Surah Al-Hujurat Ayat 6-8; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Hujurat Ayat 6-8

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Hujurat Ayat 6-8 ini, Allah memberitakan peringatan kepada kaum Mukminin, jika datang kepada mereka seorang fasik membawa berita tentang apa saja, agar tidak tergesa-gesa menerima berita itu sebelum diperiksa dan diteliti dahulu kebenarannya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hujurat Ayat 6-8

Surah Al-Hujurat Ayat 6
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ

Terjemahan: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Tafsir Jalalain: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ (Hai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita) فَتَبَيَّنُوٓاْ (maka periksalah oleh kalian) kebenaran beritanya itu, apakah ia benar atau berdusta.

Menurut suatu qiraat dibaca Fatatsabbatuu berasal dari lafal Ats-Tsabaat, artinya telitilah terlebih dahulu kebenarannya أَن تُصِيبُواْ قَوۡمًۢا (agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum) menjadi Maf’ul dari lafal Fatabayyanuu, yakni dikhawatirkan hal tersebut akan menimpa musibah kepada suatu kaum بِجَهَٰلَةٍ (tanpa mengetahui keadaannya) menjadi Hal atau kata keterangan keadaan dari Fa’il, yakni tanpa sepengetahuannya فَتُصۡبِحُواْ (yang menyebabkan kalian) membuat kalian عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ (atas perbuatan kalian itu) yakni berbuat kekeliruan terhadap kaum tersebut نَٰدِمِينَ (menyesal) selanjutnya Rasulullah saw. mengutus Khalid kepada mereka sesudah mereka kembali ke negerinya. Ternyata Khalid tiada menjumpai mereka melainkan hanya ketaatan dan kebaikan belaka, lalu ia menceritakan hal tersebut kepada Nabi saw.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah memerintahkan agar benar-benar meneliti berita yang dibawa oleh orang-orang fasik dalam rangka mewaspadainya, sehingga tidak ada seorangpun yang memberikan keputusan berdasarkan perkataan orang fasik tersebut, dimana pada saat itu orang fasik tersebut berpredikat sebagai seorang pendusta dan berbuat kekeliruan, sehingga orang yang memberikan keputusan berdasarkan ucapan orang fasik itu berarti ia telah mengikutinya dari belakang.

Padahal Allah melarang untuk mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan. Dari sini pula, beberapa kelompok ulama melarang untuk menerima riwayat yang diperoleh dari orang yang tidak diketahui keadaannya karena adanya kemungkinan orang tersebut fasik.

Sedangkan orang ini tidak terbukti sebagai seorang fasik karena tidak diketahui keadaannya. Dan kami telah menetapkan masalah ini dalam kitab al’Ilmu dalam kitab Syarh al-Bukhari. Segala puji bagi Allah Ta’ala.

Banyak ahli tafsir yang menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan al-Walid bin ‘Uqbah bin Abi Mu’ith ketika ia diutus oleh Rasulullah saw. untuk mengambil sedekah [zakat] Bani Musthaliq.

Imam Ahmad meriwayatkan, Muhammad bin Sabiq memberitahu kami, ‘Isa bin Dinar memberitahu kami, ayahku memberitahuku, bahwasannya ia pernah mendengar al-Harits bin Abi Dhirar al-Khuza’i bercerita:

“Aku pernah datang menemui Rasulullah saw. maka beliau mengajakku masuk Islam. Maka akupun masuk Islam dann mengikrarkannya. Kemudian beliau mengajakku mengeluarkan zakat, maka akupun menunaikannya dan kukatakan:

‘Ya Rasulallah, aku akan pulang kepada rakyatku dan aku akan ajak mereka untuk masuk Islam dan menunaikan zakat. Siapa saja yang memperkenankan seruanku itu, maka aku akan mengumpulkan zakatnya, dan kirimkanlah seorang utusan kepadaku ya Rasulallah, sekitar waktu begini dan begini guna membawa zakat yang telah aku kumpulkan itu.’”

Setelah al-Harits mengumpulkan zakat dari orang-orang yang mematuhi seruannya dan telah sampai pada masa kedatangan utusan Rasulullah saw. ternyata utusan Rasulullah saw. tersebut tertahan di tengah jalan dan tidak datang menemuinya.

Al-Harits pun mengira bahwasannya telah turun kemurkaan dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya pada dirinya. Ia pun segera memanggil para pembesar kaumnya dan mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Rasulullah saw. telah menetapkan waktu kepadaku, dimana beliau akan mengirimkan utusannya kepadaku untuk mengambil zakat yang aku kumpulkan, dan bukan kebiasaan Rasulullah untuk menyalahi janji, dan aku tidak melihat tertahannya utusan beliau melainkan kemurkaan Allah. Oleh karena itu, marilah kita pergi bersama-sama menemui Rasulullah saw.

