Surah Al-Anbiya Ayat 95-97; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Anbiya Ayat 95-97

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Anbiya Ayat 95-97 ini, Allah menjamin bahwa amal kebajikan yang dilakukan oleh seseorang yang beriman, betapapun kecilnya, namun Allah akan membalasnya dengan kebaikan pula. Amal kebajikan itu tidak akan hilang percuma, dan tidak akan diingkari karena Allah telah menuliskannya untuk orang yang melakukannya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiya Ayat 95-97

Surah Al-Anbiya Ayat 95
وَحَرَامٌ عَلَى قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا أَنَّهُمْ لَا يَرْجِعُونَ

Terjemahan: Sungguh tidak mungkin atas (penduduk) suatu negeri yang telah Kami binasakan, bahwa mereka tidak akan kembali (kepada Kami).

Tafsir Jalalain: وَحَرَامٌ عَلَى قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا (Sungguh tidak mungkin atas suatu negeri yang telah Kami binasakan) yang dimaksud adalah penduduknya أَنَّهُمْ (bahwa mereka) huruf La di sini Zaidah yakni tidak ada maknanya يَرْجِعُونَ (akan kembali) maksudnya mereka tidak mungkin akan dapat hidup kembali ke dunia.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman: وَحَرَامٌ عَلَى قَرْيَةٍ (“Sungguh tidak mungkin atas suatu negeri.”) Ibnu Abbas berkata: “Yaitu wajib, di mana sungguh telah ditakdirkan bahwa penduduk suatu negeri yang telah dibinasakan, tidak akan pernah kembali (hidup) ke dunia sebelum hari Kiamat.” Demikian yang ditegaskan oleh Ibnu Abbas, Abu Ja’far al-Baqir, Qatadah dan selain mereka. Wallahu a’lam.

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini dijelaskan bahwa tidak mungkinlah bagi penduduk suatu negeri yang telah dibinasakan dengan azab-Nya, bahwa mereka tidak akan kembali kepada-Nya.

Maksudnya, kaum yang ingkar dan kafir itu, walaupun sudah dibinasakan dengan azab yang berat di dunia, namun mereka pasti akan kembali kepada Allah di akhirat kelak, lalu dihisab semua amalannya, dan diberi balasan yang setimpal.

Tafsir Quraish Shihab: Tidak mungkin bagi penduduk setiap negeri yang telah Kami binasakan akibat kezaliman mereka untuk tidak kembali kepada Kami di hari kiamat. Mereka pasti kembali dan akan dihitung perbuatan jelek mereka.

Surah Al-Anbiya Ayat 96
حَتَّى إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُم مِّن كُلِّ حَدَبٍ يَنسِلُونَ

Terjemahan: Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.

Tafsir Jalalain: حَتَّى (Hingga) lafal Hattaa ini menunjukkan batas waktu bagi terlarangnya mereka untuk dapat hidup kembali إِذَا فُتِحَتْ (apabila dibukakan) dapat dibaca Futihat dan Futtihat يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ (Yakjuj dan Makjuj) dapat dibaca Yakjuj wa Makjuj dan Yajuj wa Majuj, keduanya adalah nama bagi dua kabilah ‘Ajam. Sebelum kalimat ini diperkirakan adanya Mudhaf, maksudnya tembok yang mengurung Yakjuj dan Makjuj; hal itu akan terjadi bila hari kiamat sudah dekat.

وَهُم مِّن كُلِّ حَدَبٍ يَنسِلُونَ (dan mereka dari seluruh tempat-tempat yang tinggi) yakni dataran-dataran tinggi (turun dengan cepatnya) artinya, mereka turun dengan sangat cepat.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: حَتَّى إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ (“Hingga apabila dibukakan tembok Ya’ju dan Ma’juj,”) telah kami jelaskan terdahulu bahwa mereka adalah termasuk keturunan Adam, bahkan mereka termasuk keturunan Nuh as. dari putera-putera Yafits, Abu Turki. Sedangkan Turki merupakan kelompok kecil di antara mereka yang ditingalkan di belakang bendungan yang dibangun oleh Dzulqarnain.

