Surah Al-Mu’minun Ayat 99-100; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Mu'minun Ayat 99-100

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Mu’minun Ayat 99-100 ini, Allah memberitahukan tentang kata-kata yang diucapkan oleh orang kafir ketika menghadapi maut, walaupun kata-kata itu tidak dapat didengar oleh orang-orang yang hadir ketika itu. Orang kafir itu meminta kepada Allah supaya dia jangan dimatikan dahulu dan dibiarkan hidup seperti sediakala agar dia dapat bertobat dari kesalahan dan kedurhakaannya dan dapat beriman dan mengerjakan amal yang baik yang tidak dikerjakannya selama hidupnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’minun Ayat 99-100

Surah Al-Mu’minun Ayat 99
حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ

Terjemahan: (Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia),

Tafsir Jalalain: حَتَّى (Sehingga) lafal Hattaa menunjukkan makna Ibtida atau permulaan إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ (apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka) kemudian ia melihat kedudukannya di neraka dan di surga seandainya ia beriman قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (dia berkata, “Ya Rabbku! Kembalikanlah aku) ke dunia. Ungkapan Jamak pada lafal Irji’uuni mengandung makna Ta’zhim atau mengagungkan.

Tafsir ibnu katsir: Allah Ta’ala menceritakan tentang keadaan orang yang naza’ (sekarat) pada saat menjelang kematian dari kalangan orang-orang kafir dan orang-orang yang lengah terhadap perintah Allah Ta’ala, di mana Dia berfirman: رَبِّ ارْجِعُونِ( Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia),

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini Allah memberitahukan tentang kata-kata yang diucapkan oleh orang kafir ketika menghadapi maut, walaupun kata-kata itu tidak dapat didengar oleh orang-orang yang hadir ketika itu. Orang kafir itu meminta kepada Allah supaya dia jangan dimatikan dahulu dan dibiarkan hidup seperti sediakala agar dia dapat bertobat dari kesalahan dan kedurhakaannya dan dapat beriman dan mengerjakan amal yang baik yang tidak dikerjakannya selama hidupnya.

Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu pada waktu dia masih sehat walafiat dan mempunyai kesanggupan untuk beriman dan beramal saleh, dia enggan menerima kebenaran, takabur dan sombong terhadap orang-orang yang beriman, selalu durhaka kepada Allah bahkan melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan perintah Allah dan mengucapkan kata-kata yang tidak benar terhadap-Nya. Akan tetapi, ketika dalam keadaan sakaratul maut, mereka teringat pada dosa dan kesalahan yang telah mereka lakukan. Ketika itu juga mereka menjadi insaf dan sadar lalu meminta dengan sepenuh hati kepada Allah agar diberi umur panjang untuk berbuat baik guna menutupi semua kedurhakaan dan kejahatan yang telah mereka lakukan. Namun demikian, saat sakaratul maut bukan waktu untuk meminta ampun dan bertobat sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertobat sekarang.” Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam keadaan kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. (an-Nisa`/4: 17-18)

Baca Juga:  Surah Al-A'raf Ayat 204; Seri Tadabbur Al-Qur'an

Lalu Allah menegaskan bahwa permintaan orang-orang kafir itu hanyalah ucapan yang keluar dari mulut mereka saja dan tidak akan dikabulkan. Kalaupun benar-benar diberi umur panjang, mereka tidak juga akan kembali beriman dan tidak akan mau mengerjakan amal saleh sebagaimana ditegaskan Allah dalam firman-Nya:

Dan seandainya engkau (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata, “Seandainya kami dikembalikan (ke dunia) tentu kami tidak akan mendustakan Ayat-Ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.” Tetapi (sebenarnya) bagi mereka telah nyata kejahatan yang mereka sembunyikan dahulu. Seandainya mereka dikembalikan ke dunia, tentu mereka akan mengulang kembali apa yang telah dilarang mengerjakannya. Mereka itu sungguh pendusta. (al-An’am/6: 27-28)

Demikianlah ucapan yang mereka lontarkan sebagai penghibur hati mereka sendiri, suatu ucapan yang tidak ada nilainya sama sekali karena tidak mungkin mereka akan hidup kembali karena ajal mereka telah tiba. Di hadapan mereka terbentang dinding yang menghalangi mereka kembali ke dunia sampai hari kiamat.

Tafsir Al-misbah: Mereka akan tetap pada sikap mendustakannya.
Sehingga, apabila waktu kematian telah menjemput salah seorang di anatara mereka, ia pun menyatakan penyesalannya dengan berkata,
“Ya Tuhan, kembalikanlah aku ke dunia.

Surah Al-Mu’minun Ayat 100
لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Terjemahan: agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.

Tafsir Jalalain: لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا (Agar aku berbuat amal yang saleh) dengan mengatakan, ‘Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah’, hal ini akan menjadi penghapus فِيمَا تَرَكْتُ (terhadap yang telah aku tinggalkan”) aku sia-siakan umurku. Maksudnya, supaya hal itu menjadi penggantinya. Maka Allah berfirman, كَلَّ (“Sekali-kali tidak) tidak ada kembali lagi. إِنَّهَا (Sesungguhnya itu) permohonan untuk kembali ke dunia كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا (adalah perkataan yang diucapkannya saja) tidak ada manfaat bagi pembicaranya. ا وَمِن وَرَائِهِم (Dan di hadapan mereka) بَرْزَخٌ (ada dinding) penghalang yang menahan mereka untuk dapat kembali lagi ke dunia إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (sampai hari mereka dibangkitkan”) yang tiada kembali lagi sesudahnya.

Tafsir ibnu katsir: لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا (“Ya Rabbku, kembalikanlah aku [kedunia], agar aku berbuat amal yang shalih terhadap [apa] yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak.”)

