Surah Al-Isra Ayat 2-3; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Isra Ayat 2-3

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Isra Ayat 2-3 ini, Sunnah ilahi sepanjang sejarah adalah memberi petunjuk masyarakat kepada tauhid dan penghambaan. Oleh karenanya, sebelum diutusnya Nabi Muhammad Saw Allah telah mengutus Nabi Musa as kepada Bani Israel. Nabi Musa as berdasarkan Kitab Taurat yang diturunkan Allah mengajak Bani Israel kepada Allah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sepantasnya mereka agar bersyukur kepada Allah atas nikmat besar ini dan menaati Taurat. Untuk menjelaskan masalah, al-Quran menyebut nama Nabi Nuh as sebagai seorang hamba yang banyak bersyukur. Ayat menyebutkan, Kakek dan nenek moyang kalian adalah orang-orang yang diselamatkan bersama Nabi Nuh as dari angin topan. Mereka adalah orang-orang yang banyak bersyukur dan akhirnya diselamatkan.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Isra Ayat 2-3

Surah Al-Isra Ayat 2
وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا مِن دُونِي وَكِيلً

Terjemahan: Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): “Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku.

Tafsir Jalalain: Allah swt. berfirman: وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ (Dan Kami berikan kepada Musa kitab) yakni kitab Taurat وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ (dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israel) dengan firman:

أَلَّا تَتَّخِذُوا مِن دُونِي وَكِيلً (Janganlah kalian mengambil penolong selain Aku) di mana mereka menyerahkan semua perkara mereka kepada-Nya. Menurut suatu qiraat lafal tattakhidzuu dibaca yattakhidzuu dengan versi ungkapan iltifat; dan huruf an adalah zaidah, sedangkan makna al-qaul diperkirakan keberadaannya.

Baca Juga:  Surah Hud Ayat 29-30; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Setelah Allah menceritakan bahwa Dia telah memperjalankan hamba-Nya, Muhammad saw, Dia melanjutkan dengan menceritakan hamba dan Rasul-Nya, Musa as. Allah Ta’ala seringkali membarengi antara penyebutan Musa dengan Muhammad ‘alaihimashshalaatu wassalaam dan membarengi antara penyebutan Taurat dan al-Qur’an.

Oleh karena itu, setelah bercerita tentang Israa’, Dia berfirman: wa aatainaa muusal kitaaba (“Dan Kami berikan kepada Musa al-Kitab,”) yakni T aurat.

وَجَعَلْنَاهُ (Dan Kami jadikan ia) yakni kitab Taurat tersebut. هُدًى (Petunjuk) لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ (bagi Bani Israil [dengan firman]): أَلَّا تَتَّخِذُوا (Janganlah kamu mengambil) maksudnya, supaya kalian tidak menjadikan; مِن دُونِي وَكِيلً (Penolong selain Aku) maksudnya pelindung dan penolong serta sesembahan selain diri-Ku, karena Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada setiap Nabi yang diutus-Nya supaya beribadah kepada-Nya saja, yang tiada sekutu bagi-Nya.

Tafsir Kemenag: Pemberian kitab Taurat kepada Nabi Musa a.s. sebagai pedoman untuk kaumnya adalah untuk memberikan pengertian kepada kaum Muslimin, bahwa di antara tugas-tugas para rasul ialah menyampaikan agama tauhid, sebagaimana tugas Nabi saw kepada mereka.

Juga untuk mengingatkan mereka agar jangan meniru sikap umat-umat terdahulu, dimana sepeninggal rasul-rasulnya, mereka membuat-buat takwil terhadap firman-firman Allah menurut kehendaknya, dan bergelimang dalam lembah dosa dan kesesatan yang nyata.

Itulah sebabnya maka Allah swt menyebutkan berulang kali dalam Al-Qur’an keistimewaan Musa a.s. dan kelebihan Bani Israil dari bangsa-bangsa lain yang ada pada masa itu. Allah menyebutkan pula nikmat yang diberikan kepada mereka, dengan maksud agar hati nurani mereka tergugah, lalu kembali ke jalan yang benar, dan hidup sesuai dengan petunjuk-Nya.

Baca Juga:  Surah Al-Isra Ayat 101-104; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Surah Al-Isra Ayat 3
ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا

Terjemahan: (yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.

Tafsir Jalalain: ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ (Yaitu anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh) di dalam bahtera. إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا (Sesungguhnya dia adalah hamba Allah yang banyak bersyukur) kepada Kami dan selalu memuji dalam semua sepak terjangnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Dia berfirman: ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ (Yaitu anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh) Perkiraan, kalimat itu berbunyi sebagai berikut, “Hai anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama dengan Nuh.”

Di dalamnya terdapat perhatian terhadap karunia. Dengan kata lain, hai keturunan orang-orang yang Kami selamatkan dan Kami bawa bersama Nuh as. di dalam kapal, bertindaklah hal yang sama seperti orang tua kalian.

إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا (Sesungguhnya ia adalah hamba [Allah] yang banyak bersyukur) Maka ingatlah kalian akan nikmat-Ku yang telah Ku-berikan kepada kalian, yaitu berupa pengutusan Muhammad sebagai Rasul.

Di dalam hadits dan juga dalam atsar disebutkan dari ulama salaf, bahwa Nuh as. senantiasa memuji Allah Ta’ala atas makanan yang ia makan, minuman yang ia minum, pakaian yang ia pakai, dan atas seluruh keadaan kehidupannya. Oleh karena itu ia disebut sebagai hamba yang selalu bersyukur.

Baca Juga:  Surah Al-Isra Ayat 23-24; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Allah swt menyebutkan juga nenek moyang mereka, yaitu orang-orang yang telah diselamatkan Allah bersama-sama Nuh a.s. dari topan. Mereka diselamatkan Allah dengan perantaraan wahyu-Nya kepada Nuh a.s. Nuh diperintahkan untuk membuat perahu, agar dia dan kaumnya yang setia terhindar dari azab Allah yang akan ditimpakan kepada kaumnya yang mengingkari kenabiannya.

Hal ini mengandung peringatan bagi Bani Israil agar mengambil contoh dan pelajaran dari peristiwa itu, dan mengikuti jalan yang ditempuh oleh Nabi Nuh. Hal itu juga sebagai pelajaran bagi kaum Muslimin agar tetap memelihara tauhid seperti Nuh a.s. dan pengikut-pengikutnya, serta orang-orang yang mensyukuri nikmat Allah.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Isra Ayat 2-3 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S