Kemudian Rasulullah mengutus al-Walid bin ‘Uqbah untuk menemui al-Harits guna mengambil zakat yang telah dikumpulkannya. Ketika al-Walid berangkat dan sudah menempuh beberapa jarak, tiba-tiba ia merasa takut dan kembali pulang, lalu menemui Rasulullah saw. seraya berkata:

“Ya Rasulallah, sesungguhnya al-Harits menolak memberikan zakat kepadaku, bahkan ia bermaksud membunuhku.” Maka Rasulullah pun marah dan mengirimkan utusan kepada al-Harits. Sementara al-Harits bersama sahabat-sahabatnya bersiap-siap berangkat.

Ketika utusan meninggalkan Madinah, al-Harits bertemu dengan mereka. Maka mereka berkata: “Inilah al-Harits.” Dan pada saat al-Harits menghampiri mereka, ia berkata: “Kepada siapa kalian diutus?” “Kepadamu,” jawab mereka. “Lalu untuk apa kalian diutus kepadaku?” tanya al-Harits lebih lanjut. Mereka menjawab:

Baca Juga:  Surah Quraisy; Terjemahan, Tafsir, Asbabun Nuzul, Khasiat Membacanya

“Sesungguhnya Rasulullah saw. telah mengutus al-Walid bin ‘Uqbah kepadamu, dan ia mengaku bahwa engkau menolak memberikan zakat dan bahkan engkau akan membunuhnya.” Maka al-Harits berkata: “Tidak benar. Demi Rabb yang telah mengutus Muhammad saw. dengan kebenaran, aku sama sekali tidak pernah melihatnya dan tidak juga ia mendatangiku.”

Dan setelah al-Harits menghadap Rasulullah saw. maka beliau bertanya: “Apakah engkau menolak menyerahkan zakat dan bermaksud membunuh utusanku?” Ia menjawab: “Tidak. Demi Rabb yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku sama sekali tidak melihatnya dan tidak pula ia mendatangiku.

Dan aku tidak datang menemuimu melainkan ketika utusan Rasulullah tertahan [tidak kunjung datang] dan aku takut akan muncul kemarahan dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.” Ia mengatakan: “Pada saat itu turunlah surah al-Hujuraat:

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah memberitakan peringatan kepada kaum Mukminin, jika datang kepada mereka seorang fasik membawa berita tentang apa saja, agar tidak tergesa-gesa menerima berita itu sebelum diperiksa dan diteliti dahulu kebenarannya.

Sebelum diadakan penelitian yang seksama, jangan cepat percaya kepada berita dari orang fasik, karena seorang yang tidak mempedulikan kefasikannya, tentu juga tidak akan mempedulikan kedustaan berita yang disampaikannya.

Perlunya berhati-hati dalam menerima berita adalah untuk menghindarkan penyesalan akibat berita yang tidak diteliti atau berita bohong itu. Penyesalan yang akan timbul sebenarnya dapat dihindari jika bersikap lebih hati-hati.

Ayat ini memberikan pedoman bagi sekalian kaum Mukminin supaya berhati-hati dalam menerima berita, terutama jika bersumber dari seorang yang fasik. Maksud yang terkandung dalam ayat ini adalah agar diadakan penelitian dahulu mengenai kebenarannya. Mempercayai suatu berita tanpa diselidiki kebenarannya, besar kemungkinan akan membawa korban jiwa dan harta yang sia-sia, yang hanya menimbulkan penyesalan belaka.

Tafsir Quraish Shihab: Wahai orang-orang yang beriman, jika orang yang melanggar syariat Allah datang kepada kalian dengan membawa suatu berita, maka teliti dan periksalah terlebih dahulu kebenaran berita itu.

Hal itu supaya kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum–tanpa kalian mengetahui keadaan mereka–sehingga apa yang telah kalian lakukan terhadap mereka–setelah nyata bahwa mereka tidak melakukannya–menjadikan kalian selalu menyesal atas kejadian itu, dan berharap kejadian itu tidak kalian lakukan.

