Surah Al-Fath Ayat 20-24 ; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Fath Ayat 20-24

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Fath Ayat 20-24 ini, menegaskan bahwa memenangkan keimanan atas kekafiran dan menghapus yang batil dengan yang hak telah menjadi sunah (hukum) Allah yang berlaku bagi seluruh makhluk ciptaan-Nya sejak dahulu sampai sekarang, dan untuk masa yang akan datang. Tidak ada satu pun dari makhluk yang ada di alam semesta ini yang dapat mengubah sunah-Nya itu.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Fath Ayat 20-24

Surah Al-Fath Ayat 20
وَعَدَكُمُ ٱللَّهُ مَغَانِمَ كَثِيرَةً تَأۡخُذُونَهَا فَعَجَّلَ لَكُمۡ هَٰذِهِۦ وَكَفَّ أَيۡدِىَ ٱلنَّاسِ عَنكُمۡ وَلِتَكُونَ ءَايَةً لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَيَهۡدِيَكُمۡ صِرَٰطًا مُّسۡتَقِيمًا

Terjemahan: “Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan)mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mukmin dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus.

Tafsir Jalalain: وَعَدَكُمُ ٱللَّهُ مَغَانِمَ كَثِيرَةً تَأۡخُذُونَهَا (Allah menjanjikan kepada kalian harta rampasan yang banyak yang dapat kalian ambil) dari penaklukan-penaklukan فَعَجَّلَ لَكُمۡ هَٰذِهِۦ (maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untuk kalian) yang dimaksud adalah harta rampasan tanah Khaibar,

وَكَفَّ أَيۡدِىَ ٱلنَّاسِ عَنكُمۡ (dan Dia menahan tangan manusia dari kalian) yakni ulah mereka terhadap anak-anak dan istri-istri kalian sewaktu kalian berangkat berperang dan memang orang-orang Yahudi, sewaktu kalian keluar bermaksud untuk membinasakan mereka, akan tetapi Allah melemparkan ke dalam hati mereka rasa takut sehingga mereka tidak berani melakukannya وَلِتَكُونَ (dan agar hal itu) yakni harta rampasan yang disegerakan itu; lafal ayat ini diathafkan kepada lafal yang diperkirakan keberadaannya; yaitu lafal Litasykuruuhu yang artinya, supaya kalian bersyukur kepada-Nya ءَايَةً لِّلۡمُؤۡمِنِينَ (menjadi bukti bagi orang-orang mukmin) yang menunjukkan bahwa mereka mendapat pertolongan dari Allah وَيَهۡدِيَكُمۡ صِرَٰطًا مُّسۡتَقِيمًا (dan agar Dia menunjuki kalian kepada jalan yang lurus) yakni jalan untuk bertawakal dan menyerahkan segala sesuatu kepada Allah swt.

Tafsir Ibnu Katsir: Mengenai firman Allah: وَعَدَكُمُ ٱللَّهُ مَغَانِمَ كَثِيرَةً تَأۡخُذُونَهَا (“Allah menjanjikan kepadamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil.”) Mujahid mengatakan: “Yaitu seluruh harta rampasan yang berlaku sampai sekarang ini.” فَعَجَّلَ لَكُمۡ هَٰذِهِۦ (“Maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu.”) yaitu pembebasan Khaibar.

Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas mengenai ayat: فَعَجَّلَ لَكُمۡ هَٰذِهِۦ (“Maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu.”) yakni perjanjian Hudaibiyyah.

وَكَفَّ أَيۡدِىَ ٱلنَّاسِ عَنكُمۡ (“Dan Dia menahan tangan manusia dari [membinasakan]mu.”) maksudnya, Allah tidak akan menimpakan kepada kalian keburukan yang disembunyikan oleh musuh-musuh kalian, berupa peperangan dan pertempuran.

Demikian juga Allah telah menahan tangan-tangan orang-orang yang tidak ikut berperang yang berada jauh di belakang kalian dari mengganggu keluarga kalian dan juga istri-istri kalian. وَلِتَكُونَ ءَايَةً لِّلۡمُؤۡمِنِينَ (“Dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mukmin.”)

