Surah Al-Haqqah Ayat 25-37; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Haqqah Ayat 25-37

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Haqqah Ayat 25-37 ini, diterangkan keadaan orang kafir di akhirat ketika menerima catatan amal perbuatan yang mereka kerjakan selama hidup di dunia. Kepada mereka disampaikan catatan amal perbuatannya dari sebelah kiri dan menerimanya dengan tangan kiri.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Oleh karena itu, mereka berkata, “Alangkah baiknya seandainya mati yang telah menimpa diriku di dunia dahulu, merupakan akhir seluruh kehidupanku, tidak dibangkitkan lagi seperti sekarang, sehingga aku tidak menemui penderitaan yang berat.”

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Haqqah Ayat 25-37

Surah Al-Haqqah Ayat 25
وَأَمَّا مَنۡ أُوتِىَ كِتَٰبَهُۥ بِشِمَالِهِۦ فَيَقُولُ يَٰلَيۡتَنِى لَمۡ أُوتَ كِتَٰبِيَهۡ

Terjemahan: Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini).

Tafsir Jalalain: وَأَمَّا مَنۡ أُوتِىَ كِتَٰبَهُۥ بِشِمَالِهِۦ فَيَقُولُ يَٰلَيۡتَنِى (Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata, “Aduhai) wahai; lafal ya di sini menunjukkan makna tanbih لَمۡ أُوتَ كِتَٰبِيَهۡ (alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku.).

Tafsir Ibnu Katsir: Dan inilah berita tentang keadaan orang-orang yang sengsara, jika salah seorang di antara mereka diberikan buku catatan amalnya dalam persidangan kelak dari sebelah kirinya. Pada saat itu yang ada hanyalah penyesalan tidak terhingga. فَيَقُولُ يَٰلَيۡتَنِى لَمۡ أُوتَ كِتَٰبِيَهۡ (maka dia berkata: “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini).

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini diterangkan keadaan orang kafir di akhirat ketika menerima catatan amal perbuatan yang mereka kerjakan selama hidup di dunia. Kepada mereka disampaikan catatan amal perbuatannya dari sebelah kiri dan menerimanya dengan tangan kiri. Setelah membaca catatan itu, timbullah ketakutan dalam hatinya karena berdasarkan catatan itu, ia pasti dimasukkan ke dalam neraka. Ia berkata,

“Alangkah jeleknya perbuatanku dan alangkah bahagianya aku seandainya amalku yang berisi seperti ini tidak diberikan kepadaku, aku tidak menyangka bahwa semua perbuatanku di dunia tercatat dalam kitab ini.”

Orang kafir berada dalam ketakutan yang luar biasa ketika menerima catatan amalnya, seakan-akan telah ditimpa azab yang dahsyat. Padahal mereka belum ditimpa azab tersebut. Hal ini memberi pengertian bahwa azab rohani itu lebih berat dari azab jasmani.

Tafsir Quraish Shihab: Sedangkan orang yang diberikan kitab dari sebelah kirinya, dengan penuh rasa penyesalan, berkata, “Alangkah baiknya sekiranya aku tidak diberi kitab dan tidak mengetahui perhitungan terhadap diriku!

Surah Al-Haqqah Ayat 26
وَلَمۡ أَدۡرِ مَا حِسَابِيَهۡ

Terjemahan: Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku.

Tafsir Jalalain: وَلَمۡ أَدۡرِ مَا حِسَابِيَهۡ (Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku.).

Tafsir Ibnu Katsir: وَلَمۡ أَدۡرِ مَا حِسَابِيَهۡ (Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku.)

Tafsir Kemenag: Pernyataan bahwa azab rohani lebih berat dirasakan dari azab jasmani diperkuat oleh perkataan orang-orang kafir itu, “Alangkah bahagianya aku, jika aku tidak mengetahui catatan amalku, sehingga aku tidak mengetahui azab yang akan ditimpakan kepadaku nanti di dalam neraka.”.

Tafsir Quraish Shihab: Sedangkan orang yang diberikan kitab dari sebelah kirinya, dengan penuh rasa penyesalan, berkata, “Alangkah baiknya sekiranya aku tidak diberi kitab dan tidak mengetahui perhitungan terhadap diriku!

