Surah Al-Anbiya Ayat 105-107; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Anbiya Ayat 105-107

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Anbiya Ayat 105-107 ini;
Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah menurunkan kitab kepada para Rasul, seperti Taurat, Zabur, Injil dan Al-Qur’an. Dalam kitab-kitab itu diterangkan bahwa bumi ini adalah kepunyaan Allah, diwariskan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah juga menerangkan bahwa segala kisah yang diterangkan dalam surah ini adalah pelajaran dan peringatan yang disampaikan sejak awal sampai akhir surah ini, cukup menjadi pelajaran dan banyak hikmah yang terkandung di dalamnya, sebagai bekal dan bahan bagi orang yang ingin mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiya Ayat 105-107

Surah Al-Anbiya Ayat 105
وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

Terjemahan: Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh.

Tafsir Jalalain: وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ (Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur) yakni kitab Zabur yang telah diturunkan oleh Allah مِن بَعْدِ الذِّكْرِ (sesudah adanya peringatan) yang dimaksud adalah Ummul Kitab atau Alquran yang telah ada di sisi Allah, yakni di Lohmahfuz

أَنَّ الْأَرْضَ (bahwasanya bumi ini) yakni bumi surga يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ (diwariskan kepada hamba-hamba-Ku yang saleh) yakni siapa saja di antara hamba-hamba-Ku yang saleh.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tentang apa yang diwajibkan dan diputuskan kepada hamba-hamba-Nya yang shalih berupa kebahagiaan di dunia dan di akhirat serta mendapatkan warisan bumi di dunia dan di akhlrat, seperti firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; diwariskan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-A’raaf: 128)

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa hal ini telah tertulis di dalam catatan-catatan syar’i dan qadar serta pasti akan terjadi. Untuk itu, Allah Ta’ala berfirman, “Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah Kami tulis dalam Lauhul Mahfuzh. ”

Al-A’masy berkata, Aku bertanya kepada Said bin Jubair tentang firman Allah Ta’ala: wa laqad katabnaa fiz zabuuri mim ba’di dzikri (“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah [Kami tulis dalam] Lauhul Mahfuzh,”) maka ia berkata: “Taurat, Injil dan al-Qur’an.” Ibnu Abbas, asy-Sya’bi, al-Hasan, Qatadah dan lain-lain berkata: “Zabur adalah Kitab yang diturunkan kepada Dawud, sedangkan adz-Dzikr adalah Taurat.”

Dari Ibnu `Abbas pula bahwa adz-Dzikr adalah al-Qur’an. Sedangkan Mujahid berkata: “Zabur adalah kitab-kitab yang ada setelah adz-Dzikr. Sedangkan adz-Dzikr adalah Ummul Kitab di sisi Allah.”Itulah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir 0,. Demikian pula Zaid binAslam berkata: “Yaitu Kitab pertama.” Ats-Tsauri berkata: “Itulah al-Lauhal-Mahfuzh.”

Mujahid berkata dari Ibnu `Abbas: annal ardla yaritsuHaa ‘ibaadiyash shaalihuun (“Bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shalih,”) yaitu tanah surga. Demikian yang dikatakan oleh Abul ‘Aliyah, Mujahid, Sa’id bin Jubair, asy-Sya’bi, Qatadah, as-Suddi, Abu Shalih, ar-Rabi’ bin Anas dan ats-Tsauri. Abud Darda berkata: “Kami adalah orang-orang yang shalih.” Sedangkan as-Suddi berkata: “Mereka adalah orang-orang yang beriman.”

Baca Juga:  Surah Al-An'am Ayat 131-132; Seri Tadabbur Al Qur'an

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah menurunkan kitab kepada para Rasul, seperti Taurat, Zabur, Injil dan Al-Qur’an. Dalam kitab-kitab itu diterangkan bahwa bumi ini adalah kepunyaan Allah, diwariskan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Allah telah menetapkan juga dalam ayat ini, bahwa hamba-hamba yang mewarisi bumi itu ialah hamba-hamba yang sanggup mengolah bumi dan memakmurkannya, selama dia mengikuti petunjuk Allah.

