Surah Al-An’am Ayat 123-124; Seri Tadabbur Al Qur’an

Surah Al-An'am Ayat 123-124

Pecihitam.org – Allah SWT berfirman dalam Surah Al-An’am Ayat 123-124 menjelaskan kepada Rasulullah SAW bahwa apa yang terjadi di negerinya dengan banyaknya penjahat, pemimpin, dan penyeru terhadap kekufuran serta mereka yang menghalangi, menentang, dan memusuhinya, hal demikian pula yang dialami oleh para Rasul sebelumnya, mereka juga memperoleh cobaan-cobaan serupa.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Firman Allah SWT dalam Surah Al-An’am Ayat 123-124;

Surah Al-An’am Ayat 123
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَابِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُوا فِيهَا ۖ وَمَا يَمْكُرُونَ إِلَّا بِأَنْفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

Terjemahan: Dan demikianlah Kami menjadikan pada setiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.

Tafsir Jalalain: وَكَذَٰلِكَ (Dan demikianlah) sebagaimana yang telah Kami jadikan orang-orang fasik penduduk Mekkah terdiri dari para pembesarnya جَعَلْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَابِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُوا فِيهَا (Kami menjadikan pada setiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu) dengan cara menghalang-halangi jalan keimanan

وَمَا يَمْكُرُونَ إِلَّا بِأَنْفُسِهِمْ (Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri) karena akibat dari perbuatannya akan menimpa diri mereka sendiri وَمَا يَشْعُرُونَ (sedangkan mereka tidak menyadarinya) tentang hal tersebut.

Tafsir Ibnu Katsir: أَكَابِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُوا فِيهَا Terkait firman ini, Ibnu Abi Thalhah berkata dari Ibnu Abbas, ia mengatakan: “Kami menjadikan orang-orang jahat berkuasa atas mereka, lalu mereka berbuat jahat di negeri itu. Jika mereka telah melakukan hal demikian, maka Kami pun membinasakan mereka dengan azab.”

Imam Mujahid dan Qatadah mengatakan: أَكَابِرَ مُجْرِمِيهَا Maksudnya ialah, para pembesar-pembesarnya (negeri tersebut). Menurut Imam Ibnu Katsir, “Demikian juga firman-Nya dalam Surah Saba’ yang artinya: “Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatan pun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata:

Baca Juga:  Surah Al-An'am Ayat 12-16; Seri Tadabbur Al Qur'an

‘Sesungguhnya kami mengingkari apa yang engkau diutus menyampaikannya.’ Dan mereka mengataka: ‘Kami lebih banyak memiliki harta dan anak-anak (daripada engkau), dan kami sekali-kali tidak akan diazab'” (QS. Saba’: 34-35).

Maksud “tipu daya” di sini ialah seruan mereka terhadap kesesatan dengan memperindah kata-kata dan juga perbuatan.

وَمَا يَمْكُرُونَ إِلَّا بِأَنْفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُونَ Maksudnya adalah akibat tipu daya dan penyesatan mereka kepada orang lain yang mereka sesatkan itu, tidak akan kembali kecuali terhadap diri mereka sendiri.

Surah Al-An’am Ayat 124
وَإِذَا جَاءَتْهُمْ آيَةٌ قَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ حَتَّىٰ نُؤْتَىٰ مِثْلَ مَا أُوتِيَ رُسُلُ اللَّهِ ۘ اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ ۗ سَيُصِيبُ الَّذِينَ أَجْرَمُوا صَغَارٌ عِنْدَ اللَّهِ وَعَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا كَانُوا يَمْكُرُونَ

Terjemahan: Jika datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: “Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah”. Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya.

Tafsir Jalalain: وَإِذَا جَاءَتْهُمْ (Dan jika datang kepada mereka) kepada penduduk Mekkah آيَةٌ (satu ayat) yang membenarkan Rasulullah SAW قَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ (mereka berkata, “Kami tidak akan beriman) kepadanya حَتَّىٰ نُؤْتَىٰ مِثْلَ مَا أُوتِيَ رُسُلُ اللَّهِ (sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah.”) berupa risalah dan wahyu kepada kami sebab kami adalah yang terbanyak hartanya dan yang paling tua umurnya.

