Surah Al-Furqan Ayat 7-14; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Furqan Ayat 7-14

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Furqan Ayat 7-14 ini, menjelaskan Orang-orang kafir mengatakan bahwa tidak mungkin Muhammad itu menjadi Rasul karena tidak terdapat padanya tanda-tanda bahwa dia diangkat menjadi Rasul.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dia hanyalah orang biasa seperti mereka bahkan jika dilihat bagaimana kehidupannya tambah nyatalah bahwa dia berbohong mendakwahkan dirinya sebagai Rasul karena dia sama dengan mereka bahkan sebagai manusia dia lebih rendah kedudukannya dan lebih miskin dari mereka.

Allah menyuruh Nabi dan umatnya memperhatikan kecaman-kecaman yang dikemukakan oleh orang-orang kafir itu. Dengan memperhatikan kecaman-kecaman itu nampak jelas bahwa mereka telah kehabisan alasan dan keterangan untuk menolak seruan Nabi Muhammad kepada tauhid dan meninggalkan sembahan-sembahan mereka yang menyesatkan itu.

Kemudian Allah menegaskan lagi bahwa orang-orang kafir itu telah jauh tersesat dari jalan yang benar, bahkan mereka mendustakan pula datangnya hari Kiamat, hari pembalasan di mana semua amal perbuatan manusia dibalas dengan adil.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Furqan Ayat 7-14

Surah Al-Furqan Ayat 7
وَقَالُوا مَالِ هَذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ لَوْلَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ مَعَهُ نَذِيرًا

Terjemahan: Dan mereka berkata: “Mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia?,

Tafsir Jalalain: وَقَالُوا مَالِ هَذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ لَوْلَا (Dan mereka berkata, “Mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak) لَوْلَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ مَعَهُ نَذِيرًا (diturunkan kepadanya Malaikat, agar Malaikat itu memberikan peringatan bersama dengan dia?) maksudnya yang membenarkan kerasulannya.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala mengabarkan tentang penolakan dan pembangkangan orang-orang kafir serta pendustaan mereka terhadap kebenaran tanpa fakta dan dalil yang mereka ajukan. Mereka hanya beralasan dengan komentar mereka:

مَالِ هَذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ (“Mengapa rasul itu memakan makanan”) seperti kita makan dan butuh seperti kita butuh; وَيَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ (“dan berjalan di pasar-pasar?”) yaitu berlalu lalang di dalamnya, guna mencari usaha dan perdagangan. لَوْلَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ مَعَهُ نَذِيرًا (“Mengapa tidak diturunkan kepadanya satu Malaikat agar Malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia.”)

Mereka mengatakan: “Apakah tidak diturunkan kepadanya satu malaikat dari sisi Allah agar menjadi saksi tentang kejujuran apa yang diserunya.” Hal ini sebagaimana yang dikatakan Fir’aun: “Mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang dari emas atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringinya?” (az-Zukhruf: 53).

Tafsir Kemenag: Orang-orang kafir mengatakan bahwa tidak mungkin Muhammad itu menjadi Rasul karena tidak terdapat padanya tanda-tanda bahwa dia diangkat menjadi Rasul. Dia hanyalah orang biasa seperti mereka bahkan jika dilihat bagaimana kehidupannya tambah nyatalah bahwa dia berbohong mendakwahkan dirinya sebagai Rasul karena dia sama dengan mereka bahkan sebagai manusia dia lebih rendah kedudukannya dan lebih miskin dari mereka. Kritik-kritik itu dapat disimpulkan, sebagai berikut:

  1. Mereka berkata, “Kenapa Muhammad itu makan minum juga seperti manusia biasa dan tidak ada kelebihannya sedikit pun dari kita, tidak akan mungkin dia berhubungan dengan Tuhan. Orang yang dapat berhubungan dengan Tuhan hanya orang-orang yang jiwanya suci dan tinggi sehingga tidak mementingkan makan dan minum lagi.”
  2. Mengapa tidak diturunkan malaikat bersamanya yang dapat menjadi bukti bagi kerasulannya dan membantunya dalam memberi peringatan dan petunjuk kepada manusia.
  3. Mengapa Muhammad itu pergi ke pasar untuk mencari nafkah hidupnya seperti orang biasa? Di mana letak kelebihannya sehingga ia diangkat Allah sebagai Rasul.
  4. Mengapa Allah tidak menurunkan saja kepadanya perbendaharaan dari langit agar dia dapat menumpahkan seluruh perhatiannya kepada dakwah untuk menyebarkan agamanya, sehingga dia tidak perlu lagi pergi ke pasar melakukan jual beli untuk mencari nafkah hidupnya.
  5. Atau kenapa tidak diberikan kepadanya kebun yang luas yang hasilnya dapat menutupi kebutuhannya.

Setelah mereka berputus asa karena semua tawaran mereka ditolak oleh Muhammad tidak ada jalan lain bagi mereka kecuali menuduhnya sebagai orang yang kena sihir sehingg tidak dapat lagi membedakan antara yang baik dan yang buruk. Menurut mereka orang-orang seperti itu tidaklah pantas untuk dipercaya apalagi untuk diangkat Allah sebagai Nabi.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka menghina Muhammad dengan mengatakan, “Keistimewaan apa yang membedakan orang yang mengaku dirinya sebagai rasul, padahal dia memakan makanan seperti kita dan berjalan di pasar-pasar untuk mencari penghidupan seperti yang dilakukan manusia lainnya? Kalau dia betul-betul seorang rasul, tentunya Allah akan mencukupi semua itu.

Dan tentunya juga dia meminta kepada Tuhannya agar menurunkan seorang malaikat yang akan membantunya memberi peringatan dan bermenyampaikan risalah. Malaikat itu nantinya akan membenarkan dia sehingga kami dapat mempercayainya.

Surah Al-Furqan Ayat 8
أَوْ يُلْقَى إِلَيْهِ كَنزٌ أَوْ تَكُونُ لَهُ جَنَّةٌ يَأْكُلُ مِنْهَا وَقَالَ الظَّالِمُونَ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلًا مَّسْحُورًا

Terjemahan: atau (mengapa tidak) diturunkan kepadanya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil)nya?” Dan orang-orang yang zalim itu berkata: “Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir”.

Tafsir Jalalain: أَوْ يُلْقَى إِلَيْهِ كَنزٌ (Atau mengapa tidak diturunkan kepadanya perbendaharaan) dari langit yang kemudian ia membelanjakannya, sehingga ia tidak usah berjalan-jalan di pasar lagi untuk mencari penghidupan أَوْ تَكُونُ لَهُ جَنَّةٌ (atau mengapa tidak ada kebun baginya) yaitu ladang yang menjadi miliknya يَأْكُلُ مِنْهَا (yang dapat dia makan dari hasilnya”) buah-buahannya, sehingga hal itu menjadi kecukupan baginya. Menurut qiraat yang lain dibaca Na’kulu Minhaa, artinya; yang kami dapat ikut makan dari kebunnya. Maksudnya, supaya memiliki kelebihan di atas kami.

وَقَالَ الظَّالِمُونَ (Dan orang-orang yang zalim itu berkata:) orang-orang kafir itu kepada orang-orang Mukmin, إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلًا مَّسْحُورًا (“Tidak lain kamu sekalian hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir”) orang yang akalnya tidak waras karena pengaruh sihir. Maka Allah berfirman pada ayat selanjutnya:.

Tafsir Ibnu Katsir: Sebagaimana mereka berkata dengan ucapan yang sama, maka sama pulalah hati mereka. untuk itu, mereka mengatakan: أَوْ يُلْقَى إِلَيْهِ كَنزٌ (“Atau mengapa tidak diturunkan kepadanya perbendaharaan”) yaitu pengetahuan tentang harta yang terpendam yang dapat dimanfaatkan.

