya untuk merenungkan kejadian alam semesta dalam arti yang sebenarnya. Mereka tidak mau memikirkan siapa pencipta alam yang amat teratur dan dilengkapi dengan hukum-hukum yang sangat rapi dan kokoh.

Mereka juga tidak mau memikirkan siapa yang menciptakan dirinya sendiri dan menjaga kelangsungan hidupnya. Seandainya mereka mau memikirkan dengan tujuan ingin mencari kebenaran, mereka akan sampai kepada kesimpulan bahwa pencipta semua itu adalah Allah yang Maha Bijaksana lagi Mahakuasa. Jika Dia Mahakuasa, tentulah Dia sanggup melaksanakan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya, tanpa mengenal lelah.

Zat yang bersifat demikian tentu mudah bagi-Nya menghidupkan kembali orang-orang yang telah dimatikan-Nya, karena menciptakan langit dan bumi itu jauh lebih sukar daripada menciptakan manusia serta mematikan dan menghidupkan kembali.

Allah berfirman: Sungguh, penciptaan langit dan bumi itu lebih besar daripada penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Gafir/40: 57) Selain itu, biasanya membuat kembali sesuatu lebih mudah dari menciptakan pertama kalinya.

Baca Juga:  Surah Al-Ahqaf Ayat 17-20; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Allah berfirman: Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya. Dia memiliki sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (ar-Rum/30: 27)

Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa yang Maha Pencipta segala sesuatu lagi Mahaperkasa itu adalah Allah Yang Mahakuasa. Dia dapat melakukan segala yang dikehendaki-Nya, tanpa seorang pun dapat menghalangi dan menentang-Nya.

Tafsir Quraish Shihab: Apakah mereka lalai dan tidak mengetahui bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi tanpa merasa payah itu mampu untuk menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati? Ya, Allah sangat mampu melakukan itu, karena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Surah Al-Ahqaf Ayat 34
وَيَوۡمَ يُعۡرَضُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ عَلَى ٱلنَّارِ أَلَيۡسَ هَٰذَا بِٱلۡحَقِّ قَالُواْ بَلَىٰ وَرَبِّنَا قَالَ فَذُوقُواْ ٱلۡعَذَابَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡفُرُونَ

Terjemahan: “Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan kepada neraka, (dikatakan kepada mereka): “Bukankah (azab) ini benar?” Mereka menjawab: “Ya benar, demi Tuhan kami”. Allah berfirman “Maka rasakanlah azab ini disebabkan kamu selalu ingkar”.

Tafsir Jalalain: وَيَوۡمَ يُعۡرَضُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ عَلَى ٱلنَّارِ (Dan ingatlah hari ketika orang-orang kafir dihadapkan kepada neraka) ketika mereka diazab di dalamnya, lalu dikatakan kepada mereka, أَلَيۡسَ هَٰذَا (“Bukankah ini) yakni azab ini بِٱلۡحَقِّ قَالُواْ بَلَىٰ وَرَبِّنَا قَالَ فَذُوقُواْ ٱلۡعَذَابَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡفُرُونَ (benar?” Mereka menjawab, “Ya benar demi Rabb kami.” Allah berfirman, “Maka rasakanlah azab ini disebabkan kalian selalu ingkar.”).

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah berfirman, memberikan ancaman kepada orang-orang yang kafir kepada-Nya: وَيَوۡمَ يُعۡرَضُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ عَلَى ٱلنَّارِ أَلَيۡسَ هَٰذَا بِٱلۡحَقِّ (“Dan ingatlah hari ketika orang-orang kafir dihadapkan kepada neraka, [dikatakan kepada mereka]: ‘Bukankah adzab ini benar?’”) maksudnya dikatakan kepada mereka:

“Tidakkah ini sesuatu yang benar? Apakah ini sihir ataukah memang kalian tidak dapat melihat?” Mereka menjawab: بَلَىٰ وَرَبِّنَا (“Ya benar, demi Rabb kami.”) artinya, tidak ada kata lain bagi mereka kecuali pengakuan. قَالَ فَذُوقُواْ ٱلۡعَذَابَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡفُرُونَ (“Allah berfirman: ‘Maka rasakanlah adzab ini disebabkan kamu selalu ingkar”)

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah menerangkan akibat yang akan diterima oleh orang-orang yang mengingkari adanya hari kebangkitan. Pada hari kebangkitan itu, mereka dan orang-orang yang tidak percaya akan adanya pahala dan siksa Allah, akan dimasukkan ke dalam api neraka yang menyala-nyala.

