Surah Al-Mu’minun Ayat 12-16; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Mu'minun Ayat 12-16

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Mu’minun Ayat 12-16 ini, Allah menjelaskan proses penciptaan manusia secara bertahap dan menjelaskan bahwa manusia akan diwafatkan setelah itu dan akan dibangkitkan kembali pada hari kiamat.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’minun Ayat 12-16

Surah Al-Mu’minun Ayat 12
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ

Terjemahan: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.

Tafsir Jalalain: وَ (Dan) Allah telah berfirman خَلَقْنَا الْإِنسَانَ (Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia) yakni Adam مِن سُلَالَةٍ (dari suatu sari pati) lafal Sulaalatin berasal dari perkataan Salaltusy Syai-a Minasy Syai-i, artinya aku telah memeras sesuatu daripadanya, yang dimaksud adalah inti sari dari sesuatu itu مِّن طِينٍ (berasal dari tanah) lafal Min Thiinin berta’alluq kepada lafal Sulaalatin.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman seraya memberitahukan mengenai permulaan penciptaan manusia dari saripati (berasal) dari tanah, yaitu Adam’. Allah Ta’ala telah menciptakannya dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk.

Mujahid mengemukakan: “مِن سُلَالَةٍ berarti dari mani anak cucu Adam.” Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Musa, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari satu genggaman tanah yang digenggam-Nya dari seluruh permukaan bumi. Kemudian anak-anak Adam datang sesuai dengan kadar warna tanah. Di antara mereka ada yang merah, putih, hitam, dan di antara hal tersebut, juga ada yang jahat dan ada juga yang baik, serta di antara keduanya.”

Hadits tersebut telah diriwayatkan Abu Dawud dan at-Tirmidzi. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits tersebut hasan shahih.

Tafsir Kemenag: Sesungguhnya Kami (Allah) telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Ada segolongan ahli tafsir menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan manusia di sini ialah keturunan Adam termasuk kita sekalian, yang berasal dari air mani.

Dari hasil penelitian ilmiah, sebenarnya air mani itu pun berasal dari tanah setelah melalui beberapa proses perkembangan. Makanan yang merupakan hasil bumi, yang dimakan oleh manusia, dan alat pencernaannya berubah menjadi cairan yang bercampur dengan darah yang menyalurkan bahan-bahan hidup dan vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh manusia ke seluruh bagian anggotanya.

Jika manusia itu meninggal dunia dan dimasukkan ke dalam kubur di dalam tanah, maka badannya akan hancur lebur dan kembali menjadi tanah lagi, sesuai dengan firman Allah:

Darinya (tanah) itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanyalah Kami akan mengembalikan kamu, dan dari sanalah Kami akan mengeluarkan kamu pada waktu yang lain. (thaha/20: 55).

Tafsir Quraish Shihab: Hendaknya manusia mengamati asal kejadiannya. Sebab, penciptaan manusia itu termasuk salah satu bukti kekuasaan Kami yang mengharuskan orang-orang untuk beriman kepada Allah dan hari akhir. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati tanah.

Surah Al-Mu’minun Ayat 13
ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ

Terjemahan: Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).

Tafsir Jalalain: ثُمَّ جَعَلْنَاهُ (Kemudian Kami jadikan ia) manusia atau keturunan Adam نُطْفَةً (dari nuthfah) yakni air mani فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ (yang berada dalam tempat yang kokoh) yaitu rahim.

Tafsir Ibnu Katsir: ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً (“Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani.”) Dhamir (kata ganti) di sini kembali kepada jenis manusia, sebagaimana yang difirmankan Allah dalam ayat yang lain: “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.

Kemudian Dia menjadikan keturunannya dart saripati air yang jijik (air mani).” (QS. As-Sajdah: 7-8). Maksudnya, lemah dan berpindah dari satu keadaan menuju keadaan yang lain dan dari satu sifat ke sifat yang lain.