Surah Al-Haqqah Ayat 27
يَٰلَيۡتَهَا كَانَتِ ٱلۡقَاضِيَةَ

Terjemahan: Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu.

Tafsir Jalalain: يَٰلَيۡتَهَا كَانَتِ (Wahai kiranya kematian itulah) kematian di dunia ٱلۡقَاضِيَةَ (yang menyelesaikan segala sesuatu.) Yang memutuskan hidupku dan tidak akan dibangkitkan lagi.

Tafsir Ibnu Katsir: يَٰلَيۡتَهَا كَانَتِ ٱلۡقَاضِيَةَ (Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu.) adh-Dhahhak mengatakan: “Yakni kematiannya, yang tidak ada kehidupan setelahnya.” Demikian pula yang dikemukakan oleh Muhammad bin Ka’ab, ar-Rabi’, dan as-Suddi. Qatadah mengatakan: “Dia mengharapkan kematian, padahal tidak ada yang paling dia benci di dunia dahulu melebihi kematian.”

Tafsir Kemenag: Ayat ini seakan-akan memberi pengertian bahwa orang kafir itu tidak mengetahui sedikit pun bahwa akan terjadi hari Kiamat, akan terjadi kehidupan setelah mati, yang waktu itu amal baik dibalas pahala yang berlipat ganda sedang perbuatan jahat dibalasi dengan siksa yang pedih.

Oleh karena itu, mereka berkata, “Alangkah baiknya seandainya mati yang telah menimpa diriku di dunia dahulu, merupakan akhir seluruh kehidupanku, tidak dibangkitkan lagi seperti sekarang, sehingga aku tidak menemui penderitaan yang berat.”

Tetapi sebenarnya orang kafir itu telah mengetahui dengan yakin selama mereka hidup di dunia akan adanya hari seperti ini. Memang demikianlah sifat-sifat orang kafir yang selalu mengingkari keyakinan mereka.

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (al-A’raf/7: 172)

Mereka mengharapkan urusan mereka selesai semua dengan kematian, semata-mata karena takut disiksa, bukan karena tidak mengetahui bahwa akan ada hari Kiamat dan hari penghisaban.

Tafsir Quraish Shihab: Aduhai kiranya kematian yang pernah kualami menjadi batas pemisah dalam urusanku sehingga aku tidak dibangkitkan kembali.

Surah Al-Haqqah Ayat 28
مَآ أَغۡنَىٰ عَنِّى مَالِيَهۡ

Baca Juga:  Surah Al-Ahzab Ayat 72-73; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Terjemahan: Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku.

Tafsir Jalalain: مَآ أَغۡنَىٰ عَنِّى مَالِيَهۡ (Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku.).

Tafsir Ibnu Katsir: مَآ أَغۡنَىٰ عَنِّى مَالِيَهۡ (Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku.)

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan tentang jalan pikiran orang kafir sewaktu hidup di dunia. Menurut mereka, yang menentukan keadaan dan derajat seseorang ialah pangkat, kekuasaan, dan harta. Dengan harta, mereka akan dapat memperoleh segala yang diinginkan, dan dengan pangkat dan kekuasaan, mereka dapat memuaskan hawa nafsu.

Setelah berada di akhirat, jelaslah bagi mereka kekeliruan jalan pikiran semacam itu, sehingga terucap juga di mulut mereka perasaan hati waktu itu dengan mengatakan, “Harta yang aku miliki waktu berada di dunia dahulu tidak dapat menolong dan menghindarkanku dari siksa Allah. Demikian pula kekuasaan yang telah aku miliki di dunia telah lenyap pada saat ini, sehingga aku tidak mempunyai seorang penolong pun.”

Anggapan orang kafir waktu di dunia bahwa yang menentukan segala sesuatu itu adalah harta dan kekuasaan diterangkan dalam firman Allah:

Dan dia memiliki kekayaan besar, maka dia berkata kepada kawannya (yang beriman) ketika bercakap-cakap dengan dia, “Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat.” (al-Kahf/18: 34)

Dan mereka berkata, “Kami memiliki lebih banyak harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami tidak akan diazab.” (Saba’/34: 35)

Tafsir Quraish Shihab: Apa yang aku miliki selama di dunia tidak bermanfaat sama sekali bagiku. Kesehatanku telah hilang. Begitu pula kekuatanku.”