Kepada orang-orang kafir diucapkan pertanyaan yang menyakitkan hati dan penuh penghinaan, “Hai orang-orang kafir, bukankah azab yang kamu rasakan hari ini adalah azab yang pernah diperingatkan kepada kamu dahulu, semasa kamu hidup di dunia, sedangkan kamu mendustakan dan memperolok-olokkannya.” Mereka menjawab,

“Benar ya Tuhan kami, kami benar-benar telah merasakan akibatnya.” Allah mengatakan kepada mereka, “Sekarang rasakanlah olehmu apa yang kamu perolok-olokkan itu. Inilah balasan yang setimpal dengan sikap dan tindakanmu itu.”.

Tafsir Quraish Shihab: Ingatlah hari ketika orang-orang kafir dihadapkan kepada neraka. Dengan nada mencela, kepada mereka dikatakan, “Bukankah azab ini benar seperti yang Kami peringatkan kepadamu di dunia dahulu?” Mereka menjawab, “Ya. Demi Tuhan, azab ini memang benar.” Lalu Allah berfirman, “Rasakan azab yang pedih akibat sikap kekafiran dan kebohongan kalian.”

Surah Al-Ahqaf Ayat 35
فَٱصۡبِرۡ كَمَا صَبَرَ أُوْلُواْ ٱلۡعَزۡمِ مِنَ ٱلرُّسُلِ وَلَا تَسۡتَعۡجِل لَّهُمۡ كَأَنَّهُمۡ يَوۡمَ يَرَوۡنَ مَا يُوعَدُونَ لَمۡ يَلۡبَثُوٓاْ إِلَّا سَاعَةً مِّن نَّهَارٍۭ بَلَٰغٌ فَهَلۡ يُهۡلَكُ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ

Terjemahan: “Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.

Tafsir Jalalain: فَٱصۡبِرۡ (Maka bersabarlah kamu) di dalam menghadapi perlakuan kaummu yang menyakitkan itu كَمَا صَبَرَ أُوْلُواْ ٱلۡعَزۡمِ (sebagaimana orang-orang yang mempunyai keteguhan hati) yaitu orang-orang yang teguh dan sabar di dalam menghadapi cobaan dan tantangan مِنَ ٱلرُّسُلِ (dari rasul-rasul) sebelummu, karena itu kamu akan termasuk orang yang mempunyai keteguhan hati. Lafal Min di sini menunjukkan makna Bayan, sehingga pengertiannya menunjukkan, bahwa semua rasul-rasul itu mempunyai keteguhan hati.

Tetapi menurut pendapat yang lain itu menunjukkan makna Lit Tab’idh, karena Nabi Adam bukanlah termasuk di antara mereka yang memiliki keteguhan hati, sebagaimana yang diungkapkan oleh ayat lain yaitu firman-Nya: “.. dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.” (Q.S. Thaha, 115)

Baca Juga:  Surah Al-Ahqaf Ayat 7-9; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Demikian pula Nabi Yunus tidak termasuk di antara mereka yang Ulil ‘Azmi, sebagaimana yang diungkapkan oleh firman-Nya, “.. dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan (Yunus).” (Q.S. Al-Qalam, 48) (dan janganlah kamu meminta disegerakan azab bagi mereka) bagi kaummu yaitu disegerakan turunnya azab bagi mereka.

Menurut pendapat lain, bahwa hal ini timbul sebagai reaksi dari sikap mereka terhadapnya, maka Nabi suka jika azab diturunkan kepada mereka, tetapi selanjutnya Nabi diperintahkan supaya bersabar dan jangan meminta supaya disegerakan azab bagi mereka. Karena sesungguhnya azab itu pasti akan menimpa mereka.

يَوۡمَ يَرَوۡنَ مَا يُوعَدُونَ (Pada hari mereka melihat apa yang diancamkan kepada mereka, mereka merasa seolah-olah) yang dimaksud adalah azab di akhirat mengingat lamanya masa di akhirat mereka merasa seolah-olah لَمۡ يَلۡبَثُوٓاْ (tidak tinggal) di dunia menurut dugaan mereka إِلَّا سَاعَةً مِّن نَّهَارٍۭ (melainkan sesaat pada siang hari) Alquran ini adalah بَلَٰغٌ (suatu peringatan) peringatan dari Allah buat kalian فَهَلۡ (maka tidaklah) tiadalah يُهۡلَكُ (dibinasakan) sewaktu azab sudah di ambang pintu إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ (melainkan orang-orang yang fasik) yaitu orang-orang yang kafir.

