Surah Al-Jatsiyah Ayat 30-37; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Jatsiyah Ayat 30-37

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Jatsiyah Ayat 30-37 ini, Allah menjelaskan penyesalan orang-orang yang mengingkari terjadinya hari kebangkitan. Sewaktu masih di dunia, apabila disampaikan kepada mereka berita tentang terjadinya hari kebangkitan, mereka beranggapan bahwa berita hari kebangkitan itu adalah berita yang aneh dan mustahil.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah menjelaskan cemoohan, penghinaan dan azab yang mereka tanggungkan pada hari Kiamat itu. Pada hari itu, Allah tidak akan menghiraukan jerit dan tangis mereka, ratapan dan penyesalan mereka karena semua yang mereka alami itu benar-benar sebagai pembalasan yang seimbang dengan perbuatan mereka di dunia dahulu.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Jatsiyah Ayat 30-37

Surah Al-Jatsiyah Ayat 30
فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَيُدۡخِلُهُمۡ رَبُّهُمۡ فِى رَحۡمَتِهِۦ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡمُبِينُ

Terjemahan: “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh maka Tuhan mereka memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya (surga). Itulah keberuntungan yang nyata.

Tafsir Jalalain: فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَيُدۡخِلُهُمۡ رَبُّهُمۡ فِى رَحۡمَتِهِ (Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya) yakni surga-Nya. ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡمُبِينُ (Itulah keberuntungan yang nyata) nyata lagi jelas keuntungannya.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah memberitahukan tentang keputusan yang Dia berikan kepada semua makhluk-Nya pada hari kiamat kelak. Dimana Dia berfirman: فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ (“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih.”) yakni hati mereka yang beriman, lalu seluruh anggota badan mereka mengerjakan amal shalih, [yaitu] yang dikerjakan secara tulus dan sesuai dengan syariat.

فَيُدۡخِلُهُمۡ رَبُّهُمۡ فِى رَحۡمَتِهِۦ (“Maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya”) yaitu surga. Sebagaimana yang ditegaskan di dalam hadits shahih, bahwa Allah Ta’ala telah berfirman kepada surga: “Engkau adalah rahmat-Ku, denganmu Aku memberikan rahmat kepada siapa yang Aku kehendaki.” ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡمُبِينُ (“Itulah keberuntungan yang nyata.”) yaitu, yang benar-benar jelas dan gamblang.

Tafsir Kemenag: Kemudian Allah menjelaskan keadaan orang-orang yang beriman dan yang melakukan amal saleh. Mereka itu akan mendapat balasan yang setimpal dengan amal perbuatannya. Mereka itu termasuk hamba Allah yang memperoleh limpahan rahmat-Nya. Yang dimaksud dengan rahmat Allah dalam ayat ini adalah surga. Hal ini sesuai dengan maksud hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah: ?)

Sesungguhnya Allah berkata kepada surga, “Engkau adalah rahmat-Ku. Dengan kamu Aku melimpahkan Kasih sayang-Ku kepada orang-orang yang Aku kehendaki.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim) Pada bagian akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa surga itu merupakan kebahagiaan yang akan dicapai oleh orang-orang yang beriman karena nikmatnya yang berlimpah-limpah yang akan dirasakan penghuninya.

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, akan dimasukkan oleh Tuhan ke dalam surga- Nya. Balasan itu adalah keberuntungan yang nyata.

Surah Al-Jatsiyah Ayat 31
وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَفَلَمۡ تَكُنۡ ءَايَٰتِى تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ فَٱسۡتَكۡبَرۡتُمۡ وَكُنتُمۡ قَوۡمًا مُّجۡرِمِينَ

Terjemahan: “Dan adapun orang-orang yang kafir (kepada mereka dikatakan): “Maka apakah belum ada ayat-ayat-Ku yang dibacakan kepadamu lalu kamu menyombongkan diri dan kamu jadi kaum yang berbuat dosa?”

