Surah Al-Jin Ayat 1-7; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Jin Ayat 1-7

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Jin Ayat 1-7 ini, sebelum membahas kandungan ayat terlebih dahulu kita mengetahui isi kandungan surah. Pada surah ini Allah memerintahkan Rasulullah saw. untuk menyampaikan kepada manusia wahyu Allah berupa peristiwa jin yang mendengar bacaannya, memenuhi seruannya, pemberitahuan jin tentang kelompok-kelompok mereka yang baik dan yang jahat, duduknya mereka pada masa lalu untuk mencuri pendengaran kemudian peristiwa terusirnya mereka sehingga tidak lagi bisa melakukan hal itu.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Surah ini juga menjelaskan orang-orang yang teguh dalam mengikuti jalan Islam dan orang-orang yang tidak mau menerima ajarannya.surah ini juga memberikan batasan mengenai hal-hal yang dapat dan tidak dapat dilakukan oleh Rasulullah serta memperingati orang-orang yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya akan Jahannam dan kekalnya mereka di situ.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Jin Ayat 1-7

Surah Al-Jin Ayat 1
قُلۡ أُوحِىَ إِلَىَّ أَنَّهُ ٱسۡتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ ٱلۡجِنِّ فَقَالُوٓاْ إِنَّا سَمِعۡنَا قُرۡءَانًا عَجَبًا

Terjemahan: “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan,

Tafsir Jalalain: Al-Jinn (Jin) قُلۡ (Katakanlah) hai Muhammad! أُوحِىَ إِلَىَّ (“Telah diwahyukan kepadaku) maksudnya aku telah diberitahu oleh Allah melalui wahyu-Nya أَنَّهُ (bahwasanya) dhamir yang terdapat pada lafal annahu ini adalah dhamir sya’n ٱسۡتَمَعَ (telah mendengarkan) bacaan Alquranku نَفَرٌ مِّنَ ٱلۡجِنِّ (sekumpulan jin.”) yakni jin dari Nashibin; demikian itu terjadi sewaktu Nabi saw. sedang melakukan salat Subuh di lembah Nakhlah, yang terletak di tengah-tengah antara Mekah dan Thaif. Jin itulah yang disebutkan di dalam firman-Nya, “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu.” (Q.S. Al-Ahqaf 29)

فَقَالُوٓاْ (lalu mereka berkata) kepada kaum mereka setelah mereka kembali kepada kaumnya: إِنَّا سَمِعۡنَا قُرۡءَانًا عَجَبًا (“Sesungguhnya kami telah mendengarkan Alquran yang menakjubkan) artinya mereka takjub akan kefasihan bahasanya dan kepadatan makna-makna yang dikandungnya, serta hal-hal lainnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman seraya memerinahkan Rasul-Nya agar memberitahu kaumnya bahwa jin juga mendengar al-Qur’an, lalu mereka beriman, membenarkanya dan tunduk patuh kepadanya.
Dimana Allah berfirman: قُلۡ أُوحِىَ إِلَىَّ أَنَّهُ ٱسۡتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ ٱلۡجِنِّ فَقَالُوٓاْ إِنَّا سَمِعۡنَا قُرۡءَانًا عَجَبً ( “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, )

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk menyampaikan kepada para sahabat tentang jin yang beriman kepada Allah. Keimanan jin itu mengandung arti: 1. bahwa Nabi Muhammad adalah rasul bagi umat manusia dan juga bagi jin, sebagaimana juga diungkapkan dalam ayat yang lain.

2. bahwa jin mendengar dan mengerti bahasa manusia, sebagaimana juga dinyatakan dalam ayat-ayat lain. 3. bahwa jin juga akan dihisab sebagaimana halnya manusia. 4. bahwa adanya jin yang juga yang berdakwah kepada kaumnya. 5. agar orang-orang Quraisy mengetahui bahwa jin saja ketika mendengar Al-Qur’an mengakui kemukjizatannya dan beriman kepadanya.

Berdasarkan pengertian ayat ini, dipahami bahwa Nabi Muhammad mengetahui bahwa jin mendengar bacaan beliau dengan perantaraan wahyu, bukan dengan menyaksikan dengan mata beliau sendiri.