Tafsir Ibnu Katsir: Setelah itu Allah berfirman memerintahkan Muhammad saw. untuk bersabar atas dusta yang dilakukan oleh para pendusta dari kaumnya: فَٱصۡبِرۡ كَمَا صَبَرَ أُوْلُواْ ٱلۡعَزۡمِ مِنَ ٱلرُّسُلِ (“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari para Rasul [Ulul ‘azmi] telah bersabar.”) yakni atas kedustaan kaumnya masing-masing.

Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah Ulul ‘azmi. Pendapat yang paling terkenal, bahwa mereka adalah Nuh, Ibrahim, Musa, ‘Isa dan Muhammad saw. Dan Allah sendiri telah menyebutkan nama-nama mereka itu di antara nama para Nabi, yaitu dalam dua ayat dari surat al-Ahzaab dan asy-Syuura.

Mungkin juga yang dimaksud dengan Ulul ‘azmi adalah seluruh Rasul, sehingga kata “min” dalam firman Allah (minar rusuli) dimaksudkan untuk menjelaskan jenis. wallaaHu a’lam.

Firman Allah: وَلَا تَسۡتَعۡجِل لَّهُمۡ (“Dan janganlah kamu meminta disegerakan [adzab] bagi mereka.”) maksudnya, janganlah kamu meminta supaya ditimpakan adzab kepada mereka dengan segera. Ini seperti firman Allah: (“Dan biarkanlah Aku sendiri yang bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan, dan berilah tangguh kepada mereka barang sejenak.”) (al-Muzzammil: 11)

Dan firman Allah: بَلَٰغٌ (“[inilah] suatu pelajaran yang cukup”)
Ibnu Jarir mengungkapkan bahwa kata ini mengandung dua pengertian. pertama, pengertiannya bahwa hal itu adalah untuk penyampaian berita saja. kedua, maksudnya bahwa al-Qur’an ini memberikan pelajaran yang cukup.

Dan firman-Nya: فَهَلۡ يُهۡلَكُ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ (“Maka, tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.”) artinya, Allah tidak membinasakan [suatu kaum], kecuali orang-orang yang berhak dibinasakan. Dan ini merupakan keadilan-Nya. Dia tidak mengadzab kecuali mereka yang berhak menerima adzab. wallaaHu a’lam.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar selalu tetap tabah dalam menghadapi sikap dan tindakan orang-orang kafir yang mengingkari dan mendustakan risalah yang disampaikan kepada mereka seperti ketabahan dan kesabaran yang telah dilakukan rasul-rasul ulul ‘azmi terdahulu.

Rasulullah saw melaksanakan dengan baik perintah Allah ini. Beliau selalu bersabar dan tabah menghadapi segala macam cobaan yang datang kepada beliau. Mengenai kesabaran beliau ini diterangkan dalam hadis sebagai berikut: Dari ‘Aisyah, ia berkata,

“Rasulullah saw senantiasa berpuasa, lalu perutnya jadi kempis, kemudian ia tetap berpuasa, lalu perutnya jadi kempis, kemudian ia berpuasa. Beliau berkata, ‘Ya Aisyah, sesungguhnya kesenangan di dunia tidak patut bagi Muhammad dan keluarganya. Ya Aisyah, sesungguhnya Allah tidak menyukai para rasul ulul ‘azmi (Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad), kecuali bersabar atas segala cobaannya dan bersabar atas yang dicintainya, kemudian Allah tidak menyukai aku, kecuali Dia membebankan kepadaku seperti yang telah dibebankannya kepada para rasul itu. Maka Dia berkata,

‘Bersabarlah seperti para rasul ‘ulul ‘azmi telah bersabar. Dan sesungguhnya aku, demi Allah, benar-benar akan bersabar seperti para rasul itu, dan tidak ada sesuatu pun kekuatan kecuali kekuatan Allah.” (Riwayat Ibnu Abi hatim dan ad-Dailami)

Sabar adalah sifat utama dan kunci menuju kesuksesan. Berbahagialah orang yang mempunyai sifat itu. Lawan dari sabar ialah tergesa-gesa. Dalam ayat ini, Allah mencela sifat tergesa-gesa, dan memperingatkan Nabi Muhammad agar jangan mempunyai sifat tersebut seperti memohon kepada Allah agar segera ditimpakan azab kepada orang-orang musyrik yang mengingkari seruan beliau karena azab itu pasti menimpa mereka, dan waktu kedatangannya hanya Allah yang mengetahui.