Maksudnya, agar yang demikian itu menjadikan pelajaran yang berharga, karena sesungguhnya Allah Ta’ala telah menjaga dan menolong mereka dari seluruh musuh mereka meskipun jumlah mereka sedikit. Dan supaya mereka mengetahui bagaimana Allah Ta’ala telah melakukan hal tersebut kepada mereka.

Dia Maha mengetahui akhir dari segala sesuatu, dan pilihan yang sudah Dia jatuhkan untuk hamba-hamba-Nya yang beriman, meskipun secara lahiriah, mereka tidak menyukainya. Sebagaimana yang Dia firmankan:(“Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu.”)(al-Baqarah: 216)

Firman-Nya: وَيَهۡدِيَكُمۡ صِرَٰطًا مُّسۡتَقِيمًا (“Dan agar Dia menunjukkanmu kepada jalan yang lurus.”) yakni disebabkan oleh ketundukan kalian pada perintah-Nya dan ketaatan kalian kepada-Nya serta kesediaan kalian mengikuti Rasul-Nya, Muhammad saw.

Tafsir Kemenag: Allah menjanjikan kemenangan dan harta rampasan yang banyak bagi kaum Muslimin dari orang-orang kafir secara berangsur-angsur pada masa yang akan datang. Allah akan segera memberikan kemenangan dan harta rampasan pada Perang Khaibar.

Allah juga menjamin dan menghentikan orang-orang Yahudi yang ada di Medinah untuk mengganggu dan merusak harta kaum Muslimin sewaktu mereka pergi ke Mekah dan ke Khaibar. Peristiwa-peristiwa tersebut hendaklah mereka syukuri dan dijadikan sebagai bukti atas kebenaran Nabi Muhammad sebagai rasul yang diutus Allah kepada manusia.

Allah membantu dan menolong kaum Muslimin dari ancaman dan serangan musuh-musuh, baik diketahui kedatangannya maupun yang tidak, dalam jumlah besar ataupun kecil. Allah membimbing kaum Muslimin menempuh jalan yang lurus dan diridai-Nya.

Menurut Ibnu Jarir, yang dimaksud dengan perkataan, “Allah menahan tangan manusia yang akan membinasakan Rasulullah dan kaum Muslimin” ialah keinginan dan usaha penduduk Khaibar dan kabilah-kabilah lain yang bersekutu dengan mereka, karena dalam hati mereka masih terdapat rasa dengki dan sakit hati. Kabilah yang bersekutu dengan penduduk Khaibar itu ialah kabilah Asad dan Gathafan.

Tafsir Quraish Shihab: Allah telah menjanjikan kalian harta rampasan yang banyak yang dapat kalian ambil pada waktu yang telah ditentukan. Lalu Dia menyegerakan harta rampasan yang telah dijanjikan untuk kalian itu, dan mencegah manusia untuk tidak membinasakan kalian.

Baca Juga:  Surah Al-Hajj Ayat 14; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Hal itu supaya menjadi bukti bagi orang-orang Mukmin akan kebenaran janji Allah kepada mereka, dan supaya Dia memberi kamu petunjuk kepada jalan yang lurus dengan menaati-Nya dan mengikuti Rasul-Nya. Allah juga menjanjikan harta rampasan yang lain yang belum dapat kalian raih. Dia telah menjaganya dan akan memberikannya kepada kalian. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Surah Al-Fath Ayat 21
وَأُخۡرَىٰ لَمۡ تَقۡدِرُواْ عَلَيۡهَا قَدۡ أَحَاطَ ٱللَّهُ بِهَا وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيرًا

Terjemahan: “Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukan-Nya. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Tafsir Jalalain: وَأُخۡرَىٰ لَمۡ (Dan harta-harta rampasan yang lain) lafal Ukhraa ini menjadi Sifat dari lafal yang diperkirakan keberadaannya yaitu Maghaanima yang berkedudukan menjadi Mubtada تَقۡدِرُواْ عَلَيۡهَا (yang kalian belum dapat menguasainya) yaitu harta rampasan dari negeri Persia dan negeri Romawi قَدۡ أَحَاطَ (yang sungguh Allah telah meliputinya) dengan ilmu-Nya bahwa semuanya kelak akan kalian raih. ٱللَّهُ بِهَا وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيرًا (Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu) yakni Dia terus menerus bersifat demikian.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: وَأُخۡرَىٰ لَمۡ تَقۡدِرُواْ عَلَيۡهَا قَدۡ أَحَاطَ ٱللَّهُ بِهَا وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيرًا (“Dan yang lain yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukan-Nya. Dan adalah Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”) yakni harta rampasan yang lain dan juga penaklukan kota-kota lain yang kalian tidak mampu melakukannya, dan Dia mudahkan hal itu untuk kalian.

Sesungguhnya Allah telah menguasakan semua itu kepada kalian, karena sesungguhnya Dia adalah Rabb Yang Mahatinggi yang memberikan rizki kepada orang-orang yang bertakwa kepada-Nya dari jalan yang tidak diduga-duga.

Tafsir Kemenag: Di samping kemenangan dan jaminan keamanan, Allah juga menjanjikan bahwa kaum Muslimin akan menaklukkan negeri-negeri lain yang belum dapat ditaklukkan. Negeri-negeri itu telah dipastikan Allah akan dapat dikuasai oleh kaum Muslimin dan dijaga dari kemungkinan untuk ditaklukkan oleh orang lain.

Kebenaran janji Allah itu terbukti di kemudian hari, dengan ditaklukkannya negeri-negeri di sekitar Jazirah Arab seperti Persia, dan sebagian kerajaan Romawi. Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa Dia mempunyai kekuasaan yang tidak dapat ditandingi oleh siapa pun, dan tidak ada sesuatu yang sukar bagi-Nya. Seakan-akan dengan ayat ini, Allah menyatakan bahwa memenangkan kaum Muslimin atas kaum kafir itu bukanlah suatu hal yang sukar bagi-Nya. Jika Dia menghendaki yang demikian, pasti terjadi.

Tafsir Quraish Shihab: Allah telah menjanjikan kalian harta rampasan yang banyak yang dapat kalian ambil pada waktu yang telah ditentukan. Lalu Dia menyegerakan harta rampasan yang telah dijanjikan untuk kalian itu, dan mencegah manusia untuk tidak membinasakan kalian.

Hal itu supaya menjadi bukti bagi orang-orang Mukmin akan kebenaran janji Allah kepada mereka, dan supaya Dia memberi kamu petunjuk kepada jalan yang lurus dengan menaati-Nya dan mengikuti Rasul-Nya.

Allah juga menjanjikan harta rampasan yang lain yang belum dapat kalian raih. Dia telah menjaganya dan akan memberikannya kepada kalian. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Surah Al-Fath Ayat 22
وَلَوۡ قَٰتَلَكُمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَوَلَّوُاْ ٱلۡأَدۡبَٰرَ ثُمَّ لَا يَجِدُونَ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

Terjemahan: “Dan sekiranya orang-orang kafir itu memerangi kamu pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah) kemudian mereka tiada memperoleh pelindung dan tidak (pula) penolong.

Tafsir Jalalain: وَلَوۡ قَٰتَلَكُمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ (Dan sekiranya orang-orang kafir itu memerangi kalian) sewaktu kalian di Hudaibiah لَوَلَّوُاْ ٱلۡأَدۡبَٰرَ ثُمَّ لَا يَجِدُونَ وَلِيًّا (pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang, kemudian mereka tiada memperoleh pelindung) yang dapat memelihara dan menjaga mereka وَلَا نَصِيرًا (dan tidak pula penolong.).

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: وَلَوۡ قَٰتَلَكُمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَوَلَّوُاْ ٱلۡأَدۡبَٰرَ ثُمَّ لَا يَجِدُونَ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا (“Dan sekiranya orang-orang kafir itu memerangimu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang [kalah] kemudian mereka tidak memperoleh pelindung dan tidak [pula] penolong.”)

