Surah Al-Hajj Ayat 63-66; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Hajj Ayat 63-66

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Hajj Ayat 63-66 ini, Allah menyebutkan tanda-tanda kebesaran-Nya yang juga merupakan nikmat yang telah dilimpahkan kepada manusia, yaitu apakah manusia tidak melihat dan memperhatikan bahwa Allah mengedarkan awan, lalu dari awan itu turunlah hujan di atas bumi, air hujan itu menyuburkan bumi,

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

maka timbullah beraneka macam tanam-tanaman dan tumbuh-tumbuhan yang indah bentuknya, seakan-akan bumi menghiasi dirinya dengan tumbuhnya tanam-tanaman dan tumbuh-tumbuhan yang beraneka warna. Di antara yang tumbuh itu ada yang dapat dimakan manusia, sehingga terpelihara kelangsungan hidupnya, ada yang dapat dijadikan bahan-bahan pakaian, bahan kecantikan, dan beraneka keperluan manusia yang lain.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj Ayat 63-66

Surah Al-Hajj Ayat 63
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَتُصْبِحُ الْأَرْضُ مُخْضَرَّةً إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

Terjemahan: Apakah kamu tiada melihat, bahwasanya Allah menurunkan air dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau? Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Tafsir Jalalain: أَلَمْ تَرَ (Apakah kamu tiada melihat) tidak mengetahui أَنَّ اللَّهَ أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً (bahwasanya Allah menurunkan air dari langit) yakni hujan فَتُصْبِحُ الْأَرْضُ مُخْضَرَّةً (lalu jadilah bumi itu hijau?) disebabkan adanya tumbuh-tumbuhan sesudah itu, hal ini merupakan bukti bagi kekuasaan Allah.

إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ (Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Lembut) terhadap hamba-hamba-Nya, karena itu Dia menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dengan air hujan itu خَبِيرٌ (lagi Maha Waspada) terhadap apa yang ada dalam hati mereka, di kala hujan datang terlambat.

Tafsir Ibnu Katsir: Ayat ini pun merupakan petunjuk tentang ketetapan dan keagungan kekuasaan-Nya. Dia mengirim angin yang menggiring awan, lalu turunlah hujan di atas tanah gersang yang tidak ada tumbuhan di atasnya, yaitu tanah kering dan hitam legam.

فَإِذَا أَنزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ (“Kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah.”) (QS. Al-Hajj: 5). Dan firman-Nya: فَتُصْبِحُ الْأَرْضُ مُخْضَرَّةً (“Lalu jadilah bumi itu hijau.”)

Huruf fa (maka) dalam ayat ini untuk ta’gib (penjelasan setelahnya). Ta’qib adalah suatu akibat dari sebelumnya, sebagaimana Allah berfirman: “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging.” (QS.Al-Mu’minuun: 14).

Telah dinyatakan di dalam ash-Shahihain, bahwasanya antara dua hal itu adalah 40 hari. Karenanya, Dia mengiringinya dengan fa. Demikianlah, di sini Allah berfirman: fatush-bihul ardlu mukh-dlarratan (“Lalu jadilah bumi itu hijau.”) setelah kering dan gersang. Sesungguhnya diceritakan dari sebagian penduduk Hijaz, bahwa jadilah bumi itu hijau setelah turunnya hujan. Wallahu a’am.

Firman-Nya: إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (“Sesungguhnya Allah Mahalembut lagi Maha-mengetahul,”) yaitu Mahamengetahui apa saja yang ada di permukaan, sudut dan bagian bumi; berupa biji, walaupun kecil, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini Allah menyebutkan tanda-tanda kebesaran-Nya yang juga merupakan nikmat yang telah dilimpahkan kepada manusia, yaitu apakah manusia tidak melihat dan memperhatikan bahwa Allah mengedarkan awan, lalu dari awan itu turunlah hujan di atas bumi, air hujan itu menyuburkan bumi, maka timbullah beraneka macam tanam-tanaman dan tumbuh-tumbuhan yang indah bentuknya, seakan-akan bumi menghiasi dirinya dengan tumbuhnya tanam-tanaman dan tumbuh-tumbuhan yang beraneka warna.

Di antara yang tumbuh itu ada yang dapat dimakan manusia, sehingga terpelihara kelangsungan hidupnya, ada yang dapat dijadikan bahan-bahan pakaian, bahan kecantikan, dan beraneka keperluan manusia yang lain.

Sesungguhnya Allah Mahaluas ilmu-Nya, karena pengetahuan-Nya meliputi seluruh makhluk-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan-Nya, sejak dari yang kecil sampai kepada yang besar, sejak dari yang mudah sampai kepada yang sulit dan rumit yang kadang-kadang tidak diketahui oleh manusia. Karena itu Allah mengatur, menjaga kelangsungan hidup dan kelangsungan adanya makhluk-Nya itu. Maka ditetapkan hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan untuk mengatur makhluk-Nya.

Tentang pengetahuan Allah terhadap makhluk-Nya, diterangkan dalam firman-Nya: Tidak lengah sedikit pun dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah baik di bumi atau pun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar dari itu, melainkan semua tercatat dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz). (Yunus/10: 61).

Baca Juga:  Surah Al-Hajj Ayat 30-31; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Tidakkah kalian berpikir, wahai orang-orang yang berakal, tentang tanda-tanda kekuaasaan Allah yang ada di sekelilingmu agar kalian kemudian menyembah-Nya? Dialah yang menurunkan air hujan dari awan hingga membuat bumi menjadi hijau, penuh dengan tumbuh-tumbuhan, setelah sebelumnya kering- kerontang. Allah Mahalembut, yang mengetahui secara rinci dan menyediakan apa saja yang mendatangkan manfaat kepada hamba-Nya.

Surah Al-Hajj Ayat 64
لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

Terjemahan: Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Tafsir Jalalain: لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ (Kepunyaan-Nyalah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi) sebagai milik-Nya. وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْغَنِيُّ (Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya) tidak membutuhkan hamba-hamba-Nya الْحَمِيدُ (lagi Maha Terpuji) terhadap kekasih-kekasih-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ (“Kepunyaan Allah-lah apa yang ada di bumi dan segala yang ada di langit,”) yaitu milik-Nyalah segala sesuatu dan Dia tidak butuh kepada selain-Nya. Sedangkan segala sesuatu adalah abdi-Nya serta amat butuh kepada-Nya.

Tafsir Kemenag: Hanya Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan segala apa yang di bumi, tidak ada sesuatu pun yang berserikat dengan-Nya dalam pemilikan itu. Karena itu hanya Dia pulalah yang menentukan apa yang dilakukan-Nya terhadap makhluk-Nya itu, tidak ada sesuatu pun yang menghalangi kehendak-Nya.

Dia tidak memerlukan sesuatu, hanya makhluk-Nyalah yang memerlukan-Nya. Dia Maha Terpuji karena kebaikan dan nikmat yang tiada terhingga yang telah diberikan kepada makhluk-Nya.

Tafsir Quraish Shihab: Semua yang ada di langit dan bumi adalah milik dan hamba Allah semata. Dia bebas melakukan apa saja atas semua itu dan tidak memerlukan sesuatu apa pun dari hamba-Nya. Sebaliknya merekalah yang memerlukan-Nya. Hanya Dia semata yang pantas menerima pujian dan sanjungan dari semua makhluk.

Surah Al-Hajj Ayat 65
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ وَالْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ أَن تَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Terjemahan: Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada Manusia.

Tafsir Jalalain: أَلَمْ تَرَ (Apakah kamu tiada melihat) tiada mengetahui أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ (bahwasanya Allah menundukkan bagi kalian apa yang ada di bumi) berupa hewan-hewan ternak وَالْفُلْكَ (dan bahtera) perahu, kapal تَجْرِي فِي الْبَحْرِ (yang berlayar di laut) hingga dapat dinaiki dan dapat membawa muatan بِأَمْرِهِ (dengan perintah-Nya) dengan seizin-Nya.

وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ (Dan Dia menahan benda-benda langit) أَن (supaya tidak) supaya jangan تَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ (jatuh ke bumi melainkan dengan izin-Nya) oleh sebab itu mereka akan hancur binasa. إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ (Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia) oleh karenanya Dia menundukkan kesemuanya itu, dan menahan langit supaya tidak jatuh menimpa mereka.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ (“Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi,”) yaitu berupa hewan-hewan, benda-benda padat; tanam-tanaman dan buah-buahan sebagaimana firman-Nya: “Dan Dia telah menundukkan lautan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari pada-Nya,” (QS. Al jaatsiyah: 13) , Yakni berupa kebaikan, kelebihan dan anugerah-Nya,

Baca Juga:  Surah Al-A'raf Ayat 188; Seri Tadabbur Al-Qur'an

وَالْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ (“Dan bahtera yang berlayar di laut dengan perintah-Nya,”) yaitu dengan aturan dan kemudahan-Nya. Yakni, di lautan yang luas dan getaran ombak, bahtera itu berlayar dengan para penumpangnya dengan angin yang baik dan tenang.

Mereka membawa di dalamnya apa yang mereka kehendaki berupa barang-barang dagangan, benda-benda dan jasa dari satu kota ke kota lain dan dari satu benua benua yang lain. Mereka membawa apa yang mereka miliki kepada yang lain serta membawa hasil yang mereka peroleh dari yang lain pula, sesuatu yang mereka butuhkan, mereka cari dan mereka inginkan.

وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ أَن تَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ (“Dan Dia menahan benda-benda langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya,”) seandainya Dia mau, niscaya Dia mengizinkan langit untuk jatuh ke bumi, sehingga membinasakan penghuninya. Akan tetapi, karena kelembutan, rahmat dan ketetapan-Nya, Dia menahan langit untuk tidak jatuh ke bumi kecuali dengan izin-Nya. Untuk itu Dia berfirman: إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ (“Sesungguhnya Allah benar-benar Mahapengasih lagi Mahapenyayang kepada manusia,”) yaitu, di samping kedhaliman mereka.

Tafsir Kemenag: Di antara nikmat yang telah diberikan Allah kepada hamba-Nya ialah Dia menundukkan dan memudahkan bagi manusia untuk memanfaatkan segala yang terkandung di dalam bumi dan segala yang ada di permukaannya, sehingga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup dan kehidupan manusia.

Manusia diberi pengetahuan dan kemampuan menanam dan menyuburkan tanaman, menggali barang-barang tambang yang beraneka ragam macamnya. Kemudian Allah menunjukkan cara-cara memanfaatkan semuanya itu. Allah berfirman:

Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. (al-Jashiyah/45: 13)

Manusia telah dianugerahi Allah ilmu yang banyak. Kadang-kadang sebagian mereka menjadi angkuh dan sombong dengan ilmu yang dimilikinya itu, hendaklah manusia ingat bahwa ilmu yang diberikan itu, hanyalah sedikit bila dibandingkan dengan ilmu Allah yang belum diketahui manusia. Ilmu manusia tidak ada artinya sama sekali bila dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana firman Allah:

Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh. Katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.” (al-Isra`/17: 85)

Demikianlah Allah menundukkan dan memudahkan penguasaan kapal dan laut kepada manusia. Dimudahkan kapal berlayar ke samudera, membawa manusia dan keperluan manusia ke segenap penjuru dunia. Dengan kapal itu pula manusia mencari rezeki di lautan berupa ikan, mutiara, barang tambang dan khazanah lautan berupa ikan yang tidak terhitung banyaknya.

Allah menciptakan alam semesta, yang terdiri atas ruang angkasa dan planet-planetnya yang tidak terhitung banyaknya. Semua terapung dan beredar melalui garis edar yang telah ditentukan Allah. Masing-masing planet itu mempunyai daya tarik, sehingga ia tidak jatuh berantakan, kecuali jika Allah menghendaki-Nya. Firman Allah:

Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan. (al- Infithar/82: 1-2)

Semuanya itu tidak dijadikan Allah dengan cara kebetulan saja, tetapi dengan maksud tertentu, dengan hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan yang rapi dan teliti. Dengan hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan itu manusia dapat mengambil manfaat daripadanya, mereka dapat terbang di jagat raya, naik ke planet lain, mereka dapat meramalkan keadaan cuaca.

Mereka dapat berpergian dari suatu negeri ke negeri yang lain dalam waktu yang tidak lama, dan banyak lagi manfaat lain yang dapat mereka ambil dengan menggunakan ketentan-ketentuan dan hukum-hukum Allah itu. Semuanya itu menunjukkan kasih sayang Tuhan kepada manusia.

Tafsir Quraish Shihab: Tidakkah kamu melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, wahai orang yang berakal? Dia memudahkan semua manusia untuk memanfaatkan bumi beserta isinya, menjadikan laut layak untuk dilalui kapal, dan mengendalikan bintang-bintang dan planet-planet hingga aturannya tidak rusak atau jatuh ke bumi, kecuali bila kehendak-Nya menentukan lain.

Allah benar-benar Mahalembut, Maha Pengasih, dan menyediakan jalan kehidupan kepada semua hamba-Nya. Meskipun semua itu telah jelas, mengapa mereka tidak bersyukur dan beribadah dengan ikhlas kepada-Nya?.

Baca Juga:  Surah Al-Hajj Ayat 70; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Ayat ini mengandung fakta-fakta ilmiah yang sangat teliti. Langit–yaitu semua yang ada di atas kita–dimulai dari atmosfer, kemudian ruang angkasa dan benda-benda langit yang bersinar sendiri seperti bintang, rasi, nebula, dan galaksi, lalu benda-benda langit yang tidak bercahaya sendiri seperti satelit, planet, komet, meteor, molekul, atom, dan debu alam, semuanya bisa tetap eksis dan berada pada posisinya disebabkan oleh adanya beberapa kekuatan, terutama gravitasi dan kekuatan yang ditimbulkan oleh gerak.

Sifat kasih Allah kepada hamba-Nya tampak pada disediakannya atmosfer yang mengandung zat-zat yang diperlukan untuk hidup dan dapat melindungi penduduk bumi dari bahaya yang diakibatkan oleh berbagai macam sinar alam dan debu-debu meteor yang mengambang di angkasa. Debu-debu itu, apabila menyentuh bagian atas atmosfer, akan terbakar sehingga tidak sempat mencapai ke permukaan bumi.

Selain itu, di antara perwujudan kasih sayang-Nya adalah bahwa jatuhnya meteor yang dapat menghancurkan bumi sangat jarang terjadi. Bahkan, kalaupun terjadi, meteor itu akan jatuh di bagian bumi yang terpencil dan tidak berpenduduk.

Surah Al-Hajj Ayat 66
وَهُوَ الَّذِي أَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ إِنَّ الْإِنسَانَ لَكَفُورٌ

Terjemahan: Dan Dialah Allah yang telah menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu (lagi), sesungguhnya manusia itu, benar-benar sangat mengingkari nikmat.

Tafsir Jalalain: وَهُوَ الَّذِي أَحْيَاكُمْ (Dan Dialah Allah yang telah menghidupkan kalian) menumbuhkan kalian ثُمَّ يُمِيتُكُمْ (kemudian mematikan kalian) bilamana ajal atau batas umur kalian telah habis ثُمَّ يُحْيِيكُمْ (kemudian menghidupkan kalian lagi) di waktu hari berbangkit إِنَّ الْإِنسَانَ (sesungguhnya manusia itu) yakni orang yang musyrik لَكَفُورٌ (benar-benar sangat mengingkari) kepada nikmat-nikmat Allah, disebabkan mereka tidak mau mengesakan-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: وَهُوَ الَّذِي أَحْيَاكُمْ (“Dan Dia-lah Allah yang telah menghidupkanmu,”) yaitu menciptakan kalian dan sebelumnya kalian tidak ada. ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ (“Kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu lagi,”) yaitu pada hari Kiamat. إِنَّ الْإِنسَانَ لَكَفُورٌ (“Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat mengingkari nikmat,”) yaitu membangkang.

Tafsir Kemenag: Di antara nikmat Allah yang paling besar yang dianugerahkan kepada manusia ialah menciptakan manusia hidup dari benda-benda mati, memberi roh, jiwa, akal pikiran dan perasaan, sehingga manusia dapat hidup dan menikmati kehidupan, dapat mengolah bumi untuk kesenangan mereka.

Dengan jiwa, akal pikiran dan perasaan itu pula, manusia dapat melaksanakan perintah-perintah Allah dan menghentikan larangan-larangan-Nya, sehingga di akhirat mereka dilimpahkan lagi nikmat yang paling besar yang tiada taranya, yaitu berupa surga yang telah dijanjikan-Nya.

Sekalipun demikian banyaknya nikmat-nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada manusia, tetapi sedikit manusia yang mensyukuri-Nya, bahkan banyak di antara mereka yang mengingkari-Nya, bahkan ada yang mendurhakai dan menyekutukan-Nya dengan makhluk yang lain. Allah berfirman:

Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (al-Baqarah/2: 28)

Dan firman Allah: Katakanlah, “Allah yang menghidupkan kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari Kiamat yang tidak diragukan lagi; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (al-Jashiyah/45: 26).

Tafsir Quraish Shihab: Dialah yang menghidupkan, mematikan jika ajal telah tiba, dan menghidupkan kalian kembali pada hari kiamat untuk mendapatkan perhitungan dan pembalasan. Kendatipun adanya nikmat dan bukti-bukti itu, ternyata manusia masih tetap ingkar kepada Allah.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Hajj Ayat 63-66 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S