Surah Al-Haqqah Ayat 29
هَلَكَ عَنِّى سُلۡطَٰنِيَهۡ

Terjemahan: Telah hilang kekuasaanku daripadaku”.

Tafsir Jalalain: هَلَكَ عَنِّى سُلۡطَٰنِيَهۡ (Telah hilang kekuasaanku dariku”) kekuatanku dan argumentasi atau hujahku. Huruf Ha yang terdapat dalam lafal kitabiyah, hisabiyah, maliyah, dan sulthaniyah, semuanya adalah ha saktah yang tetap dibaca baik dalam keadaan Waqaf maupun dalam keadaan Washal.

Demikian itu karena mengikut mushhaf imam/induk dan karena mengikut dalil naqli. Akan tetapi sekali pun demikian, ada pula sebagian ulama yang tidak membacakannya bila diwashalkan.

Tafsir Ibnu Katsir: هَلَكَ عَنِّى سُلۡطَٰنِيَهۡ (Telah hilang kekuasaanku daripadaku”.) maksudnya harta dan kekuasaanku tidak bisa menghindarkan diriku dari siksa dan hukuman Allah, bahkan semua urusan diserahkan kepada diriku sendiri tidak ada seorang pun penolong dan penyelamat bagiku.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan tentang jalan pikiran orang kafir sewaktu hidup di dunia. Menurut mereka, yang menentukan keadaan dan derajat seseorang ialah pangkat, kekuasaan, dan harta. Dengan harta, mereka akan dapat memperoleh segala yang diinginkan, dan dengan pangkat dan kekuasaan, mereka dapat memuaskan hawa nafsu.

Setelah berada di akhirat, jelaslah bagi mereka kekeliruan jalan pikiran semacam itu, sehingga terucap juga di mulut mereka perasaan hati waktu itu dengan mengatakan, “Harta yang aku miliki waktu berada di dunia dahulu tidak dapat menolong dan menghindarkanku dari siksa Allah. Demikian pula kekuasaan yang telah aku miliki di dunia telah lenyap pada saat ini, sehingga aku tidak mempunyai seorang penolong pun.”

Anggapan orang kafir waktu di dunia bahwa yang menentukan segala sesuatu itu adalah harta dan kekuasaan diterangkan dalam firman Allah:

Dan dia memiliki kekayaan besar, maka dia berkata kepada kawannya (yang beriman) ketika bercakap-cakap dengan dia, “Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat.” (al-Kahf/18: 34)

Dan mereka berkata, “Kami memiliki lebih banyak harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami tidak akan diazab.” (Saba’/34: 35)

Tafsir Quraish Shihab: Apa yang aku miliki selama di dunia tidak bermanfaat sama sekali bagiku. Kesehatanku telah hilang. Begitu pula kekuatanku.”

Surah Al-Haqqah Ayat 30
خُذُوهُ فَغُلُّوهُ

Terjemahan: (Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya.

Tafsir Jalalain: خُذُوهُ (“Peganglah dia) khithab atau perintah dalam ayat ini ditujukan kepada para malaikat penjaga neraka Jahanam فَغُلُّوهُ (lalu belenggulah dia.”) Ikatlah kedua tangannya menjadi satu dengan kepalanya ke dalam belenggu.

Tafsir Ibnu Katsir: Pada saat itulah Allah berfirman: خُذُوهُ فَغُلُّوهُ (Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya.) maksudnya, Allah memerintahkan Malaikat Zabaniyah untuk mengambilnya dengan kasar dari alam mahsyar lalu dibelenggu, yakni dengan meletakkan rantai pada lehernya lalu menyeretnya ke neraka jahanam untuk selanjutnya diceburkan dan ditenggelamkan di dalamnya.

Tafsir Kemenag: Karena sikap orang kafir yang demikian dan berdasarkan catatan amalnya, maka Allah memerintahkan malaikat untuk melaksanakan hukuman kepada orang kafir itu. Pada waktu Kiamat, mereka dalam keadaan menderita, terhina, dan tidak dapat melepaskan diri sedikit pun dari keadaan yang demikian. Bahkan, azab itu ditambah lagi dengan membelenggu mereka. Hal ini memberi pengertian bahwa orang kafir di dalam neraka tidak mempunyai satu cara pun untuk mengurangi dan meringankan rasa azab yang pedih itu.