Tafsir Kemenag: Kemudian Kami (Allah) tempatkan saripati air mani itu dalam tulang rusuk sang suami yang dalam persetubuhan dengan istrinya ditumpahkan ke dalam rahimnya, suatu tempat penyimpanan yang kukuh bagi janin sampai saat kelahirannya.

Tafsir Quraish Shihab: Kemudian Kami menciptakan keturunannya.
Dari tanah itu, Kami menciptakan sperma–sebuah zat cair yang mengandung segala unsur kehidupan–yang bertempat pada rahim, sebuah tempat yang kokoh dan dapat melindungi.

Surah Al-Mu’minun Ayat 14
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Terjemahan: Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Baca Juga:  Surah Hud Ayat 41-43; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Tafsir Jalalain: ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً (Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah) darah kental فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً (lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging) daging yang besarnya sekepal tangan فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا (dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging) menurut qiraat yang lain lafal ‘Izhaaman dalam dua tempat tadi dibaca ‘Azhman, yakni dalam bentuk tunggal. Dan lafal Khalaqnaa yang artinya menciptakan, pada tiga tempat tadi bermakna Shayyarnaa, artinya Kami jadikan,

ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ (kemudian Kami jadikan dia sebagai makhluk yang lain) yaitu dengan ditiupkan roh ke dalam tubuhnya. فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ (Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik) sebaik-baik Yang Menciptakan. Sedangkan Mumayyiz dari lafal Ahsan tidak disebutkan, karena sudah dapat diketahui dengan sendirinya, yaitu lafal Khalqan.

Tafsir Ibnu Katsir: Oleh karena itu, di sini Allah Ta’ala berfirman: ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً (“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah.”) Artinya, kemudian Kami jadikan nuthfah, yaitu air yang memancar yang keluar dari tulang rusuk yang berada di tulang punggung laki-laki dan tulang dada wanita, yang berada di antara tulang selangka dan pusar, sehingga menjadi segumpal darah merah yang memanjang.`Ikrimah mengatakan: “Yaitu darah.”

فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً (“Lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging,”) yaitu segumpal daging yang tidak mempunyai bentuk tertentu dan tidak bergaris-garis. فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا (“Dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang,”) maksudnya, Kami (Allah) berikan bentuk yang memiliki kepala, dua tangan, dua kaki, dengan tulang-tulangnya, urat, dan otot-ototnya.

Dalam hadits shahih dari Abuz Zinad, dari al-A’raj, dari Abu Hurairah, dia bercerita, Rasulullah saw. bersabda: “Setiap jasad anak cucu Adam akan binasa, kecuali satu bagian pangkal ekor, darinya(lah) diciptakan dan padanya disusun.”

فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا (“Lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging.”) Maksudnya, Kami jadikan daging yang dapat menutupi, mengokohkan, dan menguatkan. ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ (“Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang [berbentuk] lain.” ) Yakni, kemudian Kami tiupkan ruh ke dalamnya, sehingga dia pun bergerak dan menjadi makhluk lain yang mempunyai pendengaran, penglihatan, pengetahuan, gerakan, dan goncangan. fatabaarakallaaHu ahsanul khaaliqiin (“Maka Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.”)

Al-‘Aufi menceritakan dari Ibnu Abbas: ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ (“Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang [berbentuk] lain.”) yakni, Kami pindahkan dari satu keadaan menuju keadaan yang lain sehingga lahir sebagai seorang anak. Setelah itu tumbuh sebagai anak kecil, lalu ia mengalami masa puber dan tumbuh menjadi remaja, selanjutnya tumbuh dewasa, kemudian menjadi tua, hingga akhirnya menjadi tua renta.