Sama seperti yang Dia firmankan: “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)-ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orangyang shalih?’ Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Munaafiquun: 10-11).

Baca Juga:  Surah Ar-Ra'd Ayat 32; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dan di sini, Dia berfirman: كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا (“Sekali-kali tidak, sesungguhnya hal itu adalah [hanya] perkataan yang diucapkan saja.”) Kallaa merupakan kata penolakan dan penghardikan. Artinya, Kami tidak memenuhi apa yang dimintanya dan tidak pula menerima apa yang berasal darinya. Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya itu adalah (hanya) perkataan yang diucapkan saja.”

Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengemukakan: “Kata-kata itu merupakan suatu keharusan untuk diucapkan oleh setiap orang dhalim yang sedang berada dalam keadaan naza’. Mungkin saja hal itu merupakanillat bagi ucapannya, `kalla’. Dengan kata lain, karena kata-kata atau permintaannya untuk kembali hidup agar bisa berbuat amal shalih tersebut merupakan ucapan darinya, sekaligus sebagai ucapan yang tidak disertai amalan. Kalau seandainya dia dikembalikan lagi ke dunia, niscaya dia tidak akan berbuat amal shalih, dan dengan demikian dia telah berbohong dalam ucapannya tersebut. Sebagaimana yang difirmankan-Nya: “Sekiranya mereka dikembalikan kedunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka.” (QS.Al-An’aam: 28).

Qatadah mengemukakan: “Demi Allah, dia tidak akan berharap untuk bisa kembali kepada keluarga, kelompok, serta tidak juga keinginan untuk mengumpulkan kekayaan dunia dan memenuhi hawa nafsu, tetapi dia hanya akan berharap bisa kembali hidup dan berbuat taat kepada Allah. Mudah-mudahan Allah merahmati seseorang yang mengerjakan apa yang diharapkan orang kafir tersebut jika melihat adzab neraka.”

Lebih lanjut Qatadah juga mengemukakan: “Demi Allah, dia tidak akan berangan-angan melainkan kembali hidup agar bisa berbuat taat kepadaAllah. Oleh karena itu, perhatikanlah angan-angan orang-orang kafir yang lengah tersebut, lalu kerjakanlah apa yang mereka angankan itu. Dan tidak ada kekuatan melainkan hanya milik Allah. وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (“Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitan.”)

Mengenai firman Allah Ta’ala, “وَمِن وَرَائِهِم ” yakni di hadapan mereka. Mujahid mengatakan: “Al-Barzakh berarti penghalang antara dunia dan akhirat.” Sedangkan Muhammad bin Ka’ab mengemukakan: “Al-Barzakh berarti keberadaan antara dunia dan akhirat, di mana penghuni dunia tidak makan dan tidak minum, dan tidak pula kepada penghuni akhirat diberikan balasan atas amal perbuatan mereka.”

Dalam firman Allah Ta’ala, “Dan di hadapan mereka ada dinding,” terdapat ancaman bagi orang-orang zhalim yang mengalami
naza’ berupa adzab alam barzakh. Sebagaimana yang difirmankan-Nya:”Dan di hadapan mereka ada jahannam. ”

Dan firman-Nya: إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (“sampai hari mereka dibangkitan.”) Yakni, adzab itu akan berlangsung terus padanya sehingga datang hari kebangkitan.

Tafsir kemenag: Pada Ayat ini Allah memberitahukan tentang kata-kata yang diucapkan oleh orang kafir ketika menghadapi maut, walaupun kata-kata itu tidak dapat didengar oleh orang-orang yang hadir ketika itu. Orang kafir itu meminta kepada Allah supaya dia jangan dimatikan dahulu dan dibiarkan hidup seperti sediakala agar dia dapat bertobat dari kesalahan dan kedurhakaannya dan dapat beriman dan mengerjakan amal yang baik yang tidak dikerjakannya selama hidupnya.

Baca Juga:  Surah Ibrahim Ayat 10-12; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu pada waktu dia masih sehat walafiat dan mempunyai kesanggupan untuk beriman dan beramal saleh, dia enggan menerima kebenaran, takabur dan sombong terhadap orang-orang yang beriman, selalu durhaka kepada Allah bahkan melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan perintah Allah dan mengucapkan kata-kata yang tidak benar terhadap-Nya. Akan tetapi, ketika dalam keadaan sakaratul maut, mereka teringat pada dosa dan kesalahan yang telah mereka lakukan. Ketika itu juga mereka menjadi insaf dan sadar lalu meminta dengan sepenuh hati kepada Allah agar diberi umur panjang untuk berbuat baik guna menutupi semua kedurhakaan dan kejahatan yang telah mereka lakukan. Namun demikian, saat sakaratul maut bukan waktu untuk meminta ampun dan bertobat sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertobat sekarang.” Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam keadaan kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. (an-Nisa`/4: 17-18)

Lalu Allah menegaskan bahwa permintaan orang-orang kafir itu hanyalah ucapan yang keluar dari mulut mereka saja dan tidak akan dikabulkan. Kalaupun benar-benar diberi umur panjang, mereka tidak juga akan kembali beriman dan tidak akan mau mengerjakan amal saleh sebagaimana ditegaskan Allah dalam firman-Nya:

Dan seandainya engkau (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata, “Seandainya kami dikembalikan (ke dunia) tentu kami tidak akan mendustakan Ayat-Ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.” Tetapi (sebenarnya) bagi mereka telah nyata kejahatan yang mereka sembunyikan dahulu. Seandainya mereka dikembalikan ke dunia, tentu mereka akan mengulang kembali apa yang telah dilarang mengerjakannya. Mereka itu sungguh pendusta. (al-An’am/6: 27-28)

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Mu’minun Ayat 99-100 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S