Surah Al-Hadid Ayat 28-29; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Hadid Ayat 28-29

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Hadid Ayat 28-29 ini, Allah swt memerintahkan kepada Bani Israil yang telah beriman kepada Isa bin Maryam sebagai rasul dan utusan-Nya agar beriman kepada Muhammad saw yang datang sesudah itu, mengikuti perintah-perintah dan menghentikan larangan-larangan-Nya yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan Hadis.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Perintah ini pada hakikatnya menguatkan perintah Allah yang terdapat dalam Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa. Jika Bani Israil mengikuti perintah Allah swt, maka Allah menjanjikan kepada mereka pahala dua kali lipat dari pahala yang akan diterima orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad saw saja.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hadid Ayat 28-29

Surah Al-Hadid Ayat 28
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَءَامِنُواْ بِرَسُولِهِۦ يُؤۡتِكُمۡ كِفۡلَيۡنِ مِن رَّحۡمَتِهِۦ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ نُورًا تَمۡشُونَ بِهِۦ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Terjemahan: Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Tafsir Jalalain: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ (Hai orang-orang yang beriman) kepada Nabi Isa ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَءَامِنُواْ بِرَسُولِهِۦ (bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya) kepada Nabi Muhammad saw. dan Nabi Isa يُؤۡتِكُمۡ كِفۡلَيۡنِ (niscaya Allah memberikan kepada kalian dua bagian) dua kali bagian مِن رَّحۡمَتِهِۦ (dari rahmat-Nya) karena kalian telah beriman kepada dua nabi.

وَيَجۡعَل لَّكُمۡ نُورًا تَمۡشُونَ بِهِۦ (dan menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan cahaya itu kalian dapat berjalan) di atas shirath/jembatan وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ (dan Dia mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).

Tafsir Ibnu Katsir: Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits riwayat an-Nasa-i, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa ia pernah membawa pengertian ayat ini kepada dua orang yang beriman dari kalangan Ahlul Kitab, dimana dia akan diberi pahala dua kali lipat, sebagaimana dikandung dalam ayat yang terdapat dalam surah al-Qashsash. Juga sebagaimana yang disebutkan dalam hadits asy-Sya’bi, dari Abu Burdah, dari Abu Musa al-Asy’ari, dimana ia bercerita: Rasulullah saw. bersabda:

“Ada tiga golongan yang pahala mereka dua kali, yaitu seorang dari kalangan Ahlul Kitab yang berimana kepada Nabinya dan beriman kepadaku, maka ia mendapat dua pahala. Lalu seorang hamba yang menunaikan hak Allah dan hak mawalinya (orang yang memerdekakannya), maka ia mendapatkan dua pahala. Kemudian orang yang membimbing budak wanitanya dengan sebaik-baiknya, lalu dia memerdekakannya dan menikahinya, maka baginya dua pahala.”

Demikian yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam kitab ash-Shahihain. Penafsiran Ibnu ‘Abbas ini disepakati oleh adh-Dhahhak, ‘Utbah bin Abi Hakim dan lain-lain. Dan penafsiran ini pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir. Sedangkan Sa’id bin Jubair mengatakan:

“Ketika Ahlul Kitab menyombongkan diri bahwa mereka akan diberi pahala dua kali, Allah Ta’ala menurunkan ayat ini kepada umat manusia:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَءَامِنُواْ بِرَسُولِهِۦ يُؤۡتِكُمۡ كِفۡلَيۡنِ (“Hai orang-orangyang beriman [kepada para Rasul], bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian.”) yakni dua kali lipat. مِن رَّحۡمَتِهِۦ (“Karena rahmat-Nya”) dan memberikan tambahan lagi kepada mereka,

