Surah Al-Mu’min Ayat 30-35; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Mu'min Ayat 30-35

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Mu’min Ayat 30-35 ini, menjelaskan Laki-laki beriman dari keluarga Fir’aun itu menyampaikan kepada kaumnya bahwa ia khawatir sekali bila mereka tidak mau beriman dan sebaliknya mengikuti perintah Fir’aun.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Mereka akan mengalami nasib yang sama seperti yang telah menimpa umat-umat terdahulu. Umat-umat itu menentang dan mendustakan para rasul yang diutus Allah, seperti umat Nabi Nuh, Kaum ‘Ad, Samud, dan umat-umat setelahnya.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’min Ayat 30-35

Surah Al-Mu’min Ayat 30
وَقَالَ ٱلَّذِىٓ ءَامَنَ يَٰقَوۡمِ إِنِّىٓ أَخَافُ عَلَيۡكُم مِّثۡلَ يَوۡمِ ٱلۡأَحۡزَابِ

Terjemahan: “Dan orang yang beriman itu berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu.

Tafsir Jalalain: وَقَالَ ٱلَّذِىٓ ءَامَنَ يَٰقَوۡمِ إِنِّىٓ أَخَافُ عَلَيۡكُم مِّثۡلَ يَوۡمِ ٱلۡأَحۡزَابِ (Dan orang yang beriman itu berkata, “Hai kaumku! Sesungguhnya aku khawatir kalian akan ditimpa -bencana- seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu) yakni azab yang telah menimpa umat-umat terdahulu, golongan demi golongan.

Tafsir Ibnu Katsir: Ini adalah kabar dari Allah swt. tentang seorang laki-laki shalih yang beriman di tengah-tengah Fir’aun, bahwa dia memperingatkan kaumnya tentang hukuman Allah Ta’ala di dunia dan di akhirat. Dia berkata: يَٰقَوۡمِ إِنِّىٓ أَخَافُ عَلَيۡكُم مِّثۡلَ يَوۡمِ ٱلۡأَحۡزَابِ (“Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa [bencana] seperti peristiwa kehancuran golongan yhang bersekutu.”)

yaitu, mereka mendustakan Rasul-rasul Allah sepsanjang zaman, seperti kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud dan umat-umat sesudah mereka yang mendustakan [para Rasul], sebagaimana adzab Allah itu menimpa mereka, dimana tidak ada satu penolak pun yang mampu menolaknya dan tidak ada satu penghalang pun yang mampu menghalanginya.

Tafsir Kemenag: Laki-laki beriman dari keluarga Fir’aun itu menyampaikan kepada kaumnya bahwa ia khawatir sekali bila mereka tidak mau beriman dan sebaliknya mengikuti perintah Fir’aun. Mereka akan mengalami nasib yang sama seperti yang telah menimpa umat-umat terdahulu.

Umat-umat itu menentang dan mendustakan para rasul yang diutus Allah, seperti umat Nabi Nuh, Kaum ‘Ad, Samud, dan umat-umat setelahnya. Mereka semua telah dimusnahkan Allah dengan berbagai bencana sebagai azab, dan tidak ada seorang pun yang dapat menangkis atau menyelamatkan diri. Itulah yang dimaksud yaumul ahzab dalam ayat ini.

Demikianlah hukuman Allah bagi mereka yang kafir di dunia. Allah tidak bertindak aniaya dengan pemusnahan itu, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri dengan melakukan tindakan-tindakan yang mengakibatkan murka-Nya.

Allah baru menjatuhkan hukuman bila rasul telah menyampaikan dakwahnya dengan sempurna, dan mereka tidak dapat diperbaiki lagi setelah dinasihati berkali-kali. Peristiwa itu hendaknya dijadikan pelajaran oleh rakyatnya. Orang itu berharap nasihatnya diterima oleh kaumnya dan mereka beriman kepada Nabi Musa, tidak membangkang apalagi membunuhnya.