Jika diperhatikan sejarah dunia dan sejarah umat manusia, maka orang-orang yang dijadikan Allah sebagai penguasa di bumi ini, ialah orang-orang yang sanggup mengatur dan memimpin masyarakat, mengolah bumi ini untuk kepentingan umat manusia, sanggup mempertahankan diri dari serangan luar dan dapat mengokohkan persatuan rakyat yang ada di negaranya.

Pemberian kekuasaan oleh Allah kepada orang-orang tersebut bukanlah berarti Allah telah meridai tindakan-tindakan mereka; karena kehidupan duniawi lain halnya dengan kehidupan ukhrawi. Ada orang yang bahagia hidup di akhirat saja, dan ada pula yang bahagia hidup di dunia saja. Sedangkan yang dicita-citakan seorang muslim ialah bahagia hidup di dunia dan di akhirat.

Apabila orang muslim ingin hidup bahagia di dunia dan akhirat, mereka harus mengikuti Sunnatullah di atas, yaitu taat beribadah kepada Allah, sanggup memimpin umat manusia dengan baik, sanggup mengolah bumi ini untuk kepentingan umat manusia, menggalang persatuan dan kesatuan yang kuat di antara meraka sehingga tidak mudah dipecah belah oleh musuh.

Para mufasir berbeda pendapat dalam menafsirkan kata “bumi” dalam ayat ini, di antaranya:

a. Sebagian ahli tafsir mengartikan “bumi” dalam ayat ini dengan “surga”. Karena “surga” itu diwariskan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh. Firman Allah:

Dan mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah memberikan tempat ini kepada kami sedang kami (diperkenankan) menempati surga di mana saja yang kami kehendaki.” Maka (surga itulah) sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal. (az-Zumar/39: 74)

b. Sebagian yang lain mengartikan kata “bumi” dengan bumi yang sekarang ditempati umat manusia. Firman Allah:

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi. (an-Nur/24: 55)

“Sesungguhnya bumi (ini) milik Allah; diwariskan-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-A’raf/7: 128)

c. Sebagian mufasir lain mengartikan “bumi” dengan tanah suci yang diwarisi oleh orang yang saleh, firman Allah:

Dan Kami wariskan kepada kaum yang tertindas itu, bumi bagian timur dan bagian baratnya yang telah Kami berkahi. (al-A’raf/7: 137).

Baca Juga:  Surah Al-Anbiya Ayat 38-40 ; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Kami sungguh telah menuliskan dalam kitab Zabur, kitab suci Dawud, bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang pantas untuk membangun dan menyediakan keperluan hidup yang layak di dalamnya.

Surah Al-Anbiya Ayat 106
إِنَّ فِي هَذَا لَبَلَاغًا لِّقَوْمٍ عَابِدِينَ

Terjemahan: Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah (Allah).

Tafsir Jalalain: إِنَّ فِي هَذَا (Sesungguhnya apa yang disebutkan di dalam kitab ini) yakni Alquran لَبَلَاغًا (benar-benar menjadi bekal) yakni kecukupan untuk masuk surga لِّقَوْمٍ عَابِدِينَ (bagi kaum yang menyembah Allah) yakni bagi mereka yang mengamalkannya.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman-Nya: إِنَّ فِي هَذَا لَبَلَاغًا لِّقَوْمٍ عَابِدِينَ (“Sesungguhnya [apa yang disebutkan] dalam [surat] ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang beribadah kepada Allah,”) yaitu sesungguhnya al-Qur’an yang telah Kami turunkan kepada Nabi Kami, Muhammad ini benar-benar menjadi penyampai dan mencukupi bagi kaum yang beribadah.

Mereka adalah orang-orang yang beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang disyari’atkan, dicintai dan diridhai-Nya. Mereka pun lebih memilih ketaatan kepada Allah di atas ketaatan kepada syaitan dan hawa nafsu mereka.

Tafsir Kemenag: Allah menerangkan bahwa segala kisah yang diterangkan dalam surah ini adalah pelajaran dan peringatan yang disampaikan sejak awal sampai akhir surah ini, cukup menjadi pelajaran dan banyak hikmah yang terkandung di dalamnya, sebagai bekal dan bahan bagi orang yang ingin mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Bahkan ayat-ayat dalam surah ini merupakan peringatan dan ancaman yang keras dari Allah kepada orang-orang yang mengingkari seruan para rasul. Mereka akan ditimpa oleh malapetaka yang besar, sebagaimana telah ditimpakan kepada umat-umat dahulu.

