Surah Al-Hajj Ayat 8-10; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Hajj Ayat 8-10

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Hajj Ayat 8-10 ini, menerangkan bahwa di antara manusia ada yang benar-benar bertindak dan berbuat melampaui batas, ada yang membantah serta mengingkari Allah dan sifat-sifat-Nya, tanpa dasar pengetahuan, tanpa argumen yang kuat dan tanpa bimbingan wahyu yang benar.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sikap mereka yang demikian itu semata-mata karena kesombongannya sehingga memalingkan muka dari manusia, yaitu membelakangi orang lain. Hati mereka sudah mati dan tertutup.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj Ayat 8-10

Surah Al-Hajj Ayat 8
وَمِنَ النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُّنِيرٍ

Terjemahan: Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya,

Tafsir Jalalain: Ayat berikut ini diturunkan berkenaan dengan Abu Jahal, yaitu: وَمِنَ النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ (Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan tanpa petunjuk) yang menjadi pegangannya وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُّنِيرٍ (dan tanpa kitab yang bercahaya) kitab yang menjadi pegangannya dan yang dapat menunjukinya.

Tafsir Ibnu Katsir: Tatkala Allah menyebutkan kondisi sesatnya orang-orang bodoh yang taqlid dalam firman-Nya: وَمِنَ النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّبِعُ كُلَّ شَيْطَانٍ مَّرِيدٍ (“Dan di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaitan yang sangat jahat. ” (QS. Al-Hajj: 3).

Dia menyebutkan di dalam Ayat ini tentang kondisi para penyeru kesesatan di kalangan para pemimpin kekafiran dan bid’ah. Dia berfirman: وَمِنَ النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُّنِيرٍ (“Dan di antara manusiaada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa Kitab (wahyu) yang bercahaya,”) yaitu tanpa rasionalitas yang benar dan penukilan yang jelas, bahkan hanya semata-mata menggunakan ra’yu dan pikiran yang menyimpang.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa di antara manusia itu ada yang benar-benar bertindak dan berbuat melampaui batas, ada yang membantah serta mengingkari Allah dan sifat-sifat-Nya, tanpa dasar pengetahuan, tanpa argumen yang kuat dan tanpa bimbingan wahyu yang benar.

Sikap mereka yang demikian itu semata-mata karena kesombongannya sehingga memalingkan muka dari manusia, yaitu membelakangi orang lain. Hati mereka sudah mati dan tertutup. Sebagaimana firman Allah:

Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada. (al-Hajj/22: 46). Orang yang demikian itu, jika diberi peringatan mereka tidak akan menerimanya, bahkan mereka bertambah ingkar dan sombong.

Allah berfirman: Dan apabila dibacakan kepadanya Ayat-Ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbatan di kedua telinganya, maka gembirakanlah dia dengan azab yang pedih. (Luqman/31: 7)

Orang yang buta mata hatinya dan menyombongkan dirinya, mereka itulah yang telah mengingkari Allah dan adanya Hari Kemudian itu. Maksud mereka adalah untuk menyesatkan dari jalan yang benar sehingga jauh dari Allah.

Menurut sebagian mufasir Ayat ini diturunkan sebagai penegasan dan peringatan keras dari Allah kepada orang-orang yang mengingkari dan membantah-Nya, sebagaimana disebutkan pada Ayat-Ayat yang lalu. Pada Ayat 3 dan 4 Surah ini dinyatakan bahwa pemuka-pemuka kaum musyrikin Mekah, terutama Nadhar bin Haris, telah membantah dan mengingkari Allah, tanpa pengetahuan, serta mengikuti godaan setan.

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 118-119; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Pada Ayat ini ditegaskan bahwa Nadhar bin Haris dan kawan-kawannya, serta orang-orang yang bertingkah laku seperti mereka itu, benar-benar membantah dan mengingkari Allah.

Dengan demikian Ayat ini sesunguhnya memberikan peringatan dan ancaman yang keras kepada mereka, bahwa tindakan-tindakan mereka itu akan menimbulkan akibat yang sangat buruk bagi diri mereka sendiri, yaitu kehinaan di dunia dan di akhirat.

Dari Ayat-Ayat ini dan Ayat-Ayat sebelumnya dapat dipahami bahwa ada dua hal pokok yang diingkari oleh orang-orang musyrik Mekah itu. Pada Ayat yang sebelumnya disebutkan bahwa mereka mengingkari dan membantah adanya hari Kiamat dan hari kebangkitan, sedang pada Ayat-Ayat ini mereka membantah dan mengingkari adanya Allah dan segala sifat-sifat keagungan dan kebesaran-Nya.

Kedua hal ini termasuk rukun iman yang merupakan pokok-pokok yang wajib dipercayai dan diyakini. Karena itu, tindakan mereka tidak saja menimbulkan kerugian bagi diri mereka sendiri, tetapi juga menyesatkan manusia yang lain dari jalan Allah, karena perbuatan mereka itu langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi manusia yang lain.

Mereka itu di dunia akan memperoleh kehinaan, seperti kehinaan yang dialami Abu Lahab dan istrinya, dan di akhirat akan ditimpa azab neraka yang sangat panas yang menghanguskan tubuh mereka.

Tafsir Quraish Shihab: Kendati demikian, ternyata masih ada saja sebagian orang yang memperdebatkan wujud Allah dan kekuasaan-Nya, mengingkari kebangkitan tanpa dasar ilmiah, ilham dari langit, atau kitab dari Allah yang dapat dijadikan pelita petunjuk. Perlakuannya itu hanya didasari oleh hawa nafsu dan sikap keras kepala.

Surah Al-Hajj Ayat 9
ثَانِيَ عِطْفِهِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ لَهُ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَنُذِيقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَذَابَ الْحَرِيقِ

Terjemahan: dengan memalingkan lambungnya untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Ia mendapat kehinaan di dunia dan dihari kiamat Kami merasakan kepadanya azab neraka yang membakar.

Tafsir Jalalain: ثَانِيَ عِطْفِهِ (Dengan memalingkan lambungnya) Lafal Ayat ini berkedudukan menjadi Hal atau keterangan keadaan, maksudnya orang yang membantah itu memalingkan lehernya dengan penuh kesombongan karena tidak mau beriman. Pengertian berpaling di sini adalah baik ke kanan maupun ke kiri sama saja لِيُضِلَّ (untuk menyesatkan) dapat dibaca لِيُضِلَّ dan لِيُضِلَّ, untuk menyesatkan manusia عَن سَبِيلِ اللَّ (dari jalan Allah) yakni dari agama-Nya.

لَهُ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ (Ia mendapat kehinaan di dunia) azab di dunia, akhirnya ia terbunuh dalam perang Badar وَنُذِيقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَذَابَ الْحَرِيقِ (dan di hari kiamat Kami merasakan kepadanya azab neraka yang membakar) ia akan dibakar oleh api neraka, lalu dikatakan kepadanya,..

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: ثَانِيَ عِطْفِهِ (“Dengan memalingkan lambungnya.”) Ibnu`Abbas dan lain-lain berkata: “Yaitu orang yang sombong terhadap kebenaran yang diserukan kepadanya.” Mujahid, Qatadah dan Malik berkata dari Zaid bin Aslam:

“Dengan memalingkan lambungnya,” yaitu memalingkan, yakni tengkuknya, dalam arti dia berpaling dari kebenaran yang diserukan kepadanya serta memalingkan tengkuknya dengan penuh kesombongan.

Baca Juga:  Surah Al-Hajj Ayat 30-31; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Firman-Nya: لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّ (“Untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah,”) sebagian mereka berkata: “Lam ini adalah lam akibat (dalam istilah bahasa), karena mereka tidak memiliki maksud demikian. Boleh jadi lamnya adalah lam ta’lil (lam sebab).

Kemudian, adakalanya yang dimaksud adalah orang-orang yang menentang, atau yang dimaksud adalah bahwa si pelaku ini telah Kami bentuk dengan tabi’at buruk, agar Kami menjadikannya dalam golongan orang yang menyesatkan dari jalan Allah. Kemudian Allah Ta’ala berfirman:

لَهُ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ (“Ia mendapat kehinaan di dunia,”) yaitu kehinaan dan kerendahan. Sebagaimana ketika ia sombong dari Ayat-Ayat Allah, niscaya Allah melemparkannya dalam kehinaan di dunia. Diberinya hukuman itu di dunia sebelum di akhirat.

وَنُذِيقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَذَابَ الْحَرِيقِ ( dan dihari kiamat Kami merasakan kepadanya azab neraka yang membakar.)

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa di antara manusia itu ada yang benar-benar bertindak dan berbuat melampaui batas, ada yang membantah serta mengingkari Allah dan sifat-sifat-Nya, tanpa dasar pengetahuan, tanpa argumen yang kuat dan tanpa bimbingan wahyu yang benar.

Sikap mereka yang demikian itu semata-mata karena kesombongannya sehingga memalingkan muka dari manusia, yaitu membelakangi orang lain. Hati mereka sudah mati dan tertutup. Sebagaimana firman Allah:

Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada. (al-Hajj/22: 46). Orang yang demikian itu, jika diberi peringatan mereka tidak akan menerimanya, bahkan mereka bertambah ingkar dan sombong.

Allah berfirman: Dan apabila dibacakan kepadanya Ayat-Ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbatan di kedua telinganya, maka gembirakanlah dia dengan azab yang pedih. (Luqman/31: 7)

Orang yang buta mata hatinya dan menyombongkan dirinya, mereka itulah yang telah mengingkari Allah dan adanya Hari Kemudian itu. Maksud mereka adalah untuk menyesatkan dari jalan yang benar sehingga jauh dari Allah.

Menurut sebagian mufasir Ayat ini diturunkan sebagai penegasan dan peringatan keras dari Allah kepada orang-orang yang mengingkari dan membantah-Nya, sebagaimana disebutkan pada Ayat-Ayat yang lalu. Pada Ayat 3 dan 4 Surah ini dinyatakan bahwa pemuka-pemuka kaum musyrikin Mekah, terutama Nadhar bin Haris, telah membantah dan mengingkari Allah, tanpa pengetahuan, serta mengikuti godaan setan.

Pada Ayat ini ditegaskan bahwa Nadhar bin Haris dan kawan-kawannya, serta orang-orang yang bertingkah laku seperti mereka itu, benar-benar membantah dan mengingkari Allah. Dengan demikian Ayat ini sesunguhnya memberikan peringatan dan ancaman yang keras kepada mereka, bahwa tindakan-tindakan mereka itu akan menimbulkan akibat yang sangat buruk bagi diri mereka sendiri, yaitu kehinaan di dunia dan di akhirat.

Dari Ayat-Ayat ini dan Ayat-Ayat sebelumnya dapat dipahami bahwa ada dua hal pokok yang diingkari oleh orang-orang musyrik Mekah itu. Pada Ayat yang sebelumnya disebutkan bahwa mereka mengingkari dan membantah adanya hari Kiamat dan hari kebangkitan, sedang pada Ayat-Ayat ini mereka membantah dan mengingkari adanya Allah dan segala sifat-sifat keagungan dan kebesaran-Nya.

Kedua hal ini termasuk rukun iman yang merupakan pokok-pokok yang wajib dipercayai dan diyakini. Karena itu, tindakan mereka tidak saja menimbulkan kerugian bagi diri mereka sendiri, tetapi juga menyesatkan manusia yang lain dari jalan Allah, karena perbuatan mereka itu langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi manusia yang lain.

Baca Juga:  Surah Al-Hajj Ayat 23-24; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Mereka itu di dunia akan memperoleh kehinaan, seperti kehinaan yang dialami Abu Lahab dan istrinya, dan di akhirat akan ditimpa azab neraka yang sangat panas yang menghanguskan tubuh mereka.

Tafsir Quraish Shihab: Meskipun demikian, ia masih membuang muka karena rasa sombong dan tidak mau menerima kebenaran. Orang semacam itu akan ditimpa kehinaan di dunia ini dengan dimenangkannya kebenaran. Di akhirat kelak, mereka pun akan disiksa oleh Allah dengan api neraka yang membakar.

Surah Al-Al-Hajj Ayat 10
ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ

Terjemahan: (Akan dikatakan kepadanya): “Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya”.

Tafsir Jalalain: ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ (“Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tanganmu dahulu) yakni perbuatan kamu dahulu. Diungkapkan demikian mengingat, bahwa kebanyakan pekerjaan itu dilakukan oleh kedua tangan وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ (dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya) suka menganiaya لِّلْعَبِيدِ (hamba-hamba-Nya”) dengan mengazab mereka tanpa dosa.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ (“Dan di hari Kiamat Kami merasakan kepadanya adzab neraka yang membakar. Yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tanganmu.”) Yaitu, hal ini dikatakan kepadanya sebagai celaan dan ejekan. وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ (“Dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya.”)

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa azab yang diterima oleh orang-orang kafir itu adalah seimbang dengan perbuatan mungkar yang pernah mereka kerjakan di dunia dahulu, sesuai dengan firman Allah:

Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan dan Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga). (an-Najm/53: 31)

Allah mengazab manusia yang durhaka itu bukanlah karena Dia bermaksud untuk menganiaya hamba-Nya, tetapi semata-mata karena dosa hamba-hamba itu sendiri, mengazab mereka yang berdosa sesuai dengan keadilan Allah.

Tafsir Quraish Shihab: Dikatakan kepada mereka, “Kehinaan dan siksa yang kalian temui itu hanyalah karena pendustaan dan sikap sombong kalian. Sesungguhnya Allah Mahaadil, tidak curang dan tidak memandang sama antara orang Mukmin dan kafir atau orang saleh dan orang jahat. Dia akan membalas masing-masing dari mereka sesuai dengan amal perbuatannya.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Hajj Ayat 8-10 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S