Surah Al-Kahfi Ayat 25-26; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Kahfi Ayat 25-26

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Kahfi Ayat 25-26 ini, menjelaskan tentang berapa lama Ashhabul Kahf tinggal dalam gua sesudah ditutup pendengaran mereka. Mereka tidur dalam gua itu selama tiga ratus tahun menurut perhitungan ahli kitab berdasarkan tahun matahari (syamsiah) atau tiga ratus tahun lebih sembilan tahun menurut perhitungan orang Arab berdasar bilangan tahun bulan (qamariah).

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah swt memerintahkan Rasul saw agar menyatakan kepada mereka yang masih berselisih tentang berapa lama Ashhabul Kahf tidur di dalam gua, bahwa Tuhan lebih mengetahui lamanya mereka tidur dalam gua itu. Apa yang diterangkan Allah itu pasti benar, tidak ada keraguan padanya.

Para ahli kitab berselisih tentang lamanya waktu mereka tidur seperti halnya mereka berselisih tentang jumlahnya. Hanya Allah yang mengetahui berapa lama mereka tidur, karena memang Dialah Yang Maha Mengetahui dan memiliki ilmu pengetahuan tentang segala yang gaib, baik di bumi maupun di langit.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi Ayat 25-26

Surah Al-Kahfi Ayat 25
وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا

Terjemahan: “Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).”

Tafsir Jalalain: وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ (Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus) lafal Miatin dibaca dengan memakai harakat Tanwin pada akhirnya سِنِينَ (tahun) berkedudukan sebagai ‘Athaf Bayan yang dikaitkan dengan lafal Tsalaatsu Miatin.

Perhitungan tiga ratus tahun ini berdasarkan hisab yang berlaku di kalangan kaum Ashhabul Kahfi, yaitu berdasarkan perhitungan tahun Syamsiah. Dan bila menurut hisab tahun Qamariah sebagaimana yang berlaku di kalangan orang-orang Arab, maka menjadi bertambah sembilan tahun, dan hal ini disebutkan di dalam firman selanjutnya, yaitu

وَازْدَادُوا تِسْعًا (dan ditambah sembilan tahun) yakni hisab yang tiga ratus tahun berdasarkan tahun Syamsiah dan hisab yang tiga ratus sembilan tahun berdasarkan tahun Qamariyah.

Tafsir Ibnu Katsir: Ini merupakan berita dari Allah untuk Rasul-Nya, Muhammad saw. mengenai masa tinggalnya Ash-haabul Kahfi di dalam gua sejak mereka ditidurkan sampai dibangunkan kembali oleh Allah Ta’ala, dan Dia mempertemukan mereka dengan orang-orang yang hidup pada zaman itu.

Masa tinggal mereka di dalam gua menurut Allah adalah tiga ratus tahun yang ditambah lagi dengan sembilan tahun menurut hitungan bulan, dan tiga ratus tahun menurut hitungan matahari. Perbedaan antara tahun bulan dengan tahun matahari dalam seratus tahun adalah tiga tahun.

Baca Juga:  Surah Al-Kahfi Ayat 79; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Oleh karena itu, setelah mengutarakan tiga ratus tahun, Allah Ta’ala berfirman, dan ditambah sembilan tahun.

Tafsir Kemenag: Allah lalu menjelaskan tentang berapa lama Ashhabul Kahf tinggal dalam gua sesudah ditutup pendengaran mereka. Mereka tidur dalam gua itu selama tiga ratus tahun menurut perhitungan ahli kitab berdasarkan tahun matahari (syamsiah) atau tiga ratus tahun lebih sembilan tahun menurut perhitungan orang Arab berdasar bilangan tahun bulan (qamariah).

Penjelasan Allah tentang berapa lama Ashhabul Kahf tidur di dalam gua merupakan mukjizat bagi Nabi Muhammad. Beliau tidak belajar ilmu falak tapi mengetahui selisih hitungan sembilan tahun antara perhitungan dengan sistem matahari selama 300 tahun dengan sistem perhitungan tahun bulan.

Setiap seratus tahun matahari, tiga tahun selisih hitungannya dengan tahun bulan. Setiap tiga puluh tahun matahari, selisih hitungannya satu tahun dengan tahun bulan dan setiap satu tahun matahari berselisih sebelas hari dengan tahun bulan.

Pengetahuan di atas tentu datang dari Allah. Allah pula yang mengalih-kan perhatian manusia kepada keindahan yang terdapat di permukaan bumi seperti matahari, cahaya bulan, dan segala keindahan yang ditimbulkan oleh sinar matahari itu.

Pertukaran musim melahirkan berbagai keindahan, dan pertukaran musim itu sendiri disebabkan perubahan letak matahari. Demi-kian pula tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang, yang beraneka ragam dalam hidupnya, tergantung kepada sinar matahari yang dipancarkan ke bumi.