Tafsir Quraish Shihab: Orang Mukmin pengikut Fir’aun itu berkata lagi, “Wahai kaumku, aku sangat khawatir suatu hari kalian akan ditimpa bencana seperti orang-orang yang bersekongkol untuk memusuhi nabi-nabi mereka, seperti kebiasaan kaum Nabi Nûh, kaum Ad, kaum Tsamûd dan orang-orang setelah mereka. Dan Allah, sungguh, tidak berkehendak menzalimi hamba-hamba-Nya.

Surah Al-Mu’min Ayat 31
مِثۡلَ دَأۡبِ قَوۡمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَٱلَّذِينَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ وَمَا ٱللَّهُ يُرِيدُ ظُلۡمًا لِّلۡعِبَادِ

Terjemahan: “(Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya.

Tafsir Jalalain: مِثۡلَ دَأۡبِ قَوۡمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَٱلَّذِينَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ (-Yakni- seperti keadaan kaum Nuh, Ad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka) lafal Mitsli dalam ayat ini merupakan Badal atau pengganti keterangan dari lafal Mitsli yang sebelumnya, yang ada pada ayat di atas. Yakni, seperti pembalasan yang biasa menimpa orang-orang kafir sebelum kalian; mereka ditimpa azab di dunia. وَمَا ٱللَّهُ يُرِيدُ ظُلۡمًا لِّلۡعِبَادِ (Dan Allah tidak menghendaki berbuat kelaliman terhadap hamba-hamba-Nya.).

Tafsir Ibnu Katsir: وَمَا ٱللَّهُ يُرِيدُ ظُلۡمًا لِّلۡعِبَادِ (“Dan Allah tidak menghendaki berbuat kedhaliman terhadap hamba-hamba-Nya”) yaitu Allah Ta’ala membinasakan mereka hanya disebabkan dosa-dosa mereka, mendustakan Rasul-rasul Allah dan menyelisihi perintah-Nya, sehingga Dia pun melaksanakan takdir-Nya kepada mereka.

Tafsir Kemenag: Laki-laki beriman dari keluarga Fir’aun itu menyampaikan kepada kaumnya bahwa ia khawatir sekali bila mereka tidak mau beriman dan sebaliknya mengikuti perintah Fir’aun. Mereka akan mengalami nasib yang sama seperti yang telah menimpa umat-umat terdahulu.

Umat-umat itu menentang dan mendustakan para rasul yang diutus Allah, seperti umat Nabi Nuh, Kaum ‘Ad, Samud, dan umat-umat setelahnya. Mereka semua telah dimusnahkan Allah dengan berbagai bencana sebagai azab, dan tidak ada seorang pun yang dapat menangkis atau menyelamatkan diri. Itulah yang dimaksud yaumul ahzab dalam ayat ini. Demikianlah hukuman Allah bagi mereka yang kafir di dunia.

Allah tidak bertindak aniaya dengan pemusnahan itu, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri dengan melakukan tindakan-tindakan yang mengakibatkan murka-Nya. Allah baru menjatuhkan hukuman bila rasul telah menyampaikan dakwahnya dengan sempurna, dan mereka tidak dapat diperbaiki lagi setelah dinasihati berkali-kali.

Peristiwa itu hendaknya dijadikan pelajaran oleh rakyatnya. Orang itu berharap nasihatnya diterima oleh kaumnya dan mereka beriman kepada Nabi Musa, tidak membangkang apalagi membunuhnya.

Tafsir Quraish Shihab: Orang Mukmin pengikut Fir’aun itu berkata lagi, “Wahai kaumku, aku sangat khawatir suatu hari kalian akan ditimpa bencana seperti orang-orang yang bersekongkol untuk memusuhi nabi-nabi mereka, seperti kebiasaan kaum Nabi Nûh, kaum Ad, kaum Tsamûd dan orang-orang setelah mereka. Dan Allah, sungguh, tidak berkehendak menzalimi hamba-hamba-Nya.

Baca Juga:  Surah Al-Qashash Ayat 25-28; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Surah Al-Mu’min Ayat 32
وَيَٰقَوۡمِ إِنِّىٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ يَوۡمَ ٱلتَّنَادِ

Terjemahan: “Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil.

