Surah Al-Hadid Ayat 22-24; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Hadid Ayat 22-24

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Hadid Ayat 22-24 ini, Allah swt menyatakan bahwa semua peristiwa itu ditetapkan sebelum terjadinya, agar manusia bersabar menerima cobaan Allah. Cobaan Allah itu adakalanya berupa kesengsaraan dan malapetaka, adakalanya berupa kesenangan dan kegembiraan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sikap yang paling baik ialah sabar dalam menerima bencana dan malapetaka yang menimpa serta bersyukur kepada Allah atas setiap menerima nikmat yang dianugerahkan-Nya.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hadid Ayat 22-24

Surah Al-Hadid Ayat 22
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ

Terjemahan: “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

Tafsir Jalalain: مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلۡأَرۡضِ (Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi) seperti kekeringan وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمۡ (dan tidak pula pada diri kalian sendiri) seperti sakit dan kematian anak إِلَّا فِى كِتَٰبٍ (melainkan telah tertulis dalam Kitab) di Lohmahfuz مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآ (sebelum Kami menciptakannya) sebelum Kami menciptakan semuanya. Demikian pula mengenai hal yang menyangkut nikmat dikatakan seperti itu. إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ (Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah).

Tafsir Ibnu Katsir: Allah menceritakan tentang takdir-Nya yang telah ditetapkan terhadap makhluk-Nya sebelum Dia memulai penciptaannya. Allah berfirman: مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمۡ (“Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri.”) yakni di ufuk maupun di dalam diri kalian.

إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآ (“Melainkan telah tertulis dalam kitab [Lauhul mahfudz] sebelum Kami menciptakannya.”) yakni sebelum Kami [Allah] menciptakan manusia dan makhluk hidup lainnya. Sedangkan yang lainnya mengatakan:

“Yakni ming qabli an nab-ra-aHaa [sebelum Kami menciptakannya] kembali kepada al-anfusu [dirimu].” Dan ada pula yang mengatakan: “Bahwa kata itu kembali kepada musibah.” Dan yang paling benar, bahwa kata itu kembali kepada penciptaan makhluk dan umat manusia karena adanya dalil ayat yang mengarah kesana.

Qatadah mengatakan: “Tidak ada suatu musibahpun yang menimpa di bumi.” Lebih lanjut ia mengatakan: “Yakni, musim kemarau.”
وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمۡ (“dan tidak pula [pada] dirimu sendiri.”) Qatadah berkata:

“Yakni lapar dan rasa sakit.” Kemudian dia mengatakan: “Telah sampai kepada kami bahwasannya tidak ada seorang pun yang tertimpa musibah dengan tertusuk kayu, kakinya terkena batu dan uratnya putus melainkan disebabkan oleh suatu dosa, dan yang dimaafkan oleh Allah adalah lebih banyak.” Ayat yang agung ini adalah dalil paling nyata untuk mematahkan paham Qadariyah yang menafikan pengetahuan Allah yang ada sebelumnya.

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan takdir-takdir [ketentuan] makhluk lima puluh ribu tahun sebelum langit dan bumi diciptakan.”

Muslim meriwayatkan di dalam kitab shahih-nya dari hadits ‘Abdullah bin Wahb. Ibnu Wahb menambahkan: “Dan adalah ‘Arsy-Nya berada di atas air.” Demikian diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan ia mengatakan: “Hadits tersebut hasan shahih.”

Firman-Nya: إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ (“Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”) artinya bahwa ilmu Allah [Allah mengetahui] tentang segala sesuatu sebelum penciptaan dan penulisannya orang pasti sesuai dengan kejadian yang ada saat kejadian itu terjadi adalah mudah bagi Allah, karena Dia mengetahui yang telah dan akan terjadi. Dan sesuatu yang tidak akan terjadi dan kalau saja terjadi, dan bagaimana terjadinya Allah telah mengetahuinya.

Baca Juga:  Surah Al-Hadid Ayat 25; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa semua bencana dan malapetaka yang menimpa permukaan bumi, seperti gempa bumi, banjir dan bencana alam yang lain serta bencana yang menimpa manusia, seperti kecelakaan, penyakit dan sebagainya telah ditetapkan akan terjadi sebelumnya dan tertulis di Lauh Mahfudz, sebelum Allah menciptakan makhluk-Nya.

Hal ini berarti tidak ada suatu pun yang terjadi di alam ini yang luput dari pengetahuan Allah dan tidak tertulis di Lauh Mahfudz. Menetapkan segala sesuatu yang akan terjadi itu adalah sangat mudah bagi Allah, karena Dia Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang telah ada maupun yang akan ada nanti, baik yang besar maupun yang kecil, yang tampak dan yang tidak tampak.

Ayat ini merupakan peringatan sebagian kaum Muslimin yang masih percaya kepada tenung, suka meminta sesuatu kepada kuburan yang dianggap keramat, menanyakan sesuatu yang akan terjadi kepada dukun dan sebagainya. Hendaklah mereka hanya percaya kepada Allah saja, karena hanyalah Dia yang menentukan segala sesuatu.

