Surah Al-Mu’min Ayat 82-85; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Mu'min Ayat 82-85

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Mu’min Ayat 82-85 ini, menerangkan bahwanAllah mempertanyakan apakah orang-orang musyrik Mekah, yang mengingkari ayat-ayat Allah yang disampaikan kepada mereka, tidak pernah berjalan dan bepergian ke negeri-negeri lain? Sebenarnya mereka adalah para perantau dan para musafir yang telah pergi ke berbagai negeri dalam melakukan perdagangan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’min Ayat 82-85

Surah Al-Mu’min Ayat 82
أَفَلَمۡ يَسِيرُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ فَيَنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ كَانُوٓاْ أَكۡثَرَ مِنۡهُمۡ وَأَشَدَّ قُوَّةً وَءَاثَارًا فِى ٱلۡأَرۡضِ فَمَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ

Terjemahan: Maka apakah mereka tiada mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Adalah orang-orang yang sebelum mereka itu lebih hebat kekuatannya dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi, maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka.

Tafsir Jalalain: أَفَلَمۡ يَسِيرُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ فَيَنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ كَانُوٓاْ أَكۡثَرَ مِنۡهُمۡ وَأَشَدَّ قُوَّةً وَءَاثَارًا فِى ٱلۡأَرۡضِ (Maka apakah mereka tiada mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Adalah orang-orang yang sebelum mereka itu lebih hebat kekuatannya dan -lebih banyak- bekas-bekas mereka di muka bumi) seperti gedung-gedung dan bangunan-bangunan lainnya sebagai peninggalan mereka فَمَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ (maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka.).

Tafsir Ibnu Katsir: Allah memberikan kabar tentang umat-umat yang mendustakan para Rasul sejak dahulu kala, serta adzab pedih yang menimpa mereka. Sekalipun kekuatan mereka begitu hebat, kemakmuran yang mereka raih dari hasil bumi dan harta kekayaan yang mereka kumpulkan, namun itu semua sama sekali tidak dapat membela mereka serta tidak mampu menolak seberat dzarrah sekalipun akan siksa Allah.

Hal itu karena tatkala para Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa berbagai penjelasan, hujjah yang pasti dan bukti-bukti yang melimpah, mereka sama sekali tidak mau menolehnya, tidak menerimanya dan merasa cukup dengan pengetahuan yang mereka miliki tentang dugaan-dugaan mereka terhadap risalah yang dibawa oleh para Rasul tersebut.

Mujahid berkata: “Mereka berkata: ‘Kami lebih mengetahui daripada mereka. Kami sama sekali tidak akan dibangkitkan dan tidak akan disiksa.’” As-Suddi berkata: “Mereka merasa gembira dengan pengetahuan yang mereka miliki. Lantaran kebodohan mereka, datanglah siksa Allah kepada mereka yang tidak mampu mereka hindari.”

Tafsir Kemenag: Melalui ayat ini, Allah mempertanyakan apakah orang-orang musyrik Mekah, yang mengingkari ayat-ayat Allah yang disampaikan kepada mereka, tidak pernah berjalan dan bepergian ke negeri-negeri lain? Sebenarnya mereka adalah para perantau dan para musafir yang telah pergi ke berbagai negeri dalam melakukan perdagangan.

Mereka pergi ke Yaman, Arab Selatan, dan Syria pada setiap musim dan waktu, sesuai dengan bentuk perdagangan waktu itu. Dalam perjalanan mereka melalui negeri-negeri yang pernah didiami oleh umat-umat dahulu, seperti negeri kaum ‘Ad, Samud, penduduk Aikah, Mesir, Babilonia, dan sebagainya.

Dari bekas-bekas reruntuhan yang mereka lihat di negeri itu, dan cerita yang mereka terima dari leluhurnya, mereka mengetahui bahwa di negeri-negeri itu pernah ada umat-umat yang gagah perkasa, berkebudayaan tinggi, dan telah menaklukkan negeri-negeri sekitarnya.

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 76; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Mereka memahat gunung untuk rumah-rumah mereka, membuat piramida-piramida yang kokoh, dan sebagainya. Akan tetapi, karena keingkaran kepada rasul-rasul Allah yang diutus, maka mereka pun ditimpa azab Allah. Di saat itu, tidak ada sesuatu pun yang dapat menyelamatkan mereka dari azab Allah.

Orang-orang musyrik Mekah, yang belum dapat menandingi hasil yang pernah dicapai oleh umat-umat dahulu itu, akan mengalami nasib seperti mereka jika tetap mengingkari kerasulan Muhammad saw. Tidak seorang pun yang dapat menyelamatkan mereka dari azab Allah itu.

Tafsir Quraish Shihab: Apakah mereka hanya duduk berpangku tangan dan tidak berjalan di atas bumi agar bisa melihat bagaimana kehancuran merupakan akibat dari perbuatan bangsa-bangsa sebelum mereka? Mereka berjumlah lebih besar, lebih kuat, dan lebih luas pengaruhnya di bumi. Kendati begitu, azab Allah tidak bisa dihalangi oleh harta, kekuatan, atau kekuasaan mereka.

