Surah Al-Mu’minun Ayat 57-61; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Mu'minun Ayat 57-61

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Mu’minun Ayat 57-61 ini, menegaskan bahwa orang-orang yang mempunyai sifat-sifat tersebut, selalu bersegera berbuat kebaikan bila ada kesempatan untuk itu dan selalu berupaya agar amal baiknya selalu bertambah. Baru saja ia selesai melaksanakan amal yang baik ia ingin agar dapat segera berbuat amal yang lain dan demikianlah seterusnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Orang yang demikian sifatnya akan diberi pahala oleh Allah amalnya yang baik di dunia maupun di akhirat.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’minun Ayat 57-61

Surah Al-Mu’minun Ayat 57
يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

Terjemahan: Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka,

Tafsir Jalalain: إِنَّ الَّذِينَ هُم مِّنْ خَشْيَةِ رَبِّهِم (Sesungguhnya orang-orang yang karena perasaan khasyyah mereka kepada Rabb mereka) disebabkan mereka takut kepada-Nya مُّشْفِقُونَ (mereka merasa takut sekali) kepada azab-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman: innal ladziinaHum min khasy-yati rabbiHim musy-fiquun (“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (adzab) Rabb mereka.”) Maksudnya, dengan kebaikan, keimanan, dan amal shalih mereka, mereka takut kepada Allah Ta’ala dan merasa khawatir akan kebencian-Nya terhadap mereka.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh al-Hasan al-Bashri: “Sesungguhnya orang mukmin mengumpulkan kebaikan dan rasa khawatir, sedangkan orang munafik mengumpulkan keburukan dan rasa aman.” Salah satu di antara sifat-sifat orang yang benar-benar beriman itu pertama ialah takut kepada Tuhan. Karena itu mereka selalu mencari keridaan-Nya dengan bersungguh-sungguh mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Yang menjadi pedoman bagi hidup mereka ialah ajaran agama karena ajaran itulah prinsip mereka. Apa saja yang bertentangan dengan prinsip-prinsip itu tetap mereka tolak bagaimana pun akibatnya. Iman mereka tidak dapat digoyahkan oleh bujuk rayu atau ancaman apa pun.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya orang-orang yang takut dan merasakan kebesaran Tuhannya, dan telah terbiasa bersikap demikian,

Surah Al-Mu’minun Ayat 58
وَالَّذِينَ هُم بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ

Terjemahan: Dan orang-orang yang beriman dengan Ayat-Ayat Tuhan mereka,

Tafsir Jalalain: (Dan orang-orang yang terhadap Ayat-Ayat Rabb mereka) Alquran (mereka beriman) sangat percaya kepadanya.

Tafsir Ibnu Katsir: وَالَّذِينَ هُم بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ (“Dan orang-orang yang beriman dengan Ayat-Ayat Rabb mereka.”) Yakni, mereka beriman kepada Ayat-Ayat kauniyyah dan syar’iyyah. Yang demikian itu sama seperti firman-Nya dalam menceritakan tentang Maryam:

“Dan dia membenarkan kalimat-kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.”(QS. At-Tahriim: 12). Maksudnya, dia meyakini bahwa apa yang telah terjadi merupakan takdir dan ketetapan Allah.

Apa yang disyari’at-kan, jika itu berupa perintah, maka ia termasuk yang disukai dan diridhai-Nya.Jika berupa larangan, maka ia termasuk yang dibenci dan ditolak-Nya. Dan jika baik, maka yang demikian itu merupakan suatu yang haq.

Baca Juga:  Surah As-Saffat Ayat 71-74; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Sifat yang kedua ialah percaya sepenuhnya kepada bukti-bukti Keesaan dan kekuasaan Allah yang terbentang luas dalam alam semesta sebagaimana difirmankan oleh Allah:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka. (Ali ‘Imran/3: 190-191)

Mereka percaya pula sepenuhnya kepada semua Ayat yang diturunkan kepada Rasul-Nya. Apa yang tersebut dalam Ayat-Ayat itu adalah kebenaran mutlak yang tak dapat ditawar-tawar lagi.

Tafsir Quraish Shihab: orang-orang yang beriman dengan tanda-tanda kekuasaan Allah yang terdapat di alam raya dan di dalam kitab suci yang diturunkan-Nya,

Surah Al-Mu’minun Ayat 59
وَالَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ

Terjemahan: Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun),

Tafsir Jalalain: وَالَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ (Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Rabb mereka) sesuatu apa pun.

Tafsir Ibnu Katsir: Sebagaimana yang difirmankan Allah’Ta’ala: وَالَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ (“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Rabb mereka (sesuatu apa pun). ” Yakni, mereka tidak beribadah kepada yang lain bersama-Nya, tetapi mereka meng-esakan-Nya seraya mengetahui bahwasanya tidak ada Rabb selain Allah, yang Mahaesa lagi menjadi tempat bergantung.

Dia tidak mengambil isteri dan tidak juga mempunyai anak. Dan bahwasanya tidak ada tandingan bagi-Nya serta tidak ada pula yang setara dengan-Nya.