Hal serupa juga diriwayatkan dari Qatadah dan adh-Dhahhak, dan tidak ada pertentangan, di mana dari permulaan peniupan ruh ke dalamnya ditetapkan pada berbagai proses dan keadaan. Wallahu a’lam.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah ibnu Mas’ud, ia bercerita, Rasulullah saw. memberitahu kami, yang beliau adalah selalu jujur dan dibenarkan: “Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut (rahim) ibunya selama empat puluh hari berupa nuthfah (air mani), kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga (empat puluh hari), lalu menjadi gumpalan seperti sekerat daging, selama itu juga, kemudian diutuslah kepadanya Malaikat,

maka ia (Malaikat) meniupkan ruh padanya dan Malaikat itu diperintahkan untuk (menulis) empat perkara; rizkinya, ajal (umur)nya, amal perbuatannya, dan (apakah dia) sengsara atau bahagia. Demi Allah yang tiada Ilah (yang haq) selain Dia,

sesungguhnya salah seorang diantara kalian akan mengerjakan amalan penghuni surga sehingga (jarak) antara dirinya dengan surga hanya satu hasta saja, namun dia didahului oleh ketetapan (takdir) Allah sehingga dia mengerjakan perbuatan penghuni neraka, hingga akhirnya dia masuk neraka.

Dan sesungguhnya salah seorang di antara kalian akan mengerjakan perbuatan penghuni neraka sehingga (jarak) antara dirinya dengan neraka tinggal satu hasta saja, namun ketetapan (takdir) Allah mendahuluinya sehingga dia mengerjakan amal perbuatan penghuni surga, hingga akhirnya dia masuk surga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Firman Allah Ta’ala: فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ (“Maka Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.”) Yakni, ketika Dia menyebutkan kekuasaan dan kelembutan-Nya dalam penciptaan nuthfah ini dari satu keadaan menjadi keadaan yang lain (proses), dari satu bentuk ke bentuk yang lainnya, sehingga menjadi satu bentuk, yaitu manusia yang mempunyai ciptaan yang normal lagi sempurna. Wallahu a’am.

Baca Juga:  Surah Asy-Syu'ara Ayat 153-159; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Kemudian air mani itu Kami (Allah) kembangkan dalam beberapa minggu sehingga menjadi al-‘alaq (yang menempel di dinding rahim), dari al-‘alaq dijadikan segumpal daging, dan segumpal daging dijadikan tulang belulang, dan ada bagian yang dijadikan daging,

kemudian tulang belulang itu dibungkus dengan daging, laksana pakaian penutup tubuh, kemudian dijadikan makhluk yang (berbentuk) lain, setelah ditiupkan Roh ke dalamnya, sehingga menjadi manusia yang sempurna, dapat berbicara, melihat, mendengar, berpikir yang tadinya hanya merupakan benda mati. Maka Mahasuci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Menurut para saintis, Tahapan-tahapan dalam embriologi manusia sebagai berikut:

  1. Nutfah, atau dalam bahasa Arabnya ‘nutfa, mempunyai arti ‘sedikit air, atau ‘setetes air. Hal ini jelas mendeskripsikan air yang sedikit yang dipancarkan lelaki saat bersanggama. Air yang sedikit ini mengandung sperma. Sperma atau spermatozoa terdapat di dalam air yang menjijikan dan berbentuk ikan yang berekor panjang (ini adalah salah satu arti kata sulalah. Dalam surah As-Sajdah/32 ayat 8, air mani disebut sebagai “….. Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang diremehkan….” Surah al-Insan/76 ayat 2 dan as-Sajdh/32 ayat 8 berkaitan dengan kandungan dari air mani. Ilmu pengetahuan modern menemukan bahwa air mani terdiri atas empat macam lendir yang berbeda yang dihasilkan oleh empat kelenjar yang berbeda, yaitu kelenjar biji pelir, kelenjar saluran seminal, kelenjar prostat, dan kelenjar saluran kencing.
  2. Sperma dibentuk di dalam buah pelir. Buah pelir sendiri dibentuk, sebagaimana dibuktikan ilmu pengetahuan, oleh sel-sel yang ada di bawah bakal ginjal, di bagian punggung embrio. Kelompok sel ini kemudian turun sampai di bawah tulang rusuk, pada saat beberapa minggu sebelum kelahiran bayi. Diperkirakan jumlah sperma dalam satu kali ejakulasi adalah 500 ? 600 juta ekor. Akan tetapi dari jumlah tersebut, hanya satu yang dapat melakukan pembuahan. Setelah terjadi pembuahan, maka terjadi perubahan cepat dari indung telur. Ia segera menghasilkan membran yang mencegah sperma lain untuk ikut membuahi.
  3. Setelah sel telur dibuahi, dan menempelkan diri di dinding uterus dan memperoleh makanan dari ibunya, maka ia akan tumbuh cepat. Pada waktu dua sampai tiga minggu kemudian, apabila dilihat dengan mata telanjang, ia akan berubah dari bentukan ‘lintah atau ‘alaqah ke bentukan ‘mudhgah atau ‘daging yang telah dikunyah. Pola yang terakhir ini sebetulnya dibentuk oleh adanya tonjolan dan lekukan, yang pada waktunya nanti akan menjadi organ-organ dalam (jantung, usus) dan luar (kaki, tangan). Surah al-hajj/22: 5 menambahkan satu catatan dari embrio. Dalam ayat ini, mudghah dideskripsikan dengan tambahan “yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna kejadiannya …..” Ini menggambarkan hal yang terjadi pada tahap ‘diferensiasi, dimana banyak organ mulai berkembang dalam waktu yang tidak bersamaan. Sehingga menimbulkan situasi antara selesai di bagian lain namun belum sempurna di bagian lainnya.
  4. Dua tahapan terakhir yang disebutkan pada surah al-Muminun/23: 14 bercerita tentang ‘pembentukan tulang belulang setelah tahap mudgah. Pada akhirnya, ceritera diakhiri dengan memberinya “baju”, yang terdiri atas daging dan otot. Apabila kita mengikuti pertumbuhan embrio, maka kira-kira pada umur empat minggu suatu proses ‘diferensiasi mulai berjalan. Dalam proses ini kelompok-kelompok sel pada embrio akan berubah bentuk dan mulai membentuk organ-organ berukuran besar. Salah satu yang berkembang pertama kali adalah tulang tengkorak. Proses ini akan disusul kemudian oleh pembentukan calon otot, telinga, mata, ginjal, jantung dan banyak lagi.

Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadis dari Abdullah bin Masud, bahwa Rasulullah mengatakan:

“Sesungguhnya seseorang di antara kamu dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya empat puluh hari, kemudian menjadi ‘alaqah seperti itu, kemudian menjadi mudhgah (gumpalan daging) seperti itu. Kemudian malaikat diutus kepadanya, lalu ia meniupkan ruh padanya. Dan ia diperintahkan kepada empat kalimat, rizqinya, ajalnya, amalnya, dan apakah ia seorang yang celaka atau bahagia.

Demi Zat yang tidak ada tuhan selain-Nya, sesungguhnya seseorang di antara kamu beramal amalan penghuni surga, sehingga antara dia dan surga hanya tinggal satu hasta saja. Namun dia sudah tercatat sebagai penghuni neraka, maka ia mengakhiri amalnya dengan amalan penghuni neraka, sehingga ia masuk neraka.

Baca Juga:  Surah Al-Ankabut Ayat 19-23; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dan sesungguhnya seseorang di antara kamu beramal amalan penghuni neraka, sehingga antara dia dengan neraka hanya tinggal satu hasta saja. Namun ia sudah tercatat sebagai penghuni surga, maka ia mengakhiri amalnya dengan amalan penghuni surga, sehingga ia masuk surga.” (Riwayat Ahmad)

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab berkata: Keinginanku bersesuaian dengan kehendak Allah pada empat perkara.