Nabi Muhammad saw diutus kepada umat manusia agar menerangkan bahwa mempelajari segala keindahan yang ada di bumi ini lebih mendekat-kan diri kepada kebenaran dan keesaan Allah. Penciptaan alam raya ini lebih rumit daripada penciptaan manusia itu sendiri. Allah berfirman:

Sungguh, penciptaan langit dan bumi itu lebih besar daripada penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Gafir/40: 57).

Surah Al-Kahfi Ayat 26
قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ مَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

Terjemahan: Katakanlah: “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan”.

Baca Juga:  Surah Al-Qashash Ayat 29-32; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Jalalain: قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا (Katakanlah, “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal di gua) daripada orang-orang yang berselisih pendapat tentangnya, sebagaimana yang telah disebutkan tadi

لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ (Kepunyaan-Nyalah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi) ilmu kesemuanya berada pada-Nya. أَبْصِرْ بِهِ (Alangkah terang penglihatan-Nya) penglihatan Allah, lafal Abshir bihi adalah Shighat Ta’ajjub

وَأَسْمِعْ (dan alangkah tajam pendengaran-Nya) pendengaran Allah, demikian pula lafal Asmi’ bihi sama dengan lafal Maa Asma’ahu, dan yang sebelumnya sama dengan lafal Maa Absharahu, keduanya merupakan ungkapan cara Majaz.

Makna yang dimaksud ialah, bahwa tiada sesuatu pun yang tidak diketahui oleh penglihatan dan pendengaran Allah swt. مَا لَهُم (tak ada bagi mereka) bagi semua penduduk langit dan bumi مِّن دُونِهِ مِن وَلِيٍّ (seorang pelindung pun selain daripada-Nya) seorang yang dapat menolong

وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا (dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan”) karena sesungguhnya Dia tidak membutuhkan adanya sekutu.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا (“Katakanlah: Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal [di gua]. “) Maksudnya, jika engkau ditanya tentang tinggalnya mereka di dalam gua yang engkau tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, maka janganlah engkau mengemukakan sesuatu, tetapi katakanlah pada saat itu,

Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal [di gua, Kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. “) Maksudnya, tidak ada yang mengetahui hal itu kecuali hanya Dia raja dan orang yang diberitahu oleh-Nya. Apa yang kami kemukakan ini juga dikemukakan oleh beberapa ulama tafsir, seperti misalnya Mujahid serta ulama Salaf dan Khalaf. Wallahu a’am.

Firman-Nya: أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ (“Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya.”) Maksudnya, sesungguhnya Allah Ta’ala Mahamelihat mereka dan Mahamendengar mereka. Ibnu Jarir mengemukakan:

“Kalimat itu memberikan pengertian yang sangat positif. Seolah-olah dikatakan: ‘Pandangan-Nya benar-benar terang, dan pendengaran-Nya pun sangat tajam.’” Dan penafsirannya; Dia Mahamelihat segala yang ada dan Mahamendengar segala hal, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya.

Firman-Nya: مَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا (“Tak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain daripada-Nya, dan Dia tidak mengambil seorang
pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.”) Maksudnya, Allah yang mempunyai hak mencipta dan memerintah yang tidak ada penolak bagi hukum-Nya. Tidak ada pembantu, penolong, sekutu dan penasihat bagi-Nya. Mahatinggi Dia lagi Mahasuci.

Baca Juga:  Surah Al-Kahfi Ayat 50; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah swt memerintahkan Rasul saw agar menyatakan kepada mereka yang masih berselisih tentang berapa lama Ashhabul Kahf tidur di dalam gua, bahwa Tuhan lebih mengetahui lamanya mereka tidur dalam gua itu. Apa yang diterangkan Allah itu pasti benar, tidak ada keraguan padanya.

Para ahli kitab berselisih tentang lamanya waktu mereka tidur seperti halnya mereka berselisih tentang jumlahnya. Hanya Allah yang mengetahui berapa lama mereka tidur, karena memang Dialah Yang Maha Mengetahui dan memiliki ilmu pengetahuan tentang segala yang gaib, baik di bumi maupun di langit.

Dialah Yang Maha Mengetahui segala hal ihwal manusia yang tersembunyi, dan tidak ada sesuatupun yang tertutup bagi-Nya. Oleh karena itu, manusia tidak perlu lagi membicarakan berapa lama penghuni gua itu tidur di tempatnya, tetapi serahkan hal itu kepada Allah, karena Dia itulah yang mengetahui hal-hal yang gaib, apalagi hal-hal yang nyata.

Sungguh alangkah terangnya penglihatan Allah atas segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini, dan alangkah tajamnya pendengaran-Nya terhadap segala macam suara dan bunyi dari makhluk-Nya. Tidak ada seorangpun yang dapat menjadi pelindung bagi penghuni-penghuni gua itu selain Allah.

Dialah yang memelihara dan mengurus segala hal ihwal mereka dengan sebaik-baiknya. Dan Dia tidak bersekutu dengan seorangpun dalam menetapkan keputusan.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Kahfi ayat 25-26 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S