Tafsir Jalalain: وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ (Dan adapun orang-orang yang kafir) dikatakan kepada mereka: أَفَلَمۡ تَكُنۡ ءَايَٰتِى (“Maka apakah belum ada ayat-ayat-Ku) yakni Alquran تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ فَٱسۡتَكۡبَرۡتُمۡ (yang dibacakan kepada kalian lalu kalian menyombongkan diri) bersifat takabur terhadapnya وَكُنتُمۡ قَوۡمًا مُّجۡرِمِينَ (dan kalian jadi kaum yang berbuat dosa?”) jadi orang-orang yang kafir.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman: وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَفَلَمۡ تَكُنۡ ءَايَٰتِى تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ فَٱسۡتَكۡبَرۡتُمۡ (“Dan adapun orang-orang kafir [kepada mereka dikatakan]: ‘Maka apakah belum ada ayat-ayat-Ku yang dibacakan kepada kalian, lalu kalian menyombongkan diri?’”) yakni hal itu dikatakan kepada mereka sebagai hinaan dan celaan. Bukankah telah dibacakan ayat-ayat Allah Ta’ala kepada kalian, tetapi kalian malah menolak mengikutinya dan enggan mendengarkannya? Dan kalian adalah kaum yang benar-benar berbuat dosa dalam perbuatan kalian dengan segala kedustaan yang telah menyelimuti hati kalian.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menjelaskan keadaan orang-orang yang mengingkari keesaan-Nya. Mereka itu selalu menerima cemoohan dan penghinaan karena kepada mereka telah didatangkan utusan Allah yang telah membacakan ayat-ayat-Nya, tetapi mereka bersikap sombong dan keras kepala. Karena itu mereka akan merasakan siksa Allah yang menghinakan disebabkan oleh perbuatan dosa yang telah mereka kerjakan. Pada saat itulah, mereka tergagap karena melihat kenyataan yang dahulu mereka dustakan.

Tafsir Quraish Shihab: Sedangkan orang-orang yang ingkar kepada Allah dan rasul-Nya, maka, dengan nada mencela, akan dikatakan kepada mereka, “Apakah belum ada rasul-rasul Kami yang datang dan ayat-ayat Kami yang dibacakan kepada kalian, sehingga kalian enggan menerima kebenaran, dan kalian menjadi kaum yang kafir?”

Surah Al-Jatsiyah Ayat 32
وَإِذَا قِيلَ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقٌّ وَٱلسَّاعَةُ لَا رَيۡبَ فِيهَا قُلۡتُم مَّا نَدۡرِى مَا ٱلسَّاعَةُ إِن نَّظُنُّ إِلَّا ظَنًّا وَمَا نَحۡنُ بِمُسۡتَيۡقِنِينَ

Terjemahan: “Dan apabila dikatakan (kepadamu): “Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya”, niscaya kamu menjawab: “Kami tidak tahu apakah hari kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya)”.

Baca Juga:  Surah Yusuf Ayat 73-76; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Tafsir Jalalain: وَإِذَا قِيلَ (Dan apabila dikatakan) kepada kalian hai orang-orang kafir, إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ (“Sesungguhnya janji Allah itu) mengenai hari berbangkit حَقٌّ وَٱلسَّاعَةُ (adalah benar dan hari kiamat itu) dapat dibaca Was Saa’atu atau Was Saa’ata لَا رَيۡبَ (tidak ada keraguan) tidak ada keragu-raguan فِيهَا قُلۡتُم مَّا نَدۡرِى مَا ٱلسَّاعَةُ (padanya,” niscaya kalian menjawab, “Kami tidak tahu apakah hari kiamat itu, tidak lain) tiada lain إِلَّا ظَنًّا (kami hanya menduga-duga saja)

Menurut Iman Mubarrad, bahwa asal dari lafal In Nazhunnu Illaa Zhannan adalah In Nahnu Illaa Nazhunnu Zhannan, yang artinya: kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja وَمَا نَحۡنُ بِمُسۡتَيۡقِنِينَ (dan Kami sekali-kali tidak meyakini”) bahwa hari kiamat itu benar-benar akan datang.