Surah Al-Hujurat Ayat 7
وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ فِيكُمۡ رَسُولَ ٱللَّهِ لَوۡ يُطِيعُكُمۡ فِى كَثِيرٍ مِّنَ ٱلۡأَمۡرِ لَعَنِتُّمۡ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ حَبَّبَ إِلَيۡكُمُ ٱلۡإِيمَٰنَ وَزَيَّنَهُۥ فِى قُلُوبِكُمۡ وَكَرَّهَ إِلَيۡكُمُ ٱلۡكُفۡرَ وَٱلۡفُسُوقَ وَٱلۡعِصۡيَانَ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلرَّٰشِدُونَ

Terjemahan: Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,

Tafsir Jalalain: وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ فِيكُمۡ رَسُولَ ٱللَّهِ (Dan ketahuilah oleh kamu sekalian bahwa di kalangan kalian ada Rasulullah) maka janganlah sekali-kali kalian mengatakan hal-hal yang batil, karena sesungguhnya Allah akan memberitahukannya seketika itu juga.

لَوۡ يُطِيعُكُمۡ فِى كَثِيرٍ مِّنَ ٱلۡأَمۡرِ (Kalau ia menuruti kemauan kalian dalam banyak urusan) yang kalian beritakan tidak sesuai dengan kenyataannya, oleh karena itu maka hasilnya sesuai dengan apa yang kalian beritakan itu لَعَنِتُّمۡ (niscaya kalian akan mendapat dosa) yakni benar-benar kalian mendapat dosa karena hal itu, yaitu dosa memberikan keterangan yang palsu,

وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ حَبَّبَ إِلَيۡكُمُ ٱلۡإِيمَٰنَ وَزَيَّنَهُۥ (tetapi Allah menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah) yakni dipandang baik فِى قُلُوبِكُمۡ وَكَرَّهَ إِلَيۡكُمُ ٱلۡكُفۡرَ وَٱلۡفُسُوقَ وَٱلۡعِصۡيَانَ (dalam hati kalian serta menjadikan kalian benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan) pengertian Istidrak yang dikandung oleh lafal Laakin dipandang dari segi makna bukan lafalnya, karena sesungguhnya orang yang cinta kepada keimanan memiliki sifat-sifat berbeda dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh orang-orang yang telah disebutkan tadi.

أُوْلَٰٓئِكَ (Mereka itulah) di dalam ungkapan ini terkandung iltifat dari Mukhathab هُمُ ٱلرَّٰشِدُونَ (orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus) yakni orang-orang yang teguh dalam agamanya.

Tafsir Ibnu Katsir: وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ فِيكُمۡ رَسُولَ ٱللَّهِ (“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah.”) maksudnya, ketahuilah di tengah-tengah kalian ada Rasul Allah. Karena itu hormatilah, muliakan, bersopan santunlah terhadapnya, dan ikutilah semua perintahnya, karena sesungguhnya beliau yang lebih tahu kemashlahatan kalian dan lebih sayang kepada kalian daripada diri kalian sendiri, dan pendapatnya tentang urusan kalian lebih sempurna diibanding dengan pendapat kalian tentang urusan kalian sendiri.

Baca Juga:  Surah Yusuf Ayat 37-38; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Sebagaimana yang difirmankan Allah swt.: ٱلنَّبِىُّ أَوۡلَىٰ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡ أَنفُسِهِمۡ (“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang Mukmin daripada diri mereka sendiri.”)(al-Ahzaab: 6).

Kemudian Allah menjelaskan bahwa pendapat mereka tentang berbagai urusan mereka sangatlah dangkal. Maka Allah berfirman: لَوۡ يُطِيعُكُمۡ فِى كَثِيرٍ مِّنَ ٱلۡأَمۡرِ لَعَنِتُّمۡ (“Kalau ia menuruti [kemauan]mu dalam beberapa urusan, benar-benarlah kamu akan mendapatkan kesusahan.”) maksudnya, seandainya ia menuruti kalian untuk semua hal yang kalian inginkan, pastilah hal itu akan menyebabkan kesusahan bagi kalian sendiri.

وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ حَبَّبَ إِلَيۡكُمُ ٱلۡإِيمَٰنَ وَزَيَّنَهُۥ فِى قُلُوبِكُمۡ (“Tetapi Allah menjadikanmu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu.”) artinya, Dia tanamkan rasa cinta kepada keimanan dalam diri kalian dan menjadikannya indah dalam hati kalian.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas, ia bercerita, bahwasannya Rasulullah pernah bersabda: “Islam itu bersifat terang-terangan, sedangkan iman berada di dalam hati.” Kemudian –lanjut Anas- Rasulullah memberikan isyarat dengan tangannya ke dadanya tiga kali sambil mengatakan: “Taqwa itu ada di sini. Taqwa itu ada di sini.”