Baca Juga:  Surah Al-Hadid Ayat 7-11; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

أَوْ تَكُونُ لَهُ جَنَّةٌ يَأْكُلُ مِنْهَا (“atau ada kebun baginya yang dia dapat makan dari [hasil]nya.”) yaitu dia [Malaikat] berjalan bersamanya ke mana saja ia menuju. Melakukan semua itu sangatlah mudah dan ringan bagi Allah swt. Akan tetapi Dia memiliki hikmah dengan tidak melakukan apa yang mereka tuntut [katakan] itu serta Allah memiliki hujjah yang kuat. وَقَالَ الظَّالِمُونَ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلًا مَّسْحُورًا (“Dan orang-orang yang dhalim itu berkata: ‘Kalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir.’”)

Tafsir Kemenag: Orang-orang kafir mengatakan bahwa tidak mungkin Muhammad itu menjadi Rasul karena tidak terdapat padanya tanda-tanda bahwa dia diangkat menjadi Rasul. Dia hanyalah orang biasa seperti mereka bahkan jika dilihat bagaimana kehidupannya tambah nyatalah bahwa dia berbohong mendakwahkan dirinya sebagai Rasul karena dia sama dengan mereka bahkan sebagai manusia dia lebih rendah kedudukannya dan lebih miskin dari mereka. Kritik-kritik itu dapat disimpulkan, sebagai berikut:

  1. Mereka berkata, “Kenapa Muhammad itu makan minum juga seperti manusia biasa dan tidak ada kelebihannya sedikit pun dari kita, tidak akan mungkin dia berhubungan dengan Tuhan. Orang yang dapat berhubungan dengan Tuhan hanya orang-orang yang jiwanya suci dan tinggi sehingga tidak mementingkan makan dan minum lagi.”
  2. Mengapa tidak diturunkan malaikat bersamanya yang dapat menjadi bukti bagi kerasulannya dan membantunya dalam memberi peringatan dan petunjuk kepada manusia.
  3. Mengapa Muhammad itu pergi ke pasar untuk mencari nafkah hidupnya seperti orang biasa? Di mana letak kelebihannya sehingga ia diangkat Allah sebagai Rasul.
  4. Mengapa Allah tidak menurunkan saja kepadanya perbendaharaan dari langit agar dia dapat menumpahkan seluruh perhatiannya kepada dakwah untuk menyebarkan agamanya, sehingga dia tidak perlu lagi pergi ke pasar melakukan jual beli untuk mencari nafkah hidupnya.
  5. Atau kenapa tidak diberikan kepadanya kebun yang luas yang hasilnya dapat menutupi kebutuhannya.

Setelah mereka berputus asa karena semua tawaran mereka ditolak oleh Muhammad tidak ada jalan lain bagi mereka kecuali menuduhnya sebagai orang yang kena sihir sehingg tidak dapat lagi membedakan antara yang baik dan yang buruk. Menurut mereka orang-orang seperti itu tidaklah pantas untuk dipercaya apalagi untuk diangkat Allah sebagai Nabi.

Tafsir Quraish Shihab: Mengapa dia tidak meminta agar dicukupkan–ketimbang pulang pergi–dengan diberikan perbendaharaan dari langit, sehingga dia dapat memenuhi keperluannya dari situ? Atau, tidakkah dia meminta diberikan sebuah kebun sehingga dia dapat memetik buah-buahannya?”

Para pembesar dari orang-orang kafir yang menzalimi diri mereka dengan kekafiran, menghalangi manusia dari beriman kepada Muhammad dan berusaha membuat ragu orang muslim, berkata, “Kalian tidak lain hanya mengikuti orang yang tersihir akalnya. Dia telah berkata melantur yang tidak ada kebenarannya sama sekali.”