Tafsir Quraish Shihab: Kepada para penjaga neraka dikatakan, “Ambillah ia dan ikatkanlah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkan ia ke dalam neraka yang menyala-nyala. Setelah itu belitlah ia dengan rantai yang sangat panjang.

Surah Al-Haqqah Ayat 31
ثُمَّ ٱلۡجَحِيمَ صَلُّوهُ

Terjemahan: Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala.

Tafsir Jalalain: ثُمَّ ٱلۡجَحِيمَ (“Kemudian ke dalam neraka Jahanam) neraka yang apinya menyala-nyala صَلُّوهُ (masukkanlah dia”) jebloskanlah dia ke dalamnya.

Baca Juga:  Surah Al-An'am Ayat 145; Seri Tadabbur Al Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: ثُمَّ ٱلۡجَحِيمَ صَلُّوهُ (Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala.)

Tafsir Kemenag: Karena sikap orang kafir yang demikian dan berdasarkan catatan amalnya, maka Allah memerintahkan malaikat untuk melaksanakan hukuman kepada orang kafir itu. Pada waktu Kiamat, mereka dalam keadaan menderita, terhina, dan tidak dapat melepaskan diri sedikit pun dari keadaan yang demikian. Bahkan, azab itu ditambah lagi dengan membelenggu mereka. Hal ini memberi pengertian bahwa orang kafir di dalam neraka tidak mempunyai satu cara pun untuk mengurangi dan meringankan rasa azab yang pedih itu.

Tafsir Quraish Shihab: Kepada para penjaga neraka dikatakan, “Ambillah ia dan ikatkanlah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkan ia ke dalam neraka yang menyala-nyala. Setelah itu belitlah ia dengan rantai yang sangat panjang.

Surah Al-Haqqah Ayat 32
ثُمَّ فِى سِلۡسِلَةٍ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعًا فَٱسۡلُكُوهُ

Terjemahan: Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.

Tafsir Jalalain: ثُمَّ فِى سِلۡسِلَةٍ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعًا (“Kemudian dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta) menurut ukuran hasta malaikat فَٱسۡلُكُوهُ (belitlah dia”) lilitlah dia dengan rantai itu sesudah ia dimasukkan ke dalam neraka. Huruf fa di sini tidak dapat mencegah hubungan antara fi’il dan zharaf yang mendahuluinya.

Tafsir Ibnu Katsir: ثُمَّ فِى سِلۡسِلَةٍ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعًا فَٱسۡلُكُوهُ (“Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.”) al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Juraij, yaitu dengan hasta malaikat. Ibnu Juraij meriwayatkan bahwa Ibnu ‘Abbas mengatakan: فَٱسۡلُكُوهُ belitlah dia.” yakni masuk melalui duburnya dan keluar dari mulutnya, untuk selanjutnyya diuntai pada rantai itu seperti untaian belalang pada sepotong kayu pada saat dipanggang.

Tafsir Kemenag: Karena sikap orang kafir yang demikian dan berdasarkan catatan amalnya, maka Allah memerintahkan malaikat untuk melaksanakan hukuman kepada orang kafir itu. Pada waktu Kiamat, mereka dalam keadaan menderita, terhina, dan tidak dapat melepaskan diri sedikit pun dari keadaan yang demikian. Bahkan, azab itu ditambah lagi dengan membelenggu mereka. Hal ini memberi pengertian bahwa orang kafir di dalam neraka tidak mempunyai satu cara pun untuk mengurangi dan meringankan rasa azab yang pedih itu.

Tafsir Quraish Shihab: Kepada para penjaga neraka dikatakan, “Ambillah ia dan ikatkanlah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkan ia ke dalam neraka yang menyala-nyala. Setelah itu belitlah ia dengan rantai yang sangat panjang.

Surah Al-Haqqah Ayat 33
إِنَّهُۥ كَانَ لَا يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ ٱلۡعَظِيمِ

Terjemahan: Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar.

Tafsir Jalalain: إِنَّهُۥ كَانَ لَا يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ ٱلۡعَظِيمِ (“Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar.”).