Firman-Nya: وَكَرَّهَ إِلَيۡكُمُ ٱلۡكُفۡرَ وَٱلۡفُسُوقَ وَٱلۡعِصۡيَانَ (“Serta menjadikanmu benci kepada kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan.”) maksudnya, Allah menanamkan kebencian dalam diri kalian terhadap kekufuran dan kefasikan. Kefasikan berarti dosa-dosa besar, sedangkan kedurhakaan berarti segala macam kemaksiatan.

Demikianlah tingkatan yang menggambarkan kesempurnaan nikmat. Firman-Nya lebih lanjut: أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلرَّٰشِدُونَ (“Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.”) yakni orang-orang yang mempunyai sifat seperti itulah yang mendapatkan petunjuk dari Allah.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Rifa’ah az Zarqi, dari ayahnya, ia bercerita bahwa pada saat terjadi perang Uhud dan orang-orang musyrik dalam keadaan kocar-kacir, Rasulullah bersabda: “Luruskanlah dan samakanlah [barisan], sehingga aku memanjatkan pujian kepada Rabb-ku.” Maka para sahabatpun berdiri di belakang beliau dalam keadaan berbaris, Rasulullah berdoa:

“Ya Allah segala puji bagi-Mu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menahan apa yang telah Engkau lapangkan, dan tidak ada pula yang dapat melapangkan apa yang Engkau tahan. Tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepada orang yang telah Engkau sesatkan, dan tidak ada yang dapat menyesatkan orang yang telah Engkau beri petunjuk.

Tidak ada yang dapat memberikan apa yang Engkau cegah dan tidak ada yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan. Tidak ada yang dapat mendekatkan apa yang telah Engkau jauhkan, dan tidak ada yang dapat menjauhkan apa yang telah Engkau dekatkan.

Ya Allah, limpahkanlah keberkahan, rahmat, karunia, dan rizki-Mu kepada kami. Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kenikmatan abadi yang tidak akan berubah dan tidak pula lenyap. Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kenikmatan pada hari kesengsaraan dan rasa aman pada hari yang menakutkan.

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang telah Engkau berikan kepada kami dan keburukan apa yang Engkau cegah dari kami. Ya Allah jadikanlah hati kami mencintai keimanan dan jadikanlah ia hiasan dalam hati kami. Dan tanamkanlah dalam hati kami terhadap kekufuran, kefasikan, dan kedurhakaan. Dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.

Ya Allah, matikanlah kami dalam keadaan muslim dan juga hidupkanlah kami dalam keadaan muslim, serta pertemukanlah kami dengan orang-orang shalih dalam keadaan tidak terhina dan tidak pula terfitnah.

Ya Allah, perangilah orang-orang kafir yang mendustakan Rasul-rasul-Mu dan menghalang-halangi jalan-Mu, dan timpakanlah kesengsaraan dan adzab-Mu kepada mereka. Ya Allah, perangilah orang-orang kafir yang telah diberi al-Kitab, Ilah yang Mahabenar.” (Diriwayatkan oleh an-Nasa-i dalam bab al-Yaum wa Lailah)

Dan dalam hadits marfu’ disebutkan: “Barangsiapa yang merasa senang dengan amal baiknya dan merasa sedih dengan amal buruknya, berarti ia seorang muslim.”

Tafsir Kemenag: Allah menjelaskan bahwa Rasulullah saw ketika berada di tengah-tengah kaum Mukminin, sepatutnya dihormati dan diikuti semua petunjuknya karena lebih mengetahui kemaslahatan umatnya. Nabi lebih utama bagi orang-orang Mukmin dari diri mereka sendiri, sebagaimana dicantumkan dalam firman Allah:

Nabi itu lebih utama bagi orang-orang Mukmin dibandingkan diri mereka sendiri (al-Ahzab/33: 6)

Karena Nabi Muhammad selalu berada dalam bimbingan wahyu Ilahi, maka beliau yang berada di tengah-tengah para sahabat itu sepatutnya dijadikan teladan dalam segala aspek kehidupan dan aspek kemasyarakatan.

Baca Juga:  Surah Al-Hujurat Ayat 1-3; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Seandainya beliau menuruti kemauan para sahabat dalam memecahkan persoalan hidup, niscaya mereka akan menemui berbagai kesulitan dan kemudaratan seperti dalam peristiwa al-Walid bin ‘Uqbah. Seandainya Nabi saw menerima berita bohong tentang Bani al-Musthaliq, lalu mengirimkan pasukan untuk menggempur mereka yang disangka murtad dan menolak membayar zakat, niscaya yang demikian itu hanya akan menimbulkan penyesalan dan bencana.

Akan tetapi, sebaliknya dengan kebijaksanaan dan bimbingan Rasulullah saw yang berada di tengah-tengah para sahabat, mereka dijadikan oleh Allah mencintai keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hati mereka, dan menjadikan mereka benci kepada kekafiran, ke-fasikan dan kedurhakaan.

Karena iman yang sempurna itu terdiri dari pengakuan dengan lisan, membenarkan dengan hati, dan beramal saleh dengan anggota tubuh, maka kebencian terhadap kekafiran berlawanan dengan kecintaan kepada keimanan.

Menjadikan iman itu indah dalam hati adalah pararel dengan membenarkan (tasdiq) dalam hati, dan benci kepada kedurhakaan itu pararel dengan mengadakan amal saleh. Orang-orang yang demikian itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk dan mengikuti jalan yang lu-rus, yang langsung menuju kepada keridaan Allah.

Tafsir Quraish Shihab: Wahai orang-orang yang beriman, ketahuilah bahwa Rasulullah ada di kalangan kamu sekalian. Maka, hormatilah ia dengan sebenar-benarnya dan percayailah. Seandainya Rasul itu menuruti orang-orang yang lemah imannya di antara kalian dalam beberapa urusan, niscaya kalian akan berada dalam kesulitan dan kehancuran.

Tetapi Allah menjadikan orang-orang yang sempurna di antara kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hati, sehingga kalian terjaga dari gemerlapnya sesuatu yang tidak patut. Allah juga menjadikan kalian benci kepada sifat mengingkari nikmat, keluar dari syariat-Nya dan melanggar perintah-Nya.

Mereka itulah orang-orang yang mengetahui jalan petunjuk dan mengikutinya. Yang demikian itu adalah karunia mulia dan nikmat yang besar dari Allah kepada mereka. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu lagi Mahabijaksana dalam mengatur segala urusan.

Surah Al-Hujurat Ayat 8
فَضۡلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَنِعۡمَةً وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Terjemahan: sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Tafsir Jalalain: فَضۡلًا مِّنَ ٱللَّهِ (Sebagai karunia dari Allah) lafal Fadhlan adalah Mashdar yang dinashabkan oleh Fi’ilnya yang keberadaannya diperkirakan sebelumnya, yaitu lafal Afdhala وَنِعۡمَةً (dan nikmat) dari-Nya. وَٱللَّهُ عَلِيمٌ (Dan Allah Maha Mengetahui) keadaan mereka حَكِيمٌ (lagi Maha Bijaksana) di dalam memberikan nikmat-Nya kepada mereka.

Tafsir Ibnu Katsir: Lalu firman Allah: فَضۡلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَنِعۡمَةً (“Sebagai karunia dan nikmat dari Allah.”) yakni pemberian yang telah diberikan kepada kalian itu merupakan karunia sekaligus nikmat dari sisi-Nya. وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (“Dan Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana.”) maksudnya, Dia mengetahui siapa saja yang berhak mendapatkan petunjuk dan siapa pula yang berhak disesatkan, lagi Mahabijaksana dalam ucapan, tindakan, syariat dan ketetapan-Nya.

Tafsir Kemenag: Karunia dan anugerah itu semata-mata kemurahan dari Allah dan merupakan nikmat dari-Nya. Allah Maha Mengetahui siapa yang berhak menerima petunjuk dan siapa yang terkena kesesatan, dan Maha bijaksana dalam mengatur segala urusan makhluk-Nya.

Tafsir Quraish Shihab: Wahai orang-orang yang beriman, ketahuilah bahwa Rasulullah ada di kalangan kamu sekalian. Maka, hormatilah ia dengan sebenar-benarnya dan percayailah. Seandainya Rasul itu menuruti orang-orang yang lemah imannya di antara kalian dalam beberapa urusan, niscaya kalian akan berada dalam kesulitan dan kehancuran.

Tetapi Allah menjadikan orang-orang yang sempurna di antara kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hati, sehingga kalian terjaga dari gemerlapnya sesuatu yang tidak patut. Allah juga menjadikan kalian benci kepada sifat mengingkari nikmat, keluar dari syariat-Nya dan melanggar perintah-Nya.

Mereka itulah orang-orang yang mengetahui jalan petunjuk dan mengikutinya. Yang demikian itu adalah karunia mulia dan nikmat yang besar dari Allah kepada mereka. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu lagi Mahabijaksana dalam mengatur segala urusan.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Hujurat Ayat 6-8 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S