Surah Al-Furqan Ayat 9
انظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الْأَمْثَالَ فَضَلُّوا فَلَا يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلًا

Terjemahan: Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat perbandingan-perbandingan tentang kamu, lalu sesatlah mereka, mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan (untuk menentang kerasulanmu).

Tafsir Jalalain: انظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الْأَمْثَالَ (Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan tentang kamu) dengan julukan sebagai orang yang kena pengaruh sihir, orang yang membutuhkan nafkah, orang yang harus ditemani oleh Malaikat yang bersama-sama menyampaikan tugasnya.

فَضَلُّوا (lalu sesatlah mereka) dari petunjuk disebabkan ucapannya itu فَلَا يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلًا (mereka tidak sanggup mendapatkan jalan untuk menentang kerasulannya) maksudnya mereka tidak akan dapat menemukan jalan untuk menentangnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: انظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الْأَمْثَالَ فَضَلُّوا (“Perhatikanlah bagaimana mereka membuat perbandingan-perbandingan tentangmu, lalu sesatlah mereka.”) yaitu mereka datang dengan melontarkan tuduhan-tuduhan kepadamu dan mereka pun mendustakanmu dengan ucapan mereka, “[Engkau] tukang sihir, terkena sihir, gila, pendusta dan tukang sya’ir.”

فَضَلُّوا (“lalu sesatlah mereka”) dari jalan petunjuk, فَلَا يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلًا (“Mereka tak sanggup mendapatkan jalan”) hal itu disebabkan setiap orang yang keluar dari kebenaran dan jalan petunjuk, maka berarti ia sesat ke mana saja ia menuju. Karena kebenaran itu satu dan manhaj [metode]nya satu yang sebagiannya membenarkan bagian yang lain.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menyuruh Nabi dan umatnya memperhatikan kecaman-kecaman yang dikemukakan oleh orang-orang kafir itu. Dengan memperhatikan kecaman-kecaman itu nampak jelas bahwa mereka telah kehabisan alasan dan keterangan untuk menolak seruan Nabi Muhammad kepada tauhid dan meninggalkan sembahan-sembahan mereka yang menyesatkan itu.

Mereka tidak sanggup menolak alasan-alasan dan bukti-bukti yang dikemukakan oleh Nabi Muhammad berupa ayat-ayat Al-Qur’an dan lainnya. Mereka tidak sanggup menjawab tantangan membuat satu surah saja yang sama nilainya dengan satu surah dalam Al-Qur’an, baik dari segi isi, makna maupun sastranya. Oleh sebab itu mereka mengalihkan kecaman mereka kepada pribadi Nabi Muhammad sendiri.

Hal itu banyak terjadi pada orang-orang yang telah dikalahkan hujjahnya. Oleh sebab itu Allah tidak langsung menjawab kecaman-kecaman itu dan menyuruh memperlihatkannya agar jelas bagi semua orang bahwa mereka itu telah terlempar ke sudut karena mereka memang telah sesat dari jalan yang benar.

Tafsir Quraish Shihab: Perhatikanlah, wahai Nabi, bagaimana mereka telah membuat perumpamaan-perumpamaan yang ditujukan kepadamu. Mereka mengumpamakan kamu seperti orang yang tersihir, orang gila, pembohong dan, dalam kesempatan lain, mereka mengatakan bahwa kamu telah mempelajari Alquran dari orang-orang non Arab (asing). Dengan begitu sesungguhnya mereka telah sesat dari jalan kebenaran dan bukti- bukti yang benar sehingga tidak menemukan keduanya.

Surah Al-Furqan Ayat 10
تَبَارَكَ الَّذِي إِن شَاءَ جَعَلَ لَكَ خَيْرًا مِّن ذَلِكَ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَيَجْعَل لَّكَ قُصُورًا

Terjemahan: Maha Suci (Allah) yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikan-Nya bagimu yang lebih baik dari yang demikian, (yaitu) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan dijadikan-Nya (pula) untukmu istana-istana.