Baca Juga:  Surah Al-Anbiya Ayat 68-70; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

حَتَّى إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ (“Hingga apabila dibukakan tembok Ya’ju dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi,”) cepat sekali berjalan membawa kerusakan.

Al-hadbu: adalah permukaan bumi yang tinggi, inilah yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Abu Shalih, ats-Tsauri dan selain mereka. Begitulah sifat mereka ketika keluar, seakan-akan orang yang mendengar pun menyaksikan langsung hal tersebut.

Imam Ahmad berkata, bahwa an-Nuwas bin Sam’an al-Kullabi berkata: Suatu hari Rasulullah saw. menceritakan tentang Dajjal, terkadang beliau pelankan suaranya dan terkadang beliau keraskan suaranya, sampai kami mengira beliau berada di atas pohon kurma. Beliau bersabda: “Bukan Dajjal yang aku amat takuti bagi kalian.

Jika ia keluar dan aku ada di antara kalian, maka akulah pembela kalian. Dan jika ia keluar, sedangkan aku tidak berada di antara kalian, maka setiap orang akan menjadi pembela bagi dirinya sendiri.

Allah adalah khalifahku atas setiap muslim. Dia adalah seorang pemuda berambut keriting pendek dan matanya tajam. Dia akan keluar di perbatasan antara Syam dan Irak.’

Lalu beliau menyeru ke kanan dan ke kiti: ‘Hai hamba-hamba Allah! Kokohlah kalian,’ -Kami bertanya: ‘Ya Rasulullah! Berapa lama tinggalnya di dalam dunia?’ Beliau menjawab: 40 hari. Satu hari seperti satu tahun, satu hari seperti satu bulan dan satu hari seperti satu Jum’at. Seluruh hari-hari itu seperti hari-hari kalian.’ Kami bertanya: ‘Ya Rasulullah! Satu hari yang seperti satu tahun itu, apakah mencukupi untuk shalat satu hari satu malam.’ Beliau menjawab: Tidak, ukurlah dengan ukurannya.’

Kami bertanya pula: ‘Ya Rasulullah, bagaimana kecepatannya di dunia?’ Beliau menjawab: `Seperti awan mendung yang ditiup angin. Dia melewati daerah, lalu diajaknya mereka dan mereka pun memperkenankannya. Maka dia perintahkan langit, lalu turunlah hujan dan dia perintahkan tanah lalu tumbuhlah tanam-tanaman.

Binatang-binatang mereka pun mengalami perkembangan dengan memanjang seperti ditiup udara, pinggang-pinggangnya melebar dan puting-puting susunya semakin membesar. Dia pun melewati suatu daerah dan menyeru mereka, akan tetapi mereka menolaknya. Maka harta-harta mereka pun mengikutinya, sehingga mereka menjadi orang-orang miskin yang tidak memiliki harta sedikit pun.

Dia pun melewati tempat reruntuhan dan berkata: ‘Keluarkanlah perbendaharanmu, maka perbendaharaan tempat itu pun mengikutinya seperti ratu-ratu lebah.

Dia pun memerintahkan seorang laki-laki untuk dibunuh. Maka, dia pun memenggalnya dengan pedang dan dibelahnya menjadi dua bagian seperti anak panah. Kemudian dia menyerunya dan laki-laki itu pun menerimanya.

Di saat mereka berada dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba Allah swt. mengutus al-Masih bin Maryam as., lalu diturunkannya di sisi menara putih di sebelah timur Damaskus yang berada di antara Muhr dan Datin dengan meletakkan kedua tangannya di atas sayap-sayap dua Malaikat. Lalu dia mengikuti Dajjal, meraihnya dan membunuhnya di pintu Lud sebelah timur.