Mempercayai adanya kekuatan-kekuatan gaib, selain dari kekuasaan Allah termasuk memperserikatkan-Nya dengan makhluk ciptaan-Nya dan berarti tidak percaya kepada tauhid rububiyyah yang ada pada Allah. (.

Tafsir Quraish Shihab: Semua musibah yang terjadi di bumi seperti kekeringan, kurangnya buah-buahan dan lain-lain, atau yang terjadi pada diri kalian seperti sakit, miskin, mati dan lain-lain, telah tercatat dalam al-Lawh al-Mahfûzh dan telah ada dalam ilmu Allah sejak sebelum semuanya terjadi. Hal itu sangat mudah bagi Allah, karena ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.

Surah Al-Hadid Ayat 23
لِّكَيۡلَا تَأۡسَوۡاْ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُواْ بِمَآ ءَاتَىٰكُمۡ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٍ فَخُورٍ

Terjemahan: “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,

Tafsir Jalalain: لِّكَيۡلَا (Supaya janganlah) lafal kay di sini menashabkan fi’il yang jatuh sesudahnya, maknanya sama dengan lafal an. Allah swt. menjelaskan yang demikian itu supaya janganlah تَأۡسَوۡاْ (kalian berduka cita) bersedih hati عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُواْ (terhadap apa yang luput dari kalian, dan supaya kalian jangan terlalu gembira) artinya gembira yang dibarengi dengan rasa takabur, berbeda halnya dengan gembira yang dibarengi dengan rasa syukur atas nikmat بِمَآ ءَاتَىٰكُمۡ (terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian) jika lafal aataakum dibaca panjang berarti maknanya sama dengan lafal a`thaakum, artinya apa yang diberikan-Nya kepada kalian. Jika dibaca pendek, yaitu ataakum artinya, apa yang didatangkan-Nya kepada kalian.

وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٍ (Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong) dengan apa yang telah diberikan oleh Allah kepadanya فَخُورٍ (lagi membanggakan diri) membangga-banggakannya terhadap orang lain.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah: لِّكَيۡلَا تَأۡسَوۡاْ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُواْ بِمَآ ءَاتَىٰكُمۡ (“Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput darimu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.”) maksudnya, Kami telah memberitahukan kepada kalian tentang pengetahuan Kami yang lebih dulu ada, dan penulisan [perencanaan] Kami tentang segala sesuatu sebelum diadakannya dan ketetapan Kami terhadap alam ini sebelum diwujudkannya agar kalian mengetahui bahwa apa yang menimpa diri kalian bukan untuk menyalahkan diri kalian, dan apa yang tidak ditujukan kepada kalian, maka tidak akan pernah menimpa kalian.

Baca Juga:  Surah Al-Insan Ayat 4-12; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Oleh karena itu janganlah kalian berputus asa terhadap sesuatu yang luput dari kalian, karena jika Dia menetapkan sesuatu, sudah pasti akan terjadi.

وَلَا تَفۡرَحُواْ بِمَآ ءَاتَىٰكُمۡ (“Dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.”) yakni yang datang kepada kalian. Kata “aataakum” berarti memberi kalian, dan kedua pengertian tersebut sama.

Dengan kata lain, janganlah kalian membanggakan diri atas orang lain karena nikmat yang telah diberikan Allah pada kalian. Karena itu nikmat itu datang bukan karena usaha dan jerih payah kalian, tetapi ia datang karena sudah menjadi ketetapan Allah Ta’ala sekaligus sebagai rizkynya yang diberikan kepada kalian. Janganlah kalian menjadikan nikmat Allah itu untuk seuatu kejahatan, kesombongan dan berbangga diri atas orang lain.

Oleh karena itu Allah berfirman: وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٍ فَخُورٍ (“Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”) maksudnya membangga-banggakan diri, sombong dan merasa lebih tinggi dari orang lain.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah swt menyatakan bahwa semua peristiwa itu ditetapkan sebelum terjadinya, agar manusia bersabar menerima cobaan Allah. Cobaan Allah itu adakalanya berupa kesengsaraan dan malapetaka, adakalanya berupa kesenangan dan kegembiraan.

Karena itu janganlah terlalu bersedih hati menerima kesengsaraan dan malapetaka yang menimpa diri, sebaliknya jangan pula terlalu bersenang hati dan bergembira menerima sesuatu yang menyenangkan hati.

Sikap yang paling baik ialah sabar dalam menerima bencana dan malapetaka yang menimpa serta bersyukur kepada Allah atas setiap menerima nikmat yang dianugerahkan-Nya. Ayat ini bukan untuk melarang kaum Muslimin bergembira dan bersedih hati, tetapi maksudnya ialah melarang kaum Muslimin bergembira dan bersedih hati dengan berlebih-lebihan. ‘Ikrimah berkata,

“Tidak ada seorang pun melainkan ia dalam keadaan sedih dan gembira, tetapi hendaklah ia menjadikan kegembiraan itu sebagai tanda bersyukur kepada Allah dan kesedihan itu sebagai tanda bersabar.”

Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa orang yang terlalu bergembira menerima sesuatu yang menyenangkan hatinya dan terlalu bersedih hati menerima bencana yang menimpanya adalah orang yang pada dirinya terdapat tanda-tanda tabkhil dan angkuh, seakan-akan ia hanya memikirkan kepentingan dirinya saja. Allah swt menyatakan bahwa Dia tidak menyukai orang-orang yang mempunyai sifat-sifat bakhil dan angkuh.

Tafsir Quraish Shihab: Kami memberitahukan itu semua agar kalian tidak terlalu kecewa atas apa yang tidak kalian peroleh, dan tidak terlalu senang dengan apa yang Allah berikan kepada kalian. Allah tidak menyukai orang yang membangga-banggakan apa-apa yang ia miliki kepada orang lain.

Surah Al-Hadid Ayat 24
ٱلَّذِينَ يَبۡخَلُونَ وَيَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبُخۡلِ وَمَن يَتَوَلَّ فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡغَنِىُّ ٱلۡحَمِيدُ

Terjemahan: “(yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Tafsir Jalalain: ٱلَّذِينَ يَبۡخَلُونَ (Orang-orang yang kikir) tidak mau menunaikan apa yang telah diwajibkan atas mereka وَيَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبُخۡلِ (dan menyuruh manusia berbuat kikir) supaya jangan menunaikan kewajiban itu, maka bagi mereka ancaman yang keras dari Allah.

وَمَن يَتَوَلَّ (Dan barang siapa yang berpaling) dari menunaikan apa yang telah diwajibkan atasnya فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ (maka sesungguhnya Allah Dialah) lafal huwa adalah dhamir fashl, sedangkan menurut suatu qiraat tanpa memakainya ٱلۡغَنِىُّ (Yang Maha Kaya) artinya tidak membutuhkan orang lain ٱلۡحَمِيدُ (lagi Maha Terpuji) terhadap kekasih-kekasih-Nya.

Baca Juga:  Surah Al-Isra' ayat 90-93; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Selanjutnya Allah berfirman: ٱلَّذِينَ يَبۡخَلُونَ وَيَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبُخۡلِ (“[yaitu] orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir.”) yakni mereka mengerjakan kemungkaran dan mendorong orang lain untuk mengerjakannya pula.

وَمَن يَتَوَلَّ (“Dan barangsiapa yang berpaling”) yakni dari perintah-perintah Allah dan ketaatan kepada-Nya: فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡغَنِىُّ ٱلۡحَمِيدُ (“Maka sesungguhnya Allah, Dia lah Yang Mahakaya lagi Mahaterpuji.”

Tafsir Kemenag: Orang-orang yang mempunyai sifat sombong dan angkuh adalah orang yang bila memperoleh suatu nikmat, kesenangan atau harta, maka ia berpendapat bahwa semuanya itu diperolehnya semata-mata karena kesanggupan dan kepandaiannya sendiri. Karena berusaha, maka ia memperolehnya, bukan karena pertolongan dan anugerah Allah kepadanya.

Kemudian setan membisik-bisikkan ketelinganya bahwa ia adalah orang-orang yang kuat dan mampu, tidak memerlukan pertolongan orang lain. Karena yakin akan kemampuan dirinya itu, ia merasa tidak mengindahkan orang lain dan memberi orang lain. Jika ia memberi dan mengindahkan orang lain ia akan menjadi miskin.

Keyakinan itu disampaikan pula kepada orang lain dan menganjurkan orang lain berkeyakinan sepertinya pula, yaitu berlaku kikir agar tidak menjadi miskin. Pada ayat ini ditegaskan bahwa orang yang mempunyai sifat-sifat seperti di atas adalah orang-orang yang berpaling dari perintahperintah Allah.

Allah memerintahkan agar manusia bersifat rendah hati, suka menolong sesamanya, membantu fakir miskin, berinfak di jalan Allah dan sebagainya, tetapi mereka menganjurkan dan berbuat sebaliknya.

Allah menyatakan bahwa sikap dan tindakan mereka yang demikian itu tidak akan merugikan Allah sedikit pun, melainkan akan merugikan diri mereka sendiri, karena Allah tidak memerlukan sedikit pun harta dan pemberian mereka, tetapi merekalah yang memerlukannya.

Allah Maha Terpuji karena Dialah yang melimpahkan nikmat kepada seluruh makhluk-Nya. Ayat lain yang sama artinya dengan ayat ini, ialah: Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan sungguh, Kami telah memerintahkan kepada orang yang diberi kitab suci sebelum kamu dan (juga) kepadamu agar bertakwa kepada Allah. Tetapi jika kamu ingkar, maka (ketahuilah), milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan Allah Mahakaya, Maha Terpuji. (an-Nisa’/4: 131).

Tafsir Quraish Shihab: Yaitu orang-orang yang enggan menafkahkan hartanya di jalan Allah dan menganjurkan orang lain untuk berbuat seperti itu–dengan cara memberikan gambaran kepada mereka bahwa hal itu adalah baik.

Barangsiapa menolak untuk patuh kepada kepada Allah, sesungguhnya Allah sama sekali tidak membutuhkan hal itu. Allah berhak mendapatkan pujian dan sanjungan karena diri-Nya sendiri.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Hadid Ayat 22-24 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S