Baca Juga:  Surah Az-Zumar Ayat 68-70; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Jalalain: تَبَارَكَ (Maha Agung Allah) Maha Kaya akan kebaikan إِن شَاءَ جَعَلَ لَكَ خَيْرًا مِّن ذَلِكَ (yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikan-Nya bagimu yang lebih baik dari yang demikian) yakni lebih baik daripada perbendaharaan harta dan kebun yang mereka mintakan di dunia ini جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ (yaitu surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai) karena Dia telah menjanjikan akan memberikan kepadanya nanti di akhirat.

وَيَجْعَل (dan dijadikan-Nya pula) lafal ayat ini dibaca Jazm لَّكَ قُصُورًا (untukmu istana-istana) dan menurut qiraat yang lain, lafal Yaj’al dibaca Yaj’alu sehingga kedudukannya menjadi kalimat Isti’naf, atau kalimat baru.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah berfirman mengabarkan kepada Nabinya, bahwa jika Dia menghendaki, niscaya Dia akan memberinya kebaikan dari apa yang mereka katakan di dunia dengan sesuatu yang lebih utama dan lebih baik.

Dia berfirman: تَبَارَكَ الَّذِي إِن شَاءَ جَعَلَ لَكَ خَيْرًا مِّن ذَلِكَ (“Mahasuci [Allah] yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikan-Nya bagimu lebih baik dari yang demikian.”) Mujahid berkata: “Yaitu di dunia.” Mujahid melanjutkan: “Orang-orang Quraisy menamakan setiap rumah yang terbuat dari batu dengan Qashr [istana], baik besar atau pun kecil.”

Tafsir Kemenag: Sebagai hiburan kepada Nabi yang selalu dihina dan direndahkan oleh orang-orang kafir itu, Allah menjelaskan bahwa kalau Dia menghendaki, niscaya Dia akan memberikan kepadanya kebun-kebun yang lebih baik dari yang diminta oleh orang-orang kafir itu dan akan memberikan pula istana-istana yang paling megah dan indah. Hal itu amat mudah bagi Allah tetapi bukan demikian yang dikehendaki-Nya.

Allah menghendaki agar Rasul pembawa risalah-Nya sebagai manusia biasa yang menjadi ikutan dan teladan bagi umatnya dalam memperjuangkan suatu cita-cita, memperjuangkan kebenaran dan meninggikan kalimat Allah.

Di samping perjuangan yang amat berat itu Nabi harus pula memikirkan keperluan dan hajat pribadinya. Begitulah seharusnya seorang Rasul yang akan menjadi contoh dan teladan. Kalaulah Nabi Muhammad itu seorang kaya mempunyai kebun-kebun dan istana serta perbendaharaan yang berlimpah-limpah tentulah tidak akan sebesar itu nilai perjuangannya dan tentulah tidak akan dapat dicontoh oleh pengikut-pengikutnya di belakang hari.

Apa arti istana, apa arti kebun-kebun dan apa arti perbendaharaan yang berlimpah-limpah bila seorang berhadapan dengan Khaliknya Yang Mahakuasa, Mahakaya dan Maha Perkasa? Demikianlah Nabi Muhammad rida dengan keadaannya. meskipun miskin, lemah dan menerima berbagai hinaan dan cemoohan kaumnya, tetapi dia senang dan bahagia karena dia mengemban tugas suci dari Tuhannya.

Pernah beliau berkata, “Ya Tuhanku apapun yang terjadi pada diriku dan bagaimana pun beratnya penderitaanku tetapi aku tetap bahagia selama Engkau rida terhadapku.”.

