Surah Al-Muddatstsir Ayat 38-56; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Muddatstsir Ayat 38-56

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Muddatstsir Ayat 38-56 ini, Allah menegaskan bahwa setiap jiwa manusia tergadai di sisi Allah. Baik yang muslim maupun yang kafir, yang ingkar atau pun yang taat, semuanya tergantung kepada Allah. Tiap jiwa terikat dengan amal yang dikerjakan sampai hari Kiamat, kecuali golongan kanan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Bahwasanya golongan kanan berada dalam kamar surga yang penuh kenikmatan, sementara golongan yang berdosa bergelimang dalam azab neraka. Namun demikian, mereka saling dapat tanya bertanya, “Kenapa engkau sampai dimasukkan ke dalam neraka itu?”

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Muddatstsir Ayat 38-56

Surah Al-Muddatstsir Ayat 38
كُلُّ نَفۡسٍۢ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ

Terjemahan: Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya,

Tafsir Jalalain: كُلُّ نَفۡسٍۢ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ (Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya) dia tergadaikan, yaitu diazab di dalam neraka disebabkan amal perbuatannya sendiri.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman seraya memberitahukan bahwa: كُلُّ نَفۡسٍۢ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ (“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.”) yakni tergantung pada amalnya pada hari kiamat kelak. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu ‘Abbas dan lain-lain.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa setiap jiwa manusia tergadai di sisi Allah. Baik yang muslim maupun yang kafir, yang ingkar atau pun yang taat, semuanya tergantung kepada Allah. Tiap jiwa terikat dengan amal yang dikerjakan sampai hari Kiamat, kecuali golongan kanan. Artinya mereka dapat melepaskan keterikatan mereka di sisi Allah dengan amal-amal baik yang mereka kerjakan, sebagaimana halnya seorang dapat melepaskan diri dari status gadai karena telah membayarkan kewajibannya.

Golongan kanan yang dimaksudkan adalah orang-orang mukmin yang ikhlas, yang menerima buku amalan mereka di sebelah kanan di hari Kiamat. Akan tetapi, ada pula yang mengatakan golongan kanan dalam ayat ini adalah anak-anak yang memang belum diperhitungkan dosa dan kejahatannya. Bahkan ada yang berpendapat golongan kanan itu adalah para malaikat.

Tafsir Quraish Shihab: Setiap jiwa akan mendapat balasan dari kejahatan yang diperbuatnya, kecuali golongan muslim yang telah membebaskan diri dengan melakukan ketaatan.

Surah Al-Muddatstsir Ayat 39
إِلَّآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡيَمِينِ

Terjemahan: kecuali golongan kanan,

Tafsir Jalalain: إِلَّآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡيَمِينِ (Kecuali golongan kanan) mereka adalah orang-orang yang beriman, mereka selamat dari siksa neraka, di mana mereka berada.

Tafsir Ibnu Katsir: إِلَّآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡيَمِينِ (“Kecuali golongan kanan.”)

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa setiap jiwa manusia tergadai di sisi Allah. Baik yang muslim maupun yang kafir, yang ingkar atau pun yang taat, semuanya tergantung kepada Allah. Tiap jiwa terikat dengan amal yang dikerjakan sampai hari Kiamat, kecuali golongan kanan. Artinya mereka dapat melepaskan keterikatan mereka di sisi Allah dengan amal-amal baik yang mereka kerjakan, sebagaimana halnya seorang dapat melepaskan diri dari status gadai karena telah membayarkan kewajibannya.

Golongan kanan yang dimaksudkan adalah orang-orang mukmin yang ikhlas, yang menerima buku amalan mereka di sebelah kanan di hari Kiamat. Akan tetapi, ada pula yang mengatakan golongan kanan dalam ayat ini adalah anak-anak yang memang belum diperhitungkan dosa dan kejahatannya. Bahkan ada yang berpendapat golongan kanan itu adalah para malaikat.

Tafsir Quraish Shihab: Setiap jiwa akan mendapat balasan dari kejahatan yang diperbuatnya, kecuali golongan muslim yang telah membebaskan diri dengan melakukan ketaatan.