Tafsir Ibnu Katsir: وَإِذَا قِيلَ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقٌّ وَٱلسَّاعَةُ لَا رَيۡبَ فِيهَا (“Dan apabila dikatakan [kepada kalian]: ‘Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan kepadanya.’”) masudnya jika hal itu dikatakan oleh orang-orang yang beriman kepada kalian,

قُلۡتُم مَّا نَدۡرِى مَا ٱلسَّاعَةُ (“Niscaya kalian menjawab: ‘Kami tidak tahu apakah hari kiamat itu.’”) maksudnya kami tidak mengetahuinya. إِن نَّظُنُّ إِلَّا ظَنًّا (“Kami sekali-sekali tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”) artinya kami meragukan kejadiannya tanpa dasar. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: وَمَا نَحۡنُ بِمُسۡتَيۡقِنِينَ (“Dan kami sekali-sekali tidak meyakini[nya].”) maksudnya, tidak mempercayainya.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini, Allah menjelaskan penyesalan orang-orang yang mengingkari terjadinya hari kebangkitan. Sewaktu masih di dunia, apabila disampaikan kepada mereka berita tentang terjadinya hari kebangkitan, mereka beranggapan bahwa berita hari kebangkitan itu adalah berita yang aneh dan mustahil.

Bagi mereka mustahil membangkitkan orang yang telah mati yang tulang-tulangnya telah berserakan dan seluruh tubuhnya telah hancur menjadi tanah. Tetapi nanti setelah mereka menghadapi kenyataan dan berhadapan dengan siksa yang sangat mengerikan, barulah mereka menyesali sikap dan perbuatan mereka dahulu yang semata-mata didasarkan atas dugaan dan prasangka belaka, tidak berdasarkan ilmu pengetahuan dan kepercayaan kepada Allah Yang Maha Penguasa Semesta Alam.

Tafsir Quraish Shihab: Ketika Rasulullah berkata, “Sesungguhnya janji Allah untuk memberi balasan adalah benar, dan hari kiamat pasti datang,” kepada kalian, wahai orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan, kalian menjawabnya dengan mengatakan, “Kami tidak tahu apakah hari kiamat itu? Kami hanya menduga-duga dan tidak yakin bahwa hari itu akan datang.”

Surah Al-Jatsiyah Ayat 33
وَبَدَا لَهُمۡ سَيِّـَٔاتُ مَا عَمِلُواْ وَحَاقَ بِهِم مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ

Terjemahan: “Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh (azab) yang mereka selalu memperolok-olokkannya.

Tafsir Jalalain: وَبَدَا (Dan nyatalah) jelaslah لَهُمۡ (bagi mereka) di akhirat nanti سَيِّـَٔاتُ مَا عَمِلُواْ (keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan) sewaktu di dunia, yang dimaksud adalah pembalasannya وَحَاقَ (dan menimpalah) turunlah بِهِم مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ (kepada mereka apa yang mereka selalu memperolok-olokkannya) yaitu, azab yang dahulu mereka selalu memperolok-olokkannya.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman: وَبَدَا لَهُمۡ سَيِّـَٔاتُ مَا عَمِلُواْ (“Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan.”) maksudnya tampak oleh mereka hukuman amal perbuatan mereka yang buruk. وَحَاقَ بِهِم (“Dan mereka diliputi.”) dikelilingi, مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ (“Oleh apa yang mereka selalu memperolok-olokkannya.”) yakni adzab dan siksaan.

Tafsir Kemenag: Kemudian Allah menjelaskan keadaan kaum musyrikin ketika kejahatan mereka telah terungkap dengan jelas. Mereka tergagap menghadapi tanggung jawab yang begitu besar. Mereka merasa takut melihat dosa mereka yang bertumpuk-tumpuk yang harus mereka tebus dengan siksaan neraka yang sangat mereka takuti.