Tafsir Quraish Shihab: Mahasuci Allah dan Mahaberkah kebaikan-Nya. Dialah yang, jika menghendaki, akan memberimu di dunia sesuatu yang lebih baik dari yang mereka usulkan. Dia akan menyediakan bagimu seperti yang telah dijanjikan untukmu di akhirat. Yaitu kebun-kebun yang banyak yang dialiri sungai-sungai dari celah-celah pepohonannya. Dia juga akan memberimu istana-istana yang megah.

Surah Al-Furqan Ayat 11
بَلْ كَذَّبُوا بِالسَّاعَةِ وَأَعْتَدْنَا لِمَن كَذَّبَ بِالسَّاعَةِ سَعِيرًا

Terjemahan: Bahkan mereka mendustakan hari kiamat. Dan kami menyediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan hari kiamat.

Tafsir Jalalain: بَلْ كَذَّبُوا بِالسَّاعَةِ (Bahkan mereka mendustakan hari kiamat) hari terakhir yang tiada hari lagi sesudahnya. وَأَعْتَدْنَا لِمَن كَذَّبَ بِالسَّاعَةِ سَعِيرًا (Dan Kami menyediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan hari kiamat) neraka yang apinya menyala-nyala dengan nyala yang besar.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: بَلْ كَذَّبُوا بِالسَّاعَةِ (“Bahkan mereka mendustakan hari kiamat”) yaitu mereka mengatakan demikian itu hanya untuk mendustakan dan menentang, bukan dalam rangka mencari penjelasan dan petunjuk. Bahkan kedustaan mereka terhadap hari kiamatlah yang membawa mereka berkomentar seperti ini.

وَأَعْتَدْنَا (“dan Kami menyediakan”) yaitu Kami persiapkan, لِمَن كَذَّبَ بِالسَّاعَةِ سَعِيرًا (“bagi siapa yang mendustakan hari kiamat, neraka Sa’ir”) yaitu adzab pedih dan panas yang sulit untuk ditanggung di neraka jahanam.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menegaskan lagi bahwa orang-orang kafir itu telah jauh tersesat dari jalan yang benar, bahkan mereka mendustakan pula datangnya hari Kiamat, hari pembalasan di mana semua amal perbuatan manusia dibalas dengan adil.

Perbuatan baik dibalas dengan pahala yang berlipat ganda, perbuatan jahat dibalas dengan azab yang pedih. Mereka mendustakan hari Kiamat itu agar mereka berbuat sewenang-wenang terhadap kaum yang lemah, bersimaharajalah melakukan kezaliman, oleh sebab itu Allah mengancam mereka dengan api neraka yang menyala-nyala akibat keingkaran dan kedurhakaan mereka, akibat perbuatan jahat mereka di dunia.

Tafsir Quraish Shihab: Sebenarnya mereka itu mengingkari semua ayat. Sebab mereka telah mendustakan kebangkitan dan hari kiamat.
Untuk itu mereka beralasan dengan mengajukan permintaan-permintaan semacam itu agar dapat memalingkan manusia kepada kepalsuan mereka. Bagi orang yang mendustakan hari kiamat, Kami telah menyiapkan neraka yang menyala-nyala.

Surah Al-Furqan Ayat 12
إِذَا رَأَتْهُم مِّن مَّكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا

Terjemahan: Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya.

Tafsir Jalalain: إِذَا رَأَتْهُم مِّن مَّكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا (Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya) yakni suara mendidihnya seperti halnya orang yang sedang marah وَزَفِيرًا (dan suara nyalanya) suara yang keras sekali dari nyala apinya. Atau makna yang dimaksud adalah jika orang-orang tersebut melihat neraka sekalipun dari tempat yang jauh, mereka akan mendengar suara gemuruh dan nyala apinya.

Tafsir Ibnu Katsir: إِذَا رَأَتْهُم (“apabila neraka melihat mereka”) yaitu Jahanam, مِّن مَّكَانٍ بَعِيدٍ (“dari tempat yang jauh”) yaitu di padang Mahsyar, سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا (“mereka mendengar kegeraman dan suara nyalanya”) artinya, menggeram kepada mereka.