Allah berfirman seraya memberi kabar gembira kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, bahwa jika mereka diperangi oleh orang-orang musyrik, niscaya Allah, Rasul-Nya dan hamba-hamba-Nya yang beriman akan memberikan pertolongan kepada mereka.

Dan pasukan orang-orang kafir itu pasti akan berlarian tanpa mendapatkan perlindungan dan juga penolong. Karena, mereka berjalan untuk Allah Ta’ala, Rasul-Nya, dan kelompok-Nya dari kalangan orang-orang yang beriman.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah memberikan kabar gembira kepada kaum Muslimin bahwa sekiranya orang-orang Quraisy menyerang kaum Muslimin di Hudaibiyyah, pasti Ia akan menolong mereka, dan menghancurkan pasukan musyrikin. Allah juga menyatakan bahwa kaum Muslimin akan dapat menaklukkan Mekah dalam waktu yang dekat.

Baca Juga:  Mempelajari Al-Qur'an tapi Dilaknat, Siapa Saja Mereka?

Hal itu tergambar dalam firman-Nya, “Hai kaum Muslimin, sekiranya orang-orang Mekah memerangimu dan tidak mau menerima Perjanjian Hudaibiyyah, pastilah Kami dapat mengalahkan mereka dan mereka akan mundur dan lari tunggang-langgang, karena tidak mempunyai pembantu dan pelindung yang akan membela mereka mempertahankan diri. Tetapi kamu, hai kaum Muslimin, mempunyai pembantu dan pelindung untuk memperoleh kemenangan.”.

Tafsir Quraish Shihab: Dan sekiranya orang-orang kafir Mekah memerangi kalian dan tidak mau berdamai dengan kalian, pastilah mereka akan lari dalam keadaan kalah karena takut kepada kalian. Kemudian mereka tiada memperoleh pelindung dan penolong yang dapat melindungi dan menolong mereka.

Surah Al-Fath Ayat 23
سُنَّةَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلُ وَلَن تَجِدَ لِسُنَّةِ ٱللَّهِ تَبۡدِيلًا

Terjemahan: “Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.

Tafsir Jalalain: سُنَّةَ ٱللَّهِ (Sebagai suatu sunatullah) lafal ayat ini adalah Mashdar yang berfungsi mengukuhkan makna jumlah kalimat sebelumnya, yaitu mengenai kalahnya orang-orang kafir dan ditolong-Nya orang-orang mukmin. Maksudnya yang demikian itu merupakan suatu sunatullah ٱلَّتِى قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلُ وَلَن تَجِدَ لِسُنَّةِ ٱللَّهِ تَبۡدِيلً (yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan bagi sunatullah itu) sebagai ganti darinya.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah berfirman: سُنَّةَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلُ وَلَن تَجِدَ لِسُنَّةِ ٱللَّهِ تَبۡدِيلًا (“Sebagai suatu sunatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-sekali tidak akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.”) maksudnya, hal itu merupakan sunnah dan kebiasaan Allah Ta’ala terhadap semua makhluk-Nya.

Kekufuran dan keimanan itu tidak akan pernah bertemu dalam satu tempat, melainkan Allah pasti akan memberikan pertolongan terhadap keimanan dan mengalahkan kekufuran. Dan Dia akan mengangkat kebenaran dan menjatuhkan kebathilan.

Sebagaimana yang dilakukan Allah Ta’ala saat terjadi perang Badar terhadap para wali-Nya dari kalangan orang-orang mukmin dan pertolongan yang Dia berikan kepada mereka dalam melawan musuh-musuh-Nya dari kalangan kaum musyrikin, meskipun jumlah kaum muslimin sedikit dan kaum musyrikin berjumlah sangat banyak.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menegaskan bahwa memenangkan keimanan atas kekafiran dan menghapus yang batil dengan yang hak telah menjadi sunah (hukum) Allah yang berlaku bagi seluruh makhluk ciptaan-Nya sejak dahulu sampai sekarang, dan untuk masa yang akan datang. Tidak ada satu pun dari makhluk yang ada di alam semesta ini yang dapat mengubah sunah-Nya itu.