Tafsir Kemenag: Sifat yang ketiga ialah memelihara kemurnian tauhid dengan benar-benar menyembah Allah semata tanpa mempersekutukan-Nya dengan sembahan-sembahan lain. Orang yang beriman tidak akan mau menyembah berhala-berhala atau minta tolong kepadanya, walaupun berhala-berhala itu dianggap oleh kaum musyrik sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar). (al-Bayyinah/98: 5)

Mereka tidak akan meminta tolong kepada kuburan-kuburan karena mereka yakin sepenuhnya bahwa perbuatan itu sama saja dengan meminta tolong kepada berhala-berhala dan itu termasuk perbuatan syirik yang sangat dimurkai Allah. Mereka tidak pula akan meminta tolong kepada arwah-arwah, jin dan setan, karena yang demikian pun termasuk syirik pula.

Baca Juga:  Tafsir Surah Al Baqarah Ayat 196-203; Tentang Ibadah Haji

Demikianlah semua perbuatan yang membawa kepada mempersekutukan Allah mereka hindari sejauh-jauhnya, sehingga kepercayaan mereka benar-benar murni, tidak dikotori sedikit pun oleh hal-hal yang berbau syirik.

Tafsir Quraish Shihab: orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun,

Surah Al-Mu’minun Ayat 60
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

Terjemahan: Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka,

Tafsir Jalalain: وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ (Dan orang-orang yang memberikan) yang menginfakkan مَا آتَوا (apa yang telah mereka berikan) mereka infakkan berupa zakat dan amal-amal saleh وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَ (dengan hati yang takut) takut amalnya tidak diterima أَنَّهُمْ (karena mereka tahu bahwa sesungguhnya mereka) sebelum lafal Annahum ini diperkirakan adanya huruf Lam yang menjarkannya إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ (akan dikembalikan kepada Rabb mereka).

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ (“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, [karena mereka tahu babwa] sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.”) Maksudnya, mereka memberikan suatu pemberian, sedang mereka merasa takut lagi penuh kekhawatiran kalau pemberian itu tidak diterima, karena mereka takut (akan) kekurangan dalam memenuhi berbagai persraratan. Yang demikian itu termasuk bab kekhawatiran dan kehati-hatian.

Tafsir Kemenag: Sifat yang keempat ialah takut kepada Allah, karena mereka yakin akan kembali kepada-Nya pada hari berhisab di mana akan diperhitungkan segala amal perbuatan manusia. Meskipun mereka telah mengerjakan segala perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan-Nya dan menafkahkan hartanya di jalan Allah, namun mereka merasa takut kalau-kalau amal baik mereka tidak diterima, karena mungkin ada di dalamnya unsur-unsur riya’ atau lainnya yang menyebabkan ditolaknya amal itu.

Oleh sebab itu mereka selalu terdorong untuk selanjutnya berbuat baik karena kalau amal yang sebelumnya tidak diterima, mungkin amal yang sesudah itu menjadi amal yang makbul yang diberi ganjaran yang berlipat ganda.

Dalam hadis yang diriwAyatkan Ibnu Abi hatim dari ‘Aisyah pernah bertanya kepada Nabi: Siti Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai Ayat ini (alladzina yu`tuna ma ataw waqulubuhum wajilah), apakah yang dimaksud dengan Ayat ini ialah orang berzina dan meminum khamar atau mencuri, dan karena itu ia takut kepada Tuhan dan siksa-Nya? Pertanyaan ini dijawab oleh Rasulullah, “Bukan demikian maksudnya, hai puteri Abu Bakar as-shiddiq.

Baca Juga:  Surah Al-Kahfi Ayat 57-59; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Yang dimaksud dalam Ayat ini ialah orang-orang yang mengerjakan salat, berpuasa dan menafkahkan hartanya, namun dia merasa takut kalau-kalau amalnya itu termasuk amal yang tidak diterima (mardud). (RiwAyat Ahmad dan at-Tirmidzi).

Tafsir Quraish Shihab: orang-orang yang mengeluarkan zakat dari kekayaan yang dikaruniakan Allah, dan melakukan pekerjaannya dengan penuh rasa khawatir kalau-kalau pekerjaannya itu tidak sempurna, karena sadar bahwa mereka akan kembali kepada Allah dan akan diperhitungkan melalui pembangkitan kembali,

Surah Al-Mu’minun Ayat 61
أأُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

Terjemahan: mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.

Tafsir Jalalain: أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ (Mereka itu bersegera untuk mendapatkan kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya) menurut ilmu Allah.

Tafsir Ibnu Katsir: Ulaaika yusaari’uuna fil khairaati wa Hum laHaa saabiquun أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ (“Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.”). Dengan demikian, Dia telah menjadikan mereka termasuk orang-orang yang segera memperolehnya.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menegaskan bahwa orang-orang yang mempunyai sifat-sifat tersebut, selalu bersegera berbuat kebaikan bila ada kesempatan untuk itu dan selalu berupaya agar amal baiknya selalu bertambah. Baru saja ia selesai melaksanakan amal yang baik ia ingin agar dapat segera berbuat amal yang lain dan demikianlah seterusnya.

Orang yang demikian sifatnya akan diberi pahala oleh Allah amalnya yang baik di dunia maupun di akhirat seperti yang pernah diberikan kepada Nabi Ibrahim yang tersebut dalam firman-Nya: Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia, dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang yang saleh. (an-Nahl/16: 122)

Dan firman-Nya: Maka Allah memberi mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. (Ali ‘Imran/3: 148).

Tafsir Quraish Shihab: mereka semua, dengan apa yang mereka kerjakan itu, bersegera dan mendahului orang lain untuk mencapai berbagai kebaikan.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Mu’minun Ayat 57-61 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S