Tafsir Kemenag: Apabila orang-orang kafir itu telah digiring ke neraka, seakan-akan neraka melihat mereka dari jauh, terdengarlah suaranya yang gemuruh karena kemarahan melihat orang-orang kafir itu, seakan-akan neraka itu seekor singa yang lapar melihat mangsanya mendekatinya.

Baca Juga:  Surah Yusuf Ayat 101; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Ibnu Munzir dan Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Ubaid bin Umair berkata, “Sesungguhnya Jahanam itu bergemuruh suaranya sehingga para malaikat dan nabi-nabi gemetar persendiannya mendengar suara itu, sehingga Nabi Ibrahim jatuh berlutut dan berkata, “Ya Tuhanku tidak ada yang aku mohonkan hari ini kecuali keselamatan diriku.”

Dapatlah dibayangkan bagaimana seramnya keadaan di waktu itu dan bagaimana dahsyatnya siksa yang akan diterima oleh mereka dan bagaimana beratnya penderitaan yang akan mereka rasakan pada waktu itu.

Tafsir Quraish Shihab: Apabila mereka melihat neraka, dan neraka itu melihat mereka dari kejauhan, meraka mendengar desisan apinya yang menyala-nyala, yang siap membinasakan mereka. Perumamaannya seperti nafas yang keluar tersengal-sengal dari dada seseorang yang marah sebagai tanda kesusahan.

Surah Al-Furqan Ayat 13
وَإِذَا أُلْقُوا مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُّقَرَّنِينَ دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُورًا

Terjemahan: Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan.

Tafsir Jalalain: وَإِذَا أُلْقُوا مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا (Dan apabila mereka dicampakkan ke tempat yang sempit di neraka itu) dapat dibaca Dhayyiqan dengan memakai harakat Tasydid pada huruf Ya, dapat pula dibaca Takhfif atau tanpa Tasydid sehingga bacaannya menjadi Dhayqan, maksudnya neraka itu menghimpit mereka. Lafal Minhaa berkedudukan menjadi Hal dari lafal Makaanan, karena pada asalnya ia adalah kata sifat baginya مُّقَرَّنِينَ (dengan dibelenggu) yakni tangan dan leher mereka dibelenggu menjadi satu; harakat Tasydid yang ada pada lafal Muqarraniina menunjukkan makna Taktsir atau banyak دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُورًا (mereka di sana mengharapkan kebinasaan) maksudnya mereka ingin mati saja karena pedihnya siksaan. Dikatakan oleh Allah swt. kepada mereka,.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: وَإِذَا أُلْقُوا مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُّقَرَّنِينَ (“Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit dengan dibelenggu”) Qatadah berkata dari Abu Ayyub bahwa ‘Abdullah bin ‘Amr berkata: “Seperti ujung tombak, maksudnya sangat sempit.”

Firman-Nya: مُّقَرَّنِينَ; Abu Shalih berkata: “Yaitu terbelenggu”, دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُورًا (“Mereka di sana mengharapkan kebinasaan.”) yaitu kecelakaan, kerugian dan keburukan.

Tafsir Kemenag: Bila mereka dilemparkan ke suatu tempat yang sempit di neraka itu dengan tangan terbelenggu di sanalah mereka akan berseru “Celakalah aku! Kenapa aku dahulu mengacuhkan petunjuk yang diturunkan Allah dengan perantaraan Rasul-Nya, kenapa aku membantah dan menolaknya benar-benar aku ini seorang yang celaka.”.

Tafsir Quraish Shihab: Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka–sesuai dengan kejahatan mereka–dalam keadaan tangan terbelenggu di leher, di sana mereka berteriak meminta segera dibinasakan agar cepat terbebas dari pedihnya azab.