Surah Al-Muddatstsir Ayat 40
فِى جَنَّٰتٍ يَتَسَآءَلُونَ

Terjemahan: berada di dalam surga, mereka tanya menanya,

Tafsir Jalalain: فِى جَنَّٰتٍ يَتَسَآءَلُونَ (Di dalam surga saling tanya-menanya) di antara sesama mereka.

Tafsir Ibnu Katsir: فِى جَنَّٰتٍ يَتَسَآءَلُونَ (berada di dalam surga, mereka tanya menanya,)

Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan lebih lanjut bahwa golongan kanan itu tempatnya di surga, mereka saling bertanya bagaimana nasib golongan yang durhaka. Mereka disambut oleh malaikat dengan ucapan salam sebagaimana firman Allah:

Maka,”Salam bagimu (wahai) dari golongan kanan!” (sambut malaikat). (al-Waqi’ah/56: 91)

Dan firman Allah: ?Penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! Maka masuklah, kamu kekal di dalamnya.” (az-Zumar/39: 73)

Tafsir Quraish Shihab: Mereka akan berada di dalam surga yang tidak dapat dibayangkan keindahannya. Ketika itu mereka saling bertanya mengenai nasib buruk para pembuat dosa. Mereka bertanya kepada para pembuat dosa, “Mengapa kalian dimasukkan ke dalam neraka Saqar?”

Surah Al-Muddatstsir Ayat 41
عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ

Terjemahan: tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa,

Tafsir Jalalain: عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ (Tentang orang-orang yang berdosa) tentang keadaan orang-orang yang berdosa, lalu mereka berkata kepada ahli neraka sesudah orang-orang yang bertauhid dikeluarkan daripadanya:.

Tafsir Ibnu Katsir: maksudnya, mereka menanyakan keadaan orang-orang yang berbuat dosa, saat itu mereka berada di dalam bilik-bilik di surga, sedang orang-orang berdosa itu berada di tingkatan paling bawah.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan lebih lanjut bahwa golongan kanan itu tempatnya di surga, mereka saling bertanya bagaimana nasib golongan yang durhaka. Mereka disambut oleh malaikat dengan ucapan salam sebagaimana firman Allah:

Maka,”Salam bagimu (wahai) dari golongan kanan!” (sambut malaikat). (al-Waqi’ah/56: 91)

Dan firman Allah: ?Penjaga-penjaganya berkata kepada mereka, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! Maka masuklah, kamu kekal di dalamnya.” (az-Zumar/39: 73)

Tafsir Quraish Shihab: Mereka akan berada di dalam surga yang tidak dapat dibayangkan keindahannya. Ketika itu mereka saling bertanya mengenai nasib buruk para pembuat dosa. Mereka bertanya kepada para pembuat dosa, “Mengapa kalian dimasukkan ke dalam neraka Saqar?”

Surah Al-Muddatstsir Ayat 42
مَا سَلَكَكُمۡ فِى سَقَرَ

Terjemahan: “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?”

Tafsir Jalalain: مَا سَلَكَكُمۡ فِى سَقَرَ (“Apakah yang memasukkan kalian) yang menjerumuskan kalian (ke dalam Saqar?”).

Tafsir Ibnu Katsir: Mereka bertanya kepada orang-orang itu: مَا سَلَكَكُمۡ فِى سَقَرَ (“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?”

Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan bahwa golongan kanan berada dalam kamar surga yang penuh kenikmatan, sementara golongan yang berdosa bergelimang dalam azab neraka. Namun demikian, mereka saling dapat tanya bertanya, “Kenapa engkau sampai dimasukkan ke dalam neraka itu?”

Mereka menjawab dengan jujur dan terus terang bahwa mereka tidak mengerjakan salat di atas dunia dahulu, berbeda dengan orang-orang mukmin yang tetap melaksanakan salat. Sebab waktu itu mereka tidak yakin sedikit pun bahwa hal itu memang sebenarnya diperintahkan Allah.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka akan berada di dalam surga yang tidak dapat dibayangkan keindahannya. Ketika itu mereka saling bertanya mengenai nasib buruk para pembuat dosa. Mereka bertanya kepada para pembuat dosa, “Mengapa kalian dimasukkan ke dalam neraka Saqar?”