Kemudian Allah SWT berfirman: اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ (Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya) dengan dibaca jamak dan tunggal dan Lafal “حَيْثُ” menjadi maf’ul bih dari fi’il yang ditunjuk oleh Lafal “أَعْلَمُ“. Artinya Allah mengetahui tempat yang layak untuk meletakkan risalah-Nya lalu Ia meletakkannya. Sedangkan mereka itu bukanlah orang-orang yang pantas untuk mengemban tugas risalah ini

Baca Juga:  Surah Al-An'am Ayat 156-157; Seri Tadabbur Al Qur'an

سَيُصِيبُ الَّذِينَ أَجْرَمُوا (orang-orang yang berdosa nanti akan ditimpa) sebab perkataan mereka itu صَغَارٌ (suatu kehinaan) yaitu menjadi rendah عِنْدَ اللَّهِ وَعَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا كَانُوا يَمْكُرُونَ (di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka lalu membuat tipu daya) oleh tipu daya mereka sendiri.

Tafsir Ibnu Katsir: وَإِذَا جَاءَتْهُمْ آيَةٌ قَالُوا Maknanya yaitu, jika datang kepada mereka ayat, bukti, dan hujjah yang pasti, maka mereka berkata: لَنْ نُؤْمِنَ حَتَّىٰ نُؤْتَىٰ مِثْلَ مَا أُوتِيَ رُسُلُ اللَّهِ Maksudnya ialah, sehingga datang kepada kami Malaikat-Malaikat membawakan risalah dari Allah, sebagaimana para Malaikat itu telah membawanya kepada para Rasul.

اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ Maksudnya ialah Allah SWT lebih mengetahui kemana tugas kerasulan itu ditempatkan, dan siapa hamba-Nya yang layak mengembannya, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Az-Zukhruf yang artinya:

“Dan mereka mengatakan: ‘Mengapa al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang (yang) besar dari salah satu dari dua negeri (Makkah dan Tha-if) ini?’ Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu?” (QS. Az-Zukhruf: 31-32).

Padahal mereka mengakui keutamaan, kemuliaan, nasab, kesucian keluarga, tempat di mana Rasulullah SAW dididik dan dibesarkan, hingga mereka menyebut beliau sebelum menerima wahyu sebagai “al-amin”.

Hal tersebut juga diakui oleh pemimpin kaum kafir, yaitu Abu Sufyan, saat dirinya ditanya oleh Heraclius, seorang raja Romawi: “Bagaimana nasabnya di tengah-tengah kalian?” Abu Sufyan berkata: “Di kalangan kami, dia adalah seorang yang bernasab terhormat”.

Baca Juga:  Surah Al A'la; Tafsir, Asbabun Nuzul dan Terjemahan

Lebih lanjut Heraclius bertanya: “Apakah kalian menuduhnya pendusta sebelum dia menyampaikan dakwahnya itu?” “Tidak”, jawabnya. (Dan seterusnya). Kesucian sifat-sifat dan nasab beliau inilah yang dijadikan hujjah oleh raja Romawi atas kebenaran kenabiannya, serta kebenaran ajaran yang dibawanya.

سَيُصِيبُ الَّذِينَ أَجْرَمُوا صَغَارٌ عِنْدَ اللَّهِ وَعَذَابٌ شَدِيدٌ Ini adalah bentuk ancaman yang sangat keras dan tegas dari Allah SWT, terutama terhadap orang yang angkuh mengikuti dan mematuhi para Rasul-Nya, bahwa pada hari Kiamat kelak di hadapan Allah SWT, mereka akan ditimpa kehinaan yang abadi dan siksa bagi mereka.

وَعَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا كَانُوا يَمْكُرُونَ Arti ayat ini juga dipahami bahwa sebab seringkali tipu daya itu dikerjakan secara sembunyi-sembunyi dan halus, maka mereka pun mendapatkan azab yang sangat keras dari Allah pada hari Kiamat kelak, sebagai balasan yang setimpal.

Di dalam Shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Akan diberi tanda bagi setiap orang yang berkhianat sebuah bendera pada pantatnya pada hari Kiamat kelak, lalu dikatakan: Inilah pengkhianatan Fulan bin Fulan”.

Demikian uraian Surah Al-An’am Ayat 123-124 berdasarkan Tafsir Jalalain dan Tafsir Ibnu Katsir, sebagai bagian dari Seri Tadabbur Al Qur’an kita. Semoga bermanfaat

M Resky S