Tafsir Quraish Shihab: Pada surah ini Allah memerintahkan Rasulullah saw. untuk menyampaikan kepada manusia wahyu Allah berupa peristiwa jin yang mendengar bacaannya, memenuhi seruannya, pemberitahuan jin tentang kelompok-kelompok mereka yang baik dan yang jahat, duduknya mereka pada masa lalu untuk mencuri pendengaran kemudian peristiwa terusirnya mereka sehingga tidak lagi bisa melakukan hal itu.

Surah ini juga menjelaskan orang-orang yang teguh dalam mengikuti jalan Islam dan orang-orang yang tidak mau menerima ajarannya. Di samping itu surah ini membicarakan kemurniaan masjid dan peribadatan hanya untuk Allah, seruan Rasulullah untuk beriman kepada Allah dan penerimaan jin terhadap seruannya.

Surah ini juga memberikan batasan mengenai hal-hal yang dapat dan tidak dapat dilakukan oleh Rasulullah serta memperingati orang-orang yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya akan Jahannam dan kekalnya mereka di situ. Sebagai khatimah, surah ini menyebutkan bahwa pengetahuan tentang yang ghaib hanyalah milik Allah, bahwa Dia akan memberitahukan hal itu kepada hamba-hamba yang dipilih-Nya untuk menjadi Rasul, dan bahwa wahyu itu dijaga oleh para malaikat sehingga dapat disampaikan kepada manusia dengan sempurna.

Baca Juga:  Surah At-Taubah Ayat 50-51; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Hal itu juga diberitahukan kepada rasul-Nya.]] Katakanlah kepada kaummu, hai Muhammad, “Allah telah mewahyukan kepadaku bahwa sekelompok jin telah memperhatikan bacaanku lalu berkata kepada kaumnya, ‘Sesungguhnya kami telah mendengar al-Qur’ân yang sangat indah dan belum pernah kami dengar sebelumnya bacaan seindah itu. ‘

Al-Qur’ân itu mengajak kepada petunjuk dan kebenaran. Dan kami pun mempercayai al-Qur’ân yang telah kami dengar dan sekali-kali kami tidak akan menyekutukan Tuhan kami yang telah menciptakan dan memelihara kami dalam peribadatan.

Surah Al-Jin Ayat 2
يَهۡدِىٓ إِلَى ٱلرُّشۡدِ فَـَٔامَنَّا بِهِۦ وَلَن نُّشۡرِكَ بِرَبِّنَآ أَحَدًا

Terjemahan: “(yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami,

Tafsir Jalalain: يَهۡدِىٓ إِلَى ٱلرُّشۡدِ فَـَٔامَنَّا بِه (Yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar) yaitu kepada keimanan dan kebenaran وَلَن نُّشۡرِكَ (lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan) sesudah hari ini بِرَبِّنَآ أَحَدًا (seorang pun dengan Rabb kami.).

Tafsir Ibnu Katsir:‘ يَهۡدِىٓ إِلَى ٱلرُّشۡدِ (“Katakanlah [hai Muhammad]: ‘Telah diwahyukan kepadaku bahwasannya sekumpulan jin telah mendengarkan [al-Qur’an] lalu mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur’an yang menakjubkan, [yang] memberi petunjuk kepada jalan yang benar.’”) maksudnya ke jalan yang lurus dan kesuksesan.

فَـَٔامَنَّا بِهِۦ وَلَن نُّشۡرِكَ بِرَبِّنَآ أَحَدًا (“Lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-sekali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Rabb kami.”) kedudukan ini sama seperti firman Allah yang artinya: “Dan [ingatlah] ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Qur’an.” (al-Ahqaaf: 29).

Tafsir Kemenag: Sebagaimana di ayat pertama, dalam ayat kedua ini Allah menyatakan bahwa jin telah mendengar Al-Qur’an yang membuat mereka takjub karena memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu mereka beriman. Mereka bertekad tidak akan mempersekutukan Allah dengan apa pun. Apa yang mereka dengar dan sikap mereka setelah itu juga disampaikan kepada kaum mereka, sebagaimana disebutkan juga dalam ayat lain: Maka ketika telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. (al-Ahqaf/46: 29).

