Surah Al-Anfal Ayat 2-4; Seri Terjemahan dan Tafsir Al Qur’an

Surah Al-Anfal Ayat 2-4

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Anfal Ayat 2-4 yaitu menjelaskan tentang ciri-ciri orang mukmin, yang melakukan amal-amal shaleh dan senantiasa bertawakkal hanya kepada Allah SWT dalam keadaan apapun serta menggantungkan segala urusan dalam hidupnya hanya kepada-Nya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al Qur’an Surah Al-Anfal Ayat 2-4

Surah Al-Anfal Ayat 2
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Terjemahan: Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.

Tafsir Jalalain: إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ (Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu) yang sempurna keimanannya الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ (adalah mereka yang apabila disebut Allah) yakni ancaman-Nya وَجِلَتْ (gemetarlah) karena takut

قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا (hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah keimanan mereka) kepercayaan mereka وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal) hanya kepada Rabblah mereka percaya bukan kepada selain-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: Berkenaan dengan ayat ini, Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Tidak masuk ke dalam hati orang-orang munafik sedikit pun dari mengingat Allah saat mereka melaksanakan kewajiban-kewajibannya.

Mereka juga tidak beriman sedikit pun terhadap ayat-ayat Allah, tidak bertawakkal, tidak shalat saat sendirian dan tidak menunaikan zakat dalam harta kekayaan mereka. Maka Allah memberitahukan, bahwa mereka bukanlah orang-orang yang beriman”.

Kemudian Allah mensifati orang-orang beriman, Allah berfirman: إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ (Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka) lalu mereka pun melaksanakan kewajiban-kewajiban mereka; وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا (Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka)

Ibnu Abbas berkata: “Ayat-ayat itu menambahkan tashdiq (pembenaran) mereka”. وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (Dan kepada Rabbnya-lah mereka bertawakal). Ibnu Abbas berkata: “Mereka tidak mengharapkan selain Allah”.

Mujahid berkata: وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ (Gemetarlah hati mereka) Artinya, lalu hati mereka menjadi lembut, maksudnya terkejut dan takut. Demikian pula yang dikatakan oleh as-Suddi dan bukan hanya satu orang saja yang mengatakan ini.

Inilah sifat seorang mukmin yang benar-benar beriman, yang jika disebut nama Allah, hatinya gemetar, maksudnya takut kepada Allah, lalu menjalankan perintah-perintahNya dan meninggalkan larangan-laranganNya.

Baca Juga:  Perbedaan AlQuran dan Hadits Qudsi, Ini Penjelasannya

Karena inilah Sufyan ats-Tsauri berkata: “Aku mendengar as-Suddi berkata berkenaan dengan firman Allah Ta’ala: إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ (Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka)

Yaitu, seseorang yang hendak berbuat zhalim. Atau ia berkata: “Bermaksud melakukan maksiat, lalu dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kamu kepada Allah” maka hatinya menjadi gemetar”.

Firman Allah: وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا (Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya)) seperti firman Allah yang lain yang artinya:

“Dan apabila diturunkan suatu Surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) Surat ini? Adapun orang-orang yang beriman, maka Surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira”. (QS. At-Taubah: 124)

Imam Bukhari dan imam-imam lainnya telah menjadikan ayat dan ayat yang semisal dengannya sebagai dalil yang membuktikan, bahwa iman itu bertambah dan tingkatannya di dalam hati berbeda-beda, sebagaimana pendapat jumhur umat, bahkan yang menceritakan bahwa hal itu telah menjadi ijma’ bukan hanya seorang imam, seperti; Imam Syafi’i, Ahmad bin Hanbal dan Abu Ubaidah.

وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (Dan kepada Rabblah mereka bertawakkal) Maksudnya, mereka tidak mengharap selain Dia, tidak menuju selain kepada-Nya, tidak berlindung kecuali di sisi-Nya, tidak meminta kebutuhan-kebutuhannya kecuali dari-Nya dan tidak mempunyai keinginan kecuali ditujukan kepada-Nya.

Mereka pun mengetahui bahwa, apa yang dikehendaki Allah pastilah terjadi dan apa yang tidak Allah kehendaki tidaklah terjadi. Dialah yang untuk mengatur kerajaan-Nya, Dialah yang tunggal (Esa) dan tiada sekutu bagi-Nya, tidak ada yang dapat menolak keputusan-Nya dan Allah-lah yang Mahacepat hisab (penghitungan)-Nya.

Karena Itulah Sa’id bin jubair berkata: “Tawakkal kepada Allah merupakan himpunan (gabungan) keimanan”.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya hati orang-orang yang benar-benar beriman selalu dipenuhi rasa takut dan tunduk kepada Allah. Apabila disebut asma Allah hati mereka bergetar dan diliputi rasa takut (haybah).