Mereka menyadari pula saat itu bahwa tidak ada seorang pun yang dapat membela mereka; kekuasaan mereka selama di dunia, harta benda yang melimpah ruah, anak cucu mereka, teman bersekongkol, dan sebagainya semuanya tidak ada artinya pada waktu itu. Satu-satunya pilihan yang dapat mereka ambil waktu itu hanyalah menunggu keputusan dan pasrah untuk menerima azab Allah.

Tafsir Quraish Shihab: Dan tampaklah keburukan amal perbuatan orang-orang kafir itu. Lalu diturunkan kepada mereka balasan memperolok-olok ayat-ayat Allah.

Surah Al-Jatsiyah Ayat 34
وَقِيلَ ٱلۡيَوۡمَ نَنسَىٰكُمۡ كَمَا نَسِيتُمۡ لِقَآءَ يَوۡمِكُمۡ هَٰذَا وَمَأۡوَىٰكُمُ ٱلنَّارُ وَمَا لَكُم مِّن نَّٰصِرِينَ

Terjemahan: “Dan dikatakan (kepada mereka): “Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini dan tempat kembalimu ialah neraka dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong”.

Tafsir Jalalain: وَقِيلَ ٱلۡيَوۡمَ نَنسَىٰكُمۡ (Dan dikatakan kepada mereka, “Pada hari ini Kami melupakan kalian) Kami membiarkan kalian berada di dalam neraka كَمَا نَسِيتُمۡ لِقَآءَ يَوۡمِكُمۡ هَٰذَاۡ (sebagaimana kalian telah melupakan pertemuan dengan hari kalian ini) yaitu kalian tidak mau beramal sebagai bekal untuk menghadapinya وَمَأۡوَىٰكُمُ ٱلنَّارُ وَمَا لَكُم مِّن نَّٰصِرِينَ (dan tempat tinggal kalian ialah neraka dan kalian sekali-kali tidak memperoleh penolong”) yang dapat mencegah diri kalian dari azab neraka.

Tafsir Ibnu Katsir: وَقِيلَ ٱلۡيَوۡمَ نَنسَىٰكُمۡ (“Dan dikatakan [kepada mereka]: ‘Pada hari ini Kami melupakanmu.”) maksudnya Kami memperlakukan kalian seperti perlakuan orang yang lupa kepada kalian di neraka jahannam.

Baca Juga:  Surah Al-Jatsiyah Ayat 1-5; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

كَمَا نَسِيتُمۡ لِقَآءَ يَوۡمِكُمۡ هَٰذَا (“Sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan [dengan] harimu ini.”) maka kalian tidak mau beramal untuk menghadapinya, karena kalian tidak mempercayainya. وَمَأۡوَىٰكُمُ ٱلنَّارُ وَمَا لَكُم مِّن نَّٰصِرِينَ (“dan tempat kembali kamu adalah neraka dan kamu sekali-sekali tidak memperoleh penolong.”)

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini, Allah menjelaskan cemoohan, penghinaan dan azab yang mereka tanggungkan pada hari Kiamat itu. Pada hari itu, Allah tidak akan menghiraukan jerit dan tangis mereka, ratapan dan penyesalan mereka karena semua yang mereka alami itu benar-benar sebagai pembalasan yang seimbang dengan perbuatan mereka di dunia dahulu.

Di dunia mereka menganiaya dan memfitnah orang yang tidak bersalah, menghalalkan yang haram untuk kepentingan pribadi dan kelompok mereka; Allah akan memberikan balasan yang setimpal dengan amal mereka semua di akhirat nanti. Jika Allah bersikap tidak mengacuhkan mereka karena sikap angkuh dan sombong yang telah mereka lakukan, serta sikap yang tidak berperikemanusiaan yang telah mereka lakukan. Maka sikap yang demikian itu adalah balasan yang wajar sesuai dengan keadilan-Nya.

Tafsir Quraish Shihab: Dengan nada mencela, hari itu akan dikatakan kepada orang-orang musyrik, “Hari ini Kami membiarkan kalian di dalam siksa sebagaimana kalian dahulu lupa membekali diri dengan ketaatan dan amal saleh untuk bertemu dengan Tuhanmu pada hari ini. Dan neraka adalah tempat kalian dan kalian sekali-kali tidak memperoleh penolong yang dapat menyelamatkan kalian dari siksaan api neraka.

Surah Al-Jatsiyah Ayat 35
ذَٰلِكُم بِأَنَّكُمُ ٱتَّخَذۡتُمۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ هُزُوًا وَغَرَّتۡكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا فَٱلۡيَوۡمَ لَا يُخۡرَجُونَ مِنۡهَا وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ

Terjemahan: “Yang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat.

Tafsir Jalalain: ذَٰلِكُم بِأَنَّكُمُ ٱتَّخَذۡتُمۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ (Yang demikian itu, karena sesungguhnya kalian menjadikan ayat-ayat Allah) Alquran هُزُوًا وَغَرَّتۡكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا (sebagai olok-olokan dan kalian telah ditipu oleh kehidupan dunia) sehingga kalian berani mengatakan bahwa tidak ada hari berbangkit dan tidak ada hari hisab,

فَٱلۡيَوۡمَ لَا يُخۡرَجُونَ (maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan) dapat dibaca Yukhrajuuna dan Yakhrujuuna, kalau dibaca Yakhrujuuna artinya mereka tidak dapat keluar مِنۡهَا (daripadanya) dari neraka وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ (dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertobat) tidak dituntut untuk membuat amal keridaan terhadap Rabbnya, yaitu berupa tobat dan ketaatan kepada-Nya, karena pada hari itu hal-hal tersebut sudah tidak bermanfaat lagi.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: ذَٰلِكُم بِأَنَّكُمُ ٱتَّخَذۡتُمۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ هُزُوًا (“Yang demikian itu karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan.”) maksudnya, sesungguhnya Kami berikan balasan seperti itu kepada kalian, karena kalian telah menjadikan hujjah-hujjah Allah atas kalian hanya sebagai bahan ejekan yang kalian olok-olokkan.

وَغَرَّتۡكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا (“Dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia.”) artinya, dunia telah memperdaya kalian dan kalian pun merasa senang dengannya, sehingga kalian termasuk orang-orang yang merugi. Oleh karena itu Allah berfirman: فَٱلۡيَوۡمَ لَا يُخۡرَجُونَ مِنۡهَا (“Maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan darinya.”) yakni dari neraka,

وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ (“Dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat.”) maksudnya kalian tidak diminta untuk memohon ampun, tatapi justru kalian akan diadzab tanpa hisab dan tanpa kesempatan bertaubat, sebagaimana segolongan orang dari kaum mukminin yang masuk surga tanpa adzab dan tanpa hisab.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menjelaskan mengapa orang-orang kafir itu harus menerima siksaan dan azab yang mengerikan itu, sebabnya ialah: 1. Karena waktu mereka hidup di dunia, mereka memperolok-olok ayat-ayat Allah yang disampaikan kepada mereka melalui Rasul-Nya.

Sikap ini dianggap sebagai sikap yang penuh keangkuhan dan kesombongan. Mereka juga ingin mendangkalkan iman yang telah meresap dalam dada kaum Muslimin dengan berbagai macam dalih dan cara. 2. Mereka telah tertipu oleh kenikmatan hidup di dunia, sehingga mereka melupakan kehidupan akhirat yang menjadi tujuan akhir kehidupan manusia. Itulah sebabnya ketika Allah menjatuhkan keputusan-Nya, tidak ada kemungkinan bagi mereka untuk melepaskan diri dari azab dan tidak ada lagi ampunan bagi mereka.

Tafsir Quraish Shihab: Itulah azab yang menimpa diri kalian, karena kalian ingkar dan mengolok-olok ayat-ayat Allah dan tertipu oleh kehidupan dunia.” Hari ini tidak ada seorang pun yang dapat mengeluarkan mereka dari siksa api neraka, dan mereka pun tidak diminta untuk memohon perkenan Tuhan dengan meminta maaf.

Surah Al-Jatsiyah Ayat 36
فَلِلَّهِ ٱلۡحَمۡدُ رَبِّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَرَبِّ ٱلۡأَرۡضِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ

Terjemahan: “Maka bagi Allah-lah segala puji, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan semesta alam.

Tafsir Jalalain: فَلِلَّهِ ٱلۡحَمۡدُ (Maka bagi Allahlah segala puji) sanjungan yang baik atas ketepatan ancaman-Nya terhadap orang-orang yang mendustakan-Nya رَبِّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَرَبِّ ٱلۡأَرۡضِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ (Rabb langit dan bumi, Rabb semesta alam) Pencipta hal-hal yang telah disebutkan tadi. Pengertian kata Al-‘Aalam adalah semua yang selain Allah, diungkapkan dalam bentuk jamak mengingat jenisnya yang bermacam-macam dan lafal Rabb adalah Badal.

Tafsir Ibnu Katsir: Setelah itu Allah menyebutkan hukum-Nya yang berlaku bagi orang-orang mukmin dan orang-orang kafir, dengan firman-Nya: فَلِلَّهِ ٱلۡحَمۡدُ رَبِّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَرَبِّ ٱلۡأَرۡضِ (“Maka bagi Allah segala puji, Rabb langit dan Rabb bumi.”) yakni raja bagi keduanya dan semua yang ada di dalamnya,رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ (“Rabb semesta alam.”)

Baca Juga:  Surah Al-Jatsiyah Ayat 6-11; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Kedua ayat ini merupakan ayat penutup Surah al-Jatsiyah. Dalam ayat-ayat ini Allah menyebutkan beberapa sifat-Nya yang ada hubungannya dengan dasar-dasar pengambilan keputusan di hari Kiamat nanti, yaitu: 1. Dia Maha Terpuji, karena itu bagi-Nyalah segala puji.

Ungkapan ini memberikan pengertian bahwa segala nikmat apa pun yang diperoleh manusia selama hidup di dunia berasal dari Allah agar manusia dapat melaksanakan tugasnya sebagai khalifah-Nya di bumi, bukan untuk berbuat sewenang-wenang dan memperturutkan hawa nafsu. Jika manusia tidak mensyukuri nikmat itu dan tidak mempergunakan nikmat itu menurut yang semestinya, tentulah orang itu akan mendapat murka dan azab-Nya. 2. Allah Mahakuasa, Dia menguasai semesta alam.

Perkataan ini memberikan pengertian bahwa segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi berada dalam kekuasaan-Nya. Dia menguasai dunia dan akhirat. 3. Dia Mahaagung, karena keagungan dan keangkuhan hanya bagi Allah di langit dan di bumi dan kekuasaan-Nya berada di atas segala kekuasaan. 4. Dia Mahaperkasa, keputusan-Nya tidak dapat ditolak, tidak dapat diubah oleh siapa pun, dan tidak ada yang dapat menandingi kekuasaan-Nya itu.

5. Dia Mahabijaksana. Maksudnya: Allah dalam menetapkan perintah-Nya kepada seluruh makhluk-Nya, selalu disertai aturan, perhitungan, dan berhasil serta pasti, terjadi sesuai dengan yang dikehendaki-Nya.

Tafsir Quraish Shihab: Dari itu, hanya bagi Allahlah, Pencipta langit dan bumi serta semua makhluk segala puji. Sebab sifat- sifat ketuhanan inilah yang membuat Allah berhak dipuji atas segala nikmat.

Surah Al-Jatsiyah Ayat 37
وَلَهُ ٱلۡكِبۡرِيَآءُ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ

Terjemahan: “Dan bagi-Nya-lah keagungan di langit dan bumi, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Tafsir Jalalain: (Dan bagi-Nyalah keagungan) kebesaran (di langit dan bumi) lafal Fis Samaawaati Wal Ardhi ini berkedudukan menjadi Hal atau kata keterangan keadaan; yakni keagungan yang ada pada keduanya. (Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana) sebagaimana yang telah dijelaskan pada penafsiran-penafsiran sebelumnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian firman Allah: وَلَهُ ٱلۡكِبۡرِيَآءُ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ (“Dan bagi-Nya lah keagungan di langit dan Rabb bumi.”) Mujahid berkata: “Yaitu kekuasaan yang agung lagi mulia yang segala sesuatu tunduk kepada-Nya dan senantiasa membutuhkan-Nya.”

Dalam hadits shahih telah ditegaskan: “Allah berfirman: ‘Keagungan-Ku adalah pakaian-Ku dan kesombongan [kebesaran] itu selendang-Ku. Barangsiapa melepas salah satunya dari-Ku, maka Aku akan menempatkannya di neraka-Ku.” Hal yang sama juga diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah dan Abu Sa’ad, dari Rasulullah saw.

Dan firman-Nya: وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ (“Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa.”) yang tidak dapat dikalahkan dan tidak dapat dihalangi, ٱلۡحَكِيمُ (“Lagi Maha bijaksana.”) yakni , dalam ucapan, perbuatan, syariat dan kekuasaan-Nya. Mahatinggi Dia lagi Mahasuci, tidak ada yang berhak diibadahi selain Dia.
Sekian.

Tafsir Kemenag: Kedua ayat ini merupakan ayat penutup Surah al-Jatsiyah. Dalam ayat-ayat ini Allah menyebutkan beberapa sifat-Nya yang ada hubungannya dengan dasar-dasar pengambilan keputusan di hari Kiamat nanti, yaitu:

1. Dia Maha Terpuji, karena itu bagi-Nyalah segala puji. Ungkapan ini memberikan pengertian bahwa segala nikmat apa pun yang diperoleh manusia selama hidup di dunia berasal dari Allah agar manusia dapat melaksanakan tugasnya sebagai khalifah-Nya di bumi, bukan untuk berbuat sewenang-wenang dan memperturutkan hawa nafsu. Jika manusia tidak mensyukuri nikmat itu dan tidak mempergunakan nikmat itu menurut yang semestinya, tentulah orang itu akan mendapat murka dan azab-Nya.

2. Allah Mahakuasa, Dia menguasai semesta alam. Perkataan ini memberikan pengertian bahwa segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi berada dalam kekuasaan-Nya. Dia menguasai dunia dan akhirat. 3. Dia Mahaagung, karena keagungan dan keangkuhan hanya bagi Allah di langit dan di bumi dan kekuasaan-Nya berada di atas segala kekuasaan.

4. Dia Mahaperkasa, keputusan-Nya tidak dapat ditolak, tidak dapat diubah oleh siapa pun, dan tidak ada yang dapat menandingi kekuasaan-Nya itu. 5. Dia Mahabijaksana. Maksudnya: Allah dalam menetapkan perintah-Nya kepada seluruh makhluk-Nya, selalu disertai aturan, perhitungan, dan berhasil serta pasti, terjadi sesuai dengan yang dikehendaki-Nya. .

Tafsir Quraish Shihab: Dan hanya bagi-Nya pulalah keagungan dan kekuasaan di langit dan bumi. Dia Maha Perkasa yang tidak terkalahkan dan Maha Bijaksana yang tidak pernah salah dalam menetapkan hukum-hukum-Nya.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Jatsiyah Ayat 30-37 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S