Tafsir Quraish Shihab: Pada surah ini Allah memerintahkan Rasulullah saw. untuk menyampaikan kepada manusia wahyu Allah berupa peristiwa jin yang mendengar bacaannya, memenuhi seruannya, pemberitahuan jin tentang kelompok-kelompok mereka yang baik dan yang jahat, duduknya mereka pada masa lalu untuk mencuri pendengaran kemudian peristiwa terusirnya mereka sehingga tidak lagi bisa melakukan hal itu.

Surah ini juga menjelaskan orang-orang yang teguh dalam mengikuti jalan Islam dan orang-orang yang tidak mau menerima ajarannya. Di samping itu surah ini membicarakan kemurniaan masjid dan peribadatan hanya untuk Allah, seruan Rasulullah untuk beriman kepada Allah dan penerimaan jin terhadap seruannya.

Surah ini juga memberikan batasan mengenai hal-hal yang dapat dan tidak dapat dilakukan oleh Rasulullah serta memperingati orang-orang yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya akan Jahannam dan kekalnya mereka di situ. Sebagai khatimah, surah ini menyebutkan bahwa pengetahuan tentang yang ghaib hanyalah milik Allah, bahwa Dia akan memberitahukan hal itu kepada hamba-hamba yang dipilih-Nya untuk menjadi Rasul, dan bahwa wahyu itu dijaga oleh para malaikat sehingga dapat disampaikan kepada manusia dengan sempurna. Hal itu juga diberitahukan kepada rasul-Nya.]] Katakanlah kepada kaummu, hai Muhammad,

“Allah telah mewahyukan kepadaku bahwa sekelompok jin telah memperhatikan bacaanku lalu berkata kepada kaumnya, ‘Sesungguhnya kami telah mendengar al-Qur’ân yang sangat indah dan belum pernah kami dengar sebelumnya bacaan seindah itu. ‘

Al-Qur’ân itu mengajak kepada petunjuk dan kebenaran. Dan kami pun mempercayai al-Qur’ân yang telah kami dengar dan sekali-kali kami tidak akan menyekutukan Tuhan kami yang telah menciptakan dan memelihara kami dalam peribadatan.

Surah Al-Jin Ayat 3
وَأَنَّهُۥ تَعَٰلَىٰ جَدُّ رَبِّنَا مَا ٱتَّخَذَ صَٰحِبَةً وَلَا وَلَدًا

Terjemahan: “dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak.

Tafsir Jalalain: وَأَنَّهُۥ (Dan bahwasanya) dhamir yang terdapat pada ayat ini adalah dhamir sya’n, demikian pula pada dua tempat lain sesudahnya تَعَٰلَىٰ جَدُّ رَبِّنَا (Maha Tinggi Kebesaran Rabb kami) Maha Suci kebesaran dan keagungan-Nya dari apa-apa yang dinisbatkan kepada-Nya مَا ٱتَّخَذَ صَٰحِبَةً (Dia tidak beristri) tidak mempunyai istri وَلَا وَلَدًا (dan tidak pula beranak.).

Baca Juga:  Surah Al-Anbiya Ayat 64-67; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah Ta’ala: مَا ٱتَّخَذَ صَٰحِبَةً وَلَا وَلَدًا (“Dan tidak beristri dan tidak pula beranak.”) Mahatinggi Dia dari pengambilan istri dan anak. Maksudnya jin berkata saat mereka memeluk Islam dan beriman kepada al-Qur’an: “Allah swt. terlepas dari pengambilan istri dan anak.”

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, diterangkan bahwa sebagaimana mereka menghindarkan diri dari mempersekutukan Allah, para jin itu juga menyucikan-Nya dari mempunyai istri atau anak. Mempunyai teman istri dan anak hanyalah keperluan manusia, sebagaimana firman Allah: Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. (ar-Rum/30: 21).

Tafsir Quraish Shihab: Tuhan kami–dengan kekuasaan dan kebesaran-Nya–sungguh tidak beristri dan tidak pula beranak.

Surah Al-Jin Ayat 4
وَأَنَّهُۥ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى ٱللَّهِ شَطَطًا

Terjemahan: “Dan bahwasanya: orang yang kurang akal daripada kami selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah,

Tafsir Jalalain: وَأَنَّهُۥ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا (Dan bahwasanya orang yang kurang akal daripada kami selalu mengatakan) maksudnya orang yang bodoh di antara kami عَلَى ٱللَّهِ شَطَطًا (perkataan yang melampaui batas terhadap Allah) dusta yang berlebihan, yaitu dengan menyifati Allah punya istri dan anak.

Tafsir Ibnu Katsir: Lebih lanjut jin-jin itu berkata: وَأَنَّهُۥ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى ٱللَّهِ شَطَطًا (“dan bahwasannya siapa yang kurang akal di antara kami dahulu selalu mengatakan [perkataan] yang melampaui batas terhadap Allah.”) Mujahid, ‘Ikrimah, Qatadah dan as-Suddi mengatakan: “سَفِيهُنَا; yang mereka maksudkan adalah iblis.” شَطَطًا; as-Suddi mengatakan, dari Abu Malik: شَطَطًا yakni aniaya.” Ibnu Zaid mengatakan:

“Yakni benar-benar dhalim.” Dan mungkin juga yang dimaksud dengan ucapan mereka: “SafiiHunaa; adalah isim jenis bagi setiap orang yang mengaku bahwa Allah mempunyai istri dan anak.”

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, diungkapkan bahwa di antara jin-jin itu ada yang mengucapkan perkataan yang jauh dari kebenaran, yaitu bahwa Allah mempunyai anak dan teman wanita.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya orang yang kurang akal di antara kami dahulu selalu mengatakan sesuatu tentang Allah yang jauh dari kebenaran.

Surah Al-Jin Ayat 5
وَأَنَّا ظَنَنَّآ أَن لَّن تَقُولَ ٱلۡإِنسُ وَٱلۡجِنُّ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا

Terjemahan: “dan sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah.

Tafsir Jalalain: وَأَنَّا ظَنَنَّآ أَن (Dan sesungguhnya kami mengira, bahwa) huruf an di sini adalah bentuk takhfif dari anna, yakni annahu لَّن تَقُولَ ٱلۡإِنسُ وَٱلۡجِنُّ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا (manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah) yakni menyifati-Nya dengan hal-hal tersebut hingga kami dapat buktikan kedustaan mereka dalam hal itu. Allah berfirman:.

Tafsir Ibnu Katsir: Oleh karena itu, mereka berkata: (“dan bahwasannya siapa yang kurang akal di antara kami dahulu selalu mengatakan.”) yakni sebelum dia masuk Islam, ‘alallaaHi syathathan (“[Perkataan] yang melampaui batas terhadap Allah.”) yakni perkataan bathil dan mengada-ada. Karenanya, mereka pun mengatakan:

وَأَنَّا ظَنَنَّآ أَن لَّن تَقُولَ ٱلۡإِنسُ وَٱلۡجِنُّ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا (“Dan sesungguhnya kami mengira bahwa manusia dan jin sekali-sekali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah.”) maksudnya kami tidak pernah mengira manusia dan jin itu mempunyai kecenderungan berbuat dusta kepada Allah Ta’ala dengan menisbatkan istri dan anak kepada-Nya. setelah mendengar al-Qur’an ini dan beriman kepadanya, kami mengetahui bahwa ada di antara mereka yang berbuat dusta terhadap Allah dalam hal tersebut.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini diterangkan bahwa jin itu menyatakan tidak pantas bila ada jin maupun manusia yang berani mengatakan Allah beranak dan mempunyai istri.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya kami mengira bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan menyandangkan dan menyifatkan Allah dengan sesuatu yang tidak pantas.

Surah Al-Jin Ayat 6
وَأَنَّهُۥ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ ٱلۡإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ ٱلۡجِنِّ فَزَادُوهُمۡ رَهَقًا

Terjemahan: “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.

Baca Juga:  Ini Empat Keutamaan Surat Ar-Rahman, Semoga Kita Istiqamah Membacanya

Tafsir Jalalain: وَأَنَّهُۥ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ ٱلۡإِنسِ يَعُوذُونَ (Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan) memohon perlindungan بِرِجَالٍ مِّنَ ٱلۡجِنِّ (kepada beberapa laki-laki di antara jin) di dalam perjalanan mereka sewaktu mereka beristirahat di tempat yang menyeramkan, lalu masing-masing orang mengatakan, aku berlindung kepada penunggu tempat ini dari gangguan penunggu lainnya yang jahat فَزَادُوهُمۡ (maka jin-jin itu menambah bagi mereka) dengan permintaan perlindungannya kepada jin-jin itu رَهَقًا (dosa dan kesalahan) karena mereka mengatakan, bahwa kami telah dilindungi oleh jin anu dan orang anu.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَأَنَّهُۥ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ ٱلۡإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ ٱلۡجِنِّ فَزَادُوهُمۡ رَهَقًا (“Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.”) maksudnya, kami melihat bahwa kami mempunyai kelebihan atas manusia, karena mereka selalu meminta perlindungan kepada kami di saat mereka singgah di suatu lembah atau tempat yang menakutkan, seperti misalnya padang sahara dan lain-lain, sebagaimana yang menjadi kebiasaan bangsa Arab pada masa jahiliyyah yang melindungkan diri mereka kepada “penguasa jin” di suatu tempat tertentu agar ia tidak menimpakan malapetaka kepada mereka.

Sebagaimana jika salah seorang dari mereka memasuki daerah musuh di samping seorang yang besar. Ketika jin-jin itu mengetahui bahwa ketika manusia melindungkan diri kepada mereka karena rasa takut manusia kepada mereka, maka mereka pun semakin menambah rasa takut dan seram serta sifat pengecut sehingga manusia menjadi merasa lebih takut dan lebih sungguh-sungguh dalam melindungkan diri kepada mereka. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Qatadah:

فَزَادُوهُمۡ رَهَقًا (“Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.”) yakni dosa. Dan dengan demikian, jin akan semakin berani melawan mereka.

Tafsir Kemenag: Jin itu juga mengatakan bahwa banyak di antara manusia yang berlindung dan memohon kepada jin. Hal itu mengakibatkan manusia dikuasai oleh jin, dan dibawa untuk berbuat kejahatan sehingga mereka durhaka dan berdosa. Firman Allah: Dan (ingatlah) pada hari ketika Dia mengumpulkan mereka semua (dan Allah berfirman), “Wahai golongan jin! Kamu telah banyak (menyesatkan) manusia?.” (al-An’am/6: 128).

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari manusia selalu meminta perlindungan sekelompok jin. Lalu jin membuat mereka tambah melampaui batas, kurang akal dan nekat.

Surah Al-Jin Ayat 7
وَأَنَّهُمۡ ظَنُّواْ كَمَا ظَنَنتُمۡ أَن لَّن يَبۡعَثَ ٱللَّهُ أَحَدًا

Terjemahan: “Dan sesungguhnya mereka (jin) menyangka sebagaimana persangkaan kamu (orang-orang kafir Mekah), bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang (rasul)pun,

Tafsir Jalalain: وَأَنَّهُمۡ (Dan sesungguhnya mereka) yakni jin-jin itu ظَنُّواْ كَمَا ظَنَنتُمۡ (menyangka sebagaimana sangkaan kalian) hai manusia أَن (bahwa) bentuk takhfif dari anna, asalnya annahu لَّن يَبۡعَثَ ٱللَّهُ أَحَدًا (Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang pun.”) sesudah matinya.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَأَنَّهُمۡ ظَنُّواْ كَمَا ظَنَنتُمۡ أَن لَّن يَبۡعَثَ ٱللَّهُ أَحَدًا (“Dan sesungguhnya mereka [jin] menyangka sebagaimana persangkaanmu, bahwa Allah sekali-sekali tidak akan membangkitkan seorangpun.”) maksudnya Allah tidak akan pernah mengutus seorang Rasul pun setelah masa ini. Demikian yang disampaikan oleh al-Kalbi dan Ibnu Jarir.

Tafsir Kemenag: Selanjutnya diterangkannya bahwa jin yang tidak beriman itu mengira sebagaimana perkiraan manusia, bahwa Allah tidak akan mengutus seorang rasul pun kepada makhluk-Nya untuk mengajak mereka kepada tauhid dan iman kepada-Nya dan hari kiamat.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya jin itu mengira–seperti kalian juga hai manusia–bahwa Allah tidak akan membangkitkan seseorang setelah mati dan juga tidak mengutus seorang rasul kepada mereka.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Jin Ayat 1-7 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S