Tafsir Ibnu Katsir: إِنَّهُۥ كَانَ لَا يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ ٱلۡعَظِيمِ (Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar.)

Tafsir Kemenag: Penyebab orang kafir ditimpa azab yang sangat pedih adalah karena selain mempersekutukan Allah, mereka adalah para pemuka dari kaum kafir yang mempelopori kekafiran, dan tidak mendorong dirinya dan orang lain untuk memberi makan fakir miskin.

Disebutkan juga dalam ayat ini keharusan memberi makan fakir-miskin setelah beriman kepada Allah. Hal ini menunjukkan betapa tingginya nilai perbuatan memberi makan fakir-miskin di sisi Allah, sehingga dalam firman-Nya yang lain dinyatakan bahwa orang yang tidak memberi makan fakir-miskin adalah orang yang mendustakan agama.

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. (al-Ma’un/107: 1-3)

Dengan perkataan lain dapat dikatakan bahwa tanda orang yang benar-benar beriman kepada Allah ialah senang membantu orang-orang fakir-miskin, karena usaha itu merupakan peningkatan dari imannya.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya dulu ia tidak percaya kepada Allah Yang Mahaagung dan tidak menganjurkan orang lain untuk memberi makan orang miskin.”

Surah Al-Haqqah Ayat 34
وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ

Terjemahan: Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin.

Tafsir Jalalain: وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ (“Dan juga dia tidak mendorong untuk memberi makan orang miskin.”).

Tafsir Ibnu Katsir: وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ (Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin.) yakni tidak memenuhi hak Allah yang ada padanya, berupa ketaatan dan ibadah kepada-Nya, juga tidak memberi manfaat kepada semua makhluk, serta tidak juga menunaikan hak-hak mereka.

Sesungguhnya Allah mempunyai hak atas hamba-hamba-Nya, yaitu hendaklah ia mengesakan-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan bagi sebagian hamba juga mempunyai hak atas sebagian lainnya, yaitu hak berbuat baik dan memberi bantuan dan pertolongan dalam kebaikan dan ketakwaan. Oleh karena itu Allah memerintahkan untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat.

Tafsir Kemenag: Penyebab orang kafir ditimpa azab yang sangat pedih adalah karena selain mempersekutukan Allah, mereka adalah para pemuka dari kaum kafir yang mempelopori kekafiran, dan tidak mendorong dirinya dan orang lain untuk memberi makan fakir miskin.

Disebutkan juga dalam ayat ini keharusan memberi makan fakir-miskin setelah beriman kepada Allah. Hal ini menunjukkan betapa tingginya nilai perbuatan memberi makan fakir-miskin di sisi Allah, sehingga dalam firman-Nya yang lain dinyatakan bahwa orang yang tidak memberi makan fakir-miskin adalah orang yang mendustakan agama.

Baca Juga:  Surah Al-Mulk Ayat 28-30; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. (al-Ma’un/107: 1-3)

Dengan perkataan lain dapat dikatakan bahwa tanda orang yang benar-benar beriman kepada Allah ialah senang membantu orang-orang fakir-miskin, karena usaha itu merupakan peningkatan dari imannya.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya dulu ia tidak percaya kepada Allah Yang Mahaagung dan tidak menganjurkan orang lain untuk memberi makan orang miskin.”

Surah Al-Haqqah Ayat 35
فَلَيۡسَ لَهُ ٱلۡيَوۡمَ هَٰهُنَا حَمِيمٌ

Terjemahan: Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari ini di sini.

Tafsir Jalalain: فَلَيۡسَ لَهُ ٱلۡيَوۡمَ هَٰهُنَا حَمِيمٌ (Maka tiada seorang teman pun baginya pada hari ini di sini) maksudnya, pada hari ini tiada kaum kerabat yang bermanfaat bagi dirinya.