وَيَجۡعَل لَّكُمۡ نُورًا تَمۡشُونَ بِهِۦ (“dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu bisa berjalan.”) maksudnya berupa petunjuk yang dengannya kalian dapat melihat dan melepaskan diri dari kebutaan dan kebodohan, serta memberikan ampunan kepada kalian. Dengan demikian, Allah telah memberikan cahaya dan ampunan kepada umat Muhammad saw., demikianlahyang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Baca Juga:  Surah Al-Hadid Ayat 22-24; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Diantara dalil yang memperkuat pendapat tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Ibnu ‘Umar ra., ia bercerita: Rasulullah saw. telah bersabda: “Perumpamaan kalian dengan umat Yahudi dan Nasrani adalah seperti seseorang yang mempekerjakan beberapa orang pegawai. Lalu orang tersebut mengatakan:

‘Siapakah yang bersedia bekerja untukku dari mulai shalat Shubuh hingga pertengahan siang, maka aku akan memberikan satu qirath?’ ketahuilah, umat Yahudi itulah yang bersedia melakukannya. Lalu berkata lagi: ‘Siapakah yang bersedia bekerja untukku dari shalat Dhuhur sampai shalat ‘Asyar, maka akan aku beri satu qirath?’ ketahuilah, umat Nasrani lah yang bersedia melakukannya. Lalu berkata lagi:

‘Siapakah yang bersedia bekerja untukku dari mulai ‘Asyar hingga terbenam matahari, maka ia akan mendapatkan dua qirath?’ ketahuilah, itulah kalian (umat Muhammad) yang bersedia melakukannya. Umat Yahudi dan Nasrani menjadi marah dan mereka mengatakan:

‘Kami yang lebih banyak bekerja tetapi lebih sedikit upahnya.’ Ia bertanya: ‘Apakah aku telah mendhalimi kalian pada upah-upah kalian itu?’ mereka menjawab: ‘Tidak.’ Katanya lagi: ‘Itu hanyalah karunia dariku yang aku berikan kepada siapa saja yang aku kehendaki.’”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar ra., dan kami juga telah diberitahukan mengenai hal yang sama oleh Mu’mil, dari Sufyan, dari ‘Abdullah bin Dinar, dari Ibnu ‘Umar ra., yaitu hadits yang mirip dengan hadits Nafi’, darinya. Diriwayatkan sendiri oleh al-Bukhari. Ia meriwayatkan dari Sulaiman bin Harb, dari Hammad, dari Nafi’. Dan hadits yang sama juga diriwayatkan dari Qutaibah, dari al-laits, dari Nafi’.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Musa, dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Perumpamaan kaum Muslimin dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani seperti orang yang mempekerjaan suatu kaum. Kaum itu mengerjakan pekerjaan untuknya dari pagi sampai malam dengan upah tertentu. Lalu mereka bekerja sampai pertengahan siang seraya berkata:

‘Kami tidak butuh upah apa yang kamu persyaratkan kepada kami. Dan apa yang telah kami kerjakan itu kami anggap batal.’ Lalu ia berkata kepada mereka: ‘Jangan lakukan hal itu. Kerjakan sisi pekerjaan kalian dan ambillah upah kalian secara penuh.’ Namun mereka menolak dan pergi meninggalkannya. Kemudian orang itu menyewa orang lain setelah mereka. Lalu ia berkata kepada mereka:

‘Selesaikanlah sisa hari kalian dan kalian akan mendapatkan upah yang telah aku persyaratkan kepada mereka.’ Maka merekapun mau mengerjakannya hingga ketika waktu mengerjakan shalat ‘Asyar tiba. Mereka berkata: ‘Apa yang telah kami kerjakan kami anggap batal dan ambil kembali untukmu upah yang telah kamu janjikan itu.’ Maka orang itu berkata:

‘Selesaikanlah sisa pekerjaan kalian, sesungguhnya hanya tinggal sedikit sekali waktu yang tersisa. Namun mereka menolak. Selanjutnya ia menyewa kaum yang lain lagi untuk mengerjakannya sampai matahari tenggelam, hingga akhirnya merekapun berhasil mendapatkan pahala dua golongan. Begitulah perumpamaan mereka dan cahaya yang mereka peroleh.” Demikian hadits yang diriwayatkan sendiri oleh Imam al-Bukhari.

Baca Juga:  Surah An Nisa Ayat 29; Seri Tadabbur Al Qur'an

Tafsir Kemenag: Allah swt memerintahkan kepada Bani Israil yang telah beriman kepada Isa bin Maryam sebagai rasul dan utusan-Nya agar beriman kepada Muhammad saw yang datang sesudah itu, mengikuti perintah-perintah dan menghentikan larangan-larangan-Nya yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan Hadis.

Perintah ini pada hakikatnya menguatkan perintah Allah yang terdapat dalam Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa. Jika Bani Israil mengikuti perintah Allah swt, maka Allah menjanjikan kepada mereka pahala dua kali lipat dari pahala yang akan diterima orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad saw saja. Di samping itu akan mengampuni dosa-dosa mereka, karena Dia mengampuni dosa-dosa orang-orang yang dikehendakiNya.

Jika yang dijanjikan Allah kepada pengikut Nabi Isa dan mereka beriman pula kepada Muhammad ialah: 1. Mereka akan dianugerahi pahala dua kali lipat. 2. Mereka akan diterangi cahaya petunjuk dalam menghadapi kesengsaraan dan malapetaka di hari Kiamat dan dalam menuju surga yang penuh kenikmatan. 3. Allah swt mengampuni dosa-dosa yang telah mereka perbuat.

Dalam hadis di bawah ini diterangkan orang-orang yang akan memperoleh pahala dua kali lipat, yaitu: Diriwayatkan oleh asy- Sya’biy dari Abu Burdah dari bapaknya Abu Musa al-Asy’ari, ia berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Tiga macam orang yang diberi pahala dua kali lipat, yaitu ahli kitab yang beriman kepada nabinya dan beriman pula kepadaku, maka baginya dua pahala, dan budak yang menunaikan hak Allah dan hak tuannya maka baginya dua pahala, dan orang yang mendidik budak perempuannya dengan baik kemudian dimerdekakan dan dikawini, maka baginya dua pahala pula.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Tafsir Quraish Shihab: Hai orang-orang yang beriman, takutlah kepada siksa Allah dan teguhlah dalam beriman kepada Rasul- Nya niscaya Dia akan memberi dua bagian dari kasih sayang-Nya, memberi kalian cahaya sebagai pelita, dan mengampuni dosa-dosa yang kalian perbuat. Ampunan Allah amat luas dan kasih sayang-Nya begitu banyak.

Surah Al-Hadid Ayat 29
لِّئَلَّا يَعۡلَمَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ أَلَّا يَقۡدِرُونَ عَلَىٰ شَىۡءٍ مِّن فَضۡلِ ٱللَّهِ وَأَنَّ ٱلۡفَضۡلَ بِيَدِ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ

Terjemahan: (Kami terangkan yang demikian itu) supaya ahli Kitab mengetahui bahwa mereka tiada mendapat sedikitpun akan karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwasanya karunia itu adalah di tangan Allah. Dia berikan karunia itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.

Tafsir Jalalain: لِّئَلَّا يَعۡلَمَ (Supaya diketahui) maksudnya Allah menerangkan hal tersebut kepada kalian, supaya diketahui أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ (oleh ahli kitab) Taurat yang tidak beriman kepada Nabi Muhammad (bahwa) an di sini adalah bentuk takhfif dari anna yang ditasydidkan, artinya bahwasanya mereka أَلَّا يَقۡدِرُونَ عَلَىٰ شَىۡءٍ مِّن فَضۡلِ ٱللَّهِ (mereka tiada mendapat sedikit pun akan karunia Allah) berbeda dengan apa yang mereka duga, yaitu bahwasanya mereka adalah kekasih-kekasih Allah dan orang-orang yang mendapat keridaan-Nya.

وَأَنَّ ٱلۡفَضۡلَ بِيَدِ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ (dan bahwasanya karunia itu berada di tangan kekuasaan Allah. Dia berikan karunia itu) yakni Dia memberikannya مَن يَشَآءُ (kepada siapa yang dikehendaki-Nya) maka Dia memberikan karunia-Nya kepada orang-orang yang beriman di antara mereka, berupa pahala yang mereka terima sebanyak dua kali lipat, sebagaimana keterangan yang telah lalu. Yaitu karena beriman kepada dua nabi. وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ (Dan Allah mempunyai karunia yang besar).

Baca Juga:  Surah Al-Hadid Ayat 4-6; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Oleh karena itu Allah berfirman: لِّئَلَّا يَعۡلَمَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ أَلَّا يَقۡدِرُونَ عَلَىٰ شَىۡءٍ مِّن فَضۡلِ ٱللَّهِ (“Supaya Ahli Kitab mengetahui bahwa mereka tidak mendapatkan sedikitpun akan karunia Allah.”) maksudnya supaya benar-benar terbukti bahwa mereka itu sama sekali tidak mampu menolak apa yang diberikan Allah dan tidak juga dapat memberi apa yang ditolak-Nya.

وَأَنَّ ٱلۡفَضۡلَ بِيَدِ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ (“dan bahwasannya karunia itu adalah di tangan Allah. Dia berikan karunia itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar.”)

Mengenai firman-Nya: لِّئَلَّا يَعۡلَمَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ (“Supaya ahlul Kitab mengetahui”) Ibnu Jarir mengungkapkan: “Maksudnya supaya mereka menyadari.” Dan hal itu telah diceritakan oleh Ibnu Mas’ud, bahwa ia membacanya dengan “likai ya’lama” demikianlah perkataan ‘Atha’ bin ‘Abdillah dan Sa’id bin Jubair. Ibnu Jarir berkata:

“Karena bangsa Arab menjadikan kata “laa” (tidak) sebagai penghubung pada setiap kalimat yang masuk pada awal atau akhir kalimat tersebut, maka ia tidak mempunyai arti. Sebagaimana firman Allah: قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسۡجُدَ (“apakah yang menghalangimu untuk bersujud [kepada Adam]?”)(al-A’raaf: 12) kata “laa” tidak diartikan.

وَمَا يُشۡعِرُكُمۡ أَنَّهَآ إِذَا جَآءَتۡ لَا يُؤۡمِنُونَ (“Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang, mereka tidak akan beriman?”)(al-An’am: 109) وَحَرَٰمٌ عَلَىٰ قَرۡيَةٍ أَهۡلَكۡنَٰهَآ أَنَّهُمۡ لَا يَرۡجِعُونَ (“Sungguh tidak mungkin atas [penduduk] suatu negeri yang telah Kami binasakan bahwa mereka tidak akan kembali [kepada Kami].”) (al-Anbiyaa’: 95)

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menolak pendapat Bani Israil yang mengatakan bahwa rasul-rasul dan nabi-nabi itu hanyalah diangkat dari keturunan mereka saja. Allah mengangkat Nabi Muhammad saw bukan dari keturunan Bani Israil, agar mereka mengetahui bahwa hanya Dia yang menentukan segala sesuatu dan yang akan memperoleh pahala dua kali lipat itu hanyalah ahli kitab yang beriman kepada Muhammad saw saja, jika mereka tidak beriman kepada Nabi Muhammad saw mereka tidak akan mendapat pahala sedikit pun.

Pada akhir ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia mempunyai karunia yang tidak terhingga banyaknya, yang akan dianugerahkan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya.

Tafsir Quraish Shihab: Allah memberikan semua itu kepada kalian, agar kaum Ahl al-Kitâb yang tidak beriman kepada Muhammad itu tahu bahwa mereka tidak akan mampu memberikan kesenangan seperti yang diberikan oleh Allah, baik kepada diri mereka sendiri maupun kepada orang lain.

Semua karunia benar-benar berada di tangan Allah semata. Dia bebas memberikannya kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Dia adalah Pemilik karunia yang besar.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Hadid Ayat 28-29 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S