Karena itu kaum Muslimin wajib mengambil pelajaran dan mengamalkan ayat-ayat tersebut agar tidak terkena ancaman Allah yang berupa azab dan malapetaka yang sangat dahsyat.

Tafsir Quraish Shihab: Dalam berbagai berita tentang nabi-nabi dengan kaum mereka, tentang surga dan neraka yang telah Kami sampaikan itu terdapat suatu peringatan dan pelajaran yang cukup bagi suatu bangsa yang siap sedia untuk menyembah Allah semata, dan tidak tertipu oleh perhiasan dunia.

Surah Al-Anbiya Ayat 107
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Terjemahan: Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Tafsir Jalalain: وَمَا أَرْسَلْنَاكَ (Dan tiadalah Kami mengutus kamu) hai Muhammad! إِلَّا رَحْمَةً (melainkan untuk menjadi rahmat) yakni merupakan rahmat لِّلْعَالَمِينَ (bagi semesta alam) manusia dan jin melalui kerasulanmu.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ (“Dan tiadalah Kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.”) Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia telah menjadikan Muhammad sebagai rahmat bagi semesta alam. Yaitu,

Baca Juga:  Surah Al-Anbiya Ayat 64-67; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dia mengutusnya sebagai rahmat untuk kalian semua. Barangsiapa yang menerima rahmat dan mensyukuri nikmat ini, niscaya dia akan berbahagia didunia dan di akhirat. Sedangkan barangsiapa yang menolak dan menentangnya, niscaya dia akan merugi di dunia dan di akhirat.

Muslim di dalam Shahihnya meriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata: “Ya Rasulallah! Sumpahilah orang-orang musyrik itu.” Beliau ber-sabda: “Sesungguhnya Aku tidak diutus sebagai orang yang melaknat. Aku diutus hanyalah sebagai rahmat.” (HR. Muslim)

Dari Ibnu ‘Abbas: وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ (“Dan tiadalah Kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.”) ia berkata: “Barangsiapa yang mengikutinya, niscaya hal itu menjadi rahmat di dunia dan di akhirat. Dan barangsiapa yang tidak mengikutinya, niscaya dia akan ditimpa suatu ujian yang mengenai seluruh umat berupa bencana alam, perubahan bentuk dan fitnah.”

Tafsir Kemenag: Tujuan Allah mengutus Nabi Muhammad yang membawa agama-Nya itu, tidak lain adalah memberi petunjuk dan peringatan agar mereka bahagia di dunia dan di akhirat. Rahmat Allah bagi seluruh alam meliputi perlindungan, kedamaian, kasih sayang dan sebagainya, yang diberikan Allah terhadap makhluk-Nya. Baik yang beriman maupun yang tidak beriman, termasuk binatang dan tumbuh-tumbuhan.

Jika dilihat sejarah manusia dan kemanusiaan, maka agama Islam adalah agama yang berusaha sekuat tenaga menghapuskan perbudakan dan penindasan oleh manusia terhadap manusia yang lain. Seandainya pintu perbudakan masih terbuka, itu hanyalah sekedar untuk mengimbangi perbuatan orang-orang kafir terhadap kaum Muslimin.

Sedangkan jalan-jalan untuk menghapuskan perbudakan disediakan, baik dengan cara memberi imbalan yang besar bagi orang yang memerdekakan budak maupun dengan mengaitkan kafarat/hukuman dengan pembebasan budak.

Perbaikan perbaikan tentang kedudukan perempuan yang waktu itu hampir sama dengan binatang, dan pengakuan terhadap kedudukan anak yatim, perhatian terhadap fakir dan miskin, perintah melakukan jihad untuk memerangi kebodohan dan kemiskinan, semuanya diajarkan oleh Al-Qur’an dan Hadis.

Dengan demikian seluruh umat manusia memperoleh rahmat, baik yang langsung atau tidak langsung dari agama yang dibawa Nabi Muhammad. Tetapi kebanyakan manusia masih mengingkari padahal rahmat yang mereka peroleh adalah rahmat dan nikmat Allah.

Tafsir Quraish Shihab: Kami tidak mengutusmu, wahai Nabi, kecuali sebagai perwujudan kasih sayang yang menyeluruh untuk alam semesta.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Anbiya Ayat 105-107 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S