Tafsir Ibnu Katsir: فَلَيۡسَ لَهُ ٱلۡيَوۡمَ هَٰهُنَا حَمِيمٌ (Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari ini di sini.) maksudnya pada hari itu tidak ada seorang pun yang bisa menyelamatkan dirinya dari adzab Allah Ta’ala. Tidak ada teman setia, kerabat, dan tidak ada pula pemberi syafaat yang ditaati.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini diterangkan keadaan orang musyrik di dalam neraka:

  1. Mereka tidak mempunyai seorang pun teman atau penolong. Sebagaimana diketahui bahwa manusia itu adalah makhluk sosial. Hidup manusia yang berbahagia adalah jika mereka dapat memenuhi kepentingan pribadinya dan kepentingan hidup dalam pergaulan bermasyarakat. Jika di dunia dalam keadaan biasa, manusia merasa tersiksa hidup sendirian, tentu di akhirat akan lebih tersiksa lagi.
  2. Makanan mereka adalah darah dan nanah, suatu makanan yang tidak termakan oleh orang ketika hidup di dunia.

Tafsir Quraish Shihab: Pada hari itu, di neraka, orang kafir itu tidak punya teman dekat yang dapat menolongnya dari api neraka. Minumannya tidak lain adalah hasil cucian penghuni neraka yang berupa darah dan nanah yang hanya dimakan oleh orang-orang yang sengaja dan terus menerus melakukan dosa.

Surah Al-Haqqah Ayat 36
وَلَا طَعَامٌ إِلَّا مِنۡ غِسۡلِينٍ

Terjemahan: Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah.

Tafsir Jalalain: وَلَا طَعَامٌ إِلَّا مِنۡ غِسۡلِينٍ (Dan tiada pula makanan sedikit pun baginya kecuali dari darah dan nanah) yaitu nanah dan darah ahli neraka, atau shadiid, yaitu nama sejenis pohon yang ada di dalam neraka.

Tafsir Ibnu Katsir: وَلَا طَعَامٌ إِلَّا مِنۡ غِسۡلِينٍ (Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah.) Serta tidak ada juga makanan disini untuknya kecuali hanya nanah bercampur darah. Qatadah mengatakan: “Ya, ia merupakan makanan paling buruk bagi para penghuni neraka.” sedangkan ‘Ali bin Abi Thalhah mengatakan: “Kata ghislin berarti nanah para penghuni neraka.”

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini diterangkan keadaan orang musyrik di dalam neraka:

  1. Mereka tidak mempunyai seorang pun teman atau penolong. Sebagaimana diketahui bahwa manusia itu adalah makhluk sosial. Hidup manusia yang berbahagia adalah jika mereka dapat memenuhi kepentingan pribadinya dan kepentingan hidup dalam pergaulan bermasyarakat. Jika di dunia dalam keadaan biasa, manusia merasa tersiksa hidup sendirian, tentu di akhirat akan lebih tersiksa lagi.
  2. Makanan mereka adalah darah dan nanah, suatu makanan yang tidak termakan oleh orang ketika hidup di dunia.

Tafsir Quraish Shihab: Pada hari itu, di neraka, orang kafir itu tidak punya teman dekat yang dapat menolongnya dari api neraka. Minumannya tidak lain adalah hasil cucian penghuni neraka yang berupa darah dan nanah yang hanya dimakan oleh orang-orang yang sengaja dan terus menerus melakukan dosa.

Surah Al-Haqqah Ayat 37
لَّا يَأۡكُلُهُۥٓ إِلَّا ٱلۡخَٰطِـُٔونَ

Terjemahan: Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa.

Tafsir Jalalain: لَّا يَأۡكُلُهُۥٓ إِلَّا ٱلۡخَٰطِـُٔونَ (Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa) orang-orang yang kafir.

Tafsir Ibnu Katsir: لَّا يَأۡكُلُهُۥٓ إِلَّا ٱلۡخَٰطِـُٔونَ (Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa.)

Tafsir Kemenag: Makanan yang dimakan oleh orang kafir itu, yang terdiri dari darah dan nanah, adalah makanan yang sangat jijik dan tiada termakan oleh siapa pun. Hal ini menunjukkan gambaran kehidupan neraka yang penuh kehinaan.

Tafsir Quraish Shihab: Pada hari itu, di neraka, orang kafir itu tidak punya teman dekat yang dapat menolongnya dari api neraka. Minumannya tidak lain adalah hasil cucian penghuni neraka yang berupa darah dan nanah yang hanya dimakan oleh orang-orang yang sengaja dan terus menerus melakukan dosa.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Haqqah Ayat 25-37 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S