Tafsir Jalalain: وَيَٰقَوۡمِ إِنِّىٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ يَوۡمَ ٱلتَّنَادِ (Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir terhadap kalian akan siksa hari panggil-memanggil) dapat dibaca At-Tanaadi atau At-Tanaadiy dengan memakai huruf Ya pada akhirnya. Artinya ialah hari kiamat, yang pada hari itu banyak sekali panggil-memanggil antara ahli surga dan ahli neraka; setiap panggilan sesuai dengan apa yang dialami oleh pemanggilnya.

Maka panggilan yang mengandung kebahagiaan adalah bagi ahli surga dan panggilan yang mengandung kecelakaan adalah bagi ahli neraka; selain itu masih banyak pula jenis panggilan atau seruan lainnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian dia berkata: وَيَٰقَوۡمِ إِنِّىٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ يَوۡمَ ٱلتَّنَادِ (“Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil.”) yaitu hari kiamat.

Dinamai hal itu menurut sebagian mereka, dikarenakan sesuai dengan apa yang dijelaskan di dalam hadits sangkakala, bahwa jika bumi digoncangkan, satu negeri hingga negeri yang lainnya terbelah, galau dan kacau, maka manusia melihatnya sambil pergi melarikan diri dimana sebagian mereka memanggil sebagian yang lain. Sedangkan ulama yang lain, di antaranya adh-Dhahhak berkata:

“Akan tetapi hal itu terjadi di saat mereka sampai di neraka jahannam, manusia berhamburan melarikan diri, sehingga para malaikat menemui mereka dan mengembalikan mereka ke padang mahsyar.”\

Tafsir Kemenag: Laki-laki beriman dari keluarga Fir’aun itu menyampaikan kepada kaumnya bahwa ia khawatir sekali bila mereka tidak mau beriman dan sebaliknya mengikuti perintah Fir’aun. Mereka akan mengalami nasib yang sama seperti yang telah menimpa umat-umat terdahulu.

Umat-umat itu menentang dan mendustakan para rasul yang diutus Allah, seperti umat Nabi Nuh, Kaum ‘Ad, Samud, dan umat-umat setelahnya. Mereka semua telah dimusnahkan Allah dengan berbagai bencana sebagai azab, dan tidak ada seorang pun yang dapat menangkis atau menyelamatkan diri. Itulah yang dimaksud yaumul ahzab dalam ayat ini.

Demikianlah hukuman Allah bagi mereka yang kafir di dunia. Allah tidak bertindak aniaya dengan pemusnahan itu, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri dengan melakukan tindakan-tindakan yang mengakibatkan murka-Nya.

Allah baru menjatuhkan hukuman bila rasul telah menyampaikan dakwahnya dengan sempurna, dan mereka tidak dapat diperbaiki lagi setelah dinasihati berkali-kali. Peristiwa itu hendaknya dijadikan pelajaran oleh rakyatnya. Orang itu berharap nasihatnya diterima oleh kaumnya dan mereka beriman kepada Nabi Musa, tidak membangkang apalagi membunuhnya.

Tafsir Quraish Shihab: Wahai kaumku, aku sungguh khawatir kalian akan ditimpa siksaan pada hari ketika seluruh makhluk saling berteriak. Suatu hari ketika kalian lari. Saat itu, tak seorang pun dapat melindungi kalian dari Allah. Barangsiapa yang disesatkan Allah–karena Dia tahu bahwa orang itu lebih memilih kesesatan daripada petunjuk–maka tak akan ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.”

Surah Al-Mu’min Ayat 33
يَوۡمَ تُوَلُّونَ مُدۡبِرِينَ مَا لَكُم مِّنَ ٱللَّهِ مِنۡ عَاصِمٍ وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنۡ هَادٍ

Terjemahan: “(yaitu) hari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tidak ada bagimu seorangpun yang menyelamatkan kamu dari (azab) Allah, dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorangpun yang akan memberi petunjuk.

Tafsir Jalalain: يَوۡمَ تُوَلُّونَ مُدۡبِرِينَ (Yaitu hari ketika kalian lari berpaling ke belakang) dari tempat hisab untuk dibawa ke neraka مَا لَكُم مِّنَ ٱللَّهِ (tidak ada bagi kalian dari Allah) yakni dari azab-Nya مِنۡ عَاصِمٍ (seorang pun yang dapat menyelamatkan kalian) yakni yang dapat mencegah azab dari diri kalian وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنۡ هَادٍ (dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk.”).

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: يَوۡمَ تُوَلُّونَ مُدۡبِرِينَ (“[yaitu] hari [ketika] kamu [lari] berpaling ke belakang.”) yaitu pergi melarikan diri. مَا لَكُم مِّنَ ٱللَّهِ مِنۡ عَاصِمٍ (“Tidak ada bagimu seorang pun yang menyelamatkanmu dari [adzab] Allah.”) yaitu tidak ada seorang pencegahpun yang mencegah kalian dari hukuman dan siksaan Allah.

وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنۡ هَادٍ (“Dan siapa yang disesatkan oleh Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberinya petunjuk.”) maksudnya, barangsiapa yang telah disesatkan oleh Allah, maka tidak ada seorang pun selain Allah yang akan memberinya petunjuk.

Tafsir Kemenag: Setelah laki-laki beriman itu memperingatkan kaumnya mengenai siksaan di dunia, ia melanjutkan peringatannya tentang dahsyatnya peristiwa hari Kiamat dan siksaan di akhirat. Pada waktu kiamat terjadi, bumi ini bergoncang hebat sehingga manusia berlarian ke sana ke mari sambil berteriak-teriak meminta tolong.

Akan tetapi, siapakah yang akan menolong pada waktu itu karena setiap manusia mengalami peristiwa yang sama dan dirisaukan oleh nasib masing-masing. Mengenai yaum at-tanad itu (hari panggil-memanggil), terdapat beberapa pendapat ulama:

a. Hari Kiamat, dinamakan demikian karena manusia pada waktu itu berteriak meminta bantuan orang lain sambil berlarian ke sana ke mari menyaksikan bumi bergoncang dan terbelah-belah dengan dahsyatnya.

b. Hari ketika orang-orang kafir di akhirat dihadapkan kepada neraka Jahanam, lalu mereka gempar berlarian ke sana sini untuk menghindarkan diri, tetapi malaikat mencegat dan menghalau mereka kembali ke Padang Mahsyar itu untuk dijebloskan ke dalam neraka.

Baca Juga:  Surah Adz-Dzariyat Ayat 38-46; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

c. Hari ketika malaikat menimbang amal manusia. Bila seseorang ternyata berat timbangan amal kebaikannya, orang itu dan orang-orang yang menyaksikannya bersorak-sorak kegirangan menyatakan dengan suara keras bahwa si Fulan bernasib baik, dan sebagainya. Begitu pula ketika seseorang menerima timbangan kebaikannya lebih ringan dari dosanya, ia pun meratap dengan sedihnya, diikuti oleh orang-orang lainnya.

d. Panggil-memangggil antara penghuni surga dan penghuni neraka tentang apa yang diperoleh masing-masing. Penghuni surga ketika ditanya penghuni neraka apakah sudah memperoleh apa yang dijanjikan Allah kepada mereka, mereka menjawab dengan mantap bahwa apa yang dijanjikan itu telah mereka nikmati.

Di sisi lain, penghuni neraka ketika ditanya hal serupa oleh penghuni surga juga menjawab dengan ucapan yang sama, tetapi dengan suara yang getir, yang menunjukkan bahwa yang mereka peroleh adalah kesengsaraan. Pada hari Mahsyar, yaitu hari pengadilan Allah, orang-orang kafir telah melihat adanya neraka Jahanam.

Oleh karena itu, mereka berlarian ingin menghindar, tetapi para malaikat mencegat dan mengembalikan mereka lagi ke Padang Mahsyar. Pada waktu itu, tidak ada yang bisa menolong orang lain. Jangankan menolong orang lain, menolong dirinya sendiri saja belum tentu mampu.

Laki-laki beriman itu memperingatkan kaumnya bahwa ia khawatir sekali peristiwa itu akan menimpa mereka. Bila Fir’aun yang mereka harapkan, maka ia akan diazab di dalam neraka, tidak akan bisa menolong dirinya, apalagi menolong orang lain pengikut-pengikutnya itu.

Laki-laki beriman itu meminta rakyatnya beriman. Ia khawatir sekali bahwa hati mereka akan tertutup bila mereka tidak mau juga menerima kebenaran. Bila hati sudah tertutup, siapa pun tidak akan mampu membukanya selain Allah.

Tafsir Quraish Shihab: Wahai kaumku, aku sungguh khawatir kalian akan ditimpa siksaan pada hari ketika seluruh makhluk saling berteriak. Suatu hari ketika kalian lari. Saat itu, tak seorang pun dapat melindungi kalian dari Allah. Barangsiapa yang disesatkan Allah–karena Dia tahu bahwa orang itu lebih memilih kesesatan daripada petunjuk–maka tak akan ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.”

Surah Al-Mu’min Ayat 34
وَلَقَدۡ جَآءَكُمۡ يُوسُفُ مِن قَبۡلُ بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَمَا زِلۡتُمۡ فِى شَكٍّ مِّمَّا جَآءَكُم بِهِۦ حَتَّىٰٓ إِذَا هَلَكَ قُلۡتُمۡ لَن يَبۡعَثَ ٱللَّهُ مِنۢ بَعۡدِهِۦ رَسُولًا كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابٌ

Terjemahan: “Dan sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata: “Allah tidak akan mengirim seorang (rasulpun) sesudahnya. Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu.

Tafsir Jalalain: وَلَقَدۡ جَآءَكُمۡ يُوسُفُ مِن قَبۡلُ (Dan sesungguhnya telah datang Yusuf kepada kalian sebelumnya) yakni sebelum Nabi Musa; menurut suatu pendapat ia adalah Yusuf bin Yakub yang usianya dipanjangkan sampai zaman Nabi Musa; atau menurut pendapat yang lain dia adalah Yusuf bin Ibrahim bin Yusuf bin Nabi Yakub بِٱلۡبَيِّنَٰتِ (dengan membawa keterangan-keterangan) mukjizat-mukjizat yang tampak jelas فَمَا زِلۡتُمۡ فِى شَكٍّ مِّمَّا جَآءَكُم بِهِۦ حَتَّىٰٓ إِذَا هَلَكَ قُلۡتُمۡ (tetapi kalian senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepada kalian, sehingga ketika dia meninggal, kalian berkata,) tanpa memakai bukti yang benar lagi.

لَن يَبۡعَثَ ٱللَّهُ مِنۢ بَعۡدِهِۦ رَسُولًا (“Allah tidak akan mengirim seorang rasul pun sesudahnya.”) selagi kalian masih tetap dalam keadaan kafir atau ingkar kepada Nabi Yusuf dan rasul-rasul lainnya. كَذَٰلِكَ (Demikianlah) maksudnya sebagaimana kalian disesatkan.

يُضِلُّ ٱللَّهُ مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٌ (Allah menyesatkan orang yang melampaui batas) yakni orang yang musyrik مُّرۡتَابٌ (lagi ragu-ragu) artinya, tidak percaya kepada mukjizat-mukjizat yang telah disaksikannya sendiri.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَلَقَدۡ جَآءَكُمۡ يُوسُفُ مِن قَبۡلُ بِٱلۡبَيِّنَٰتِ (“Dan sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan.”) yaitu penduduk Mesir, tempat dimana Allah mengutus seorang Rasul kepada mereka sebelum Musa a.s. yaitu Yusuf a.s.

Beliau adalah pembesar kerajaan Mesir dan seorang Rasul yang menyerukan umatnya kepada Allah Ta’ala dengan keadilan. Maka mereka tidak mentaatinya, kecuali hanya karena beliau seorang menteri yang mempunyai kehormatan di dunia.

Firman Allah: فَمَا زِلۡتُمۡ فِى شَكٍّ مِّمَّا جَآءَكُم بِهِۦ حَتَّىٰٓ إِذَا هَلَكَ قُلۡتُمۡ لَن يَبۡعَثَ ٱللَّهُ مِنۢ بَعۡدِهِۦ رَسُولًا (“Tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, sehingga ketika dia meninggal, kamu berkata: ‘Allah tidak akan mengirimm seorang [Rasul pun] sesudahnya.”) yaitu kalian putus asa, lalu kalian berkata dalam keadaan mengharapkannya.

كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابٌ (“Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu.”) seperti kalian inilah kondisi orang yang disesatkan Allah dikarenakan melampaui batas dalam perbuatan dan keraguan hatinya.

Tasir Kemenag: Orang itu selanjutnya menyatakan bahwa dulu sebelum Nabi Musa, Allah telah mengutus Nabi Yusuf kepada rakyat Mesir. Nabi Yusuf telah mengajak mereka beriman dan memberikan bukti-bukti kerasulannya yaitu ajaran-ajaran tentang iman kepada Allah dan berbuat baik, serta mukjizat-mukjizat yang diberikan Allah kepadanya. Akan tetapi, mereka tetap tidak mau percaya kepadanya. Mereka hanya mematuhinya sebagai seorang menteri atau pembesar negara.

Hal itu menunjukkan bahwa mereka lebih terpengaruh oleh kebesaran jabatan duniawi daripada jabatan seorang rasul, dan karena itulah mereka lebih menyukai Fir’aun yang kejam daripada Nabi Musa yang membawa kebenaran.

Setelah Nabi Yusuf meninggal, mereka menyatakan bahwa setelah dia tidak akan ada lagi seorang rasul pun. Itu mereka katakan karena tidak ingin ada lagi seorang rasul yang mengajak mereka kepada kebenaran. Ternyata rasul itu ada yaitu Nabi Musa dan karena itulah mereka membangkang kepadanya dan menjadi orang-orang yang sesat.

Baca Juga:  Surah Yunus Ayat 53-54; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Dengan demikian, kesesatan mereka itu adalah karena ketamakan mereka terhadap kemegahan duniawi, sebagaimana dilakukan Fir’aun. Kesesatan mereka itu juga disebabkan oleh sifat mereka yang selalu meragukan kebenaran, padahal yang disampaikan kepada mereka adalah wahyu Allah yang pasti benar.

Tafsir Quraish Shihab: Aku bersumpah, bahwa Yûsuf benar-benar telah datang kepada kalian, sebelum Mûsâ, dengan membawa tanda-tanda yang sangat jelas, tetapi kalian masih tetap ragu terhadap apa yang dibawanya. Sampai, ketika ia meninggal dunia, kalian berkata,

“Allah tidak akan mengutus seorang rasul setelah Yûsuf.” Seperti penyesatan yang kejam itulah Allah akan menyesatkan orang yang melampaui batas, banyak ragu dan bimbang.

Surah Al-Mu’min Ayat 35
ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِىٓ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ بِغَيۡرِ سُلۡطَٰنٍ أَتَىٰهُمۡ كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ وَعِندَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كَذَٰلِكَ يَطۡبَعُ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ قَلۡبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ

Terjemahan: “(Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.

Tafsir Jalalain: ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِىٓ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ (Orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah) yaitu mukjizat-mukjizatnya; kalimat ayat ini menjadi Mubtada بِغَيۡرِ سُلۡطَٰنٍ (tanpa alasan) tanpa argumentasi أَتَىٰهُمۡ كَبُرَ (yang datang kepada mereka. Amat besar) dosa perdebatan mereka itu, lafal Kabura ini menjadi Khabar dari Mubtada.

مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ وَعِندَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كَذَٰلِكَ (kemurkaan -bagi mereka- di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah) sebagaimana disesatkan-Nya mereka يَطۡبَعُ ٱللَّهُ (Allah mengunci mati) artinya, menyesatkan عَلَىٰ كُلِّ قَلۡبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ (hati setiap orang yang sombong lagi sewenang-wenang) dapat dibaca Qalbin Mutakabbirin atau Qalbi Mutakabbirin.

Manakala kalbu seseorang merasa sombong, maka takaburlah pemiliknya, dan demikian pula sebaliknya. Lafal Kullun menurut dua qiraat di atas menunjukkan makna tiap-tiap orang yang memiliki kalbu yang sesat, jadi bukan ditujukan kepada semua orang.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian firman Allah: ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِىٓ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ بِغَيۡرِ سُلۡطَٰنٍ أَتَىٰهُمۡ (“[yaitu] orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka.”) yaitu orang-orang yang menolak kebenaran dengan kebathilan dan memperdebatkan hujjah tanpa dalil, padahal hujjah yang diajukan kepada mereka berasal dari Allah Ta’ala. Maka, sesungguhnya Allah sangat memurkai hal tersebut.

Untuk itu Allah berfirman: كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ وَعِندَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ (“Amat besar kemurkaan [bagi mereka] di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman.”) yaitu orang-orang beriman pun memurkai orang yang bersifat seperti ini. Karena orang yang memiliki sifat seperti ini telah ditutup hatinya oleh Allah, sehingga dia tidak mengetahui yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang munkar.

Untuk itu Allah berfirman: كَذَٰلِكَ يَطۡبَعُ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ قَلۡبِ مُتَكَبِّرٍ (“Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong.”) yaitu [sombong] untuk mengikuti kebenaran. جَبَّارٍ (“Dan sewenang-wenang”) Abu ‘Imran al-Juwaini dan Qatadah berkata: “Tanda orang-orang yang sewenang-wenang adalah membunuh tanpa alasan yang benar. wallaHu a’lam.

Tafsir Kemenag: Kemudian Allah menjelaskan bagaimana tindakan orang-orang yang bersifat tamak dan selalu meragukan kebenaran wahyu itu. Mereka itu selalu menolak kebenaran ayat-ayat Allah yang disampaikan kepada mereka. Mereka juga selalu mempermasalahkan bukti-bukti yang disampaikan mengenai kebenaran wahyu itu. Akan tetapi, penolakan mereka itu tidak memiliki kekuatan apa pun.

Kepercayaan mereka hanya berdasar tradisi nenek moyang mereka, dan itu hanyalah kepatuhan membabi buta tanpa dipikirkan. Kepatuhan seperti ini tidak dibenarkan karena Allah memberi manusia pendengaran, penglihatan, dan akal pikiran.

Oleh karena itu, orang yang menolak kebenaran wahyu dan lebih percaya pada tradisi nenek moyang itu tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah. Dengan demikian, mereka sangat dibenci Allah dan orang-orang yang beriman.

Selanjutnya Allah menerangkan hukum-hukum-Nya bagi orang yang menutup hatinya untuk menerima kebenaran wahyu, yaitu bahwa Ia akan menutup hati mereka. Hati yang tertutup terjadi karena mereka selalu menolak kebenaran wahyu dan mempermasalahkannya.

Penolakan yang terus-menerus akan membawa kepada kesombongan. Selalu mempermasalahkan kebenaran akan membawa kepada kesewenang-wenangan. Karena sombong dan sewenang-wenang itu, maka mereka akan selalu menolak dan menentang kebenaran. Akhirnya hati mereka tertutup dengan sendirinya. Demikian hukum yang ditentukan Allah bagi tertutupnya hati manusia. .

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang yang mendebat ayat-ayat Allah tanpa ada bukti yang datang kepada mereka, tabiat suka mendebat yang ada pada mereka itu sungguh amat dibenci oleh Allah dan orang-orang Mukmin. Dengan cara seperti inilah Allah akan menutup hati yang arogan dan otoriter terhadap sesama.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Mu’min Ayat 30-35 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S