Tafsir Quraish Shihab: Allah telah menetapkan ketentuan yang berlaku sejak dahulu bagi makhluk-Nya yaitu bahwa kemenangan itu adalah untuk Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin. Dan sekali-kali kamu tidak akan mendapatkan perubahan dalam ketentuan (sunnatullah) itu.

Surah Al-Fath Ayat 24
وَهُوَ ٱلَّذِى كَفَّ أَيۡدِيَهُمۡ عَنكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ عَنۡهُم بِبَطۡنِ مَكَّةَ مِنۢ بَعۡدِ أَنۡ أَظۡفَرَكُمۡ عَلَيۡهِمۡ وَكَانَ ٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرًا

Terjemahan: “Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Mekah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka, dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Tafsir Jalalain: وَهُوَ ٱلَّذِى كَفَّ أَيۡدِيَهُمۡ عَنكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ عَنۡهُم بِبَطۡنِ مَكَّةَ (Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari kalian dan tangan kalian dari mereka di lembah Mekah) yakni di Hudaibiah مِنۢ بَعۡدِ أَنۡ أَظۡفَرَكُمۡ عَلَيۡهِمۡ (sesudah Allah memenangkan kalian atas mereka) karena sesungguhnya delapan puluh orang lelaki dari kalangan mereka mengelilingi perkemahan kalian dengan tujuan untuk menyergap kalian, tetapi akhirnya mereka dapat dilumpuhkan dan mereka dihadapkan kepada Rasulullah saw. maka ia memberi maaf kepada mereka lalu dilepaskannya mereka dengan bebas.

Hal ini merupakan penyebab adanya perjanjian gencatan senjata وَكَانَ ٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرًا (dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.) Lafal Ta’maluuna dapat dibaca Ya’maluuna, kalau dibaca Ya’maluuna maka artinya, “Dan adalah Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” Maksud ungkapan ayat ini ialah bahwa Allah masih tetap bersifat demikian.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَهُوَ ٱلَّذِى كَفَّ أَيۡدِيَهُمۡ عَنكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ عَنۡهُم بِبَطۡنِ مَكَّةَ مِنۢ بَعۡدِ أَنۡ أَظۡفَرَكُمۡ عَلَيۡهِمۡ وَكَانَ ٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرًا (“dan Dia-lah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Mekah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka, dan adalah Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.”)

Hal itu merupakan anugerah yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman ketika Dia menahan tangan orang-orang musyrik dari mereka, sehingga mereka tidak dapat melukai atau mencelakai mereka sedikitpun, dan Dia juga menahan tangan orang-orang mukmin dari kaum musyrikin, sehingga mereka tidak memerangi kaum musyrikin itu di Masjidil Haram, tetapi masing-masing dari keduanya saling menjaga dan saling mengadakan perdamaian. Semua itu mengandung kebaikan bagi kaum muslimin dan kesudahan yang baik berada di tangan mereka, baik di dunia maupun di akhirat.

Baca Juga:  Surah Hud Ayat 100-101; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik, ia bercerita: “Pada saat terjadi perjanjian Hudaibiyyah, ada 80 orang laki-laki dari penduduk Makkah yang turun menemui Rasulullah saw. dan para sahabatnya dengan membawa senjata. Mereka turun dari bukit Tan’im mencari kelengahan Rasulullah saw. kemudian beliau mendoakan keburukan bagi mereka hingga mereka ditahan.” ‘Affan berkata:

“Kemudian Rasulullah memaafkan mereka, hingga turunlah ayat: وَهُوَ ٱلَّذِى كَفَّ أَيۡدِيَهُمۡ عَنكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ عَنۡهُم بِبَطۡنِ مَكَّةَ مِنۢ بَعۡدِ أَنۡ أَظۡفَرَكُمۡ عَلَيۡهِمۡ (“dan Dia-lah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Mekah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka.”) demikian hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud di dalam Sunan-nya, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i di dalam bab tafsir di kitab Sunan keduanya, melalui beberapa jalan dari Hammad bin Salamah.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mughaffal al-Muzani, ia bercerita: “Kami pernah bersama Rasulullah saw. berada di pokok pohon yang disebut Allah Ta’ala di dalam al-Qur’an. Dahan-dahan pohon itu berada di atas punggung beliau dan ‘Ali bin Abi Thalib serta Suhail bin ‘Amr berada di hadapan beliau. Lalu Rasulullah saw. bersabda kepada ‘Ali:

‘Tulislah: bismillaaHir rahmaanir rahiim [dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang].” Kemudian Suhail menarik kertas perjanjian itu dengan tangannya dan mengatakan: ‘Kami tidak memahami ar-Rahmaan ar-Rahiim, tulislah yang bisa kami mengerti.’ Maka Rasulullah berkata: ‘Tulis saja:

Dengan Nama-Mu, ya Allah.’ Dan tulislah: Ini adalah perjanjian perdamaian yang ditetapkan oleh Muhammad Rasulullah, untuk penduduk Makkah.’ Kemudian Suhail bin ‘Amr menahan dengan tangannya dan berkata: ‘Sesungguhnya kami tidak mendzalimi dirimu. Seandainya engkau adalah utusan-Nya tulislah yang kami mengerti.’ Maka Rasulullah berkata: ‘Tulislah: Inilah perjanjian damai yang telah ditetapkan oleh Muhammad bin ‘Abdillah.’”

Ketika kami tengah seperti itu, tiba-tiba datanglah 30 orang yang menyandang senjata, lalu mereka menyerang kami, maka Rasulullah mendoakan keburukan bagi mereka, lalu kami bangkit dan menangkap mereka. Rasulullah saw. bersabda:

“Apakah kalian datang dalam jaminan perlindungan seseorang, atau adakah seseorang yang memberikan jaminan keamanan bagi kalian?” mereka menjawab: ‘Tidak.’ Kemudian Rasulullah membebaskan mereka, hingga Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:

وَهُوَ ٱلَّذِى كَفَّ أَيۡدِيَهُمۡ عَنكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ عَنۡهُم بِبَطۡنِ مَكَّةَ مِنۢ بَعۡدِ أَنۡ أَظۡفَرَكُمۡ عَلَيۡهِمۡ (“Dan Dia-lah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Mekah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka.”) demikian hadits yang diriwayatkan oleh an-Nasa-i dari hadits Husain bin Waqid.

Tafsir Kemenag: Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, ‘Abd bin humaid, Muslim, Abu Dawud, dan an-Nasa’i, dari Anas bin Malik, bahwa ia berkata, “Pada Perang Hudaibiyyah, 80 orang musyrik Mekah dengan bersenjata lengkap telah menyerbu perkemahan Rasulullah dan para sahabat dari bukit Tan’im. Berkat doa Rasulullah saw, serangan itu dapat dipatahkan dan semua penyerbu itu dapat ditawan. Kemudian Rasulullah saw membebaskan dan memaafkan mereka maka turunlah ayat ini.”

Allah yang menahan dan menghambat serbuan orang-orang musyrik yang menyerbu perkemahan Rasulullah di Hudaibiyyah dan Allah pula yang menjanjikan kemenangan bagi Rasulullah saw dan kaum Muslimin.

Kemudian Dia pula yang menimbulkan dalam hati Rasulullah saw rasa iba dan kasih sayang sehingga beliau membebaskan orang-orang kafir yang ditawan. Tidak seorang pun di antara mereka yang dibunuh, sekalipun kaum Muslimin telah berhasil memperoleh kemenangan.

Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa Dia Maha Mengetahui semua yang dikerjakan oleh makhluk-Nya, tidak ada suatu apa pun yang tersembunyi bagi-Nya. Oleh karena itu, Dia akan memberi balasan segala amal perbuatan mereka dengan balasan yang setimpal dan adil.

Tafsir Quraish Shihab: Hanya Allah yang menahan tangan orang-orang kafir untuk membinasakan kalian dan, hanya Dialah yang menahan tangan kalian untuk memerangi mereka di tengah kota Mekah sesudah Dia memenangkan kalian atas mereka. Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Fath Ayat 20-24 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S