Surah Al-Muddatstsir Ayat 43
قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ

Terjemahan: Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,

Tafsir Jalalain: قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ (Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan salat,).

Tafsir Ibnu Katsir: قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ (Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,)

Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan bahwa golongan kanan berada dalam kamar surga yang penuh kenikmatan, sementara golongan yang berdosa bergelimang dalam azab neraka. Namun demikian, mereka saling dapat tanya bertanya, “Kenapa engkau sampai dimasukkan ke dalam neraka itu?”

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 3-4; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Mereka menjawab dengan jujur dan terus terang bahwa mereka tidak mengerjakan salat di atas dunia dahulu, berbeda dengan orang-orang mukmin yang tetap melaksanakan salat. Sebab waktu itu mereka tidak yakin sedikit pun bahwa hal itu memang sebenarnya diperintahkan Allah.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka menjawab, “Dahulu kami tidak menegakkan salat seperti yang dilakukan kaum muslim. Kami pun tidak memberi makan orang-orang miskin sebagaimana dilakukan kaum muslim. Kami juga selalu membela dan larut bersama orang-orang yang melakukan kebatilan dan kebohongan. Selain itu, kami mendustakan hari perhitungan dan pembalasan sampai saat datangnya kematian kami.”

Surah Al-Muddatstsir Ayat 44
وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ

Terjemahan: dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin,

Tafsir Jalalain: وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ (dan Kami tidak pula memberi makan orang miskin.).

Tafsir Ibnu Katsir: وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ (dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin,)

Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan bahwa mereka tidak termasuk golongan yang senantiasa berbuat baik kepada kaum fakir miskin dan duafa. Padahal mereka dapat berbuat demikian karena berlebihnya nikmat dan rezeki Allah yang mereka peroleh. Mereka tidak mau meringankan kesulitan fakir-miskin dengan sedekah yang seharusnya mereka keluarkan.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka menjawab, “Dahulu kami tidak menegakkan salat seperti yang dilakukan kaum muslim. Kami pun tidak memberi makan orang-orang miskin sebagaimana dilakukan kaum muslim. Kami juga selalu membela dan larut bersama orang-orang yang melakukan kebatilan dan kebohongan. Selain itu, kami mendustakan hari perhitungan dan pembalasan sampai saat datangnya kematian kami.”

Surah Al-Muddatstsir Ayat 45
وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ

Terjemahan: dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya,

Tafsir Jalalain: وَكُنَّا نَخُوضُ (Dan adalah Kami tenggelam ke dalam pembicaraan) yang batil مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ (bersama dengan orang-orang yang membicarakannya.).

Tafsir Ibnu Katsir: وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ (“Dan kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya.”) maksudnya kami memperbincangkan hal-hal yang tidak kami ketahui. Qatadah mengatakan: “Setiap kali ada orang yang menyimpang, maka kami pun ikut menyimpang bersamanya.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan bahwa mereka ikut terlibat dalam perbuatan orang yang tercela, yang tidak senang kepada Islam dan Nabi Muhammad dengan menuduh beliau pendusta atau tukang sihir yang gila. Mengenai Al-Qur’an mereka menganggapnya hanyalah sihir, syair, atau mantra untuk tenung. Pokoknya mereka terlibat dalam perbuatan kebatilan.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka menjawab, “Dahulu kami tidak menegakkan salat seperti yang dilakukan kaum muslim. Kami pun tidak memberi makan orang-orang miskin sebagaimana dilakukan kaum muslim. Kami juga selalu membela dan larut bersama orang-orang yang melakukan kebatilan dan kebohongan. Selain itu, kami mendustakan hari perhitungan dan pembalasan sampai saat datangnya kematian kami.”

Surah Al-Muddatstsir Ayat 46
وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ

Terjemahan: dan adalah kami mendustakan hari pembalasan,

Tafsir Jalalain: وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ (Dan adalah Kami mendustakan hari pembalasan) yakni hari berbangkit dan hari pembalasan.

Tafsir Ibnu Katsir: وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ (dan adalah kami mendustakan hari pembalasan,)

Tafsir Kemenag: Ayat ini mengutarakan pengakuan mereka selanjutnya bahwa mereka mendustakan hari kemudian. Artinya mereka mendustakan adanya hari hisab dan pembalasan atas segala perbuatan manusia, sampai datang kepada mereka keyakinan, yakni mati. Tegasnya mereka yakin dan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa semuanya akan kembali kepada Allah di negeri akhirat.

Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberi syafaat. Artinya kalau seseorang telah memiliki watak-watak seperti yang disebutkan dalam ayat di atas (tidak mengerjakan salat, tidak mau menghiraukan nafkah fakir-miskin, terlibat dalam perbuatan orang yang senang mencela, mendustakan kedatangan hari akhirat) syafaat (pertolongan) apa pun tidak berguna untuk menyelamatkan mereka dari siksaan api neraka. Sebab syafaat hanyalah berguna bagi yang berhak menerimanya.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka menjawab, “Dahulu kami tidak menegakkan salat seperti yang dilakukan kaum muslim. Kami pun tidak memberi makan orang-orang miskin sebagaimana dilakukan kaum muslim. Kami juga selalu membela dan larut bersama orang-orang yang melakukan kebatilan dan kebohongan. Selain itu, kami mendustakan hari perhitungan dan pembalasan sampai saat datangnya kematian kami.”

Surah Al-Muddatstsir Ayat 47
حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ

Terjemahan: hingga datang kepada kami kematian”.

Tafsir Jalalain: حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ (Hingga datang kepada kami kematian”) ajal kami.

Tafsir Ibnu Katsir: حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ (hingga datang kepada kami kematian”.)

Tafsir Kemenag: Ayat ini mengutarakan pengakuan mereka selanjutnya bahwa mereka mendustakan hari kemudian. Artinya mereka mendustakan adanya hari hisab dan pembalasan atas segala perbuatan manusia, sampai datang kepada mereka keyakinan, yakni mati. Tegasnya mereka yakin dan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa semuanya akan kembali kepada Allah di negeri akhirat.

Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberi syafaat. Artinya kalau seseorang telah memiliki watak-watak seperti yang disebutkan dalam ayat di atas (tidak mengerjakan salat, tidak mau menghiraukan nafkah fakir-miskin, terlibat dalam perbuatan orang yang senang mencela, mendustakan kedatangan hari akhirat) syafaat (pertolongan) apa pun tidak berguna untuk menyelamatkan mereka dari siksaan api neraka. Sebab syafaat hanyalah berguna bagi yang berhak menerimanya.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka menjawab, “Dahulu kami tidak menegakkan salat seperti yang dilakukan kaum muslim. Kami pun tidak memberi makan orang-orang miskin sebagaimana dilakukan kaum muslim. Kami juga selalu membela dan larut bersama orang-orang yang melakukan kebatilan dan kebohongan. Selain itu, kami mendustakan hari perhitungan dan pembalasan sampai saat datangnya kematian kami.”

Surah Al-Muddatstsir Ayat 48
فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ

Terjemahan: Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at.

Tafsir Jalalain: فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ (Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberi syafaat) baik dari kalangan malaikat, para nabi atau pun orang-orang saleh. Makna yang dimaksud ialah bahwa tiada syafaat bagi mereka.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ (“Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberikan syafaat.”) yakni orang-orang yang mensifati diri dengan sifat-sifat ini, maka sesungguhnya pada hari kiamat kelak, syafaat seseorang tidak akan pernah memberikan manfaat kepada mereka. Sebab syafaat itu hanya berlaku jika orang yang dituju itu memang mau menerimanya. Sedangkan bagi orang yang dicap oleh Allah sebagai orang kafir pada hari kiamat, maka sudah pasti baginya neraka jahanam, dia akan kekal di dalamnya.

Tafsir Kemenag: Ayat ini mengutarakan pengakuan mereka selanjutnya bahwa mereka mendustakan hari kemudian. Artinya mereka mendustakan adanya hari hisab dan pembalasan atas segala perbuatan manusia, sampai datang kepada mereka keyakinan, yakni mati. Tegasnya mereka yakin dan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa semuanya akan kembali kepada Allah di negeri akhirat.

Baca Juga:  Surah Al-Muzammil Ayat 19-20; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberi syafaat. Artinya kalau seseorang telah memiliki watak-watak seperti yang disebutkan dalam ayat di atas (tidak mengerjakan salat, tidak mau menghiraukan nafkah fakir-miskin, terlibat dalam perbuatan orang yang senang mencela, mendustakan kedatangan hari akhirat) syafaat (pertolongan) apa pun tidak berguna untuk menyelamatkan mereka dari siksaan api neraka. Sebab syafaat hanyalah berguna bagi yang berhak menerimanya.

Tafsir Quraish Shihab: Pertolongan dari mereka yang berhak memberikan syafaat–baik para malaikat, para nabi, maupun orang-orang saleh–tidak dapat menyelamatkan mereka.

Surah Al-Muddatstsir Ayat 49
فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ

Terjemahan: Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)?,

Tafsir Jalalain: فَمَا (Maka mengapa) berkedudukan menjadi Mubtada لَهُمۡ (mereka) menjadi Khabar dari Mubtada, berta’alluq kepada lafal yang tidak disebutkan yang Dhamirnya dipindahkan kepadanya عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ (berpaling dari peringatan?) lafal Mu’ridhiina menjadi Haal atau kata keterangan keadaan dari Dhamir Lahum. Makna yang dimaksud, apakah gerangan sesuatu yang terjadi pada diri mereka sehingga mereka berpaling dari peringatan?.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ (“Maka mengapa mereka berpaling dari peringatan [Allah]?”) maksudnya mengapa orang-orang kafir itu berpaling dari apa yang engkau serukan dan peringatkan kepada mereka.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini, dalam nada cercaan, Allah bertanya, “Mengapa orang-orang kafir itu berpaling dari peringatan-Ku?” Maksudnya adalah kenapa orang-orang Mekah dan orang-orang seperti mereka menentang kebenaran Al-Qur’an yang telah memberikan peringatan-peringatan begitu hebat dan dahsyat kepada mereka?

Cara berpaling dari Allah (dari Al-Qur’an itu) ada dua macam, yaitu: pertama, bersifat keras kepala dan sama sekali tidak mengakuinya (mengingkarinya); kedua, meninggalkan amal perbuatan yang disuruh-Nya. Demikian pendapat Muqatil, salah seorang tabi’in.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka pun berpaling dan menolak nasihat al-Qur’ân.

Surah Al-Muddatstsir Ayat 50
كَأَنَّهُمۡ حُمُرٌ مُّسۡتَنفِرَةٌ

Terjemahan: seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut,

Tafsir Jalalain: كَأَنَّهُمۡ حُمُرٌ مُّسۡتَنفِرَةٌ (Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut) keledai-keledai liar yang larat.

Tafsir Ibnu Katsir: كَأَنَّهُمۡ حُمُرٌ مُّسۡتَنفِرَةٌ (seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut,)

Tafsir Kemenag: Kemudian digambarkan pula sikap orang-orang musyrik dan kafir itu menghindarkan diri dari peringatan agama. Mereka diibaratkan seperti keledai liar yang lari terkejut menjauh dari singa. Artinya mereka orang-orang musyrik itu lari dari Muhammad saw atau mereka yang kafir itu lari dari agama Islam, seperti keledai ketakutan lari dikejar singa, atau lari ketakutan karena diburu manusia (pemburu).

Ayat ini mengisyaratkan pula bahwa orang-orang yang seharusnya telah menerima seruan Islam dan mengambil pelajaran dari peringatan-peringatan yang diberikan Allah, malah justru menentangnya tanpa sebab-sebab yang logis. Di sini pula kita perbandingkan bagaimana seekor keledai lari ketakutan tanpa arah. Demikian pula manusia lari dari agama tanpa alasan yang tepat. Sifat berusaha menghindarkan diri dari kewajiban-kewajiban agama seperti itu kita lihat sekarang, memang sejak dari dulu telah digambarkan oleh Al-Qur’an.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka itu bagaikan keledai liar yang melarikan diri dari terkaman pemangsanya.

Surah Al-Muddatstsir Ayat 51
فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةٍۢ

Terjemahan: lari daripada singa.

Tafsir Jalalain: فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةٍۢ (Lari dari singa) lari sekencang-kencangnya karena menghindar dan menyelamatkan diri dari singa.

Tafsir Ibnu Katsir: فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةٍۢ (lari daripada singa.) maksudnya seakan-akan pelarian mereka dari kebenaran dan penolakannya terhadapnya seperti keledai liar ketika melarikan diri dari singa yang memburunya. Demikian yang dikatakan oleh Abu Hurairah dan Ibnu ‘Abbas dalam sebuah riwayat darinya, juga Zaid bin Aslam dan puteranya, ‘Abdurrahman. Dan ia merupakan riwayat dari Ibnu ‘Abbas, sekaligus menjadi pendapat jumhur.

Tafsir Kemenag: Kemudian digambarkan pula sikap orang-orang musyrik dan kafir itu menghindarkan diri dari peringatan agama. Mereka diibaratkan seperti keledai liar yang lari terkejut menjauh dari singa. Artinya mereka orang-orang musyrik itu lari dari Muhammad saw atau mereka yang kafir itu lari dari agama Islam, seperti keledai ketakutan lari dikejar singa, atau lari ketakutan karena diburu manusia (pemburu).

Ayat ini mengisyaratkan pula bahwa orang-orang yang seharusnya telah menerima seruan Islam dan mengambil pelajaran dari peringatan-peringatan yang diberikan Allah, malah justru menentangnya tanpa sebab-sebab yang logis. Di sini pula kita perbandingkan bagaimana seekor keledai lari ketakutan tanpa arah. Demikian pula manusia lari dari agama tanpa alasan yang tepat. Sifat berusaha menghindarkan diri dari kewajiban-kewajiban agama seperti itu kita lihat sekarang, memang sejak dari dulu telah digambarkan oleh Al-Qur’an.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka itu bagaikan keledai liar yang melarikan diri dari terkaman pemangsanya.

Surah Al-Muddatstsir Ayat 52
بَلۡ يُرِيدُ كُلُّ ٱمۡرِئٍ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفًا مُّنَشَّرَةً

Terjemahan: Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka.

Tafsir Jalalain: بَلۡ يُرِيدُ كُلُّ ٱمۡرِئٍ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفًا مُّنَشَّرَةً (Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka) dari Allah swt. disebabkan mengikuti Nabi saw. Sebagaimana yang telah mereka katakan, bahwa tidak sekali-kali kami beriman kepadamu sebelum kamu menurunkan kepada kami sebuah kitab yang kami baca.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: بَلۡ يُرِيدُ كُلُّ ٱمۡرِئٍ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفًا مُّنَشَّرَةً (“Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka.”) maksudnya masing-masing dari orang-orang musyrik ingin agar al-Kitab diturunkan kepada mereka, seperti yang diturunkan kepada Nabi saw. Demikian itu yang disampaikan oleh Mujahid dan lain-lain.

Ayat tersebut sebagaimana firman Allah yang artinya: “Apabila datang suatu ayat kepada mereka, mereka berkata: ‘Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah.’ Allah lebih mengetahui dimana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (al-An’am: 124)

Dan dalam sebuah riwayat dari Qatadah: “Mereka ingin agar diberi kebebasan tanpa beramal.”

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah menyebutkan contoh sikap mereka yang keras kepala yang tidak dapat diterima akal sehat atau oleh hati yang berperasaan. Masing-masing mereka berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran catatan yang terbuka (kitab). Setiap mereka menginginkan pula diturunkan wahyu seperti yang telah diterima Nabi Muhammad. Ditambah lagi kitab itu agak istimewa buat mereka, yakni dengan lembaran-lembaran terbuka yang turun dari langit.

Diriwayatkan oleh ahli-ahli tafsir bahwa serombongan kaum Quraisy datang kepada Rasulullah dan mengatakan, “Alangkah baiknya kalau setiap pemimpin kami mempunyai kitab dalam lembaran terbuka yang turun dari Allah. Dalam kitab itu dapat kami baca keterangan yang menyebutkan engkau, hai Muhammad, adalah rasul-Nya. Lembaran itu pula yang menyuruh kami mengimani engkau dan mengikuti agama engkau.”

Dari Qatadah diterima keterangan bahwa maksud ayat di atas ialah mereka menghendaki bebas dari segala dosa-dosa tanpa bekerja dan berbuat kebaikan sedikit pun.

Diriwayatkan pula bahwa Abu Jahal bersama rombongannya yang terdiri dari pemuka-pemuka Quraisy mengatakan kepada Nabi, “Hai Muhammad, kami tidak akan beriman kepada engkau melainkan bila engkau beri masing-masing kami kitab itu alamatnya masing-masing yang berasal dari Tuhan dan terdapat pula di sana suruhan yang memerintahkan kami mengikuti agama engkau.” Ungkapan demikian juga terdapat dalam salah satu ayat Al-Qur’an:

Baca Juga:  Surah Al-Muddatstsir Ayat 11-30; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dan kami tidak akan mempercayai kenaikanmu itu sebelum engkau turunkan kepada kami sebuah kitab untuk kami baca.” Katakanlah (Muhammad), “Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?” (al-Isra’/17: 93)

Tafsir Quraish Shihab: Kendatipun demikian, mereka semua berharap akan mendapatkan lembaran-lembaran dari langit yang jelas dan terbuka, yang menegaskan kebenaran Rasulullah saw.

Surah Al-Muddatstsir Ayat 53
كَلَّا بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡءَاخِرَةَ

Terjemahan: Sekali-kali tidak. Sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat.

Tafsir Jalalain: كَلَّا (Sekali-kali tidak) lafal ini merupakan sanggahan terhadap apa yang mereka kehendaki itu. بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡءَاخِرَةَ (Sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat) kepada azabnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Dengan demikian firman Allah Ta’ala: كَلَّا بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡءَاخِرَةَ (“Sekali-sekali tidak, sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat.”) maksudnya mereka dihancurkan karena mereka tidak beriman kepada alam akhirat dan juga pendustaan mereka terhadap kejadiannya.

Tafsir Kemenag: Dengan nada cemooh, Allah menolak dengan tegas permintaan itu, sebab sebenarnya mereka tidak takut kepada hari akhirat. Artinya Allah tidak akan mengabulkan tuntutan mereka. Allah tidak akan menurunkan kitab dari langit khusus buat mereka.

Allah mengatakan dengan tegas bahwa sesungguhnya yang membuat jiwa mereka kasar, akhlak mereka jahat, penglihatan mereka tertutup, dan pendengaran mereka tersumbat dari kebenaran, adalah karena tidak percaya kepada hari akhirat dengan segala kedahsyatannya.

Andaikata permintaan mereka itu dikabulkan, tentu masih banyak permintaan-permintaan lain menyusul, sekadar menunjukkan iktikad mereka yang tidak baik kepada Islam. Sebab sudah cukup banyak dalil dan bukti-bukti kebenaran Nabi Muhammad untuk mereka. Lalu mereka minta kebenaran Nabi Muhammad buat mereka dan meminta lagi tambahan lain yang tidak pantas diminta, permintaan yang tidak berarti sama sekali.

Tafsir Quraish Shihab: Tertolaklah mereka dengan segala keinginan mereka. Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang tidak mewaspadai kedatangan hari akhirat. Sebab itulah mereka senantiasa menolak peringatan dan, dengan berbagai cara, selalu meminta didatangkan bukti-bukti kebenaran.

Surah Al-Muddatstsir Ayat 54
كَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٌ

Terjemahan: Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya Al Quran itu adalah peringatan.

Tafsir Jalalain: كَلَّآ (Ingatlah) Kallaa di sini menunjukkan makna Istiftah atau kata pembukaan إِنَّهُۥ (sesungguhnya dia itu) Alquran itu تَذۡكِرَةٌ (adalah peringatan) nasihat dan pelajaran.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: كَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٌ (“Sekali-sekali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur’an itu adalah peringatan.”) maksudnya, sungguh al-Qur’an itu sebagai peringatan.

Tafsir Kemenag: Selanjutnya dalam ayat ini, Allah menegaskan lagi, “Sekali-kali tidak demikian halnya, sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah peringatan.” Al-Qur’an bukan sebagaimana yang mereka tuduhkan. Al-Qur’an bukan sihir yang dapat dipelajari, melainkan peringatan langsung dari Allah, sehingga tiada seorang pun yang dapat melepaskan diri dari pertanggungjawaban kepada Allah pada hari kemudian nanti.

Tafsir Quraish Shihab: Sungguh al-Qur’ân merupakan suatu peringatan yang jelas dan meyakinkan. Maka, barangsiapa yang ingin menjadikannya sebagai pelajaran dan tidak mengabaikannya, niscaya ia akan mendapatkannya.

Surah Al-Muddatstsir Ayat 55
فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ

Terjemahan: Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran daripadanya (Al Quran).

Tafsir Jalalain: فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ (Maka barang siapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran daripadanya) niscaya dia membacanya kemudian mengambil pelajaran daripadanya.

Tafsir Ibnu Katsir: فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ (Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran daripadanya (Al Quran).

Tafsir Kemenag: Allah mengatakan bahwa barang siapa menghendaki Al-Qur’an sebagai petunjuk, niscaya dia mendapatkan pelajaran darinya. Siapa saja yang selalu ingat kepada Al-Qur’an, tidak melupakannya, dan menjadikan sebagai pedoman hidupnya, maka manfaatnya adalah untuk dirinya sendiri. Dalam Al-Qur’an terdapat kebahagiaan dunia dan akhirat.

Tafsir Quraish Shihab: Sungguh al-Qur’ân merupakan suatu peringatan yang jelas dan meyakinkan. Maka, barangsiapa yang ingin menjadikannya sebagai pelajaran dan tidak mengabaikannya, niscaya ia akan mendapatkannya.

Surah Al-Muddatstsir Ayat 56
وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ

Terjemahan: Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran daripadanya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Tuhan Yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan berhak memberi ampun.

Tafsir Jalalain: وَمَا يَذۡكُرُونَ (Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran daripadanya) dapat dibaca Yadzkuruuna dan Tadzkuruuna إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ (kecuali bila Allah menghendakinya. Dia adalah Tuhan Yang patut kita bertakwa kepada-Nya) Dia adalah yang harus ditakwai وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ (dan berhak memberi ampun) seumpamanya Dia memberikan ampunan-Nya kepada orang-orang yang bertakwa kepada-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ (“Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali [jika] Allah menghendakinya.”)

Dan firman Allah: هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ (“Dia adalah Rabb yang patut [kita] bertakwa kepada-Nya dan berhak memberikan ampunan.”) maksudnya Dia-lah Rabb yang memang berhak untuk ditakuti sekaligus Rabb yang berwenang untuk mengampuni dosa orang yagn bertaubat dan kembali kepada-Nya. demikian yang dikemukakan oleh Qatadah.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menegaskan bahwa mereka tidak akan mengambil pelajaran dari Al-Qur’an kecuali jika Allah menghendakinya. Hanya Dia yang berhak memberi ampunan.

Tegasnya tidak ada yang memperoleh peringatan dan pengajaran dari Al-Qur’an melainkan siapa yang dikehendaki Allah. Tidak seorang pun yang sanggup berbuat demikian kecuali berdasarkan kekuasaan yang diberikan Allah. Begitulah Allah berbuat sekehendak-Nya tanpa terhalang oleh siapa pun. Oleh karena itulah kepada Allah saja manusia patut bertakwa, hanya Dia saja yang harus ditakuti dan Dia saja yang harus ditaati. Dialah memberikan ampunan kepada hamba-Nya yang beriman.

Dalam sebuah hadis disebutkan: Bahwasanya Rasulullah saw, membaca ayat ini “huwa ahlut-takwa wa ahlul-magfirah” dan bersabda, “Tuhanmu berfirman, ‘Sayalah yang paling patut ditakuti, maka janganlah dijadikan bersama-Ku Tuhan yang lain. Barang siapa yang takwa kepada-Ku dan sekali-kali ia tidak menjadikan bersama-Ku Tuhan yang lain, maka Aku-lah yang berhak untuk mengampuninya.” (Riwayat Ahmad, ad-Darimi, at-Tirmizi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah dari Anas bin Malik)

Tafsir Quraish Shihab: Mereka tidak akan dapat menjadikannya sebagai pelajaran kecuali dengan kehendak Allah yang harus ditakuti dan berhak memberikan ampunan kepada orang-orang yang bertakwa.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Muddatstsir Ayat 38-56 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S