Surah Al-Furqan Ayat 14
لَّا تَدْعُوا الْيَوْمَ ثُبُورًا وَاحِدًا وَادْعُوا ثُبُورًا كَثِيرًا

Terjemahan: (Akan dikatakan kepada mereka): “Jangan kamu sekalian mengharapkan satu kebinasaan, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak”.

Tafsir Jalalain: لَّا تَدْعُوا الْيَوْمَ ثُبُورًا وَاحِدًا وَادْعُوا ثُبُورًا كَثِيرًا (“Janganlah kamu sekalian mengharapkan satu kebinasaan, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak”) sesuai dengan azab yang menimpa kalian ini.

Tafsir Ibnu Katsir: لَّا تَدْعُوا الْيَوْمَ ثُبُورًا وَاحِدًا (“Janganlah kamu mengharapkan satu kebiasaan saja.”). Al-‘Aufi berkata dari Ibnu ‘Abbas tentang firman-Nya: لَّا تَدْعُوا الْيَوْمَ ثُبُورًا وَاحِدًا (“Janganlah kamu mengharapkan satu kebiasaan saja.”) artinya, janganlah pada hari ini kalian mengharapkan satu kebinasaan, dan harapkanlah kebinasaan yang banyak.

Adh-Dhahhak berkata: “Ats-tsubuur artinya kebinasaan.” Yang jelas ats-tsubuur itu himpunan kebinasaan, kecelakaan, kerugian dan kehancuran.

“15. Katakanlah: “Apa (azab) yang demikian itukah yang baik, atau surga yang kekal yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa?” Dia menjadi Balasan dan tempat kembali bagi mereka?”. 16. bagi mereka di dalam surga itu apa yang mereka kehendaki, sedang mereka kekal (di dalamnya). (hal itu) adalah janji dari Tuhanmu yang patut dimohonkan (kepada-Nya).” (Al-Furqan: 15-16)

لَّهُمْ فِيهَا مَا يَشَاءُونَ (“Bagi mereka di dalam Surga itu apa yang mereka kehendaki”) berupa berbagai kelezatan dan berbagai makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, pemandangan dan lain-lain, termasuk sesuatu yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak terdengar oleh telinga dan tidak terlintas dalam hati seseorang. Sedang mereka kekal abadi selamanya tanpa terputus, tidak hilang dan tidak lenyap.

كَانَ عَلَى رَبِّكَ وَعْدًا مَّسْئُولًا (“Hal itu adalah janji dari Rabbmu yang patut dimohonkan.”) yaitu patut terjadi dan ada, sebagaimana yang diceritakan oleh Abu Ja’far bin Jarir, dari sebagian ulama bahasa Arab bahwa makna firman-Nya:

وَعْدًا مَّسْئُولًا; yaitu janji yang wajib. Ibnu Juraij berkata dari ‘Atha’, dari Ibnu ‘Abbas: كَانَ عَلَى رَبِّكَ وَعْدًا مَّسْئُولًا (“Hal itu adalah janji dari Rabbmu yang patut dimohonkan.”) ia berkata: “Maka mintalah kepada Rabb yang menjanjikan mereka.”

Tafsir Kemenag: Di waktu itu diucapkan kepada mereka agar tidak mengucapkan kata itu (celaka aku) sekali saja. Ucapkanlah kata itu berkali-kali karena yang mereka lihat dan alami itu baru satu macam dari siksa yang akan ditimpakan kepadanya. Banyak lagi macam siksaan yang akan mereka derita. Oleh sebab itu berteriak-teriaklah berkali-kali, memang mereka akan ditimpa siksaan yang dahsyat dan hebat.

Tafsir Quraish Shihab: Dengan penuh ejekan dan hinaan, dikatakan kepada mereka, “Jangan meminta kebinasaan hanya sekali saja. Tetapi mintalah terus. Kalian pasti tidak akan selamat dari siksaan yang sedang kalian alami. Jenis- jenis siksaan mereka amatlah banyak.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Furqan Ayat 7-14 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S