Pertama: Saya usulkan pada Rasulullah saw supaya di belakang Maqam Ibrahim dijadikan tempat salat maka turunlah firman Allah: Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat salat. (al-Baqarah/2: 125)

Kedua: Saya usulkan kepada Rasulullah saw supaya istri-istrinya memasang tabir (hijab) bila kedatangan tamu laki-laki, yang kadang-kadang tidak saleh semuanya, maka turunlah firman Allah:

Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. (al-Ahzab/33: 53)

Ketiga: Saya berkata kepada istri-istri Nabi supaya berhenti menimbulkan kesulitan kepada beliau, karena mungkin Allah akan memberi ganti dengan istri-istri yang lebih baik, maka turunlah firman Allah:

Jika dia (Nabi) menceraikan kamu, boleh jadi Tuhan akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik dari kamu. (at-Tahrim/66: 5)

Keempat: Setelah turun ayat 12, 13 dan 14 Surah al-Mu`minun, maka saya ucapkan fatabarakallahu a?sanul Khaliqin, dan Rasululah saw bersabda, “Demikian itu sesuai dengan yang diturunkan-Nya.”.

Tafsir Quraish Shihab: Setelah membuahi ovum, sperma itu Kami jadikan darah. Darah itu pun kemudian Kami jadikan sepotong daging yang kemudian Kami bentuk menjadi tulang. Tulang itu lalu Kami balut dengan daging. Setelah itu, Kami menyempurnakan penciptaannya.

Akan tetapi, setelah Kami tiupkan roh Kami, ia menjadi makhluk yang durhaka dan melawan asas penciptaannya. Betapa Mahatingginya Allah dalam kemahaagungan dan kemahakuasaan-Nya. Tidak ada yang menyerupai-Nya dalam kemampuan mencipta, membentuk dan berkreasi.

Surah Al-Mu’minun Ayat 15
ثُمَّ إِنَّكُم بَعْدَ ذَلِكَ لَمَيِّتُونَ

Terjemahan: Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.

Tafsir Jalalain: ثُمَّ إِنَّكُم بَعْدَ ذَلِكَ لَمَيِّتُونَ (Kemudian, sesudah itu sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati).

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: ثُمَّ إِنَّكُم بَعْدَ ذَلِكَ لَمَيِّتُونَ (“Kemudian sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.”) Yakni, setelah penciptaan yang pertama dari ketiadaan, kalian kelak akan menemui kematian.

Tafsir Kemenag: Kemudian sesudah penciptaanmu yang pertama itu, kamu sekalian pasti akan menemui ajalmu yang telah ditentukan. Allah berfirman:

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami. (al-Anbiya`/21: 35).

Tafsir Quraish Shihab: Kemudian kalian, wahai anak cucu Adam, setelah itu semua akan menuju kepada kematian yang pasti.

Surah Al-Mu’minun Ayat 16
ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ

Terjemahan: Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.

Tafsir Jalalain: ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ (Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan di hari kiamat) untuk menjalani hisab dan pembalasan.

Tafsir Ibnu Katsir: ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ (“Kemudian, sesungguhnya kamu semua akan dibangkitkan [dari kuburmu] di hari Kiamat.”) Yakni, penciptaan yang terakhir.

ثُمَّ اللَّهُ يُنشِئُ النَّشْأَةَ الْآخِرَةَ (“Kemudian Allah menjadikannya sekali lagi.”) (QS. Al Ankabuut: 20). Yakni, pada hari kebangkitan, dan bangkitnya ruh-ruh menuju jasad masing-masing. Lalu semua makhluk dihisab dan setiap pelaku perbuatan akan diberikan balasan sesuai dengan perbuatannya. Jika baik maka dia akan mendapatkan kebaikan, dan jika buruk maka dia akan mendapatkan balasan keburukan pula.

Tafsir Kemenag: Kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan dari kuburmu pada hari Kiamat, untuk dihisab segala amal perbuatanmu selama berada di dunia ini, yang baik akan diberi pahala, yang buruk akan diberi siksa.

Tafsir Quraish Shihab: Setelah itu, kalian akan dibangkitkan kembali pada hari kiamat untuk perhitungan dan pembalasan.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Mu’minun Ayat 12-16 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S