Surah Al-Mu’min Ayat 83
فَلَمَّا جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَرِحُواْ بِمَا عِندَهُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ وَحَاقَ بِهِم مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ

Terjemahan: Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa ketarangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu.

Tafsir Jalalain: فَلَمَّا جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ (Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa keterangan-keterangan) yakni mukjizat-mukjizat yang nyata فَرِحُواْ (mereka merasa senang) orang-orang kafir itu بِمَا عِندَهُم (dengan apa yang ada pada mereka) yakni rasul-rasul itu مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ (yaitu pengetahuan mereka) pengertian gembira di sini mengandung makna ejekan dan olok-olokan seraya ingkar kepada apa yang didatangkan oleh para rasul itu.

وَحَاقَ (dan menimpalah) maksudnya, turunlah بِهِم مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ (kepada mereka apa yang selalu mereka perolok-olokkan itu) yaitu, azab Allah yang selalu mereka ejek itu.

Tafsir Ibnu Katsir: وَحَاقَ بِهِم (“Dan mereka dikepung oleh adzab.”) yaitu mereka diliputi. كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ (“Yang selalu mereka perolok-olokkan itu.”) yaitu yang mereka dustakan dan mereka anggap mustahil terjadinya.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini disebutkan bahwa kepada umat-umat terdahulu telah datang rasul-rasul yang diutus Allah dengan membawa dalil-dalil dan keterangan-keterangan yang kuat dan nyata. Akan tetapi, mereka tetap mengingkarinya bahkan menentang seruan para rasul itu.

Mereka memperlihatkan kepada para rasul itu betapa kuatnya keyakinan mereka terhadap agama yang mereka anut. Mereka menyangka bahwa ilmu yang mereka peroleh itu adalah ilmu yang tiada tara sehingga mereka memperolok-olokkan para rasul itu. Orang-orang kafir itu akan ditimpa azab yang berat di akhirat.

Ucapan-ucapan mereka itu disebutkan dalam firman Allah: ? Dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa. (al-Jatsiyah/45: 24) Dan firman Allah: ?Jika Allah menghendaki, tentu kami tidak akan mempersekutukan-Nya, begitu pula nenek moyang kami? (al-An’am/6: 148).

Tafsir Quraish Shihab: Pada saat umat-umat itu didatangi oleh para rasul dengan membawa syariat yang jelas, mereka malah membanggakan ilmu pengetahuan dunia yang mereka punyai, dan sebaliknya meremehkan ilmu para rasul. Maka mereka kemudian ditimpa azab yang pernah dijanjikan para rasul dan mereka remehkan itu.

Baca Juga:  Surah At-Taubah Ayat 118-119; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Surah Al-Mu’min Ayat 84
فَلَمَّا رَأَوۡاْ بَأۡسَنَا قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَحۡدَهُۥ وَكَفَرۡنَا بِمَا كُنَّا بِهِۦ مُشۡرِكِينَ

Terjemahan: Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata: “Kami beriman hanya kepada Allah saja, dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah”.

Tafsir Jalalain: فَلَمَّا رَأَوۡاْ بَأۡسَنَا (Maka tatkala mereka melihat azab Kami) yakni betapa kerasnya azab Kami قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَحۡدَهُۥ وَكَفَرۡنَا بِمَا كُنَّا بِهِۦ مُشۡرِكِينَ (mereka berkata, “Kami beriman hanya kepada Allah saja, dan kami kafir kepada sesembahan-sesembahan yang telah kami mempersekutukannya dengan Allah.”).

Tafsir Ibnu Katsir: فَلَمَّا رَأَوۡاْ بَأۡسَنَا (“Maka, tatkala mereka melihat adzab Kami,”) yaitu mereka menyaksikan secara langsung terjadinya adzab terhadap mereka. قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَحۡدَهُۥ وَكَفَرۡنَا بِمَا كُنَّا بِهِۦ مُشۡرِكِينَ (“Mereka berkata: ‘Kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan-Nya.’”) yaitu, mereka mengesakan Allah serta mengkufuri thaghut. Akan tetapi tidak ada lagi kesalahan mereka yang dapat dihapus dan tidak berarti lagi alasan mereka.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan watak dan kepercayaan manusia yang sebenarnya kepada Allah. Manusia pada dasarnya mempercayai bahwa Tuhan itu adalah Esa, Dialah Yang Mahakuasa dan yang memberikan nikmat kepada hamba-hamba-Nya.

Kepercayaan itu dapat tertutupi oleh keadaan yang memengaruhi kehidupan manusia. Jika sedang berkuasa, kaya, dan dikuasai oleh hawa nafsunya, mereka lupa kepada Allah, bahkan mencari tuhan-tuhan yang lain yang akan disembah, sesuai dengan tuntutan hawa nafsunya. Jika mereka ditimpa bahaya, malapetaka, kesedihan, dan sebagainya, mereka kembali ingat dan menghambakan diri kepada Tuhan yang menciptakannya. Di saat itu pula mereka mengingkari tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan.

Banyak contoh dan perumpamaan yang dikemukakan Allah dalam ayat-ayat-Nya sehubungan dengan hal ini. Banyak pula orang-orang yang mempunyai sifat-sifat yang demikian, seperti Fir’aun, Karun, dan sebagainya.

Tafsir Quraish Shihab: Ketika melihat kejamnya azab Kami, mereka mengatakan, “Kami beriman hanya kepada Allah dan ingkar kepada tuhan-tuhan yang menyebabkan kami musyrik.”

Surah Al-Mu’min Ayat 85
فَلَمۡ يَكُ يَنفَعُهُمۡ إِيمَٰنُهُمۡ لَمَّا رَأَوۡاْ بَأۡسَنَا سُنَّتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى قَدۡ خَلَتۡ فِى عِبَادِهِۦ وَخَسِرَ هُنَالِكَ ٱلۡكَٰفِرُونَ

Terjemahan: Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir.

Tafsir Jalalain: فَلَمۡ يَكُ يَنفَعُهُمۡ إِيمَٰنُهُمۡ لَمَّا رَأَوۡاْ بَأۡسَنَا سُنَّتَ ٱللَّهِ (Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunah Allah) dinashabkannya lafal Sunnatallaahi karena menjadi Mashdar dari Fi’il yang diperkirakan keberadaannya, dan Fi’il tersebut diambil dari lafalnya قَدۡ خَلَتۡ فِى عِبَادِهِۦ (yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya) yaitu pada semua umat, bahwasanya iman tiada gunanya apabila timbul di kala azab turun.

Baca Juga:  Surah An-Nisa Ayat 160-162; Seri Tadabbur Al Qur'an

وَخَسِرَ هُنَالِكَ ٱلۡكَٰفِرُونَ (Dan di waktu itu merugilah orang-orang kafir) yakni jelaslah kerugian mereka; masing-masing di antara mereka mengalami kerugian yang nyata; dan memang sebelum itu pun mereka adalah orang-orang yang merugi.

Tafsir Ibnu Katsir: فَلَمۡ يَكُ يَنفَعُهُمۡ إِيمَٰنُهُمۡ لَمَّا رَأَوۡاْ بَأۡسَنَا سُنَّتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى قَدۡ خَلَتۡ فِى عِبَادِهِۦ (“Maka, iman mereka tidak berguna bagi mereka tatkala mereka sudah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya.”) maksudnya, inilah hukum Allah yang berlaku untuk seluruh orang yang bertaubat ketika ia menyaksikan adzab, yaitu tidak diterima [taubatnya itu]. Untuk itu, tercantum di dalam sebuah hadits:

“Sesungguhnya Allah Ta’ala menerima taubat seorang hamba selam [nyawa] belum mencapai tenggorokan [belum sekarat].” Yaitu apabila telah sekarat dan ruh telah mencapai tenggorokan serta menyaksikan malaikat, maka tidak ada lagi kesempatan bertaubat ketika itu. Maka Allah berfirman: وَخَسِرَ هُنَالِكَ ٱلۡكَٰفِرُونَ (“Dan di waktu itu, binasalah orang-orang kafir.”

Tafsir Kemenag: Ayat ini menegaskan bahwa pengakuan iman orang-orang seperti diterangkan ayat di atas, tidak ada manfaatnya lagi jika azab Allah telah datang. Pintu tobat telah tertutup bagi mereka, seperti firman Allah kepada Fir’aun waktu ia akan tenggelam:

?Sehingga ketika Fir’aun hampir tenggelam dia berkata, “Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang Muslim (berserah diri).” Mengapa baru sekarang (kamu beriman), padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu, dan engkau termasuk orang yang berbuat kerusakan. (Yunus/10: 90-91)

Ayat ini memberi peringatan bahwa iman itu akan berfaedah bagi seseorang apabila ia beriman kepada Allah dalam kehidupannya di dunia yang fana ini, pikiran dan hatinya merasakan kebesaran dan kekuasaan Allah dan ia merasa bahwa hidup dan matinya bergantung pada-Nya. Jika melakukan kesalahan, ia pun segera bertobat dan berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi.

Yang diterangkan itu adalah hukum-hukum Tuhan yang berlaku bagi semua orang. Iman itu tidak ada faedahnya lagi di kala mereka melihat azab. Pada saat itu tidak ada lagi gunanya iman dan semua orang-orang yang kafir akan merugi.

Tafsir Quraish Shihab: Tetapi iman yang mereka ucapkan pada saat melihat kejamnya azab itu tidak berguna lagi. Sebab ketentuan Allah telah berlaku pada hamba-Nya, bahwa Dia tidak menerima pernyataan iman yang diucapkan saat diturunkan azab. Saat itu, orang kafir sangat merugi.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Mu’min Ayat 82-85 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S