Baca Juga:  Surah An-Nur Ayat 23-25; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Allah berfirman: Dan biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang-orang yang mendustakan, yang memiliki segala kenikmatan hidup, dan berilah mereka penangguhan sebentar. (al-Muzzammil/73: 11) Dan firman Allah: Karena itu berilah penangguhan kepada orang-orang kafir itu. Berilah mereka itu kesempatan untuk sementara waktu. (ath-thariq/86: 17)

Berikutnya Allah menerangkan keadaan orang-orang kafir di akhirat ketika melihat azab yang akan menimpa mereka. Mereka merasa seakan-akan hidup di dunia ini hanya sesaat saja, di siang hari. Perasaan ini timbul karena dosa dan ketakutan yang timbul di hati mereka ketika melihat azab yang akan menimpa mereka.

Keadaan mereka diterangkan Allah pada ayat yang lain ketika kepada mereka ditanyakan berapa lama mereka hidup di dunia. Dia (Allah) berfirman, “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab, “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada mereka yang menghitung.” (al-Mu’minun/23: 112-113) Dan firman Allah:

Pada hari ketika mereka melihat hari Kiamat itu (karena suasananya hebat), mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar saja) tinggal (di dunia) pada waktu sore atau pagi hari. (an-Nazi’at/79: 46) Dalam ayat ini terdapat perkataan “balag” yang dalam ayat ini berarti “cukup”. Maksudnya ialah:

Allah menyatakan bahwa ayat ini merupakan penjelasan yang cukup bagi manusia, terutama orang-orang kafir yang mau berpikir dan merenungkan kejadian alam semesta ini. Seandainya mereka tidak mau mengindahkan penjelasan ini, mereka pasti akan menanggung akibatnya.

Dalam ayat yang lain Allah berfirman: Dan (Al-Qur’an) ini adalah penjelasan (yang sempurna) bagi manusia, agar mereka diberi peringatan dengannya, agar mereka mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang yang berakal mengambil pelajaran. (Ibrahim/14: 52)

Dan firman Allah: Sungguh, (apa yang disebutkan) di dalam (Al-Qur’an) ini, benar-benar menjadi petunjuk (yang lengkap) bagi orang-orang yang menyembah (Allah). (al-Anbiya’/21: 106)

Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa betapapun besar dan dahsyatnya azab Allah itu, tidak akan menimpa orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Hanya orang-orang kafir yang tidak mengindahkan perintah-perintah Allah dan melanggar larangan-larangan-Nya saja yang akan ditimpa azab yang mengerikan itu.

Ayat ini juga menggambarkan betapa besarnya rahmat dan karunia Allah yang dilimpahkan kepada orang-orang yang taat kepada-Nya. Sehubungan dengan rahmat dan karunia, azab dan malapetaka ini, Rasulullah saw sering berdoa kepada Allah, seperti yang tersebut dalam hadis di bawah ini:

“Diriwayatkan dari Anas, Nabi saw berdoa, “Wahai Tuhan, sesungguhnya aku memohon kepada Engkau penyebab rahmat-Mu, kepastian ampunan-Mu, dan keberuntungan dari segala kebaikan, dan keselamatan dari setiap perbuatan dosa. Wahai Tuhan, janganlah Engkau biarkan satu dosa pun bagiku, kecuali Engkau mengampuninya, dan kesempitan kecuali Engkau melapangkannya, dan hutang kecuali Engkau membayarnya, demikian pula segala keperluan dari keperluan-keperluan duniawi dan ukhrawi, kecuali Engkau menyelesaikannya dengan rahmat Engkau, wahai Tuhan Yang Maha Pemurah. (Riwayat ath-thabrani)

Tafsir Quraish Shihab: Sabarlah, wahai Muhammad, terhadap orang-orang kafir seperti rasul-rasul yang mempunyai keteguhan hati dan ketabahan dalam menghadapi kesulitan–yaitu mereka yang disebut ulul azmi (ulû al-‘azm). Kamu tidak perlu meminta agar siksaan untuk mereka disegerakan, karena siksaan itu pasti akan menimpa mereka juga, betapa pun lamanya nanti.

Pada hari ketika mereka menyaksikan siksaan yang diancamkan kepada mereka itu, mereka merasa seolah-olah hanya tinggal di dunia sesaat dari siang hari saja. Apa yang kamu nasihatkan itu cukup menjadi pelajaran. Tidak ada yang dihancurkan dengan azab Allah kecuali orang-orang yang tidak taat kepada-Nya.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Ahqaf Ayat 33-35 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG