Surah Al-Ankabut Ayat 16-18; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Ankabut Ayat 16-18

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Ankabut Ayat 16-18 ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad agar menceritakan kepada umatnya kisah Nabi Ibrahim. Setelah dewasa, sempurna pertumbuhan akalnya, sanggup untuk berpikir dan menganalisa sesuatu dengan objektif, dan telah memungkinkan untuk mencapai derajat kenabian yang sempurna, maka Ibrahim mulai mencurahkan perhatiannya menyeru manusia untuk menerima kebenaran yang dibawanya.

Allah menegaskan bahwa sesembahan selain Dia sudah jelas merupakan hasil ciptaan tangan manusia sendiri, tetapi mereka berdusta dengan menganggapnya tuhan yang sebenarnya. Mereka menganggap hasil ciptaan mereka yang berbentuk patung dan berhala itu sanggup memberi manfaat atau keuntungan kepada mereka.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ankabut Ayat 16-18

Surah Al-Ankabut Ayat 16
وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Terjemahan: Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: “Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepada-Nya. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

Tafsir Jalalain: وَ (Dan) ingatlah إِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ (Ibrahim ketika ia berkata kepada kaumnya, “Sembahlah Allah dan bertakwalah kalian kepada-Nya!) takutlah kalian akan azab dan hukuman-Nya. ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ (Demikian itu lebih baik bagi kalian) daripada apa yang sekarang kalian kerjakan yaitu menyembah berhala إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ (jika kalian mengetahui) mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah mengabarkan tentang hamba, Rasul dan Khalil-Nya, Ibrahim as. imamnya orang-orang hanif, bahwa dia menyeru kaumnya untuk beribadah kepada Allah Mahaesa yang tidak ada sekutu bagi-Nya, ikhlas kepada-Nya dalam takwa dan mencari rizky-Nya Yang Mahaesa, tidak ada sekutu bagi-Nya serta mengesakan-Nya dalam rasa syukur. Maka dia berkata kepada kaumnya:

اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ (“Beribadahlah kamu kepada Allah dan bertakwalah kepada-nya. ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ (“Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”) yaitu jika kalian melakukan hal itu, kalian akan memperoleh kebaikan di dunia dan di akhirat.

Tafsir Kemenag: Allah memerintahkan Nabi Muhammad agar menceritakan kepada umatnya kisah Nabi Ibrahim. Setelah dewasa, sempurna pertumbuhan akalnya, sanggup untuk berpikir dan menganalisa sesuatu dengan objektif, dan telah memungkinkan untuk mencapai derajat kenabian yang sempurna, maka Ibrahim mulai mencurahkan perhatiannya menyeru manusia untuk menerima kebenaran yang dibawanya.

Ia mengajak mereka untuk mengesakan Allah dalam ibadah dan membersihkan diri dari segala bentuk kemusyrikan. Ia juga menyerukan agar mereka ikhlas mengabdi kepada Allah baik ketika seorang diri atau di hadapan orang banyak, serta menjauhi murka Allah dengan melaksanakan segala tugas dan kewajiban yang diperintahkan-Nya, serta menjauhi segala larangan-Nya.

Semuanya itu merupakan perintah Allah yang harus disampaikan oleh Ibrahim kepada kaumnya. Apa yang disampaikan itu adalah yang terbaik andaikata mereka memiliki sedikit ilmu pengetahuan. Dengan ilmu itu mereka dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, dan bagaimana mencari atau memperoleh kemanfaatan sebanyak-banyaknya untuk dunia dan akhirat. Kemudian Ibrahim menunjukkan kepada mereka tentang kesengsaraan yang menimpa orang yang mencari tuhan selain Allah.

Baca Juga:  Surah Al-Ahqaf Ayat 29-32 ; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Dan ingatlah, wahai Rasul, kisah Ibrâhîm ketika ia menyeru kaumnya untuk mengesakan dan menaati Allah, serta memperingatkan mereka bahwa keimanan lebih baik bagi mereka daripada kekufuran, apabila mereka termasuk orang-orang yang berilmu dan berakal.

Surah Al-Ankabut Ayat 17
إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِندَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Terjemahan: Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan.

Tafsir Jalalain: إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ (Sesungguhnya apa yang kalian sembah selain Allah itu) أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا (adalah berhala-berhala, dan kalian membuat dusta) kalian mengatakan kebohongan, bahwa berhala-berhala itu adalah sekutu-sekutu Allah.

إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا (Sesungguhnya yang kalian. sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepada kalian) maksudnya mereka tidak akan mampu memberi rezeki kepada kalian فَابْتَغُوا عِندَ اللَّهِ الرِّزْقَ (maka mintalah rezeki di sisi Allah) yakni mintalah rezeki itu kepada-Nya وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kalian akan dikembalikan).

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah Ta’ala mengabarkan bahwa berhala-berhala yang kalian sembah tidak akan mencelakakan dan tidak akan memberikan manfaat. Kalian hanya membuat-buat nama baginya, lalu kalian namakan sebagai tuhan, padahal ia diciptakan seperti kalian. Demikianlah yang diriwayatkan oleh al-‘Aufi dari Ibnu ‘Abbas dan itulah yang dikatakan Mujahid dan as-Suddi.

Al-Wali meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas: “Kalian membuat kedustaan, yaitu kalian membuat patung-patung.” Demikian yang diriwayatkan oleh Mujahid, ‘Ikrimah, al-Hasan, Qatadah dan selain mereka telah dipilih oleh Ibnu Jarir. Berhala-berhala itu tidak dapat memberikan rizky kepada kalian. فَابْتَغُوا عِندَ اللَّهِ الرِّزْقَ (“Maka mintalah rizky itu dari sisi Allah.”) seperti firman Allah: إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (“Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan.” (al-Faatihah: 5).

Untuk itu Dia berfirman: فَابْتَغُوا (“Maka mintalah,”) yaitu carilah, عِندَ اللَّهِ الرِّزْقَ (“rizky itu dari sisi Allah,”) bukan dari yang selain-Nya. karena selain Dia tidak memiliki sesuatu sedikitpun.

وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ (“Dan beribadahlah kamu kepada-Nya serta bersyukurlah kepada-Nya.”) yaitu makanlah kalian kalian dari rizky-Nya dan beribadahlah kalian kepada-Nya semata serta bersyukurlah kepada-Nya semata serta bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat yang diberikan-Nya kepada kalian. إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (“Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.”) yaitu pada hari kiamat. Lalu Dia membalas setiap pelaku sesuai dengan amalnya.

Baca Juga:  Surah Al-Ankabut Ayat 64-66; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini, Allah menegaskan bahwa sesembahan selain Dia sudah jelas merupakan hasil ciptaan tangan manusia sendiri, tetapi mereka berdusta dengan menganggapnya tuhan yang sebenarnya. Mereka menganggap hasil ciptaan mereka yang berbentuk patung dan berhala itu sanggup memberi manfaat atau keuntungan kepada mereka.

Ibrahim mencela dan mengecam anggapan mereka karena patung-patung itu sedikit pun tidak sanggup memberi rezeki kepada mereka. Rezeki itu adalah wewenang mutlak yang hanya dimiliki oleh Allah. Oleh karena itu, dianjurkan kepada mereka supaya memohon rezeki dan penghasilan hanya kepada Allah, kemudian mensyukuri jika yang diminta itu telah dikabulkan-Nya. Hanya Allah yang mendatangkan rezeki bagi manusia serta semua kenikmatan hamba-Nya. Manusia dianjurkan untuk mencari keridaan-Nya dengan jalan mendekatkan diri kepada-Nya.

Ayat ini ditutup dengan lafal “kepada-Nyalah kamu dikembalikan” artinya manusia harus bersiap-siap menemui Allah dengan beribadah dan bersyukur. Setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas segala amal perbuatannya dan semua kenikmatan yang mereka terima.

Tafsir Quraish Shihab: Dan ia berkata kepada mereka, “Sesungguhnya yang kalian sembah selain Allah itu hanyalah berhala- berhala dan patung-patung yang kalian buat dengan tangan kalian sendiri. Kemudian kalian membuat-buat kebohongan dengan menyebutnya sebagai tuhan.

Dan sesungguhnya yang kalian sembah selain Allah itu sama sekali tidak memberikan manfaat atau mudarat, dan juga tidak mampu memberikan rezeki kepada kalian. Maka mintalah rezeki kepada Allah semata. Hanya kepada-Nyalah kalian harus beribadah dan mensyukuri nikmat-nimat-Nya. Kepada-Nyalah tempat kembali kalian semua, kemudian Dia akan memberi balasan kepada kalian atas apa yang kalian lakukan.

Surah Al-Ankabut Ayat 18
وَإِن تُكَذِّبُوا فَقَدْ كَذَّبَ أُمَمٌ مِّن قَبْلِكُمْ وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

Terjemahan: Dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, maka umat yang sebelum kamu juga telah mendustakan. Dan kewajiban rasul itu, tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya”.

Tafsir Jalalain: وَإِن تُكَذِّبُوا (Dan jika kalian mendustakan) aku, hai penduduk Mekah فَقَدْ كَذَّبَ أُمَمٌ مِّن قَبْلِكُمْ (maka umat sebelum kalian juga telah mendustakan) umat-umat sebelumku. وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (Dan kewajiban Rasul itu tidak lain hanyalah menyampaikan agama Allah dengan seterang-terangnya”) dengan penyampaian yang sejelas-jelasnya. Pada kedua kisah ini terkandung makna yang dapat menghibur hati Nabi saw. dan Allah berfirman kepada kaumnya,.

Tafsir Ibnu Katsir: وَإِن تُكَذِّبُوا فَقَدْ كَذَّبَ أُمَمٌ مِّن قَبْلِكُمْ (“Dan jika kamu mendustakan, maka umat sebelum kamu juga telah mendustakan.”) yaitu telah sampai beritanya kepada kalian tentang siksaan dan hukuman yang menimpa mereka dengan sebab menyelisihi para Rasul.

Baca Juga:  Surah Al-Ankabut Ayat 36-37; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (“Dan kewajiban para rasul itu tidak lain hanyalah menyampaikan dengan seterang-terangnya.”) yaitu kewajiban Rasul hanyalah menyampaikan kepada kalian risalah yang diperintahkan oleh Allah. Sedangkan Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Maka bersemangatlah kalian untuk menjadi orang-orang yang bahagia.

Makna yang jelas dari rangkaian kalimat tersebut bahwa semua itu merupakan kata-kata Ibrahim al-KhalilullaaH yang digunakannya sebagai hujjah kepada mereka untuk menetapkan hari kembali, karena firman-Nya setelah ini: فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ (“Maka tidak ada jawaban dari kaumnya.”) wallaaHu a’lam.

Tafsir Kemenag: Ibrahim kembali memperingatkan kaumnya bahwa jika mereka membenarkan apa yang telah disampaikan kepada mereka, pasti mereka akan bahagia. Sebaliknya, mereka akan mendapat mudarat dan kesengsaraan jika tetap mendustakan seruan nabi seperti yang dialami orang-orang sebelum mereka yang mendustakan para utusan Tuhan.

Di antaranya seperti yang telah dialami umat Nabi Nuh, Nabi Hud, dan Nabi Saleh. Mereka semua telah disiksa Allah akibat kedurhakaan mereka. Di sisi lain, Allah telah menyelamatkan orang-orang yang beriman beserta para rasul-Nya.

Ayat ini diakhiri dengan penegasan bahwa tugas dan misi rasul adalah menyampaikan kebenaran yang nyata kepada umat manusia. Andaikata mereka itu mau membenarkan atau menolaknya, maka itu tidak membawa akibat apa-apa terhadap diri rasul.

Tidak ada wewenang yang diberikan Allah kepada setiap rasul untuk memaksa manusia mempercayai seruan dakwahnya. Apakah mereka mau membenarkannya atau tetap mendustakannya adalah di luar tanggung jawabnya.

Tafsir Quraish Shihab: Dan apabila kalian terus-menerus mendustakanku, maka sebenarnya kalian tidak akan memberi kemudaratan kepadaku. Aku telah menyampaikan kepada kalian bahwa rasul-rasul sebelumku telah didustakan oleh kaum-kaum mereka, tetapi mereka tidak dapat memberi mudarat kepada rasul-rasul itu. Tetapi sebenarnya mereka membuat kemudaratan kepada diri mereka sendiri, yaitu ketika mereka dihancurkan oleh Allah karena pendustaan mereka itu. Maka kewajiban rasul tidak lain hanyalah untuk menyampaikan ajaran-ajarannya kepada kaumnya dengan sejelas-jelasnya.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Ankabut Ayat 16-18 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG