Surah Al-Haqqah Ayat 1-12; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Haqqah Ayat 1-12

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Haqqah Ayat 1-12 ini, sebelum membahas kandungan ayat terlebih dahulu kita mengetahui isi surah. Surah ini memaparkan keadaan pada hari kiamat dan menyebutkan kehancuran dan siksaan keras yang dialami umat-umat terdahulu karena mendustakan risalah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Surah ini juga berbicara tentang tiupan sangkakala, perubahan dan kehancuran bumi, gunung dan langit serta dikumpulkannya semua makhluk untuk diperhitungkan amalnya. Dalam Surah ini terdapat berita gembira bagi para pengikut kebenaran berupa balasan terhormat dan kenikmatan yang akan mereka terima serta peringatan bagi para pengikut kebatilan akan siksa yang menyakitkan.

Surah ini di tutup dengan pembicaraan tentang kebenaran Rasulullah saw. dalam semua yang disampaikannya dan kebenaran al-Qur’ân yang mutlak.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Haqqah Ayat 1-12

Surah Al-Haqqah Ayat 1
ٱلۡحَآقَّةُ

Terjemahan: Hari kiamat,

Tafsir Jalalain: ٱلۡحَآقَّةُ (Hari yang benar) yaitu hari kiamat, dikatakan demikian karena pada hari itu dibenarkan hal-hal yang diingkari, seperti mengenai adanya hari kebangkitan, hari hisab dan hari pembalasan. Atau dinamakan demikian karena pada hari itu ditampakkan kepada mereka hal-hal tersebut.

Tafsir Ibnu Katsir: Al-Haqqah adalah salah satu dari nama hari kiamat, karena di dalamnya terbukti janji dan ancaman. Oleh karena itu Allah mengagungkan kejadian-kejadiannya,

Tafsir Kemenag: Al-haqqah menurut bahasa berarti yang pasti terjadi. Hari Kiamat dinamai al-haqqah karena hari itu pasti terjadi. Tentang keadaan dan sifatnya tidak dapat dijelaskan dan diterangkan oleh manusia, karena pengetahuan tentang hari Kiamat termasuk pengetahuan yang gaib. Apa yang diketahui manusia tentang hari Kiamat terbatas pada yang disampaikan Al-Qur’an. Dalam ayat yang lain, Allah berfirman:

Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat, “Kapan terjadi?” Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi, tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba.”

Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya pengetahuan tentang (hari Kiamat) ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (al-A’raf/7: 187)

Hari Kiamat, sebagaimana beberapa perkara gaib lainnya, hanya diketahui Allah. Firman-Nya:

Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal. (Luqman/31: 34)

Apa yang dapat dijadikan sumber pengetahuan untuk mengetahui terjadinya hari Kiamat itu? Dari pertanyaan ini dipahami bahwa ada beberapa hal yang dapat memberikan keterangan kepada manusia tentang proses kejadian yang terjadi pada hari Kiamat, karena pengetahuan tentang hari Kiamat itu adalah pengetahuan yang dapat dicapai oleh makhluk dengan bantuan berbagai macam pengetahuan. Memang kejadian hari Kiamat tidak dapat dikira-kirakan.

Kejadian dan peristiwanya lebih hebat dari yang pernah digambarkan oleh siapa pun. Karena hakikat hari Kiamat tidak dapat diketahui makhluk, orang-orang musyrik tidak dapat mengingkarinya. Jika mereka mengingkarinya, berarti mereka mengingkari sesuatu yang tidak dapat diketahui atau dicapai oleh pikiran mereka.

Tafsir Quraish Shihab: Surah ini memaparkan keadaan pada hari kiamat dan menyebutkan kehancuran dan siksaan keras yang dialami umat-umat terdahulu karena mendustakan risalah. Surah ini juga berbicara tentang tiupan sangkakala, perubahan dan kehancuran bumi, gunung dan langit serta dikumpulkannya semua makhluk untuk diperhitungkan amalnya.

Dalam Surah ini terdapat berita gembira bagi para pengikut kebenaran berupa balasan terhormat dan kenikmatan yang akan mereka terima serta peringatan bagi para pengikut kebatilan akan siksa yang menyakitkan.

Surah ini di tutup dengan pembicaraan tentang kebenaran Rasulullah saw. dalam semua yang disampaikannya dan kebenaran al-Qur’ân yang mutlak.]] Hari kiamat yang akan terjadi itu benar. Apakah hari kiamat yang benar-benar akan terjadi itu?

Surah Al-Haqqah Ayat 2
مَا ٱلۡحَآقَّةُ

Terjemahan: apakah hari kiamat itu?

Tafsir Jalalain: مَا ٱلۡحَآقَّةُ (Apakah hari yang benar itu) ungkapan ini mengandung makna yang menggambarkan tentang keagungan hari kiamat; dan berkedudukan sebagai mubtada yang sekaligus sebagai khabar dari lafal al-haaqqah yang pertama.

Tafsir Ibnu Katsir: مَا ٱلۡحَآقَّةُ (apakah hari kiamat itu?)

Tafsir Kemenag: Al-haqqah menurut bahasa berarti yang pasti terjadi. Hari Kiamat dinamai al-haqqah karena hari itu pasti terjadi. Tentang keadaan dan sifatnya tidak dapat dijelaskan dan diterangkan oleh manusia, karena pengetahuan tentang hari Kiamat termasuk pengetahuan yang gaib. Apa yang diketahui manusia tentang hari Kiamat terbatas pada yang disampaikan Al-Qur’an. Dalam ayat yang lain, Allah berfirman:

Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat, “Kapan terjadi?” Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi, tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba.”

Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya pengetahuan tentang (hari Kiamat) ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (al-A’raf/7: 187)

Hari Kiamat, sebagaimana beberapa perkara gaib lainnya, hanya diketahui Allah. Firman-Nya:

Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal. (Luqman/31: 34)

Apa yang dapat dijadikan sumber pengetahuan untuk mengetahui terjadinya hari Kiamat itu? Dari pertanyaan ini dipahami bahwa ada beberapa hal yang dapat memberikan keterangan kepada manusia tentang proses kejadian yang terjadi pada hari Kiamat, karena pengetahuan tentang hari Kiamat itu adalah pengetahuan yang dapat dicapai oleh makhluk dengan bantuan berbagai macam pengetahuan.

Memang kejadian hari Kiamat tidak dapat dikira-kirakan. Kejadian dan peristiwanya lebih hebat dari yang pernah digambarkan oleh siapa pun. Karena hakikat hari Kiamat tidak dapat diketahui makhluk, orang-orang musyrik tidak dapat mengingkarinya. Jika mereka mengingkarinya, berarti mereka mengingkari sesuatu yang tidak dapat diketahui atau dicapai oleh pikiran mereka.

Tafsir Quraish Shihab: Surah ini memaparkan keadaan pada hari kiamat dan menyebutkan kehancuran dan siksaan keras yang dialami umat-umat terdahulu karena mendustakan risalah. Surah ini juga berbicara tentang tiupan sangkakala, perubahan dan kehancuran bumi, gunung dan langit serta dikumpulkannya semua makhluk untuk diperhitungkan amalnya.

Dalam Surah ini terdapat berita gembira bagi para pengikut kebenaran berupa balasan terhormat dan kenikmatan yang akan mereka terima serta peringatan bagi para pengikut kebatilan akan siksa yang menyakitkan.

Surah ini di tutup dengan pembicaraan tentang kebenaran Rasulullah saw. dalam semua yang disampaikannya dan kebenaran al-Qur’ân yang mutlak.]] Hari kiamat yang akan terjadi itu benar. Apakah hari kiamat yang benar-benar akan terjadi itu?

Surah Al-Haqqah Ayat 3
وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡحَآقَّةُ

Terjemahan: Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu?

Tafsir Jalalain: وَمَآ أَدۡرَىٰكَ (Dan tahukah kamu) sudah tahukah kamu مَا ٱلۡحَآقَّةُ (apakah hari yang benar itu?) ungkapan ini menambah keagungan hari kiamat. Maa yang pertama menjadi mubtada sedangkan maa yang kedua menjadi khabarnya. Dan maa yang kedua berikut khabarnya berkedudukan sebagai maf’ul kedua dari lafal adraa.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah mengagungkan kejadian-kejadiannya, dimana Dia berfirman: وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡحَآقَّةُ (“Apakah hari kiamat itu?”)

Tafsir Kemenag: Al-haqqah menurut bahasa berarti yang pasti terjadi. Hari Kiamat dinamai al-haqqah karena hari itu pasti terjadi. Tentang keadaan dan sifatnya tidak dapat dijelaskan dan diterangkan oleh manusia, karena pengetahuan tentang hari Kiamat termasuk pengetahuan yang gaib. Apa yang diketahui manusia tentang hari Kiamat terbatas pada yang disampaikan Al-Qur’an. Dalam ayat yang lain, Allah berfirman:

Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat, “Kapan terjadi?” Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi, tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba.”

Baca Juga:  Surah Luqman Ayat 33; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya pengetahuan tentang (hari Kiamat) ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (al-A’raf/7: 187)

Hari Kiamat, sebagaimana beberapa perkara gaib lainnya, hanya diketahui Allah. Firman-Nya:

Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal. (Luqman/31: 34)

Apa yang dapat dijadikan sumber pengetahuan untuk mengetahui terjadinya hari Kiamat itu? Dari pertanyaan ini dipahami bahwa ada beberapa hal yang dapat memberikan keterangan kepada manusia tentang proses kejadian yang terjadi pada hari Kiamat, karena pengetahuan tentang hari Kiamat itu adalah pengetahuan yang dapat dicapai oleh makhluk dengan bantuan berbagai macam pengetahuan.

Memang kejadian hari Kiamat tidak dapat dikira-kirakan. Kejadian dan peristiwanya lebih hebat dari yang pernah digambarkan oleh siapa pun. Karena hakikat hari Kiamat tidak dapat diketahui makhluk, orang-orang musyrik tidak dapat mengingkarinya. Jika mereka mengingkarinya, berarti mereka mengingkari sesuatu yang tidak dapat diketahui atau dicapai oleh pikiran mereka.

Tafsir Quraish Shihab: Apakah yang dapat memberitahukanmu tentang hakikatnya dan memberikan gambaran kepadamu tentang kedahsatannya?

Surah Al-Haqqah Ayat 4
كَذَّبَتۡ ثَمُودُ وَعَادٌۢ بِٱلۡقَارِعَةِ

Terjemahan: Kaum Tsamud dan ‘Aad telah mendustakan hari kiamat.

Tafsir Jalalain: كَذَّبَتۡ ثَمُودُ وَعَادٌۢ بِٱلۡقَارِعَةِ (Kaum Tsamud dan kaum ‘Ad telah mendustakan hari yang menggentarkan) yakni hari kiamat, hari kiamat dinamakan demikian karena kedahsyatan dan kengerian yang terjadi pada hari itu sangat menggentarkan hati.

Tafsir Ibnu Katsir: كَذَّبَتۡ ثَمُودُ وَعَادٌۢ بِٱلۡقَارِعَةِ (Kaum Tsamud dan ‘Aad telah mendustakan hari kiamat.)

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, diterangkan bahwa kaum Samud dan kaum ‘Ad tidak mempercayai adanya hari Kiamat. Mereka tidak percaya bahwa nanti akan terjadi kehancuran dunia dan peristiwa dahsyat yang huru-haranya tidak tertanggungkan. Hal ini juga difirmankan Allah:

(Kaum) Samud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas (zalim), ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka, “(Biarkanlah) unta betina dari Allah ini dengan minumannya.” Namun mereka mendustakannya dan menyembelihnya, karena itu Tuhan membinasakan mereka karena dosanya, lalu diratakan-Nya (dengan tanah). (as-Syams/91: 11-14).

Tafsir Quraish Shihab: Kaum Tsamûd dan ‘Ad telah mendustakan hari kiamat yang mengejutkan semua makhluk karena kedahsatannya.

Surah Al-Haqqah Ayat 5
فَأَمَّا ثَمُودُ فَأُهۡلِكُواْ بِٱلطَّاغِيَةِ

Terjemahan: Adapun kaum Tsamud, maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa.

Tafsir Jalalain: فَأَمَّا ثَمُودُ فَأُهۡلِكُواْ بِٱلطَّاغِيَةِ (Adapun kaum Tsamud, maka mereka telah dibinasakan dengan teriakan yang dahsyat) teriakan yang kerasnya melampaui batas.

Tafsir Ibnu Katsir: Dia berfirman: فَأَمَّا ثَمُودُ فَأُهۡلِكُواْ بِٱلطَّاغِيَةِ (“Adapun kaum Tsamud, mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa.”) yaitu suara keras yang membuat mereka tidak bergerak. Demikian yang dikemukakan oleh Qatadah: “Ath-thaaghiyah berarti suara keras.” Dan itu pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir.

Tafsir Kemenag: Kaum Samud telah dihancurkan Allah dengan thagiyah yaitu suara petir yang mengguntur dari langit yang membinasakan semua yang ada di permukaan bumi. Disebut thagiyah (sesuatu yang luar biasa) karena memang suara itu luar biasa; tidak seperti suara petir yang pernah terjadi. Mereka diazab oleh Tuhan karena telah bertindak melampaui batas yang telah ditetapkan Nabi Saleh terhadap mereka. Mereka membunuh unta betina yang diperintahkan Nabi Saleh untuk dijaga dengan baik.

Pada firman Allah yang lain diterangkan bahwa kaum Samud dibinasakan dengan sa’iqah (petir).

Dan adapun kaum Samud, mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk itu, maka mereka disambar petir sebagai azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan. (Fussilat/41: 17).

Tafsir Quraish Shihab: Kaum Tsamûd dibinasakan dengan peristiwa yang luar biasa dahsatnya.

Surah Al-Haqqah Ayat 6
وَأَمَّا عَادٌ فَأُهۡلِكُواْ بِرِيحٍ صَرۡصَرٍ عَاتِيَةٍ

Terjemahan: Adapun kaum ‘Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang,

Tafsir Jalalain: وَأَمَّا عَادٌ فَأُهۡلِكُواْ بِرِيحٍ صَرۡصَرٍ (Adapun kaum Ad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat keras) sangat keras suaranya عَاتِيَةٍ (lagi amat kuat) kuat lagi keras; angin tersebut ditimpakan atas kaum Ad, sekalipun mereka kuat lagi keras tetapi menghadapi angin ini mereka tidak berarti apa-apa.

Tafsir Ibnu Katsir: وَأَمَّا عَادٌ فَأُهۡلِكُواْ بِرِيحٍ صَرۡصَرٍ (“Adapun kaum ‘Aad, maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin.”) yakni dingin.

Qatadah, as-Suddi, ar-Rabbi’ bin Anas dan ats-Tsauri mengatakan, عَاتِيَةٍ (“Amat kencang”) yakni hembusan yang sangat kencang. Qatadah mengungkapkan: “Angin itu menerpa mereka sehingga mencerai beraikan hati mereka.

Tafsir Kemenag: Adapun kaum ‘Ad dibinasakan Allah dengan angin dingin yang sangat kencang (sarsar ‘atiyah). Dalam ayat lain, Allah berfirman:

Maka Kami tiupkan angin yang sangat bergemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang nahas, karena Kami ingin agar mereka itu merasakan siksaan yang menghinakan dalam kehidupan di dunia. Sedangkan azab akhirat pasti lebih menghinakan dan mereka tidak diberi pertolongan. (Fussilat/41: 16)

Tafsir Quraish Shihab: Sedangkan kaum ‘Ad dibinasakan dengan angin kencang yang sangat dingin.

Surah Al-Haqqah Ayat 7
سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٍ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٍ

Terjemahan: yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).

Tafsir Jalalain: سَخَّرَهَا (Yang Allah tundukkan angin itu) artinya Allah mengirimkannya dengan kekuasaan-Nya سَبۡعَ لَيَالٍ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ (kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari) dimulai pada pagi hari Rabu, tanggal dua puluh dua bulan Syawal; angin itu terjadi di pertengahan musim dingin حُسُومًا (terus-menerus) atau secara berturut-turut. Keadaan angin itu diserupakan dengan pekerjaan yang dilakukan oleh tukang setrika, yaitu sewaktu ia mengulang-ulang setrikaannya pada penyakit yang diobatinya. Yakni, ia mengulang-ulanginya dari satu waktu ke waktu yang lainnya hingga penyakitnya lenyap sama sekali,

فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ (maka kamu lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan) mereka tercampakkan ke dalam keadaan binasa كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ (seakan-akan mereka batang) pokok نَخۡلٍ خَاوِيَةٍ (pohon kurma yang lapuk) yang jatuh karena keropos atau lapuk.

Tafsir Ibnu Katsir: سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ (“Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka.”) yakni angin itu menguasai mereka. سَبۡعَ لَيَالٍ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا (“selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus.”) secara penuh dan terus menerus serta berkesinambungan yang menjadikan mereka berputus asa. Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, ats-Tsauri, dan lain-lain mengatakan:

“Kata husuuman berarti secara berturut-turut.” Dan juga dari ‘Ikrimah, ar-Rabi’ bin Khutsaim: “Secara berturut-turut yang menyebabkan mereka berputus asa.” Yang demikian itu seperti firman Allah: فِىٓ أَيَّامٍ نَّحِسَاتٍ (“Pada hari-hari yang naas.”) (fushshilat: 16)

Ar-Rabi’ mengatakan: “Angin tersebut mulai berhembus pada hari Jum’at.” Dan ulama lain mengatakan: “Pada hari Rabu.” Ibnu ‘Abbas mengatakan: “khaawiyatin; berarti rusak.” Dan yang lain mengatakan: “Yakni hancur.”

Tafsir Kemenag: Angin dingin yang sangat kencang itu bertiup di negeri mereka tidak henti-hentinya selama tujuh malam delapan hari, memusnahkan rumah-rumah, istana-istana, harta-benda, binatang ternak, tanaman-tanaman, dan semua yang ada di negeri mereka.

Kaum ‘Ad atau bangsa ‘Ad merupakan bangsa ras semitik, yang hidup sekitar 5000-4000 tahun yang lalu. Kaum ini hidup di wilayah Arabia Selatan, di suatu kawasan bukit-bukit al-Ahqaf (lihat Surah al-Ahqaf/46: 21), atau yang sekarang dikenal dengan nama Rab al-Khali, yang membentang antara Yaman bagian selatan sampai ke wilayah Oman.

Mayoritas kaum ‘Ad telah menolak kerasulan dan misi Nabi Hud. Mereka mendapat azab dari Allah berupa angin yang sangat dingin lagi kencang yang berlangsung terus menerus selama tujuh malam delapan hari. Data ilmiah paleogeologik tentang peristiwa itu belum didapatkan.

Baca Juga:  Surah Al-Haqqah Ayat 13-18; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Namun mungkin kita dapat membandingkannya dengan apa yang terjadi di Amerika Serikat, tepatnya di Negara bagian New Orleans, ketika wilayah itu diterjang oleh Badai Katrina (Katrina Hurricane) pada tanggal 23-31 Agustus 2005 yang lalu. Katrina Hurricane ini mempunyai kecepatan badai 280 km/jam, tekanan (minimal) 902 mbar (hPa: 26.65 inHg); suhu badai cukup hangat, sekitar 28,4 oC, berlangsung selama lebih kurang 8 (delapan) hari, terus menerus.

Wilayah hantamannya meliputi Bahamas, Florida Selatan, Kuba, Louisiana (utamanya Greater New Orleans), Mississippi, Alabama, Florida Panhandle, dan sebagian besar pantai timur Amerika Utara. Radius Katrina Hurricane ini sekitar 160 km dari titik sentral badai itu. Korban manusia meninggal 1.836 jiwa. Korban harta sebesar US$ 84 Miliar.

Katrina Hurricane ini tercatat sebagai jenis Badai Atlantik yang terkuat ke-enam dalam sejarah Amerika, atau terkuat ketiga, yang terjadi pada musim landfall (musim gugur) di Amerika Serikat. Sebagai perbandingan Galveston Hurricane yang terjadi pada tahun 1900 di Amerika Serikat menelan korban jiwa antara 6000-12.000 orang.

Dengan demikian, angin atau badai yang sangat dingin lagi kencang, yang menimpa kaum ‘Ad selama tujuh malam delapan hari terus menerus, mungkin mirip atau jauh lebih hebat dari Katrina Hurricane ini; karena suhunya sangat dingin dan mampu menghancurkan suatu kaum (umat).

Perkataan “tujuh malam delapan hari” memberi peringatan bahwa angin kencang dunia itu benar-benar merupakan azab bagi mereka, dan menimpa seluruh yang ada di negeri itu.

Tafsir Quraish Shihab: Allah menimpakan angin tersebut kepada mereka selama tujuh hari delapan malam secara terus menerus. Kamu akan melihat, di tempat angin itu bertiup, mereka mati bagaikan pangkal-pangkal pohon yang telah lapuk bagian dalamnya.

Surah Al-Haqqah Ayat 8
فَهَلۡ تَرَىٰ لَهُم مِّنۢ بَاقِيَةٍ

Terjemahan: Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka.

Tafsir Jalalain: فَهَلۡ تَرَىٰ لَهُم مِّنۢ بَاقِيَةٍ (Maka apakah kamu melihat bekas-bekas mereka?) lafal baaqiyah adalah sifat dari lafal nafsin yang diperkirakan keberadaannya; yaitu apakah kamu melihat seseorang pun yang tinggal di antara mereka? Atau lafal baaqiyah ini huruf ta-nya untuk menunjukkan makna mubalaghah, yakni bekas-bekasnya? Tentu saja tidak.

Tafsir Ibnu Katsir: فَهَلۡ تَرَىٰ لَهُم مِّنۢ بَاقِيَةٍ (“Maka kamu tidak melihat seorang pun yang tinggal di antara mereka.”) maksudnya, apakah kamu mendapati salah seorang dari mereka atau orang-orang yang menisbatkan diri kepada mereka yang masih tersisa, bahkan mereka semua musnah secara keseluruhan. Dan Allah tidak mengadakan penerus bagi mereka.

Tafsir Kemenag: Angin dingin yang sangat kencang itu bertiup di negeri mereka tidak henti-hentinya selama tujuh malam delapan hari, memusnahkan rumah-rumah, istana-istana, harta-benda, binatang ternak, tanaman-tanaman, dan semua yang ada di negeri mereka.

Kaum ‘Ad atau bangsa ‘Ad merupakan bangsa ras semitik, yang hidup sekitar 5000-4000 tahun yang lalu. Kaum ini hidup di wilayah Arabia Selatan, di suatu kawasan bukit-bukit al-Ahqaf (lihat Surah al-Ahqaf/46: 21), atau yang sekarang dikenal dengan nama Rab al-Khali, yang membentang antara Yaman bagian selatan sampai ke wilayah Oman.

Mayoritas kaum ‘Ad telah menolak kerasulan dan misi Nabi Hud. Mereka mendapat azab dari Allah berupa angin yang sangat dingin lagi kencang yang berlangsung terus menerus selama tujuh malam delapan hari. Data ilmiah paleogeologik tentang peristiwa itu belum didapatkan.

Namun mungkin kita dapat membandingkannya dengan apa yang terjadi di Amerika Serikat, tepatnya di Negara bagian New Orleans, ketika wilayah itu diterjang oleh Badai Katrina (Katrina Hurricane) pada tanggal 23-31 Agustus 2005 yang lalu. Katrina Hurricane ini mempunyai kecepatan badai 280 km/jam, tekanan (minimal) 902 mbar (hPa: 26.65 inHg); suhu badai cukup hangat, sekitar 28,4 oC, berlangsung selama lebih kurang 8 (delapan) hari, terus menerus.

Wilayah hantamannya meliputi Bahamas, Florida Selatan, Kuba, Louisiana (utamanya Greater New Orleans), Mississippi, Alabama, Florida Panhandle, dan sebagian besar pantai timur Amerika Utara. Radius Katrina Hurricane ini sekitar 160 km dari titik sentral badai itu. Korban manusia meninggal 1.836 jiwa. Korban harta sebesar US$ 84 Miliar.

Katrina Hurricane ini tercatat sebagai jenis Badai Atlantik yang terkuat ke-enam dalam sejarah Amerika, atau terkuat ketiga, yang terjadi pada musim landfall (musim gugur) di Amerika Serikat. Sebagai perbandingan Galveston Hurricane yang terjadi pada tahun 1900 di Amerika Serikat menelan korban jiwa antara 6000-12.000 orang.

Dengan demikian, angin atau badai yang sangat dingin lagi kencang, yang menimpa kaum ‘Ad selama tujuh malam delapan hari terus menerus, mungkin mirip atau jauh lebih hebat dari Katrina Hurricane ini; karena suhunya sangat dingin dan mampu menghancurkan suatu kaum (umat).

Perkataan “tujuh malam delapan hari” memberi peringatan bahwa angin kencang dunia itu benar-benar merupakan azab bagi mereka, dan menimpa seluruh yang ada di negeri itu.

Tafsir Quraish Shihab: Maka, apakah kamu masih melihat seseorang dari mereka yang tersisa dan tidak turut binasa?

Surah Al-Haqqah Ayat 9
وَجَآءَ فِرۡعَوۡنُ وَمَن قَبۡلَهُۥ وَٱلۡمُؤۡتَفِكَٰتُ بِٱلۡخَاطِئَةِ

Terjemahan: Dan telah datang Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya dan (penduduk) negeri-negeri yang dijungkir balikkan karena kesalahan yang besar.

Tafsir Jalalain: وَجَآءَ فِرۡعَوۡنُ وَمَن قَبۡلَهُۥ (Dan telah datang Firaun dan orang-orang yang mengikutinya) beserta para pengikutnya. Menurut suatu qiraat, lafal qabilahu dibaca qablahu sehingga artinya, orang-orang kafir yang sebelumnya وَٱلۡمُؤۡتَفِكَٰتُ (dan negeri-negeri yang dijungkirbalikkan) penduduknya dijungkirbalikkan berikut negeri-negeri tempat tinggal mereka; yang dimaksud adalah negeri-negeri tempat tinggal kaum Nabi Luth بِٱلۡخَاطِئَةِ (karena kesalahan yang besar) karena mereka mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa besar.

Tafsir Ibnu Katsir: Selanjutnya firman-Nya: وَجَآءَ فِرۡعَوۡنُ وَمَن قَبۡلَهُۥ (“Dan telah datang Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya.”) ada yang membaca dengan harakat kasrah pada huruf qaaf [yang membaca dengan memberi harakat kasrah adalah al-Kisra dan Abu ‘Amar. Sedangkan lima ulama qiraat lainnya membaca dengan fathah]. Artinya, juga dari sisinya dari orang-orang yang hidup pada zamannnya di kalangan pengikutnya yang terdiri dari orang-orang kafir Qibthi. Dan yang lainnya membacanya dengan memberi harakat fathah pada huruf tersebut, yakni dari orang-orang sebelumnya dari umat-umat yang serupa dengannya.

Firman Allah: وَٱلۡمُؤۡتَفِكَٰتُ (“Dan [penduduk] negeri yang dijungkir balikkan.”) yakni umat-umat yang mendustakan para Rasul. Bil khaathi-ah (“Karena kesalahan yang besar”) yakni pendustaan terhadap apa yang diturunkan oleh Allah. Ar-Rabi’ mengatakan: بِٱلۡخَاطِئَةِ yakni karena kemaksiatan.”
Sedangkan Mujahid mengatakan: “Yakni karena dosa-dosa.”

Tafsir Kemenag: Dalam ayat-ayat ini, diterangkan bahwa Fir’aun dan kaum Lut beserta pengikut-pengikutnya juga telah berbuat kerusakan yang besar yaitu mendustakan para rasul yang diutus Allah kepada mereka. Oleh karena itu, mereka diazab oleh Tuhan. Dalam ayat lain, Allah berfirman:

Semuanya telah mendustakan rasul-rasul maka berlakulah ancaman-Ku (atas mereka). (Qaf/50: 14).

Tafsir Quraish Shihab: Telah datang Fir’aun, orang-orang kafir dari umat terdahulu dan kelompok masyarakat yang keluar dari kebenaran dan fitrah yang suci dengan melakukan perbuatan dosa besar yang keji.

Surah Al-Haqqah Ayat 10
فَعَصَوۡاْ رَسُولَ رَبِّهِمۡ فَأَخَذَهُمۡ أَخۡذَةً رَّابِيَةً

Terjemahan: Maka (masing-masing) mereka mendurhakai rasul Tuhan mereka, lalu Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat keras.

Tafsir Jalalain: فَعَصَوۡاْ رَسُولَ رَبِّهِمۡ (Maka masing-masing mereka mendurhakai rasul Rabb mereka) mendurhakai Nabi Luth dan nabi-nabi lainnya فَأَخَذَهُمۡ أَخۡذَةً رَّابِيَةً (lalu Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat keras) siksaan yang lebih keras daripada siksaan-siksaan lainnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Oleh karena itu Allah berfirman: فَعَصَوۡاْ رَسُولَ رَبِّهِمۡ فَأَخَذَهُمۡ أَخۡذَةً رَّابِيَةً (“Maka mereka mendurhakai Rasul Rabb mereka, lalu Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat keras.”) yakni sangat dahsyat, keras lagi pedih. Mujahid mengatkan: “Raabiyah berarti sangat keras.” As-Suddi mengatakan: “Yakni, membinasakan.”

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini Allah memerintahkan kaum Muslimin agar melakukan amal saleh dengan mengatakan, “Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul -Nya, apakah kamu sekalian mau Aku tunjukkan suatu perniagaan yang bermanfaat dan pasti mendatangkan keuntungan yang berlipat ganda dan keberuntungan yang kekal atau melepaskan kamu dari api neraka.”

Baca Juga:  Surah Al-Haqqah Ayat 44-52; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Ungkapan ayat di atas memberikan pengertian bahwa amal saleh dengan pahala yang besar, sama hebatnya dengan perniagaan yang tak pernah merugi karena ia akan masuk surga dan selamat dari api neraka. Firman Allah:

Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. (at-Taubah/9: 111)

Kemudian disebutkan bentuk-bentuk perdagangan yang memberikan keuntungan yang besar itu, yaitu:

  1. Senantiasa beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, adanya hari Kiamat, qadha’ dan qadar Allah.
  2. Mengerjakan amal saleh semata-mata karena Allah bukan karena ria adalah perwujudan iman seseorang.
  3. Berjihad di jalan Allah. Berjihad ialah segala macam upaya dan usaha yang dilakukan untuk menegakkan agama Allah. Ada dua macam jihad yang disebut dalam ayat ini yaitu berjihad dengan jiwa raga dan berjihad dengan harta. Berjihad dengan jiwa dan raga ialah berperang melawan musuh-musuh agama yang menginginkan kehancuran Islam dan kaum Muslimin. Berjihad dengan harta yaitu membelanjakan harta benda untuk menegakkan kalimat Allah, seperti untuk biaya berperang, mendirikan masjid, rumah ibadah, sekolah, rumah sakit, dan kepentingan umum lainnya.

Di samping itu, ada bentuk-bentuk jihad yang lain, yaitu jihad menentang hawa nafsu, mengendalikan diri, berusaha membentuk budi pekerti yang baik pada diri sendiri, menghilangkan rasa iri, dan sebagainya.

Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa iman dan jihad itu adalah perbuatan yang paling baik akibatnya, baik untuk diri sendiri, anak-anak, keluarga, harta benda, dan masyarakat, jika manusia itu memahami dengan sebenar-benarnya.

Tafsir Quraish Shihab: Masing-masing mereka durhaka kepada utusan Tuhan mereka. Maka Allah menyiksa mereka dengan siksa yang sangat keras.

Surah Al-Haqqah Ayat 11
إِنَّا لَمَّا طَغَا ٱلۡمَآءُ حَمَلۡنَٰكُمۡ فِى ٱلۡجَارِيَةِ

Terjemahan: Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kamu, ke dalam bahtera,

Tafsir Jalalain: إِنَّا لَمَّا طَغَا ٱلۡمَآءُ (Sesungguhnya Kami tatkala air naik) naik ke atas, sehingga segala sesuatu termasuk gunung-gunung dan lain-lainnya semuanya tenggelam yaitu, pada masa banjir besar حَمَلۡنَٰكُمۡ (Kami bawa kalian) bapak moyang kalian, karena kalian pada zaman itu masih berada di dalam tulang sulbi mereka فِى ٱلۡجَارِيَةِ (ke dalam bahtera) atau perahu yang dibuat oleh Nabi Nuh. Akhirnya, selamatlah Nabi Nuh beserta orang-orang yang beriman bersamanya yang berada di dalam bahtera itu, sedangkan yang lainnya semua mati tenggelam.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: إِنَّا لَمَّا طَغَا ٱلۡمَآءُ (“Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik.”) yakni telah melampaui batas dengan seizin Allah dan telah menggenangi semua yang ada. Dan demikian itu disebabkan oleh doa Nuh atas kaumnya saat mereka mendustakannya. حَمَلۡنَٰكُمۡ فِى ٱلۡجَارِيَةِ (“Kami bawa kamu ke dalam bahtera.”) yakni kapal yang berlayar di permukaan air.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini Allah memerintahkan kaum Muslimin agar melakukan amal saleh dengan mengatakan, “Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul -Nya, apakah kamu sekalian mau Aku tunjukkan suatu perniagaan yang bermanfaat dan pasti mendatangkan keuntungan yang berlipat ganda dan keberuntungan yang kekal atau melepaskan kamu dari api neraka.”

Ungkapan ayat di atas memberikan pengertian bahwa amal saleh dengan pahala yang besar, sama hebatnya dengan perniagaan yang tak pernah merugi karena ia akan masuk surga dan selamat dari api neraka. Firman Allah:

Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. (at-Taubah/9: 111)

Kemudian disebutkan bentuk-bentuk perdagangan yang memberikan keuntungan yang besar itu, yaitu:

  1. Senantiasa beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, adanya hari Kiamat, qadha’ dan qadar Allah.
  2. Mengerjakan amal saleh semata-mata karena Allah bukan karena ria adalah perwujudan iman seseorang.
  3. Berjihad di jalan Allah. Berjihad ialah segala macam upaya dan usaha yang dilakukan untuk menegakkan agama Allah. Ada dua macam jihad yang disebut dalam ayat ini yaitu berjihad dengan jiwa raga dan berjihad dengan harta. Berjihad dengan jiwa dan raga ialah berperang melawan musuh-musuh agama yang menginginkan kehancuran Islam dan kaum Muslimin. Berjihad dengan harta yaitu membelanjakan harta benda untuk menegakkan kalimat Allah, seperti untuk biaya berperang, mendirikan masjid, rumah ibadah, sekolah, rumah sakit, dan kepentingan umum lainnya.

Di samping itu, ada bentuk-bentuk jihad yang lain, yaitu jihad menentang hawa nafsu, mengendalikan diri, berusaha membentuk budi pekerti yang baik pada diri sendiri, menghilangkan rasa iri, dan sebagainya.

Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa iman dan jihad itu adalah perbuatan yang paling baik akibatnya, baik untuk diri sendiri, anak-anak, keluarga, harta benda, dan masyarakat, jika manusia itu memahami dengan sebenar-benarnya.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya ketika air telah melampaui batas dan naik sampai ke atas gunung dalam peristiwa topan, Kami membawa kalian–dengan membawa tetua kalian–ke dalam bahtera yang berlayar.

Surah Al-Haqqah Ayat 12
لِنَجۡعَلَهَا لَكُمۡ تَذۡكِرَةً وَتَعِيَهَآ أُذُنٌ وَٰعِيَةٌ

Terjemahan: agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar.

Tafsir Jalalain: لِنَجۡعَلَهَا (Agar Kami jadikan peristiwa itu) atau perbuatan ini, yaitu diselamatkan-Nya orang-orang yang beriman dan ditenggelamkan-Nya orang-orang yang kafir لَكُمۡ تَذۡكِرَةً (peringatan bagi kalian) pelajaran وَتَعِيَهَآ (dan agar diperhatikan) supaya hal itu tetap diingat أُذُنٌ وَٰعِيَةٌ (oleh telinga yang mau mendengar) mau menerima apa yang didengarnya.

Tafsir Ibnu Katsir: لِنَجۡعَلَهَا لَكُمۡ تَذۡكِرَةً (“Agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagimu.”) kata ganti [dlamir] kembali pada jenis, karena penunjukkan makna padanya. Artinya, dan Kami sisakan jenisnya bagi kalian yang kalian naiki di atas aliran air di laut. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman:

وَتَعِيَهَآ أُذُنٌ وَٰعِيَةٌ (“Dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar.”) yakni yang memahami nikmat ini sekaligus mengingatkannya adalah telinga yang senantiasa mendengar. Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yakni yang selalu menghafal lagi mendengar.” Qatadah mengatakan: أُذُنٌ وَٰعِيَةٌ artinya telinga yang mengerti tentang Allah sehingga dia mengambil manfaat dari apa yang dia dengar dari Kitabullah.”

Tafsir Kemenag: Ayat-ayat ini menerangkan azab yang telah ditimpakan kepada kaum Nuh, sehingga mereka semua musnah. Yang tinggal hanya orang-orang yang ikut bersama Nabi Nuh menaiki bahtera atau kapal.

Diterangkan bahwa setelah air menggenangi seluruh negeri disertai hembusan angin topan yang dahsyat, Allah memerintahkan agar Nabi Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya menaiki bahtera yang telah disediakan, agar mereka tidak termasuk orang-orang yang tenggelam.

Berdasarkan keterangan ini, sebahagian mufasir berpendapat bahwa Nabi Nuh merupakan bapak manusia kedua setelah Adam, karena hanya beliau dan orang-orang yang bersamanya yang masih hidup, yang kemudian menurunkan seluruh manusia yang ada sekarang.

Allah menyelamatkan semua orang-orang yang beriman dari banjir dan topan itu, serta menenggelamkan dan memusnahkan orang-orang yang ingkar kepada Nuh, agar peristiwa itu dijadikan iktibar dan pelajaran oleh orang-orang yang datang kemudian. Dengan demikian, Allah memperlihatkan kepada manusia kekuasaan dan kebesaran-Nya.

Allah menceritakan kisah itu juga bertujuan agar telinga orang-orang yang benar-benar beriman kepada-Nya dapat mendengar dan mengambil manfaat dari wahyu-wahyu yang diturunkan-Nya serta mengamalkan pesan-pesan yang dibawanya.

Tafsir Quraish Shihab: Agar Kami jadikan peristiwa selamatnya orang-orang Mukmin dan tenggelamnya orang-orang kafir sebagai pelajaran dan nasehat bagi kalian. Juga agar setiap orang yang mendengar dapat memperhatikannya.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Haqqah Ayat 1-12 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S