Di saat mereka seperti itu, tiba-tiba Allah memberi wahyu kepada Isa as.: “Sesungguhnya Aku akan mengeluarkan seorang hamba-Ku yang tidak tunduk kepadamu untuk memerangi mereka. Lalu hamba-Ku menuju Thur, maka Allah swt. mengutus Ya’juj dan Ma’juj, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

Baca Juga:  Surah Al-Anbiya Ayat 57-63; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

(“Dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.”) Lalu, Isa dan para sahabatnya amat senang kepada Allah swt. Maka Dia mengutus kepada mereka ulat-ulat di pundak-pundak mereka, hingga mereka menjadi bangkai-bangkai seperti kematian satu jiwa.

Maka, Isa dan para sahabatnya turun di mana tidak didapatinya lagi di bumi satu rumah pun kecuali pasti dipenuhi oleh tengkorak-tengkorak dan bangkai-bangkai mereka. Lalu, Isa dan para sahabatnya pun amat senang kepada Allah swt, maka Dia pun mengutus satu ekor burung seperti punuk unta kepada mereka yang dapat membawa dan melempar mereka sesuai kehendak Allah.”

Ibnu Jabir berkata, ‘Atha bin Yazid as-Saksaki bercerita kepadaku,bahwa Ka’ab atau selainnya berkata: “Lalu burung itu melempar mereka ke Mahbil.” Ibnu Jabir berkata: “Aku bertanya: Ya Abu Yazid, dimana Mahbil itu? Dia menjawab: ‘Di tempat terbit matahari.’ Dia berkata: Allah mengutus hujan di tempat di mana tidak ada lagi rumah yang dihuni selama 40 hari. Lalu hujan itu membersihkan tanah, hingga dibiarkan seperti sebuah tempat yang licin. Dikatakan kepada tanah:

Tumbuhkanlah buahmu dan kembangkan barakahmu.’ Pada hari itu satu orang memakan satu delima, maka mereka cukup dengan itu, Allah memberkahi hingga unta mencukupi satu kelompok manusia, susu sapi mencukupi setengah kelompok dan satu ekor kambing mampu mencukupi satu keluarga.

Di saat mereka berada dalam kondisi de-mikian, tiba-tiba Allah , mengutus angin sejuk yang berhembus di bawah ketiak-ketiak mereka. Hingga ruh setiap muslim -atau mukmin- dicabut, dan yang tersisa hanyalah manusia-manusia terburuk yang berperilaku seperti himar (keledai) dan merekalah yang akan mengalami hari Kiamat (yang) akan tiba.” (Muslim meriwAyatkannya sendiri, tanpa al-Bukhari serta diriwAyatkan oleh Ash-haabus Sunan dari jalan `Abdurrahman bin Zaid bin Yazid bin Jabir. At-Tirmidzi berkata: “Hasan shahih.”)

Juga dijelaskan di dalam hadits, bahwa `Isa bin Maryam melakukan haji di Ka’bah. Imam Ahmad berkata dari Abu Sa’id, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh, dia akan berhaji di rumah ini dan sungguh, dia akan berumrah setelah keluarnya Ya’juj dan Ma’juj.” (Al-Bukhari meriwAyatkannya sendiri).

Tafsir Kemenag: Dalam Ayat ini Allah menerangkan bahwa kaum kafir telah dibinasakan dengan azab yang berat di dunia ini, sehingga mereka menemui kemusnahan, mereka tidak akan kembali lagi ke dunia, mereka akan tetap dalam kemusnahan sampai hari Kiamat kelak.

Sebagai salah satu dari tanda-tanda akan datangnya hari Kiamat adalah terbukanya tembok Yakjuj dan Makjuj, sehingga Yakjuj dan Makjuj berdatangan, meluncur dengan cepat dari setiap tempat yang tinggi. Mereka membuat keonaran dan kebinasaan di dunia.