Semakin mereka mendengar ayat-ayat al-Qur’ân dibacakan, semakin kokoh keimanan mereka dan semakin mendalam rasa tunduk serta semakin bertambah pengetahuan mereka pada Allah. Sehingga, pada akhirnya, mereka tidak menyandarkan diri selain kepada Allah yang menciptakan, melindungi, dan memelihara mereka.

Baca Juga:  Surah Al-Furqan Ayat 72-74 ; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Surah Al-Anfal Ayat 3
الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Terjemahan: (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

Tafsir Jalalain: الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ (Yaitu orang-orang yang mendirikan shalat) mereka menunaikannya sesuai dengan ketentuan-ketentuannya وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ (dan sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepada mereka) Kami anugerahkan kepada mereka يُنْفِقُونَ (mereka menafkahkannya) demi taat kepada Allah.

Tafsir Ibnu Katsir: Berkenaan dengan firman Allah ini, Muqatil bin Hayyan berkata: “Yang dimaksud dengan menegakkan shalat yaitu menjaganya sesuai dengan waktu-waktunya, menyempurnakan thaharah (kesucian) di dalamnya, menyempurnakan rukuk, sujud dan bacaan al-Qur’an di dalamnya dan bertasyahhud (membaca syahadat) dan shalawat untuk Nabi. Inilah makna dari menegakkan shalat”.

Menginfakkan sebagian dari rizki yang Allah berikan kepada mereka mencakup kepada mengeluarkan zakat dan menunaikan hak-hak hamba baik yang wajib atau pun yang sunnah.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya orang-orang yang benar-benar beriman adalah mereka yang mengerjakan salat berikut rukun-rukunnya secara sempurna dengan penuh rasa khusyuk dan ketertundukan diri agar mereka selalu dalam keterkaitan dengan Tuhan, menginfakkan sejumlah harta yang diberikan Allah Swt. kepada mereka untuk kepentingan jihad, kebaikan-kebaikan sosial dan bagi kepentingan kaum lemah.

Surah Al-Anfal Ayat 4
أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Terjemahan: Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.

Tafsir Jalalain: أُولَٰئِكَ (Itulah) orang-orang yang berciri khas seperti tadi هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا (mereka orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya) yang tidak diragukan lagi keimanannya.

لَهُمْ دَرَجَاتٌ (Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian) kedudukan-kedudukan di surga عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ (di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki yang mulia) di surga.

Tafsir Ibnu Katsir: أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا (Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya) Maksudnya, orang-orang yang memiliki sifat-sifat inilah orang-orang mukmin yang benar-benar beriman.

Amr bin Murrah berkata berkenaan dengan firman Allah Ta’ala ini: “Sesungguhnya al-Qur’an itu diturunkan dengan bahasa Arab, (firman Allah ini) seperti ucapanmu: “Si Fulan itu adalah sayyid dalam arti sebenarnya”.

Baca Juga:  Surah Taha Ayat 9-10; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ (Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya) Maksudnya adalah, tempat-tempat tinggal, kedudukan-kedudukan dan peringkat-peringkat di surga, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya: “(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah dan Allah Mahamelihat apa yang mereka kerjakan”. (QS. Ali-Imran: 163)

وَمَغْفِرَةٌ (Dan ampunan) Maksudnya, Allah mengampuni keburukan-keburukan mereka dan mensyukuri kebaikan-kebaikan mereka.

Berkenaan dengan firman Allah: لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ (Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya) adh-Dhahhak berkata: “Penghuni surga sebagian mereka di atas sebagian yang lainnya, sehingga orang yang menempati kedudukan yang lebih tinggi mengetahui keutamaan dan kelebihannya atas orang yang ada di bawahnya, sedangkan orang yang ada di bawahnya tidak mengetahui, bahwasanya ada orang yang lebih diutamakan darinya”.

Oleh karena itu di dalam Kitab Shahihain (Kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim), bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya penghuni surga Illiyyin (yang lebih tinggi) bisa melihat yang lebih rendah dari mereka, sebagaimana kalian melihat bintang yang tinggi di ufuk langit.”

Mereka berkata: “Wahai Rasulallah, itukah tempat tinggal Para Nabi yang tidak bisa dicapai oleh selain mereka?” Rasulullah menjawab: “Benar, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para Rasul”.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka yang memiliki sifat-sifat seperti tersebut di atas itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka akan mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Allah.

Dia memberikan perkenan-Nya kepada mereka, mengampuni kesalahan, memberi rezeki yang baik kepada mereka di dunia dan kehidupan yang membahagiakan di akhirat.

Demikianlah telah kita tadabburi bersama Terjemahan dan Tafsir Surah Al-Anfal Ayat 2-4 berdasarkan Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Quraish Shihab dan Tafsir Jalalain. Semoga bermanfaat.

M Resky S