Tafsir Quraish Shihab: Hingga ketika dibuka pintu-pintu kejahatan dan kerusakan, dan anak keturunan Ya’jûj dan Ma’jûj mulai bergegas meninggalkan bagian tinggi dari jalan dan gunung untuk melakukan hal-hal yang bisa menyebabkan kekacauan dan keresahan.

Surah Al-Anbiya Ayat 97
وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ فَإِذَا هِيَ شَاخِصَةٌ أَبْصَارُ الَّذِينَ كَفَرُوا يَا وَيْلَنَا قَدْ كُنَّا فِي غَفْلَةٍ مِّنْ هَذَا بَلْ كُنَّا ظَالِمِينَ

Terjemahan: Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata): “Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zalim”.

Baca Juga:  Surah Al-Anbiya Ayat 98-103; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Jalalain: وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ (Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar) yakni hari kiamat فَإِذَا (maka tiba-tiba) kisah kenyataannya هِيَ شَاخِصَةٌ أَبْصَارُ الَّذِينَ كَفَرُوا (terbelalaklah mata orang-orang yang kafir) pada hari tersebut disebabkan sangat ngeri melihatnya, seraya mengatakan,

يَا (“Aduhai”) ya di sini menunjukkan makna penyesalan وَيْلَنَا (celakalah kami) binasalah kami قَدْ كُنَّا (sesungguhnya kami) sewaktu hidup di dunia فِي غَفْلَةٍ مِّنْ هَذَا (adalah dalam kelalaian tentang ini) tentang hari kiamat بَلْ كُنَّا ظَالِمِينَ (bahkan kami adalah orang-orang yang zalim) yakni menganiaya diri kami sendiri, disebabkan kami mendustakan para Rasul.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ (“Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar,”) yaitu hari Kiamat. Jika kegoncangan, kehancuran dan bencana ini telah terjadi, maka terjadilah dan telah dekatlah hari Kiamat. Jika itu telah terjadi, maka orang-orang kafir berkata: “Inilah hari yang sulit.”

Untuk itu Allah Ta’ala berfirman: فَإِذَا هِيَ شَاخِصَةٌ أَبْصَارُ الَّذِينَ كَفَرُوا (“Maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir,”) disebabkan dahsyatnya perkara besar yang mereka saksikan. يَا وَيْلَنَا (“Aduhai celakalah kami,”) yaitu mereka mengatakan: “Aduhai celakalah kami.”

قَدْ كُنَّا فِي غَفْلَةٍ مِّنْ هَذَا (“Sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini,”) yaitu dunia. بَلْ كُنَّا ظَالِمِينَ (“Bahkan kami adalah orang-orang yang zhalim,”) mereka mengakui kedhaliman terhadap diri-diri mereka di mana hal tersebut tidaklah bermanfaat bagi mereka.

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini ditegaskan, bahwa pada waktu keluarnya Yakjuj dan Makjuj itu, dan di waktu telah dekatnya saat kedatangan janji yang benar, yaitu hari kebangkitan dan hisab, maka dengan serta merta terbelalaklah mata kaum kafir karena terkejut, seraya berteriak dengan nada penyesalan,

“Aduhai celakalah kami, benar-benar kami lalai tentang kedatangan hari kebangkitan dan hisab, sehingga kami tidak mempersiapkan diri kami dengan baik. Bahkan kami ini adalah orang-orang yang zalim atas diri kami dan terhadap orang lain, karena kami telah diberi peringatan bahwa hari kebangkitan dan hisab itu benar-benar akan datang, tetapi kami tidak mengindahkan peringatan itu, bahkan mendustakannya.

Akan tetapi, betapa pun mereka menyesali dirinya pada saat itu namun penyesalan itu sudah tidak berguna lagi, karena saat kebangkitan dan hisab itu memang benar-benar datang, sedang mereka tidak percaya sedikitpun.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Anbiya Ayat 95-97 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag, dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S